Mengapa Kita Tidak Membangun Kilang ?


From: Mauren Toruan <mplt2020@yahoo.com>
To: alumni_ftui@yahoogroups.com; Ilunigp <ilunigp@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, June 27, 2013 7:02 PM
Subject: Re: [alumni_ftui] Masih Tentang Subsidi

Om Juliardi yg juga saya hormati

– kesulitan membangun kilang adalah kepastian crude intakenya selama lifetime / depresiasi kilang tsb (biasanya 15-20 tahun saja). Krn kita sdh tidak punya crude lagi, maka si investor memang sebaiknya mereka yg bener2 punya minyak mentahnya. Masalah yg terjadi skrg ini, Aramco dan Kuwait meminta insentif yg dianggap “berlebihan&quot; shg project ini msh berjalan di tempat. Sama halnya dng rencana kilang baru lainnya yg akan dibiayai Pertamina 100pct.

– tujuan pembangunan kilang baru adalah agar semua produksi BBMnya adalah utk domestik. Situasi ini juga jd pertimbangan buat investor krn membuat keekonomian project/investasi menjadi rendah.
– rencana pembangunan kilang ini juga sedikit terhambat krn peliknya masalah pembebasan lahan di negara kita ini. Makanya target Pertamina membangun kilang baru di lahan yg sdh dimiliki Pertamina.

– kilang2 Pertamina memang rata2 sdh tua spt dumai dan cilacap (lbh dr 30 thn). Bisa jadi inefisiensi terjadi (operation ratio nya cuma 80pct), tp setahu saya Pertamina trs berusaha mendapatkan margin kilang yg positif setiap bulannya.

– bisa saja minyak dalam negeri dianggap “gratis” utk diolah di kilang Pertamina (Pertamina tidak “membeli”nya) tetapi itu berarti menghilangkan sisi penerimaan dari penjualan minyak. Jadi pengadaan BBM jd “murah” tp pd saat yg sama penerimaan minyak juga “turun” (balance)
Saya yakin secara ilmu keuangan (apalagi APBN), hal ini tidak lazim

– BBM yg diproduksi dari kilang (yg sebagian minyak intakenya juga diimport) terdiri dr RON 88/92/95. Krn tingginya demand (khususnya 88) maka BBM yg diimport ada 88/92nya juga.
Begitu juga solar (HSD/Gas Oil) yg diproduksi kilang tdk cukup shg perlu tambahan import.

– betul bahwa fluktuasi harga RON 92/95 tdk terlalu berpengaruh krn kebutuhan grade ini paling2 5-10pct dr total demand gasoline.

– saya setuju negara ini kurang berorientasi ke depan dan suka terlena. Tp itulah faktanya, jika tidak ditemukan cadangan baru dan jika tingkat konsumsi meningkat spt saat ini, kita akan kehabisan produksi minyak dlm jangka waktu 10 tahun lg.

– secara natural, sumber2 minyak “sisa” makin jauh di dalam bumi, makanya semua project baru rata2 di laut dalam (IDD). Perlu teknologi dan investasi yg sangat amat besar dan tentu saja dng resiko yg sebanding

– disamping hrs terus melakukan ekplorasi sumur2 baru (tmsk yg unconvetional spt CBM dan shale oil/gas), saya setuju bahwa diversifikasi energy hrs secara intensif dilakukan spt kerosene ke LPG. Ketergantungan akan minyak hrs mulai dihilangkan. Salah satu alternatifnya adalah gas yg dng asumsi yg sama msh bertahan 40 thn lagi

– pengembangan, investasi dan pemanfaatan renewable energi juga hrs mulai serius dilakukan. Saya rasa Pertamina sdh mulai serius dng geothermalnya, tmsk sistem PSC dan peraturan yg terkait. Blm lg hydro/sea wave, wind, solar dll

– pemerintah hrs serius mendukung pertamina utk pengembangan renewable energi ini, krn utk kondisi BBM domestic yg murah krn disubsidi spt skrg, akan kurang menarik minat investor swasta krn dibutuhkan biaya yg cukup besar utk pengembangannya.

