Mulus dalam Semalam

Malam kemarin ada teman datang ke rumah dan kami ngobrol sampai jam setengah sepuluh malam. Waktu teman pulang orang rumah bilang ” Jalan Lebak Bulus lagi dibetulin pak…”   Teman bilang “…gak apalah saya lewat trotoir aja kan naik motor.” Sore saya pulang kantor lewat situ, kelihatannya belum ada apa-apa. Saya tak ada reaksi apa-apa karena biasanya jalan diperbaiki itu hanya tempat yang berlubang saja.

Nah… Tadi pagi waktu keluar rumah menuju kantor, saya terkejut melihat sepanjang jalan dua kilometer itu kelihatan sudah mulus semua. Wah ini baru kali ini kejadian. Dalam semalam semua beres, jadi tidak mengganggu lalul-lintas sama sekali. Rasanya saya tinggal didaerah sini sudah melalui tiga gubernur DKI Jakarta (Suryadi, Sutiyoso, apalagi Foke) belum pernah ada yang memperbaiki jalan sepanjang dua kilo hanya dalam semalam. Bahkan selama tiga gubernur itu yang ada cuma tambal sulam jalan saja. Alias lubang jalan saja yang diperbaiki. Dulu-dulu duitnya dikemanain aja ?

Itulah kelebihannya gubernur DKI yang sekarang…Super-Jokowi, Jalan banyak diperbaiki, walau jauh dari pusat (Menteng). Jaman gubernur sebelumnya, jalan-jalan yang dibikin mulus dan dipelihara dengan baik hanya didaerah Menteng saja. Sekarang ini proyek perbaikan jalan dan gorong-gorong kelihatannya berjalan lancar dimana-mana. Nampaknya korupsi di pemda DKI sudah jauh berkurang. Kalau dulu duitnya dikorupsi melulu, gak jelas kemana larinya. Mari kita dukung pembenahan kota kita ini sebaik-baiknya. Semoga Jakarta menjadi semakin indah dan terpelihara.

Kalau Jakarta bisa jadi lebih indah dan terpelihara… Maka negara kita gimana dong ?

Itu semua tergantung pada pilihan anda nanti di 2014… Mari kita doakan agar Indonesia menjadi semakin maju dan berkembang dengan baik tanpa korupsi.

Salam, 07 Nov 2013.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-00-0-0-0-0-0-0

Artikel lain di blog ini:

https://koestoer.wordpress.com/bayi-prematur/inkubator-bayi-gratis/

https://koestoer.wordpress.com/humor/sby-dan-budiono/

https://koestoer.wordpress.com/download-buku-gratis/

https://koestoer.wordpress.com/fototerapi-untuk-bayi-kuning/

Jelang hari Pahlawan

https://koestoer.wordpress.com/terimakasih-pahlawanku/

Sedikit tentang pejabat berprestasi

https://koestoer.wordpress.com/tokoh/prestasi-luarbiasa/

https://koestoer.wordpress.com/omong2-idola-cilik/

Iklan

Sentilan

Dalam acara sentilan-sentilun kemarin, ada satu yang saya ingat dari kata-katanya Mbah Tejo alias 0sujiwo Tejo. Sambil memegang saxofonenya dia bilang begini:

Kalau hemat adalah pangkal kaya,

Maka

Santun adalah pangkal KORUPSi.

Sudah sering saya kemukakan pada generasi muda, bahwa sopan-santun itu tidak identik dengan ETIKA. Contohnya sangat banyak kita lihat di TV negara kita ini. Tingkah laku yang sopan-santun itu malah diperlihatkan oleh para koruptor yang karena pandainya, maka korupsinya tidak bisa terungkap. Bahkan bisa balik menyerang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Sedangkan mereka yang jujur malah berkata apa adanya tanpa rekayasa dibuat-buat, sehingga kadang-kala terlihat kurang sopan. Jadi Etika itu berkaitan dengan tindakannya atau amal perbuatan, bukan soal kesantunan kelihatan tampak muka bagus tapi dibelakang justru berbuat curang atau korupsi yang merugikan masyarakat banyak.

Jakabaring di Waktu Malam

Sudah sejak beberapa bulan ini Jakabaring amat sering disebut-sebut dalam berita TV… Mengapa toh ?

