KASUS


Tue Dec 15, 2009 2:35 am (PST)

Yth Mas Gatot dan temans lain yg kiranya memerlukan . Berikut tanggapan yg sangat segera dari senior alumnus, yang lulusan hukum dan ekonomi , dan yg menggeluti masalah ini sejak lama. Semoga manfaat bagi kita semua . Salam AYB —– Pesan Diteruskan Judul: Re: [iluni-pusat] UU BI no 23 th 99, cikal bakal Century Gate n Gate2 lainnya, coming Soon ?

Mas andi itu cerita basi, dr dulu si OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau oleh bankir biasa disebut Ojeg krn sifatnya spt ojeg yg diantar bayar, kalau OJK ini yg diperiksa bayar iuran. Jadi duitnya banyak ini yg halal, belum dari yg tdk halal yaitu ada penyimpangan namun pura2 tdk tahu dan ini ada ongkosnya, inilah yg dulu waktu krisis 1998 akibat moral hazard pengawas perbankan maka terjadi krisis perbankan, dan ini yg terulang di kasus century (temuan BPK), dan akan terulang 9 tahun lagi. UU thn 1999 tsbt produk BJH yg bagus, namun karena orang sdh benci dia mk konsep itu ditentang, kususnya oleh BI dan para pakar khususnya alumni UI yg saat ini pada megang jabatan (buka saja klipping koran tahun2 tsbt). Konsep ini mengikuti konsep Eropa, dimana BI sbgai otoritas moneter yg independen harus dipisahkan dg OJK sbgai pengawas perbankan, jadi ada check and balance (saling mengawasi), sehingga kalau ada krisis dan menentukan bank akan di bail out atau tidak krn sistemik, maka yg menentukan sistemik tsbt di Eropa adalah Bank Sentral, OJK dan Depkeu, ini berbeda dg di sini dimana BI dan pengawasan perbankan menjadi satu, jadi kata pakar perbankan tdk independen, bisa kongkalingkong, karena BI atau dewan gubernur akan cenderung mbelain para pengawasnya sendiri yg nota bene adalah BI juga.

Sebenarnya dulu hampir ojeg itu berdiri, bintangnya juga yg saat ini menjadi ketua LPS dia salah satu tim penyusun RUU OJK dan kandidat utk di ojeg tadi, apalagi BI saat itu lagi tiarap, namun krn DPR waktu itu lelet atau pura2 lelet krn perlu pelumas, maka RUU jadi UU OJK tertunda, nah pas tertunda tsbt, BI mulai jongkok, berdiri dan berjalan lagi, akhirnya kita tahu semua, kasus yayasan LPPI yg salah satu aliran dananya keanggota DPR, dan besan jadi korban, mengungkapkan itu bahwa aliran dana tsbt juga adalah utk mengamandemen UU (istilahnya sosialisasi RUU), Maka wajarlah kalau akhirnya ojeg tadi tertunda lagi dan masih tetap di BI.

Apa sih untungnya jadi pengawas (OJK)?, Ini itung2an setan, bukan itung2an malaikat, pertama gajinya besar minimal sama dg yg di BI saat ini, namanya juga pengawas, Kedua kekuasaannya besar, pasti yg diawasi takutlah, dan itu bukan hanya bank saja, karena ojeg ini juga mengawasi lembaga keuangan non bank (multifinance, asuransi, modal ventura, lembaga pembiayaan kredit, leasing, factoring dll) so kalau ditakutidan dihormati. ente bisa nitip2lah, anak mantu buat kerja disitu bah, atau dapat karedit buat keluarga mudahlah. Ketiga bisa dapat bonuslah kalau surplus, dan hitungannya ya pasti surplus karena menerima iuran dari yg diawasinya, Keempat ini tdk penting kata anak sekarang, karena dihormati, sehingga pasti banyak voucher dan parcel (sekarang ga boleh) kalau diundang kawinan tdk ngantri salaman karena ada red carpet dan tdk antri makan krn duduk di VVIP walaupun dia bukan deputi BI, Tetapi itung2an setan ini tentunya dibungkus dg bahasa malaikat spy OJK ini ada tetap di BI atau di Depkeu atau Independen diluar BI dan diluar Menkeu, masing pihak ada alasannya.. Pertanyaannya apakah kalau pengawas itu tdk lagi di BI pasti bagus, belum tentulah karena tdk ada jaminan bahwa penghasilan tinggi pasti tidak korupsi, contoh BI, DPR, BUMN dll, Tetapi minimal pas saat ada kejadian krisis dan penentuan sistemik, BI tidak terbelenggu shgga jadi lebih independen dalam menghasilkan keputusan. BI bisa lbh rileks utk mengatakan sistemik atau tdk karena tdk ada beban moral harus menyelamatkan bank tsbt, kalau saat ini secara psikologis mungkin juga ada niatan dari aparat2 dibawah utk tetap menjaga century eksis, dan ini wajar karena selama ini sdh berinteraksi dan mungkin juga ada balas budi (indikasi dari temuan BPK) dan beban inilah yg membuat data, fakta dan analisanya menjadi cenderung membail out BC, dan pengambil keputusan KKSK, tinggal endorse saja, “garbage in garbage out”. Sejarah sdh dua kali mencatat kalau tdk ada OJK, ya spt ini, walaupun mungkin kalau ada OJK juga blm tentu tdk terjadi skandal century. Kata bung Habib, keledai saja tdk akan terperosok ke lobang yang sama, walaupun kita tahu bung sekjen dari dulu sampai sekarang selalu terperosok ke lubang yg sama, Huhuhuhuuyyyyy

Iklan

2 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s