Dear all
Saya hanya mencoba membagi apa yg saya tahu shg kita punya gambaran yg lengkap ttg hal ini. Kritis itu bagus tetapi kritis bukan berarti selalu berpandangan negatif. Pemerintah kita mungkin memang blm sempurna dlm menjalankan tugasnya.

So apa yg bisa kita lakukan utk perbaikannya dng langkah nyata ?

Salam kebersamaan
MPLT

Powered by Telkomsel BlackBerry®

—–Original Message—–
From: juliardi_fm@yahoo.com
Sender: alumni_ftui@yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Jun 2013 13:37:07
To: <alumni_ftui@yahoogroups.com>
Reply-To: alumni_ftui@yahoogroups.com
Subject: Re: [alumni_ftui] Masih Tentang Subsidi

Mas Mauren Yth,

Just want to sharing:

>>1. – yg memproduksi gasoline dari kilang di Indonesia hanya Pertamina. Pada dasarnya tidak ada kilang minyak besar yg dimiliki dan diopearotori oleh pihak swasta (kecuali sebuah “kilang kecil” TWU di jawa timur).
Comment: semenjak krismon 98, semua pihak tahu kebutuhan BBM menjelang 2004, akan mencapai 1,4juta barrel/day. 9 proposal kilang baru diajukan oleh swasta.tidak satupun terealisasi, input dari investor: tidak ada jaminan hukum dan investasi dari Pemerintah Indonesia.Lifetime kilang lebih dari 25 tahun dan HARUS PASTI INPUT Crude

>>2. – karena tingginya domestic demand, terbatasnya domestic crude, maka diperlukan import minyak mentah (utk feed intake kang) dan import BBM (produk jadi) utk memenuhi domestic demand
Comment: refer comment 1.

>>3.- sbg BUMN, untuk mengolah minyak menjadi BBM Pertamina mendapatkan fee dari pemerintah
Comment: ada kilang yg sudah tua, sehingga in-efisiensi, tetapi oleh Pemerintah tidak dilakukan modifikasi/renovasi/upgrade, MENGAPA HIGH COST DIPERTAHANKAN?
>>4.- total selisih harga jual domestik dan harga pengadaan inilah yg disubsidi (premium RON 88). Setahu saya subsidi masih lebih kecil dari penerimaan migas, jd msh bisa dicover.
Comment: mohon klarifikasi-> a. bahwa crude dari bumi Indonesia,dip roses di kilang Indonesia, distribusi di Indonesia maka cost adalah (biaya prosesing di kilang, plus distribusi) hasilnya RON 88 ->INI TIDAK MAHAL. Tapi berapa nilai sebenarnya
b. Import Full premium (RON 9x ke atas) dari Spore,negara Lain, plus shipping, plus distribusi-> INI YG MAHAL, tapi berapa nilai sebenarnya?
>>5.- perhitungan nilai subsidi tentu berdasarkan biaya produksi BBM itu sendiri (LRT = Lifting, Refining and Transporting) dari Pertamina. Disini termasuk harga import minyak mentah dan import BBM dari pasar.
Comment: Refer 4.a & 4.b

>>6.- Penyaluran BBM dilaksanakan oleh Pertamina (PSO), tetapi karena keterbatasan infrastruktur dan fasilitas, utk bbrp “remote area”, penyaluran premium (BBM bersubsidi) juga diberikan kepada pihak swasta, saat ini adalah AKR dan Parna Group dan utk itu mrk diberikan “fee”
Comment: ini adalah distribution cost dari semenjak OrBa, tanggung jawab negara melakukan distribusi, walaupun jauh dan harga tetap di Jakarta atau Merauke. Dari semenjak dulu dilakukan Dir. UPPDN & PKK.

