Curhat Hovercraft


Basri Hasan

Semoga Esemka tidak bernasib sama.

Sahabat-sahabatku yth.,

Seminggu terakhir ini saya antusias mengikuti berita heboh mengenai
mobil bikinan anak-anak SMK di Solo, yang dikritik habis oleh sebagian
pejabat pemerintah Indonesia.
Ini membawa kenangan saya kembali ke
periode 2004 – 2007 ketika kami berusaha dan hampir berhasil membangun
Industri HOVERCRAFT, tapi berhasil dengan sukses dimatikan justru oleh
pejabat-pejabat yang sesungguhnya sangat bisa membantu merubah sejarah
otomotif Indonesia, tapi memilih untuk bersikap sebaliknya.

Pejabat Indonesia yang visioner dan mengambil tindakan sangat berani saat
itu ialah KASAL Laksamana Slamet Soebijanto.

Begitu diangkat jadi KASAL, beliau mengumumkan pembelian 4 (empat) buah
HOVERCRAFT “buatan putera-putera Bangsa Indonesia”, yaitu kami, yang
baru k.l. tiga minggu sebelumnya memberikan presentasi mengenai
HOVERCRAFT yang akan kami bangun di depan Wagub Lemhanas beserta
jajarannya.
Saat itu, kami malah sama sekali tidak tahu kalau Wagub
Lemhanas yang menerima presentasi kami ini akan menjadi KASAL! Dan
meskipun penerimaan beliau dan timnya amat-sangat simpatik dan penuh
respek, tidak terlihat tanda-tanda bahwa beliau akan menuliskan sejarah
di Republik Indonesia ini.
Tentu saja ini menimbulkan kegemparan di
mana-mana, mulai dari pejabat-pejabat TNI AL sendiri, maupun (atau
terutama???) dari para rekanan TNI AL sendiri, yang seperti biasa di
dunia bisnis, menganggap pendatang baru sebagai saingan yang akan
mengambil sebagian besar porsi lahan mereka!
Resistensi berat pertama yang kami dapat ialah dari dalam TNI AL sendiri.

Pesanan 4 (empat) unit HOVERCRAFT yang disepakati, ketika jadi SK
ternyata berubah menjadi 5 (LIMA) unit DENGAN HARGA YANG SAMA!

Upppsss…….., pesanan 4 unit seharga Rp 15 milyar, berubah menjadi 5
unit, harga langsung terjun bebas di”discount paksa” 20 % dengan
tambahan beban kewajiban membangun satu unit lagi dalam jangka waktu
yang sama pula!

Keputusan dibuat bulan Maret, HOVERCRAFT yang
kami bangun harus bisa diikutkan dalam Latihan Besar Armada Jaya pada
pertengahan bulan Desember 2005!!!

Pilihannya adalah mundur dan menyerah sebelum bertempur.
Atau maju terus demi mewujudkan impian dan idealisme!

(Dari sejak awal memang cita-cita kami adalah membangun Industri
HOVERCRAFT, MEMBUKTIKAN bahwa putera-putera Indonesia itu BISA
bertindak lebih dari sekedar makelar/perantara/broker atau sekedar
“tukang jahit”!
Fokusnya adalah kebanggaan bangsa, bukan cari proyek untuk mendapatkan
uang!)

Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai, maka kami memilih
untuk maju terus.

Demikianlah meskipun dengan tersandung-sandung, jatuh-bangun
berdarah-darah, kami berhasil mendeliver ke lima unit HOVERCRAFT buatan
anak bangsa tersebut, yang tahun itu juga langsung diikutkan (dan
menjadi penyelamat sekaligus primadona selain sebagai kendaraan
pendarat pasukan marinir, juga sebagai alat angkut VIP, yaitu para
Perwira Tinggi TNI AL dll.) dalam Latihan besar TNI AL Armada Jaya ke
25 di P. Sekerat Kaltim pada tanggal 14 Desember 2005.