Everybody knows tempat ini adalah adalah daerah di sekitar Palembang yang akan menjadi Venue SEA Games ke 26 yang akan dimulai pertengahan November tahun ini (2011). Masuk berita TV karena ada kasus korupsi yang menyangkut pejabat di Kementrian Pemuda dan Olahraga dimana pembangunan kompleks untuk pesta olahraga Asia Tenggara ini sarat dengan pembagian uang komisi untuk oknum pejabat tertentu. Dengan demikian kesan awal saya adalah sebuah pembangunan sarana olahraga seperti gelora senayan yang carut marut dan tidak selesai.

Namun apa yang saya saksikan justru bertolak belakang dengan yang saya perkirakan sebelumnya… Lho kenapa ?

Karena tadinya saya pikir karena uangnya dikorupsi maka bangunannya jadi tidak selesai dan jelek tak karuan. Diluar dugaan saya ternyata yang ada malah sebaliknya. Dikala malam saat saya berkunjung kesana, walaupun tidak semua lampu nyala, masih sangat tebatas, juga tak semua kompleks bisa kita lewati namun kesan indah dan megah muncul. Bahkan bila semua lampu dan titik pencahayaan itu sudah jalan, maka inilah kompleks olahragayang buat saya menakjubkan. Tentu bisa menjadi kebanggaan Palembang nantinya bila terus dipelihara dengan baik.

Stadion dengan luas lahan sekitar 40 hektar ini dapat memuat hingga 36.000 – 40.000 orang dengan 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Tribun utama di sisi barat dan timur (A dan B) dilindungi atap yang ditopang 2 pelengkung (arch) baja berukuran raksasa. Bentuk atap stadion merupakan simbol kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di bidang maritim yang dilambangkan oleh bentuk perahu dengan layar terkembang. Stadion ini beralamat di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang.

Dengan diantar oleh Amrifan (Dr Ir Amrifan Dipl Ing, d/h pernah ketemu di Darmstadt waktu beliau masih sekolah. Saat itu bersama dengan pak Ferry (Alm) dan pak Henky, tahun 1996. Sekarang Wadek II FT UNSRI), kami mengitari kompleks tersebut. Belum semua bisa dilalui, masih banyak jalan yang ditutup. Tapi charisma bangunan baru untuk olahraga itu sudah muncul walau kelihatannya belum full. Waktu masukkompleks ini ada digitall wall yang bertuliskan angka 16. Artinya SEA Games masih 16 hari lagi (count down) malam itu tgl 26 Okt 2011. Jadi pesta olahraga itu akan mulai sesudah tgl 10 an November. Enam orang seisi mobil diantaranya ibu-ibu Diah, Erna dan Catur (bapaknya satu dibelakang pak Erwin, maaf pak hampir kelupaan saya sebut…). Mereka menceritakan bila korupsi di Kemenpora itu tidak ketahuan, malah kompleks ini bisa selesai tepat waktu. Karena pastinya mereka sudah atur rapih segala sesuatunya. Tapi karena ketahuan oleh KPK, rencana mereka jadi berantakan. Akibatnya banyak penyelesaian bangunan yang tertunda. Pikir saya dalam hati… Waduh kalo gitu bila korupsinya sedikit-sedikit saja sih biarin sajalah, kan penyelesaian tepat waktu jadi penting agar SEA Games ini jadi sukses… Begitukah ? Lebih baik janganlah, kan korupsi mulai dari sedikit lama-lama jadi bukit. Atau timing penangkapannya diatur ? Sesudah SEA Games saja baruKPK bertindak. Yang penting sukses dulu pesta olahraganya. Entahlah serba salah ini bangsa.

Kembali ke Jakabaring, lihat di galeri utama Gelora Sriwijaya (mungkin ini stadion utamanya ya), cahaya lampu yang menyinari atapnya bisa berubah-ubah warnanya. Kadang hijau kadang biru atau kuning…


So… Jadi kesan saya berubah. Tadinya mendengar nama Jakabaring itu seperti ‘agak benci’. Namun sekarang dengan senang hati saya akan mengatakan ‘Jaka Baring itu indah’.

Suatu saat nanti bila pemeliharaannya baik, mungkin tempat ini akan jadi kebanggaan Wong Kito Galo.-


Berantas Korupsi dengan Kasih Sayang

by Agus Muldya Natakusumah on Saturday, August 13, 2011 at 2:21pm

Memberantas Korupsi dengan Kasih sayang.