>>7.- utk gasoline selain premium (RON 88 bersubsidi), dibuka pintu utk pihak ke-3 utk pengadaannya, saat ini pemainnya antara lain Shell, Total, Gulf. Petronas sdh hengkang dr bisnis ini.
Comment:Shell Total bermain di pasar pertamax ke atas, survey menunjukkan kenaikan harga di produk ini tidak besar impak nya terhadap SEMBAKO

>>8.- Indonesia tidak lagi menjadi negara eksportir minyak (OPEC) sejak 2008. Oleh karena itulah beban subsidi bertambah berat disamping demand yg meningkat secara significant dari tahun ke tahun.
Comment: Rule of thumb OIL, every 1 barrel use, you must explore 1 barrel for continuation. FAKTA dari Mas Reddy, kontrak explorasi tidak menarik, drilling target 30% saja. China th 94 sudah memanfaatkan drilling tools Schlumberger, sekarang RIGnya merajai. QUO VADIS Indonesia

>>9.- kenaikan harga minyak dunia tidak lagi memberikan kenaikan penerimaan negara yg signifikan krn sudah jadi net importir (bukan esportir). Dng asumsi 1 USD = Rp 9,000 setiap kenaikan harga minyak 1 USD/bbl akan membebani APBN sebesar Rp 900 milyar karena beban sangat tingginya domestic demand yg ujung2nya menambah nilai subsidi.
Comment: Indonesia sudah jadi Net Importir, salah satu nya no.8 TIDAK DIJALANKAN
>>10.- untuk menghilangkan subsidi (sehingga bisa dialokasikan utk sektor lainnya) hanya ada 2 cara, naikkan harga jual domestic sesuai nilai keekonomiannya (mungkin dilakukan secara bertahap) atau batasi demand (yg rasanya tidak mungkin dilakukan – hanya pengawasan/pengaturan pemakaian saja yg bisa dilakukan).
Comment: Indonesia punya cadangan GAS besar, apa mungkin bangun GTL? Indonesia punya lahan yg besar, apa mungkin bangun GASOHOL? Indonesia punya panas bumi terbesar, apa mungkin bangun Stasion Recharge- E Vehicle? Indonesia punya Emas terbesar di dunia (katanya ada uranium nya juga) berapa persen pemanfaatannya?

Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan.

Salam
JFM

 

=0=

 

MASIH TENTANG KILANG

 

Sat Jun 29, 2013 9:03 am (PDT) . Posted by:

“Mauren Toruan”

Dear om Juliardi

Saya ndak tahu apakah saya bisa menerangkan semuanya lewat milis ini, tapi luar biasa tanggapan yg sampeyan sampaikan.
Ini menunjukkan minat dan perhatian yg besar.

Maap kalau komentar saya hanya beberapa hal saja. Sisanya bisa kita diskusikan secara langsung (krn blm tentu semuanya suka dng isu ini ha..ha…)

Bisnis migas itu high risk, high tech and high cost, termasuk bisnis kilang/refinery. Katanya membangun kira2 200-300 MBCD (ribu barrel per day) dibutuhkan lebih dari Rp 100 trilyun (USD 10 milliar). Biaya subsidi kita itu memang bisa bangun 3 kilang minyak.

Saya rasa dng kondisi APBN sekarang, kita memang belum mampu membangun banyak kilang baru krn memang mahal. Kabarnya dari 3 rencana kilang baru tsb, 2 akan J/V dng investor dan 1 yg “pure” uang negara. Mungkin setiap proyek juga ada presentasi debt nya.

Kenapa investor asing agak segan atau terkesan kurang serius utk membangun bisnis kilang di Indonesia, pd dsrnya krn alasan ekonomis sbb(walaupun mungkin ada alasan lain spt yg sampeyan sebutkan) :

1. Sbg bagian hilir migas, bisnis kilang sbnrnya memiliki margin yg sangat rendah jika dibandingkan dng bisnis upstream, that’s why nowadays Pertamina strategy is “aggressive in upstream ..”.