Hambatan lain ialah adanya rumors dan isue-isue negatif yang jelas
dilemparkan oleh para rekanan seperti yang telah saya tulis di atas,
dan……..para produsen HOVERCRAFT dunia yang tiba-tiba saja
berbondong-bondong membombardir Indonesia dengan segala tawaran
pembelian HVOERCRAFT dan pengkerdilan kemampuan bangsa Indlonesia untuk
memproduksi barang canggih.

Persis seperti reaksi Gubernur
Jateng Bibit Waluyo, Bupati Wonogiri Danar Rahmanto dan Wkil Ketua DPR
Anis Matta menyikapi mobil Kiat ESEMKA buatan anak-anak Solo itu!

Satu e-mail dari perwakilan produsen HOVERCRAFT di Inggris menulis
bahwa menurut pengalaman mereka membangun HOVERCRAFT di India,
kemampuan satu orang insinyur Inggris itu sebanding dengan sepuluh
orang Insinyur India.
Indonesia ya pasti lebih buruk lagi dari itu, maksudnya!
He he he……

Yang lebih hebat ketika pada 15 Januari 2007 saya bertemu dan
diperkenalkan dengan Kabalitbang Dephan Prof. Dr. Lilik Hendrajaya pada
pelantikan salah seorang mutual friend yang jadi Staff Ahli Menhan.

Begitu mengetahui bahwa saya adalah pensupply ke lima unit HOVERCRAFT
ke TNI AL, Prof. Lilik langsung memberondong saya dengan tuduhan betapa
salahnya kami karena memproduksi HOVERCRAFT tanpa didahului penelitian.
(Entah menyimpulkan dari mana ya, beliau ini? Membangun HOVERCRAFT
tanpa didahului penelitian???)

Dalam acara yang sedemikian
resminya, tanpa menghiraukan sopan-santun (kami kan baru saling
diperkenalkan?!) beliau langsung menguliahi saya mengenai tata-aturan
berproduksi: Badan Penelitian (maksudnya Balitbangnya beliau) yang
meneliti, hasilnya baru boleh kami produksi!

“Kapan anda pernah menelitinya, Pak?” Jawabnya adalah

“…Pokoknya…..” He he he….., Indonesia buaanget duehhh……!

Tapi didalam rentetan berondongan tuduhan itu, beliau malah mengajak
kerja-sama, menjanjikan akan menyediakan dana Rp. 300 juta buat
kerja-sama tersebut.
Beberapa hari kemudian beliau menelpon saya,
diikuti beberapa kali pertemuan dan akhirnya tim kami dan tim beliau
bertemu di kantor beliau. (Saya datang dengan Mas Indra S. Said yang
saat itu sedang membantu kami cari pemodal untuk bangkit kembali dan
satu sobat lain dari HOVERINDO.)

Pada rapat itu dengan pedenya
beliau menyatakan bahwa HOVERINDO akan diikutkan dalam penelitan
mengenai HOVERCRAFT yang akan dikerjakan oleh Balitbang Dephan.

Lho….., kami (HOVERINDO) yang sudah mendeliver HOVERCRAFT ke TNI AL,
kok malah mau diikutkan pada timnya Balitbang Dephan yang baru mau akan
mulai mengadakan penelitian??? Logikanya kok bisa terbalik-balik
begini, sih….?!

“Kerja-sama” model begini ini mah tentu saja langsung kami tolak
mentah-mentah.

Jawaban teka-tekinya muncul beberapa hari kemudian, ketika beliau
menelpon saya kembali setelah penolakan kerja-sama dari pihak kami pada
pertemuan di ruang rapatnya itu.

He he he….., proyek
kerja-sama itu ternyata “…memang ujung-ujungnya duit….” (ini
suweerrr adalah kata-kata beliau sendiri) karena dari Rp. 300 juta yang
beliau janjikan itu 40% peruntukannya adalah untuk honor para ahli di
pihak beliau!
Wuitttsss…….!

Kalau saya juga minta 40 % buat tim ahli saya di HOVERINDO supaya adli,
maka biaya penelitiannya jadi tinggal 20 % atuhhh….!

Rp. 60 juta untuk penelitian dari total Rp. 300 juta yang dikeluarkan
negara!!!”Penelitian”nya akan jadi seperti apa ya, hasilnya?