I.Fakta yang kita tahu.

  1. Agus condro membongkar kasus korupsi tetap dihukum dan pasti membuat orang yg ingin bongkar menjadi lebih baik mendiamkannya, siapa yg mau keluarganya terpaksa puasa akibat niat baik tersebut.
  2. Gayus Tambunan akan membongkar kasus yg lebih besar juga kelihatannya sudah pasti redup.
  3. Nazarudin hampir pasti menjadi pengisi penjara baru dan dengan melihat kasus sebelumnya akan sulit ia membingkar korupsi di DPR dan partainya. Terungkap juga bahwa Nazarudin belum dipecat dari DPR walau hal ini dianggap soal administrasi saja tetapi dalam soal bertatanegara hal ini tdk bisa diabaikan begitu saja krn nantinya bisa jadi soalnya dijadikan soal adm dan teknis saja serta selalu didorong kearah pemaafan saja, Ini berbahaya.
  4. Islam mengajarkan potong tangan bagi koruptor China potong kepala tetapi diindonesia potong masa tahanan sehingga pantasan korupstornya meningkat.
  5. 155 kepala daerah tk I dan 17 Gubernur sdg diproses hukum tetapi terasa bukan hanya sebagai pemberantasan korupsi saja karena dipersepsikan sebagai alat pamungkas politik supaya tdk mencalonkan diri lagi dan digusur.

Persepsi yg bisa dikatakan fakta atau Fakta yg dianggap benar ini bisa jadi tidak menguntungkan terhadap pemberantasan korupsi diindonesia.

Korupsinya sudah masih dan berjamaah serta dianggap juga siapa yang ada disitu akan melakukan hal yang sama dan koruptor juga akan lebih selamat jika rajin membagikan hasil korupsinya. Disisi lainnya juga perdebatan anggota parlemen akan kalah seru dengan kongkow bagi hasil diantara mereka pasca mengatur anggaran dan projek, semoga ini hanya persepsi yang dibangun saja karena jika benar begini sungguh sulit jalan normative melakukan perubahan kearah yang lebih baik.

II.Korupsi walau kelihatannya Enak tetapi bukan hanya bahaya tetapi juga merusak&mencelakakan

Punya jaguar, hammer dan beberapa kendaraan lainnya rumah mewah, tabungan ratusan milliard sungguh pasti menyenangkan karena terkesan mau bersenang senang atau beramal. Mau ihktikaf di mekah dibulan puasa dan mau apa saja sungguh mudah dilakukan termasuk jika mau lakukan pelanggaran moral maklum duitnya ada termasuk untuk mempertahankan kekuasaan sekaligus menambah hartanya sangat mungkin bisa. Hanya apakah hanya begitu senangnya saja?…

Beberapa kawan mengingatkan jika anda kaya raya saja jangan lupa harus sering beramal dan berzakat. Alasannya paling sederhana kekayaannya berkurang dan anda sering salah dan sial atau tidak mendapat simpati sekeliling jika hanya menikmatinya sendiri juga akan mulai terserang penyakit dan berbagai persoalan ini kalau hanya pelit. Jika anda ditambah sombong dan suka menghina orang karena merasa berkuasa dan kaya maka soalnya akan lebih parah dan jangan sampai anda merasakan hukuman akibat anda berperilaku seperti ini.

Ingat ini kaya dengan jerih payah dan hanya punya kesalahan seperti itu. Sekarang bayangkan saja jika hasil kekayaan anda yg melimpah ruah itu hasil korupsi yang benar benar luar biasa mendapatkannya , apakah anda tidak akan dihukum oleh alam ini?….kenapa dihukum sederhana sekali karena mengambil haknya banyak orang atau satu orang sehingga akibat korupsi itu pasti ada yang menderita jadinya.

Kita tidak bersinetron tetapi sudah pasti kejahatan itu akan ada balsannya dan penderitaannya tidak perlu diceritakan disini karena pasti akan sangat sakit dan sengsara dan mencelakakan keluarga dan keturunannya.