2. Pemerintah kemungkinan “mengharuskan&quot; BBM produk kilang tsb utk disuppy semuanya atau sebagian ke dalam negeri, bukan utk dijual ke luar (export).
Tujuan kita membangun kilang baru tentu saja utk penambahan produk BBM utk dalam negeri atau dng kata lain mengurangi import.

Mhn diingat bahwa total produksi BBM dr kilang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri (karena minyak mentah domestik kita dan kapasitas total kilang yg kurang). Menurut saya kita semua “kaget” menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi kita sangat luar biasa walau ada yg bilang “tidak memiliki pondasi” yg kuat, sehingga akibatnya kebutuhan BBM dlm negeri setinggi sekarang (menurut sebuah konsultan besar, dng pertumbuhan yg sama spt bbrp tahun terakhir ini, Indonesia akan menjadi negara terbesar ke-7 di dunia di tahun 2030).

Bandingkan dng negara lain spt singapore yg sudah sangat “open market” shg banyak investor international company yg memiliki kilang di sana. Mrk ndak perlu mengekspor (yg nota bene mengurangi biaya transport/freight cost) krn harga dalam negeri Singapore sdh harga pasar / keekonomian. Investor berlomba2 ke sana krn singapore juga skrg jadi sentra bisnis di Asia Pasific.

Jadi krn less attractive, mungkin sah2 saja jika investor kilang meminta banyak sekali insentif utk menekan project cost. Disisi lain Indonesia merasa segan memberikan semua kemudahan karena satu dan lain hal (mengurangi state income).

Faktor lain yg hrs diperhatikan dalam membangun kilang baru adalah pengadaan tanah yg selalu menjadi hal yg tidak gampang di negara ini. Lokasi juga hrs diperhatikan utk memanfaatkan jika memang ada produksi crude di sekitar daerah tsb yg bisa dimanfaatkan. Contoh disamping alasan tertentu, Plaju Refinery dibangun utk mengolah minyak2 yg banyak di produksi di sekitar pulau sumatera bagian selatan.

Keunikan bisnis kilang ini dan sistem/situasi di negara tercinta ini, membuat realisasi pembangunan kilang baru selalu tertunda dan tertunda, oleh krn itulah kilang2 tua yg ada mau tidak mau hrs tetap (dipaksa) beroperasi walau sudah jauh melewati masa depresiasinya (cost besar shg margin kilang sangat kecil/negatif).

Bisnis kilang minyak harus memiliki kepastian supply minyak mentah utk intakenya, paling tidak utk life timenya (15-20th). Karakteristik minyak juga hrs diperhatikan spy hasil BBMnya besar (middle distillate rich) krn itu memang tujuan kita membangun kilang. Jika tidak ada, maka akan mempengaruhi teknologi yg dipakai dan kompleksitas dr kilang itu sendiri (semakin mahal costnya). Contoh kilang exxon mobil di singapore yg sangat “sophisticated” dan bisa “melahap” berbagai macam jenis crude.

Akan lbh safe (ekonomis) jika si investor adalah si producer minyak, makanya Indonesia cenderung ke perusahaan minyak nasional negara lain. Dari sisi si investor dia bisa jual minyak mentahnya dan dari sisi project ada security of supply (krn penyuplai minyak adalah salah satu share holder)

Saya ndak tahu apakah IRAK, venezuela atau Iran memenuhi hal2 di atas. Atau ada “take and give” yg mrk persyaratkan, shg bbrp saat lalu Indonesia kelihatan sdg berunding dng SA dan KPC saja (kabarnya skrg sdh dng calon investor baru – bisa jadi itu IRAK ha..ha..).

