Guruku di SMPN 1 Jkt


Ceritanya saya diminta oleh seorang kolega muda yang saya kagumi Baron Noorwendo untuk bikin pengantar bagi sebuah buku berjudul -Dibalik Dinding Formal SMPN I – yang dibuat oleh lulusan SMPN 1 angkatan 1983 (th lulusnya). Setelah lewat 1 bulan lebih barulah di tgl 01Jan2010 saya bisa bikin tulisan ini. Mungkin juga sudah telat, atau barangkali belum, entahlah saya kirim saja ke Baron. Lepas daripada berbagai kesulitannya, tentu ide ini sebetulnya sangat baik sebagai kenangan kita pada guru-guru yang telah mendidik kita dengan sepenuh hati. Ada tiga guru yang jadi topik yaitu pak Suratman, pak Hen Mardiono dan pak Nasli. Saya hanya mengenal dua yang pertama saja sedang yang terakhir waktu saya keluar beliau baru masuk, mungkin saya pernah bertemu waktu ada meeting di Depok angkatan saya 69 dengan para guru.

***

Tulisan untuk Baron

Aslm,-

Kiat saya bila ingin menulis adalah MULAI saja dulu, nanti sisanya akan mengalir sendiri. Demikianlah walhasil dihari pertama tahun 2010, mulailah saya berusaha menunaikan hutang saya pada seorang kolega muda yang amat berbakat dalam menjalani kehidupan dari berbagai sisi. Yang paling saya kagumi adalah dari pengamatan saya sejauh ini kolega muda yang  bernama Baron ini amat berhasil dalam berbisnis dengan kata lain beliau juga mengembangkan entrepreneurship, sesuatu yang amat penting untuk Negara kita diera sekarang ini.

Waktu Baron meminta saya untuk turut mengisi buku ini, sungguh saya tidak percaya… koq ujug-ujug memilih saya, apalah nanti kata teman-temannya yang tentunya tidak mengenal saya. Bedanya antara angkatan Baron dengan angkatan saya amat jauh, saya lulus tahun 1969 sedangkan angkatan Baron menyelesaikan studinya di SMP I tahun 1983. Ini saya ketahui dari tulisan yang ada dalam buku ini. Jadi perbedaan 14 tahun itu tentulah amat signifikan dimana perbedaan jaman akan menjadikan beda pandangan yang besar. But guyz… terlalu pusing mikirin ini itu pokoknya saya terima ajalah toh maksudnya baik semua. “Gitu aja koq repot !” kata Gus Dur yang baru wafat beberapa hari yang lalu (inna lillahi wa inna ilaihi rojiun… saya adalah salah seorang pengagumnya). Jadi saya serahkan pada pemrakarsa, bila artikel ini tak cocok untuk pengantar buku, silakan dipindah kelain tempat. Atau bila tak sesuai sama sekali dengan buku ini silakan di delete saja. Hanya saya mohon ijin untuk nanti saya akan mempostingnya di blog saya.

Via internet saya mendapatkan naskah itu, mulailah saya baca lembar demi lembar, tidak sekaligus. Bahkan terhenti suatu saat mungkin beberapa minggu, untuk itu saya minta maaf lagi pada Baron melalui fesbuk… duh masa kini banyak cara untuk berkomunikasi, biar yang lain saja yang menjelaskan – what facebook really means – Itupun masih juga tertunda-tunda terus, seakan-akan saya belum mendapatkan mood untuk menulis. Padahal  mood-moodan amat dilarang dalam menulis kalau mungkin menulis itu jadi kebiasaan rutin. Demikian statement yang sering saya sampaikan dikala memberi ceramah dengan judul – Mari Menulis -. En sampailah habis tahun 2009, saya masih juga belum menulis, saya resah, tapi mereka tentulah lebih resah daripada saya. Muncul juga rasa bersalah dalam diri saya karena gara-gara sayalah semua ini jadi terhambat. Jadilah akhirnya dihari pertama tahun yang baru… ini saya minjam satu istilah dari teman yang sama tuanya ama saya… sambil mipa dia ngomong begini: ‘its enyudai’, tebak sendiri deh artinya apaan. Wah gila udah setahun ternyata saya belum nulis-nulis juga. Saya ambillah computer dan saya… m u l a i … seperti yang saya sampaikan diawal tulisan ini.

Tiga orang guru yang tentunya amat luarbiasa bagi murid-muridnya, demikian juga bagi saya. Dan anehnya saya baru merasa kalau mereka itu luarbiasa adalah ketika… saya membaca buku ini. Gila ya baru tahu kalau mereka adalah mutiara insani setelah lewat empatpuluh tahun… ini rasanya dosa banget saya. Barulah saya mengenang perlahan satu demi satu… pelan-pelan sambil narik napas berusaha memperpanjang ingatan dan syaraf otak agar muncul bayangan mereka di kepala saya. Dan masya-Allah…. Yang besar dan makin besar itu di benak saya adalah…

…yang paling kecil…

Iya… sungguh… pak Suratman…

Koq jadi yang paling kecil bukan yang paling besar ?