III. Kita harus berubah dan melakukan perubahan.

Tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yg merubahnya?. Dalam kontek ini kita bukan ingin dibukanya sayembara berhadiah satu milyard bagi siapa siapa yg bisa membongkar kasus korupsi triliunan atau koruptor yg membeberkan konspirasi korupsi shg korupsi berhenti bukan hanya dibebaskan dan diberi bonus tetapi dengan melihat situasi skg sungguh sulit mengatakan jika korupsi akan berhenti jika kondisinya tetap seperti ini saja. Dan persoalannya kasian rakyat yg jatahnya dikorupsi serta kasian koruptornya juga karena siksaannya pasti akan datang dan bisa jadi baru adil jika ia lebih menderita dari rakyat yang jatahnya dikorupsi.

Pertanyaannya apakah Tuhan dan perangkatnya akan mampu disiasati dan ditahan sehingga siksanya tidak sampai?…jawabannya sungguh tidak mungkin jika sesuai ajaranNYA bahwa koruptor ini seharusnya dihukum demi keadilan walaupun rakyat yg sengsara hidupnya jika bisa mampu menjaga diri bisa juga akan mendapatkan kebaikan langsung.

Persoalan lainnya apakah rakyat berhak mendapatkan kebaikan jika mereka diam saja dan seakan mensetujui korupsi yg gila gilaan itu, jawabannya pasti tidak? Disinilah masyarakat harus bijak dan punya usahanya sendiri.

IV. Pengalaman dalam perubahan

Ah dia itu pejuang ternyata maling juga dan juga ada aktifist yg dulunya pejuang ternyata penikmat dan koruptor juga ini semua celotehan yg sudah umum dan itu memang biasa karena dimana mana pada dasarnya banyak juga yang tergoda karena berbagai kenikmatan.

Rakyat hanya dikorbankan sedang revolusi punya aturannya sendiri sehingga hanya elite pemenang revolusi itu sendiri yang akhirnya bisa menikmatinya rakyat sekali lagi hanya akan jadi korban. Ini juga pikiran yang umum dan banyak terjadi.

Pilihan paling baik untuk diri sendiri dan semuanya adalah memperbaiki diri sendiri masyarakat dan negara bangsa tetapi apakah akan terjadi otomatis karena pada dasarnya manusia mengarah kepada kesenangan dirinya sendiri dan membuat dosa?.

Memperbaiki diri sendiri kerja keras dan terus berdoa serta rajin menyuarakan ketidak setujuan terhadap kejahatan ini akan sangat berpengaruh dan dalam sistim Demokrasi jangan memilihnya lagi ketika pemilihan umum walau dalam sistim yg korup kertas suara dan rekapitulasinya bisa diganti ditengah jalan sehingga tetap saja hasilnya manipulasi.

Disisi lainnya jika dengan langkah demontrasi dan sabotase kombinasi politik juga sering kali menguntungkan broker revolusi?….

Semua jalan sepertinya membingungkan sekaligus memberikan harapan lalu jalan mana yg akan dipilih?…..

Yang pasti damai dan bekerja terus serta berdoa adalah pilihan utamanya. Ingat membiarkan kejahatan sama dengan membuka celah terkena kejahatan dan membiarkan orang lain celaka dan sesungguhnya akan mencelakakan diri sendiri juga pada akhirnya

yang pasti jika ada keinginan luhur kerja keras dan berjuang habis habisan maka Berkat Rahmat allah Yang maha Kuasa pengasih dan penyayang akan datang sehingga perjuangan akan berhasil. ini pengalaman sejarah diindonesia ini sejak kemerdekaannya.

Doakan secara sungguh sungguh para korupstor yang tidak juga sadar dan insyaf itu maka pasti akan terbuka jalannya sehingga mereka menghentikan kejahatannya dengan cara yg tidak disangka sangka sebelumnya.

Bagaimana pendapat anda kawan karena kita semua ingin dan harus membuat Indonesia terus lebih baik khan?

Agus muldya natakusumah

Profesional, Siapkah untuk mundur ?

-Jika tidak siap mengundurkan diri ataupun dipecat demi sesuatu yang anda yakini, anda bukanlah seorang profesional, anda hanya seorang budak belian (bb)-. Demikian disampaikan Gardner (2006).

Sedari awal para pekerja profesional (orang yang bekerja di perusahaan atau institusi) hanya terdidik untuk menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pemegang saham. Standar etis begitu mudah dicampakkan dalam dunia bisnis, karena banyak hukum didalamnya hanya bersifat sunnah. Akan direstui apabila itu diikuti, namun tak akan diberi sanksi apabila tidak dijalani.