Maap saya ndak bisa menganalisa ttg “kekurangan&quot; (leadership, peraturan perundangan, biaya “ini dan itu” dll) pemerintah kita dlm hal ini, krn saya kurang expert ttg itu. Pemerintah pasti sdh memperhatikan ttg energi alternatif, cuma kita yg kritis ini melihatnya “agak terlambat” dan “kurang serius” ha..ha..
Pemerintah saya rasa sdh “on the right track” dlm hal pemanfaatan dan pengembangan gas alam. Kita akan bahas terpisah (jika diperlukan)

Konsep subsidi sdh pernah saya coba jelaskan, jd masalah besaran adalah relatif tergantung sudut pandang. Jika kita lihat minyak domestic dianggap “gratis”, maka besaran subsidi akan jauh lebih kecil, tetapi dibarengin dng hilangnya penerimaan migas dng besaran yg sama. Jd masalah disini adalah subsidi itu “ada” dan sebagian penerimaan migas “habis” utk membiayainya.

NOTES (abaikan) :
Lebih dr 10 thn yg lalu saya pernah membuat analisa ekonomi pembangunan kilang baru utk internal perusahaan. Hingga sekarang perush dimana saya bekerja blm tertarik utk membangun kilang minyak di sini.

Thx dan salam kebersamaan
MPLT (bukan agen pemerintah)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

—–Original Message—–
From: juliardi munggaran <juliardi_fm@yahoo.com>
Sender: alumni_ftui@yahoogroups.com
Date: Sat, 29 Jun 2013 04:40:21
To: alumni_ftui@yahoogroups.com<alumni_ftui@yahoogroups.com>
Reply-To: alumni_ftui@yahoogroups.com
Subject: Re: [alumni_ftui] Masih Tentang Subsidi (Lagi)

Mas Mauren Yth.

Just want to sharing
again:

1.^ – kesulitan
membangun kilang adalah kepastian crude intakenya selama lifetime / depresiasi
kilang tsb (biasanya 15-20 tahun saja). Krn kita sdh tidak punya crude lagi,
maka si investor memang sebaiknya mereka yg bener2 punya minyak mentahnya.
Comment: Mohon di
highlighted “sebaiknya” jadi bukan keharusan investor juga supplier crudenya.
Saat ini ada alternatif dari IRAK, kenapa IRAK? Karena target mereka adalah 12
MBPD, dan mereka sangat agresif mencari buyer. Alternatif lain adalah South
America (Venezuela, etc). Mau lebih extreme? Iran. Pertanyaan: Sudahkah kita
melakukan “planning & study” komprehensif utk BBM alternative

2.^ Masalah yg terjadi
skrg ini, Aramco dan Kuwait meminta insentif yg dianggap “berlebihan&quot;
shg project ini msh berjalan di tempat.
Comment: Kenapa Cuma
A**co & K**it yg disinggung? Sebenarnya petinggi2 dari *a*ar Petroleum
sudah siap2 menginvest, tetapi pada waktu presentasi oleh orang Indonesia,
beberapa pertanyaan ini tidak bisa dijawab: a. Berapa ROI yg ditawarkan b.
Dimana lokasi c. Berapa estimasi biaya “ini & itu” sampai Kilang itu
terbangun. Karena tidak bisa dijawab, maka investasi itu dialihkan ke Vietnam
dan Malaysia (RAPID – est. 16 Billion USD).
Comment: Kenapa
statement -^insentif yg dianggap “berlebihan”^ tidak disebutkan angkanya
saja? Karena dengan adanya angka, akan terlihat jelas PROS & CONS insentif
berlebihan pembangunan kilang baru, dibandingkan dng SUBSIDI BBM yg katanya
ratusan T (?).

3.^ – tujuan
pembangunan kilang baru adalah agar semua produksi BBMnya adalah utk domestik.
Comment: Kenapa
Indonesia yg sebegitu besar hanya bertujuan domestic? Sementara S*pore yg hanya
little red dot bisa utk export?