Jadi beliau butuh perusahaan kami itu rupanya sebagai legitimasi “proyek”
institusinya.

Penelitiannya mah nggak penting-penting amat, karena memang bukan itu
tujuannya! Yang penting uang negara bisa keluar dan ada
“pertanggung-jawabannya”! (Disclaimer: Ini tebakan saya, karena tidak
menemukan alasan lain lagi yang masuk akal!)
Paling top ketika
ketemu pejabat penting berikutnya yang adalah tidak kurang dari
Menristek Kusmayanto Kadiman himself, yang berhasil saya minta
menyediakan waktu untuk menerima saya berkat jasa bantuan Mas Apam.
(Saat menghadap Menristek ini saya didampingi juga oleh Mas Satyo
Fatwan.)

Belum satu menit beliau melihat video demo ke lima
HOVERCRAFT yang telah kami deliver ke TNI AL, beliau langsung menukas:
“Ya ya ya…., saya sudah tahu mengenai HOVERCRAFT ini!” dan mulailah
k.l. 45 menit kuliah umum mengenai nasib HOVERCRAFT kami ini.

(Panjang video demo itu k.l 8 menit, yang sudah diabaikan beliau sejak
awal.
Tidak ingin tahu, tidak penasaran!)

“Waktu itu dalam suatu acara KASAL memang bilang sama saya, bahwa TNI
AL sedang membeli HOVERCRAFT buatan dalam negeri. Beliau minta saya
melihat pembangunannya dan minta bagaimana pendapat Kemenristek.”

“Jadi saya kirim orang-orang saya untuk menyelidiki ke sana. Ternyata
produksinya payah sekali! Masih berupa industri rumahan dan sama sekali
tidak memenuhi syarat untuk bisa menghasilkan sebuah produk yang
handal!”
“Maka saya bilang sama KASAL, itu bahaya sekali!
Kalau you beli satu mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau beli banyak, you
nanti akan dapat masalah!”

Masya Allah!

Di depan hidungnya itu video demo dari LIMA, BUKAN SATU HOVERCRAFT, masih
belum selesai!

Demonya adalah bagaimana kemampuan HOVERCRAFT kami ini bekerja dan
bermanoeuver seperti layaknya kendaraan yang sedang mendemonstrasikan
kehandalannya!!!
“Lho, saya kok tidak pernah tahu kalau Kemenristek pernah datang ke
pabrik kami, Pak?”
“Ya, you tentu tidak tahu, karena memang kami nggak bilang-bilang, kok!”
Wuitttsssss……????!
“Boleh saya minta hasil laporan orang-orang yang Bapak kirim ke pabrik
kami?”
“Nggak, kita nggak bikin laporan seperti itu!”
Masya Allah lagi!

Seorang Menteri Riset dan Teknologi bilang ke KASAL TNI AL bahwa produk
kami yang sedang dibeli TNI AL itu “payah” dan “bisa berbahaya”, tapi
tidak punya dokumentasi data pendukung statement beliau???
Padahal dalam “kuliah”nya saat itu beliau ini berulang-ulang menekankan
bahwa dirinya adalah seorang birokrat!

Beliau bahkan tidak menyadari kadar keampuhan statement seorang Menteri
RISET dan TEKNOLOGI terhadap seorang KASAL. Dan akibat ikutannya
terhadap perusahaan kami, yang berdiri tanpa SESENPUN memakai uang
negara!
Ibarat anak balita yang diberi mainan AK 47, tidak tahu
berbahayanya “mainan’ yang sedang dipegang-pegangnya ini! Begitu pula
rupanya Pak Menteri tidak menyadari saciduh metu, saucap nyatanya, idu
geninya fatwa seorang menteri!
“Kalau begitu, mengapa Bapak tidak
segera memberi tahu kami akan kelemahan-kelemahan produk kami, sehingga
kami bisa segera memperbaikinya?”
“You bayar berapa sama saya??!!!”