Keberhasilan dalam membangun standar etis dalam berbisnis dan berkarya terutama ada didalam kesadaran diri sendiri. Kita harus memutuskan di sisi mana kita akan berdiri. Tidak dapat dipungkiri semakin banyak tantangan etis yang harus dihadapi para profesional ataupun organisasi dalam kehidupan sehari-hari, dari perkara kecil seperti penipuanhingga urusan besar seperti KORUPSI. Lihat kasus sekarang ini, satu atau dua menteri yang kebingungan berdiri dimana, ikut  terseret arus politik kekuasaan atau tetap profesional…

Mau pilih mana tetap pemain pro atau bb ?

(Dimodif dari trilogi E. Goestiandi).-

Demo Huru Hara

Kemarin 9 Des 2010 banyak Demo Huru Hara. Mhs Pemuda dan rakyat semua protes kepada pemerintah agar Korupsi diberantas. Mereka berhadapan saling lempar batu dan gebuk2an dengan Polisi rendahan, satpam dan poltramtib, yang notabene juga ‘rakyat miskin’. Akhirnya Rakyat Miskin berkelahi dengan sesama Rakyat Miskin… Dan Siapa yang tertawa terbahak-bahak ?
Ya si KORUPTOR… Katanya begini ” Rasain deh lu pada brantem, orang2 goblok… biar gue yg enak2an nikmatin duit elu2 pade… biar mampus lu orang miskin “.

Ironis memang… tapi itulah kenyataannya.-
Ral 10des10.

Harta Bahasyim 885 M

*** Dari milis *** Wow… Harta Bahasyim Rp 885 Miliar sumber: http://nasional.kompas.com/read/2010/09/30/18572023/Wow….Harta.Bahasyim.Rp.885.Miliar-8

*JAKARTA, KOMPAS.com* — Sementara penanganan kasus Gayus Halomoan Tambunan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan belum selesai, kini Direktorat Jenderal Pajak kembali disorot setelah kasus terdakwa Bahasyim Assifie, mantan pejabat tinggi di Ditjen Pajak, mulai bergulir ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tak tanggung-tanggung, jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Bahasyim melakukan tindak pidana pencucian uang dengan

total nilai Rp 885.147.034.806.

Dakwaan itu dibacakan saat sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis (30/9/2010). Fachrizal, salah satu JPU, mengatakan, Bahasyim sebelum tahun 2002 sudah memiliki uang sebesar Rp 30 miliar. Uang itu diakui Bahasyim dimiliki dari hasil usaha jual-beli tanah dan mobil, valas, cuci cetak foto, penyertaan modal pada suatu perusahaan, dan usaha lain. Sejak tahun 2003, Bahasyim sudah tercatat sebagai nasabah prioritas BNI dengan dana Rp 1 miliar. Dari dana itu, kata JPU, Bahasyim membuka rekening Taplus Bisnis Perorangan di BNI atas nama istrinya,

Sri Purwanti, dengan saldo awal Rp 633.063.416 pada Oktober 2004.

Lalu, berdasarkan rekening koran sejak 2004 hingga 2010, terdapat transaksi masuk ke rekening itu sebanyak 304 kali dengan total sekitar Rp 885,1 miliar. JPU mengatakan, di antara 304 transaksi masuk itu, terdapat 15 transaksi yang dilakukan oleh Bahasyim dengan total Rp 4.175.750.000. Uang itu disetorkan antara November 2004 dan Januari 2006 oleh Yanti Purnamasari, Customer Relationship Manager BNI.

Menurut JPU, uang itu diduga hasil tindak pidana selama Bahasyim berkerja sebagai Kepala Kantor Pemeriksa dan Penyidikan Pajak Jakarta VII, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Koja, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Palmerah. Terakhir, dia menjabat Inspektur Bidang Kinerja Kelembagaan, Bappenas, hingga 30 Maret 2010. “Karena dalam kurun waktu antara tahun 2004 dan bulan Maret 2010, secara formil terdakwa tidak memiliki usaha yang dapat menghasilkan keuntungan dengan nilai yang relatif besar. Dengan pekerjaannya sebagai PNS, terdakwa diperkirakan hanya mempunyai penghasilan sekitar Rp 30 juta per bulan. Dengan demikian, uang yang ditempatkan terdakwa pada rekening itu patut diduga hasil kejahatan yang berkaitan dengan jabatannya,” papar Fachrizal.