4.^ Situasi ini juga
jd pertimbangan buat investor krn membuat keekonomian project/investasi menjadi
rendah.
Comment: Apakah  Indonesia saat ini sudah tidak mampu membiayai suatu kilang minyak baru
(K**ait est 12 B USD utk 600 KBPD Refinery) sehingga harus mengemis2 investor?
Apa tidak ada cara lain? Sementara Gayus Tambunan, Nazarudin, Joko Susilo dng 3
istri kekayaannya…..

5.^ Makanya target
Pertamina membangun kilang baru di lahan yg sdh dimiliki Pertamina.
Comment: th 99 rencana pembangunan 8 kilang baru
sebagian besar di luar P. Jawa yg tidak bermasalah, seperti P. Selayar, P. Weh,
NTT.

6.^ – kilang2
Pertamina memang rata2 sdh tua spt dumai dan cilacap (lbh dr 30 thn). Bisa jadi
inefisiensi terjadi (operation ratio nya cuma 80pct), tp setahu saya Pertamina
trs berusaha mendapatkan margin kilang yg positif setiap bulannya.
Comment: mohon refer ke sharing saya di bawah : ada
kilang yg sudah tua, sehingga in-efisiensi, tetapi oleh Pemerintah tidak
dilakukan modifikasi/renovasi/upgrade, MENGAPA HIGH COST DIPERTAHANKAN?
Comment: Kilang UP-II & IV bagus
performancenya, yg saya singgung adalah UP-III. Karena terdiri dari kilang-kilang
kecil (ada yg buatan jaman Shell/Stanvac?) sehingga kurang efisien disamping,
kapasitas Sungai Musi terbatas utk tanker besar. Proposal Pertamina utk membuat
Single Tower CDU, dengan kapasitas besar dan dekat laut, BELUM ADA TANDA2
PERSETUJUAN ATAU PEMBICARAAN DI PEMERINTAH (?) ini sebab pertanyaan saya,

7.^ – bisa saja minyak
dalam negeri dianggap “gratis” utk diolah di kilang Pertamina
(Pertamina tidak “membeli”nya) tetapi itu berarti menghilangkan sisi
penerimaan dari penjualan minyak. Jadi pengadaan BBM jd “murah” tp pd
saat yg sama penerimaan minyak juga “turun” (balance). Saya yakin secara ilmu keuangan
(apalagi APBN), hal ini tidak lazim
Comment: mohon refer ke sharing saya di bawah: mohon
klarifikasi-> a. bahwa crude dari bumi Indonesia,diproses di kilang
Indonesia, distribusi di Indonesia maka cost adalah (biaya prosesing di kilang,
plus distribusi) hasilnya RON 88 ->INI TIDAK MAHAL. Tapi berapa nilai
sebenarnya
b. Import Full premium (RON 9x ke atas) dari
Spore,negara Lain, plus shipping, plus distribusi-> INI YG MAHAL, tapi
berapa nilai sebenarnya? Kita MEMBUTUHKAN DATA/ANGKA untuk bisa diolah. Saya
berpendapat “KATAKAN HITAM BILA HITAM, KATAKAN PUTIH BILA PUTIH”. Lazim tidak
lazim APBN bukan domain saya.

8.^ – BBM yg
diproduksi dari kilang (yg sebagian minyak intakenya juga diimport) terdiri dr
RON 88/92/95. Krn tingginya demand (khususnya 88) maka BBM yg diimport ada
88/92nya juga.
Begitu juga solar (HSD/Gas Oil) yg diproduksi
kilang tdk cukup shg perlu tambahan import.
Comment: mohon refer ke sharing saya di bawah: semenjak
krismon 98, semua pihak tahu kebutuhan BBM menjelang 2004, akan mencapai
1,4juta barrel/day. 9 proposal kilang baru diajukan oleh swasta.tidak satupun
terealisasi, input dari investor: tidak ada jaminan hukum dan investasi dari
Pemerintah Indonesia.Lifetime kilang lebih dari 25 tahun dan HARUS PASTI INPUT
Crude