Wuittttssss……, saya hampir-hampir tidak bisa mempercayai seorang
Menteri dengan latar belakang pendidikan yang sedemikian tinggi bisa
bicara seperti ini!
Betul-betul tidak masuk akal!!!
Sungguh berkah saat itu saya didampingi oleh Mas Apam dan Mas Satyo.
Ketika menulis ini saya berdoa-doa bahwa sobat-sobat ini masih ingat kata
per kata yang saya tulis kembali di atas ini.
Buat saya yang jadi sasaran tembak Pak Menteri mah, kejadian itu akan
terbawa sampai mati, atuh!
Boro-boro lupa atau ‘fade out’, memori ini rasanya seperti baru terjadi
kemarin pagi, kok!
Setelah menyelidikinya ke belakang, akhirnya saya tahu juga kapan Pak
Menteri ini “mengirim orang-orangnya”.
Orang-orang ini memang betul pernah datang berkunjung sebagai bekas teman
kuliah Direktur Produksi kami.

Saya kebetulan memang sedang ada di pabrik, dan diperkenalkan Dirprod
bahwa itu adalah teman-teman kulliahnya di ITB dulu. Mereka saat itu
bekerja BPPT, mau kangen-kangenan dengan bekas teman kuliah yang
sekarang jadi Direktur Produksi pabrik HOVERCRAFT!
Ha ha ha
haaa……., problem is: Saat itu belum ada SATUPUN HOVERCRAFT kami
yang sudah jadi! Kami bahkan masih baru pada tahap-tahap awal produksi!
Entah apa dasarnya sampai bisa-bisanya mereka melapor kepada bossnya
betapa berbahayanya HOVERCRAFT kami itu!

Yang menyedihkan bagi saya, “orang-orang Menristek” ini rupanya belum
pernah datang dan MASUK ke pabrik pesawat seperti FOKKER yang
pesawatnya dulu banyak beterbangan di angkasa Indonesia!

Kelihatannya “orang-orang Menristek” ini hanya tahu pabrik-pabrik
asembling mobil yang biasanya memang serba robot dan mesin-mesin
otomatis!

Di pabrik-pabrik pesawat mah, apalagi yang
canggih-canggih seperti pesawat Concorde dan pesawat ulang-alik atau
yang paling modern sekarang ini, raksasa Airbus A 380, pengerjaannya ya
“seperti industri rumah-tangga”!
Serba manual
TIDAK robotik!
Ya seperti di parik HOVERCRAFT kami itu lah!
Kembali ke laptop.

Anak-anak SMK Solo ini beruntung mereka membuat produksinya di jaman
Dahlan Iskan sudah naik panggung, dan Djokowi jadi Walikota Solo.
Semua pasti sudah tahu bahwa kedua orang ini sama-sama tidak pernah
mengambil gajinya sebagai pejabat negara.

Ini saja sudah membedakan antara kualitas pemimpin dan pejabat negara
bibit unggul, dengan para pejabat negara lain yang berkualitas
biasa-biasa saja. Apalagi kalau dibandingkan dengan mereka yang semakin
tidak malu-malu lagi mempertontonkan sepak terjangnya yang sarat dengan
kepentingan pribadi!
Saya menulis pengalaman di atas bukan untuk
curcol. Bukan pula untuk “merusak nama baik” orang-orang yang saya
tulis namanya itu. (Kalau nama baiknya rusak ya itu akibat perbuatannya
sendiri, atuh. Wong semua itu kejadian nyata, kok!)Melainkan sebagai
retropeksi, sekaligus bukti akan harapan seperti yang selalu diucapkan
oleh Mas Hiram: Masa depan Indonesia yang gilang-gemilang.
Pada
tahun 2005 lalu, lebih banyak pejabat yang berusaha mematikan
HOVERCRAFT kami dengan banyak alasan (yang buntut-buntutnya duit,
karena tidak sedikit yang lalu berselera tinggi buat mengimport
HOVERCRAFT dari luar-negeri. Silakan ditebak sendiri mengapa!) dari
yang kedengarannya ilmiah, sampai yang terang-terangan berusaha
menyabot supaya produksi kami ini tidak jadi terwujud!
Tahun 2011 ini, lebih banyak bunyi positif yang kita dengar dari para
pejabat spesies baru.