Mungkin lho ya…ini mungkin kata saya. Karena…  JIWAnyalah yang memang jiwa besar.

Diluar dugaan sama sekali bahwa beliau pernah jadi sukarelawan yang berniat suci membela Negara. Saya masih ingat waktu saya masih kecil saat itu jaman bung Karno Presiden RI, banyak orang mendaftar untuk menjadi sukarelawan dan akan di terjunkan baik di Papua (Irian) maupun sesudah itu di Kalimantan Utara. Dan apa yang kemudian dilakukannya, semua itu baru saya ketahui dari buku ini. Terus terang saya merasa amat kecil dibanding beliau, apa yang saya perbuat selama ini dan bahkan sudah menjadikan saya sedikit (mungkin juga banyak) rada-rada narsis. Merasa sudah hebat berbuat ini itu. Lihat saja di blog saya, sekalian promosi nih:

https://koestoer.wordpress.com/

Wah udah deh… kalau memakai istilah saya jaman dulu sih, mohon maaf dulu karena rada kotor kata-katanya… saya ini kalau dibanding beliau ‘Gak ada setai kukunya’ alias kecil banget tak ada artinya. Pak Suratman itu dulu mengajar saya kelas 1 SMP mata pelajaran Administrasi. Mungkin mata pelajaran yang diajar kemudian bergati-ganti sehingga 14 th kemudian mata pelajaran lain yang dipegang oleh pak Suratman. Setelah itu mungkin sekali lagi kelas dua atau kelas tiga, maaf saya agak lupa mata pelajaran apa. Kisah tentang pa Suratman yang menurut saya luarbiasa adalah saat beliau menjadi pengantar surat (berikut ini saya kutip sedikit apa yang ada di buku)… Demikianlah pak Suratman – Sang Pengantar Surat Sejati, menyampaikan semua berkas surat dengan ikhlas, jujur dan apa adanya dengan segala konsekuansinya. Satu-persatu, para guru SMP 1 berhasil mendapatkan rumah di Perumnas Depok I kecuali satu orang! Siapa dia? Pak Suratman!.

Guyz… andaikan itu saya… pasti saya sudah berhenti jadi guru SMP 1. Namun beliau dengan kesabarannya tetap menjalankan tugas sebagai guru, sampai suatu saat Allah memberikan rejeki yang lebih layak baginya. Kesabaran seperti ini mungkin hanya ada pada manusia tertentu yang menjadi pilihan Allah SWT. Berarti saya harus belajar banyak lagi ilmu (khususnya pada beliau) agar bisa meniru kesabarannya.

Dari tiga guru yang dibincangkan dalam buku ini, saya hanya mengenal dua saja yaitu pak Suratman dan pak Hen Mardiono. Sedangkan pak Nasli tidak pernah mengajar saya. Mungkin pada tahun terakhir saya di SMP 1, pak Nasli baru masuk. Guru Agama saya waktu itu adalah pak Zaini (almarhum). Dengan demikian saya tak akan banyak komentar tentang pak Nasli, yang toh sudah ditulis banyak sekali dalam buku ini karena rupanya para murid terkesan sekali pada pak Nasli ini. Seingat saya kami bertemu di Depok saat ada pertemuan antara teman seangkatan saya SMP 1 Kelompok 69, mungkin ada fotonya di fesbuk. Bila tak ada minta saja sama Nita Dotulong (search aja di FB).

Jadi tentu tentang pak Hen lah saya akan membahas sedikit kesan-kesan saya diajar beliau. Mungkin saya bukanlah termasuk murid yang berada di dua kutub ekstrim seperti yang dinyatakan dalam salah satu artikel buku ini. Kutub pertama yang ekstrim bandelnya, yang ini pasti jadi sasaran atau targetnya pak Hen, sedangkan kutub kedua adalah yang pintar dan rajin sehingga dikenal dan dipuji semua guru.  Jadi saya termasuk yang biasa-biasa saja, tak ada istimewanya, jadi dengan sendirinya juga tidak dikenal oleh guru, seperti ‘people on the street’ saja tak dikenal nama maupun tampangnya oleh guru. Walau begitu saya tidak berkecil hati. Karena guru buat saya adalah panutan bahkan ada beberapa yang menjadi idola saya baik dulu maupun sekarang.

Pak Hen mengajar saya mata pelajaran MENGGAMBAR… lucukah ? Oh tidak… bahkan selalu menjadi topic pembicaraan utama tiap minggu. Anehkah ? ya, aneh juga. Karena biasanya yang jadi topic pembicaraan mingguan itu adalah Aljabar, atau apalah yang lain yang susah-susah.. ilmu ukur keq atau mungkin ilmu Hayat (begitu namanya dulu, jadi bukan Biologi). Jadi kenapa koq Menggambar selalu jadi topic omongan mingguan ?

Kenapa ? Guess why ? And guess how ?