9.^-
saya setuju negara ini kurang berorientasi ke depan dan suka terlena. Tp itulah
faktanya, jika tidak ditemukan cadangan baru dan jika tingkat konsumsi
meningkat spt saat ini, kita akan kehabisan produksi minyak dlm jangka waktu 10
tahun lg.
Comment: Kurangnya leadership & integritas pemimpin, contoh: Para mentri
dilarang gaduh dan berpolitik di tahun 2013, tapi faktanya, si Pemimpin…..
Comment: dan baru saja baca dari
Kompasiana, bahwa ada mengusulkan utk MRT diperbanyak di kota2 besar, tetapi
tidak ada dukungan dari “atas” (?) karena lebih membuka ruang LCGC(?) QUO
VADIS?

10^-
secara natural, sumber2 minyak “sisa” makin jauh di dalam bumi,
makanya semua project baru rata2 di laut dalam (IDD). Perlu teknologi dan investasi
yg sangat amat besar dan tentu saja dng resiko yg sebanding
Comment: refer ke sharing saya di bawah: China th
94 sudah memanfaatkan drilling tools Schlumberger, sekarang RIGnya merajai.
Comment: Utk laut
dalam tahap awal diperlukan “seismic ship”. Teman2 Alumni yg bekerja di “ship”
bisa comment.

11.^ – disamping hrs
terus melakukan ekplorasi sumur2 baru (tmsk yg unconvetional spt CBM dan shale
oil/gas), saya setuju bahwa diversifikasi energy hrs secara intensif dilakukan
spt kerosene ke LPG. Ketergantungan akan minyak hrs mulai dihilangkan. Salah
satu alternatifnya adalah gas yg dng asumsi yg sama msh bertahan 40 thn lagi
Comment: refer ke sharing saya di bawah: Indonesia
punya cadangan GAS besar, apa mungkin bangun GTL? Indonesia punya lahan yg
besar, apa mungkin bangun GASOHOL? Indonesia punya panas bumi terbesar, apa
mungkin bangun Stasion Recharge- E Vehicle? Indonesia punya Emas terbesar di
dunia (katanya ada uranium nya juga) berapa persen pemanfaatannya?

12^- pengembangan,
investasi dan pemanfaatan renewable energi juga hrs mulai serius dilakukan.
Saya rasa Pertamina sdh mulai serius dng geothermalnya, tmsk sistem PSC dan
peraturan yg terkait. Blm lg hydro/sea wave, wind, solar dll
Comment: kompas.com menyebutkan (app.) statement Men-ESDM, dari rencana 22
Geothermal hanya baru 4 akan terealisasi, karena terbentu masalah ijin,
lingkungan dll. INI MENGHERANKAN, kalau setingkat Menteri mentok, maka menurut
hirarki akan naik ke atasnya, yaitu Presiden. Kalau sampai tingkat Presiden
tidak bisa terealisasi program utk kebutuhan Energi/Listrik Nasional, (ini
namanya Pemerintahan? ), what can we say……..

13^-
pemerintah hrs serius mendukung pertamina utk pengembangan renewable energi ini
Comment: refer ke
comment no. 12 di atas

14.- So apa yg bisa
kita lakukan utk perbaikannya dng langkah nyata ?
Comment: di milis ini saya pernah mengusulkan
Alumni UI membuat partai saja, supaya suara/ide bisa terdengar di DPR.

Mohon maaf bila ada yg
kurang berkenan.
Salam
JFM

2 responses

  1. Menarik sekali perbincangan masalah Kilang, Crude Oil, BBM dll. Saya mau nanya jika ingin membagun refinery spt punya TWU di Bojonegoro untuk kebutuhan lokal saja butuh investasi berapa ya ? Di luar perijinan yang ada.
    Untuk masalah crude oil, jika beli dari Mobil Cepu ltd ada unsur pajak gak ya, mengingat ini minyak mentah yang belum di olah.
    -0-

    Kalo dari saya sih paling mahal 1 T.-

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s