Komentar miring Gubernur Jateng Bibit Waluyo (yang memang punya
ganjelan pribadi dengan Djokowi soal penggusuran eks Pabrik Es
Saripetojo yang akan dibuat mall), Bupati Wonogiri Danar Rahmanto yang
punya perusahaan karoseri tapi belum mampu berprestasi seperti
anak-anak SMK tersebut, sekejap saja tenggelam dalam gegap-gempitanya
sambutan positif dari segala lapisan masyarakat yang bangga akan
prestasi ini dari seluruh penjuru tanah-air.
Semoga para pejabat
yang berwenang untuk men”sertifikasi” di Jakarta seluruhnya sadar,
bahwa kalau belum-belum produksi anak-anak ini harus memenuhi standar
setinggi kelas Mercedez Benz atau BMW, maka jelas potensi putera Bangsa
Indonesia tidak akan pernah bisa bangkit.

Copas dari status Alex Aan dari Basri hasan(dikutip dari posting/status
Anton Dwisuno di Facebook, yang mengutip dari status Alex AAn, yang
mengutip dari Basri Hasan)

-0-

On 10 Jan 2012, at 06:32, mnurhuda@ub.ac.id wrote:

Bapak/Ibu sekalian,

Kami kira Pak KK menjadi anggota miling mailis ini dan mudah-mudahan
beliau berkenan memberikan klarifikasi atas postingan di bawah ini.

wassalam
M. Nurhuda

-0-

—–Original Message—–
From: Kusmayanto Kadiman <kkadiman@gmail.com
Sender: bizinov2010@googlegroups.com
Date: Tue, 10 Jan 2012 10:13:50
To: bizinov2010@googlegroups.com<bizinov2010@googlegroups.com
Reply-To: bizinov2010@googlegroups.com
Subject: Re: Bizinov2010-Community Industri HOVERCRAFT Indonesia & KASAL
Slamet Soebijanto

Hadir Pak Nurhuda.
Saya tidak menentang pemberitaan itu dan tidak perlu juga melakukan klarifikasi.
Captain Iwan S, Pak Satyo Fatwan, Laksamana(Purn) Slamet S adalah kawan-kawan saya.
Masih sering kontak dan ketemu khususnya dengan Pak Satyo dan Pak Slamet. Menerima kritik sampai caci maki itu adalah sebuah risiko. Pasti kuping saya panas dan jantung berdegup keras namun dengan keikhlasan dan kepasarahan pada Sang Pencipta menjadikan diri saya lebih tenang. Tidak mudah tentunya. Orang tua saya berpesan “Tak mungkin kamu bisa membuat orang sekampung tersenyum semua”.

Alutsista (ranpur, rantis, pistol, senapan, amunisi, roket dll) memang salah satu fokus saya dkk dalam perioda 2004 – 2009. Riset, prototyping sampai produksi masal kami gagas, dorong, tarik dan kawal. Ada yang sukses dan banyak yang kandas. Untuk produksi masal, selain ketersediaan pembeli dan sumber dana juga penting memperhatikan keberlanjutan (sustainability) mulai dari ketersediaan bahan baku dan komponen, ujicoba laboratorium sampai lapangan, sertifikasi, sistem produksi, standar sampai paska produksi (O&M).

Sebagai wujud apresiasi saya pada dukungan JK pada upaya produksi masal kendaraan angkut lapis baja (panzer atau VAB) saya menuliskan artikel populerhttp://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/09/20/jk-menepis-tudingan-wapres-itu-laiknya-ban-serep/

Sesudah pensiun saya masih punya semangat untuk berjuang dalam ranah teknologi. Peralatan jalan toll (eg. Automatic vehicle detection, toll collecting system, toll information system), KWH Meter (paska dan prabayar) Dijital dan Fuel depo automation adalah contoh peluang anak negeri untuk berkiprah dan menjadi pemain di halaman sendiri.

Selain “ternak teri dan cumi” kini saya masih rajn memberi dukungan pada kawan-kawan yang berbisnis disektor energi, transportasi dan finansial. Mulai dari yang bersifat pro bono publico sampai yang murni komersial.