Guess why, karena setiap dua minggu harus menyelesaikan tugas gambar, jadi kalau tidak bikin tugas gambar itu maka… guess how, tebak bagaimana akibatnya ? Yang pertama kuping dijewer sampai nylekit meringis, yang kedua harus bikin tugas gambar dua kali lipat, walhasil semakin repot hidup kita jadinya dengan tugas gambar itu. Namun demikian anak wanita tak pernah dijewer oleh pak Hen, tapi mungkin memang sudah naturnya yang wanita lebih rajin, saya belum pernah lihat murid wanita tidak mengerjakan tugas. Mereka rajin semua mengumpulkan tugas gambarnya, anak laki aja yang pada bandel sering tak bikin tugas.

Baru sekarang setelah membaca artikel yang ada di buku ini tentang pak Hen, saya menyadari sebenarnya beliau itu adalah seniman sejati. Dalam penerawangan saya ke masa 40 tahun silam (duh… penerawangan istilah apa pula itu ?), muncullah perlahan tapi pasti kenangan tentang pak Hen ini. Pertama adalah saat kami diminta untuk menggambar bintang kami (Sagitarius, Leo… dsb). Karena bintang saya adalah Virgo, maka lambangnya adalah satu symbol dan lainnya adalah gambar wanita. Saya kurang pintar gambar karena itu gambar wanita (yang Cuma kepalanya saja) tergambar seadanya saja, itupun saya minta bantuan kakak di rumah. Oleh beliau gambar itu dipandang agak lama dan melihatnya sambil miring kepala kekanan dan kekiri. Saya jadi ketakutan… kuatir jangan-jangan gambar saya akan docoret besar-besar. Lalu apa yang terjadi ?

Pak Hen mengambil bolpen hitamnya di saku beliau lalu gambar saya malah dibenahi. Gambar wanita yang tadinya rambutnya sederhana dibuat jadi berombak oleh beliau. Buntutnya wanita virgo ini jadinya cantik dengan rambut tebal dan berombak… luarbiasa kan. Gambar beliau itu tidak saya hapus dan saya hanya menambah warna pinggir-pinggirnya saja karena saya kuatir kalau saya tambah-tambah malah jadi jelek. Barulah saya sadar kalau beliau bukan sekedar mengajar kami menggambar tapi beliau benar-benar seorang PELUKIS.

Satu hari ada pengumuman di sebuah radio amatir (begitu istilahnya dulu), permintaan untuk menggambar lambang dari radio amatir itu. Pak Hen secara spontan kemudian menggambar dengan cat airnya dikertas gambar  dan menunjukkan gambarnya itu kepada kami para murid, dan gambarnya itu buat saya sungguh bagus dan megah…

Demikianlah kesan saya terhadap pak Hen Mardiono yang dari artikel dibuku  ini belakangan saya ketahui beliau pernah juga jadi –cover boy- nya majalah Varia (dulu sangat terkenal).

Tak terasa kenangan itu telah lama berlalu, dan angkatan kami bulan Oktober 2009  lalu menyelenggarakan Halal Bihalal di Aula SMP Negeri 1 yang telah kami tinggalkan 40 tahun lamanya. Tentu banyak kenangan di sekolah ini, yang saya lihat interior dalamnya sudah banyak berubah, padat dengan bangunan. Tapi ada masjid, dulu tak ada. Semoga SMP kita ini tetap menjadi tempat belajar yang bermutu guna mencetak kader-kader bangsa dikemudian hari.

Terakhir… Bolehkah saya memohon sesuatu pada Baron dan kawan-kawan. Apakah mungkin bila nama saya tidak dicantumkan ? Jadi tulis saja NN (No Name). Ini semua bila dimungkinkan. Agar bisa jadi surprise untuk guru-guru  yang saya hormati itu. Atau mungkin mereka sudah tahu karena telah anda sampaikan kepada mereka tentang akan adanya artikel ini ? Tapi ini semua terserah anda.

Atau mungkin anda punya cara atau ide lain untuk bikin kenangan ini makin membekas bagi kita semua. Wassalam.-

N.N. 01 Januari 2010.-

Iklan

2 responses

  1. Pak tmy… alhamdulillah materi tulisan sdh ada… salah satu pengantarnya ditulis oleh prof Raldi… Memang hanya ttg 3 guru: pak Hen (aktif 1962-1986), pak Suratman (1962-1986) & pak Nazli (1968-1995)… kalau bisa hubungan via japri mungkin ada hal-2 yg bisa dikembangkan…
    Saya tunggu kabar pak tmy… 🙂

  2. mr NN, sangat menarik kenangan kita kepada para guru2, khususnya saat kita di SMPN 1, apa bung Baron sdh bikin buku? Mungkin baik juga klo di kumpulkan tulisan dr K-69 mengenai guru2 kita spt p’Engkos – p’Taher – i’Kirhoff (kayaknya salah eja aku neh) yg ngajak kita berkebun dll

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s