Komen AntiKanker Dilarang…


Komen beberapa pihak…
-0-
Saya berbeda pendapat Prof AS dalam soal ini. Domain pemerintah bukan untuk mendukung argumen ilmiah semata. Domain pemerintah adalah kebijakan dan perubahan kebijakan, dengan mempertimbangkan berbagai hal yang berubah: suara iptek, kepastian hukum, suara masyarakat, dan faktor lainnya.

Dokter atau profesi dokter memang harus bekerja dalam “evidence based” domain supaya tidak terjadi praktek coba-coba dan praktek “terkun” yang bisa merugikan pasien. Tapi mesti diingat juga, bahwa asosiasi dokter kita didominasi oleh suara practicing doctors, bukan peneliti / periset medis. Singkatnya, dokter praktek ada di domain operations (praktek menyembuhkan penyakit) bukan domain eksperimentasi yang dilakukan atas pasien yang meminta pertolongan. Sekalipun kalau kita melihat praktek internship dokter maupun calon dokter, ada juga sedikit menyerempet-serempet ekperimentasi atas pasien tapi dibilang dengan “patient’s consent”. Para dokter periset juga menggunakan atau bereksperimentasi dengan para pasien sebagai objek juga untuk mengembangkan dan menyempurnakan pengetahuan / dan praktek mereka.

Praktek Dr. Warsito Taruno memang belum mencapai standar terapi yang “evidence based”. Tapi bagaimana pula metoda beliau bisa menjadi “evidence based” tanpa experimentasi medis?  Saya mendengar bahwa sebagian terbesar pasien Dr Warsito dengan terapi ECVT adalah pasien dengan status “terminal illness” artinya secara medis para dokter sudah “angkat tangan”. Tidak lupa pasien juga diminta menandatangani “consent letter”. Jadi mestinya ini merupakan peluang luar biasa bagi para dokter Indonesia (khususnya yang berkecimpung di riset medis) untuk mendukung dan menjadikannya sebagai objek riset klinis dan ilmiah.  Apalagi pendekatan terapi Dr. Warsito datang dari ranah non medis (ilmu fisika), yang tidak dikuasai oleh profesi dokter.

Jadi kalau Kemenkes (dan Balitbangnya) telah mempertimbangkan seluruh alasan ilmiah, tapi  membiarkan para practicing doctors “menolak” Dr. Warsito menyampaikan presentasi ilmiahnya, menurut saya “aneh” dan keilmiahannya perlu diragukan. Setidaknya, Kemenkes (dan barangkali Kemenristek) harus mengundang kedua (atau lebih) fihak untuk bertemu dan mencari jalan keluarnya. Perlu diingat bahwa hasil (outcome) terapi Dr. Warsito dapat digolongkan “extraordinarily positive” kalau dibandingkan dengan outcome terapi sesuai dengan “established and evidence based medication” yang ada saat ini.

Di beberapa negara, pemerintah bahkan membuat kebijakan khusus untuk inovasi-inovasi medis seperti ini, termasuk mengambil alih pembiayaannya dan “memaksa” praktisi medis untuk mendukung. Saya terus terang heran kalau pembiaran (sorry for the expression) seperti ini dibilang sebagai sikap yang bertanggung jawab dan demi menegakkan nilai-nilai ilmiah. Maaf kalau saya tidak cukup faham dengan dunia medis, saya hanya mengandalkan common sense.

Salam inovasi !

KS
2013/10/24

Kawan2 inovator ysh,
Saya ikut prihatin dgn kejadian ini. Tetapi, tanpa mengetahui situasi dan kejadian yg sebenarnya, sebaiknya kita tidak menempatkan diri dalam posisi “mengadili”, apalagi sampai memvonis seseorang atau pihak tertentu sebagai “jahat”. Baca Koran hari ini:”salah tangkap adalah lebih jahat dari kejahatan itu sendiri”.
Saya tidak percaya bahwa Kemenkes tidak berpihak kpd inovasi anak bangsa. Pasti ada alasan ilmiah yg kuat dibalik itu.
Salam inovasi.

A. S.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s