Jabat erat,
KK

 

-0-

— On Tue, 10/1/12, Ridwan Gunawan <rgu2204@gmail.com wrote:
From: Ridwan Gunawan <rgu2204@gmail.com
Subject: Re: Bizinov2010-Community Industri HOVERCRAFT Indonesia & KASAL Slamet Soebijanto
To: “Bizinov2010 Google Group” <bizinov2010@googlegroups.com
Date: Tuesday, 10 January, 2012, 13:22

Saya tak pernah meragukan support Prof KK untuk kemajuan teknologi. Beliau bukan politisi baik sebagai Rektor ITB maupun sebagai Menristek. Hanya contuhnya Pak Habibie sebagai Wapres dan Presiden saja tak bisa begitu saja menyelamatkan program N-250 yang sudah hanya tinggal 200 Juta Dollar untuk menyelesaikan FAA Certificate. Memang waktu serelah Asian Economic Callapes 1998 prioritas pendanaan dan policy pembangunan berubah. Itu kenyataannya yang pahit. Padahal sudah ribuan tenaga ahli proffesional muda berbakat  dikirim mengambil S1 sampai S3 dan mulai pulang ke tanah air. Namun BPIS sebagai induk perusahaan strategis dibubarkan pemerintah.  Yang penting kedepan. Tak banyak saya temukan bekas rektor ITB dan mentri yang mau balik tetap setia ke teknologi development dan support. Salak duanga adalah beliau dan Prof Wiranto Arismunandar. Alm Prof Samaun Samadikun juga yang pernah menjabat. Dirjen Ketenagaan di Dept ESDM; jabatan bisa sangat  ‘basah’. Dan juga menjabat Ketua LIPI dengan kidup sangat sederhana balik ke kampus mengajar kembali dan berjuang untuk kemajuan dunia riset elektronika sampai ahir hayatnya. Itu bartu 3 orang yang saya kena pribadi. Sy sempat ngobrol dengan Prof KK waktu beliau meneken kerjasama antara ITB dengan Politeknik Astra yang ikut saya dirikan.
Perdebatan terbuka antara orang2 yang mengerti persoalan teknology management adalah kunci kemajuan. Saya tak pernah sangsi keahlian sudah ada, tinggal sebagai gerbong kita perlu “lokomotif” yang menarik kedepan enuju sasarai yang sudah diprioritaskan bangsa melalui mekanisme yang disetujui. Dulu ada MENRIZSTEK dan supaya balans akan mendengar saran dari DRN yang anggautanya dari ABG. Menristek merekomendasikan ke Presiden dan BAPPENAS serta Dana riset Sektor 16 dibagikan berdasarkan proiorotas yang disetujui melalui Mekanisme anggauta dari sektor ABG dan tentu dari dana rutin Badan Litbang Departemen dan Nn Departemen. Jadi cukup melibatkan banyak pihak.
Sekarang sih saya hanya tak tahu bagaimana mekanismenya dan apa benar dilaksanakan kalaupun sidah ada dalam Sektor 16 ( dana riset semua LPD dan LPND yang dileluarkan pemerintah ).
Teriring salam dan permohonan jangan berhenti menyokonh kemajuam teknologi Prof KK
Ridwan Gunawan
Sent from my BlackBerry® from Optus

3 responses

  1. Kebetulan saya berkecimpunyan dalam dunia bisnis otomotif serta assosiasi otomotif di Indonesia, ASEAN, Asia dan APEC. selama lebih dari 36 tahun. Jawabannya sederhana saja. Teknologi otomotif sudah 130 tahun dan hampir swemua teknologinya sudah bebas patent. ,e,qmh ada sedikit patent soal emisi dan tentu berapa han yang relatif kecil n dan insignificant dibandingkan dengan seluruh teknologi untuk memnuat mobil.
    Namun mendesign mobil, membuat mobil, menjual mobil dengan sukses adalah 3 hal yang berbeda.waktu di sekolah bisnis ternama dimana saya disekolahkan setelah lulus dari ITB dan bekerja, professornya n mengatakan ada ” Rule of the Three ” dalam unia otomotif. kalau soal manufacturing. disetiap sektor otomotif, hanya produsen nomer 1. bisa untung besar. No 2 untung sedang dan No. 3 tak untung. padahal mungkin ketiganya sama bagus. Kuncinya bukan lagi produknya tapi skala ekonominya. Ada sekitar 40,000 komponen dan sub-komponen yang harus dirangkai menyangkut ribuan kontraktor dan sub-kontraktor. Jadi masalahnya bukan lagi teknologi tapi effisiensi dan skala ekonomi. Toyota Avanza dan Daihatsu Zenia dasarnya dibuat dalam pabrik yang sama barangkali dengan kemampuan sekitar 500,000 unit setahun. suksesnya bukan semata karena sering ganti model kulit luarnya, tapi terutama karena skala ekono,i yang tinggi akibat penjualan yang sukses.

    Mobil SMK jadi poilemik karena tujuannya bukan untuk sukses di pasar, tapi adanya kerja praktek nyata di SMK yang dibiayai pemerintah. SMK penerbangan mengassembling kit pesawat di Bandung. SMK Solo mengassemblin mobil dari hampir semua komponen yg diimport atau dibeli lokal, Tujuan PDK ( waktu itu ) supaya ada kerja praktek nyata pembuatan barang2. termasuk mobil dan bahkan peaawat kit. Namun karena beberapa pemimpin yang bermaksud baik dan tulus namun tak pernah terlibat dalam skala mass manufacturing yang secara pribadi saya hormati yang memakai proyek mobil SMK ini sebagai kampanya mengenai kemampuan teknologi putra bangsa ( yang saya sendiri secara prinsip menyokong ) maka baik Pak Jokowi yg waktu itu Walikota Solo dan Pak Dahlan Iskan sebagai Mentri BUMN ( termasuk proyel monbil listriknya ) salah mempromoikannya sebagai produk unggulan SMK yang siap dikomersialkan. dan Pak Dahlan Iskan menabrakkan mobil listriknya ( yang cukup advance dan sebenarnya lebih cocok untuk diunggulkan karena masukn ke celah pasar yng unik ) hanya karena sistim pengeremannya tak sanggup menahan laju waktu di turunan Cemorosewu yg berat.

    Jadi sekali lagi masalahnya bukan saja teknologi, tapi bagaimana menjual sehingga mencapai skala ekonomi yang tinggi.Itu saja. Malaysia yg memberikan monopoli ke Proton saja setelah monopoli selesai tak lagi sukses dan harus dipelihara sebagai “Gajah Putih” yang menghabiskan subsidi negara. Ingat saja prouksi TIMOR dan renacan produk nasional BPPT bernama Maleo.

    Jadi pribahasa mengatakan : “Yes, it is the answer” . But ” What is the question ?”

    Salam ari Los Angeles pemerhati teknologi dari seorang kakek pensiunan yg pernah memakan asam garam mass production dan pimpinan organisasi otomotif serta jadi anggauta DRN dan DPN selama 30 tahunan.

    Kamau tertarik, kirimkan email ke saya dan bila sudah balik ke Indonesia dengan senang hati saya ingin berbagi pengalaman.
    Sementara saya incognito dahulu.
    XXX

    -0-
    Red:
    Mantab komennya…Kalau boleh nebak R….n G…..n… Di LA kah skrg ?
    Bisa kasi komen ttg Molinas kah ? Rekan2 sy lagi sibuk ngurusin itu, pdhal sy sendiri pesimis. Bukan soal teknologinya tp soal sustainability-nya.

    .

  2. Kalau menurut Aristoteles, jawaban pak KK ini bisa dikategorikan dalam “argumentum ad misericordiam” dalam taksonomi fallacy arguments.

    ttd.

    (Alumni ITB yang malu dengan tingkah polah seniornya dan berharap tidak ikut berbuat hal yang juga memalukan)

  3. Ping-balik: Akankah Mobnas Esemka Sukses Dimatikan Seperti Hovercraft Sebelumnya? « A Personal, How-to, Tips And Reviews Blog

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s