UI telah menjadi produsen sampah plastik


Oleh : Martha Leni Siregar

UI telah menjadi produsen sampah plastik. Demam baliho rupanya juga melanda UI dengan memasang baliho ukuran raksasa baik di depan stasiun UI, maupun di tiap fakultas.

Alangkah mengerikan melihat begitu mewabah pemasangan baliho yang sering kali tidak perlu. Apakah berita perkembangan suatu kegiatan di sebuah departemen atau fakultas perlu diberitakan demikian heboh dengan memasang baliho/spanduk dengan ukuran raksasa?

Coba kita hitung sampah yang dihasilkan. Berat plastik yang digunakan mungkin 300 – 500 gram/m2. Taruhlah rata2 400 gram/m2. Berapa ukuran sebuah baliho/spanduk? Mungkin 4 x4? = 16m2 = 6.400 gram (6,4 kg). Berapa buah baliho perbulan? Mungkin 20 per bulan, artinya 240 buah per tahun = sekitar 1.5 TON !!!

Mestinya dengan era digital kita semakin menerapkan prinsip PAPERLESS dan bukan malah ALL ABOUT PLASTIC akibat adanya digital printing. Ya memang dengan digital printing wajah kita dicetak dengan jelas, bahkan bisa tambah cantik dan ganteng…. Lebih aneh lagi ternyata UI telah menambah banyak tempat untuk memasang baliho raksasa di depan stasiun, siap-siap untuk menjadi GREY CAMPUS

salam MLS

 

—- KOMEN LANJUTAN —-

Mantab pak Hendri,

Konkrit banget.
Semoga bisa kita realisasikan segera.

Wassalam,

Ario SB

On Fri, 22 Nov 2013 01:31:54 +0000, hendri@eng.ui.ac.id wrote:

Setuju komentar..komentarnya….tapi Teman sejawat Ysh,..sepertinya diskusinya sudah lebih dari cukup…apa mau diskusi terus?..menurut saya lebih baik dan yang segera dibutuhkan adalah action kongkrit…segera bentuk Tim Cinta Lingkungan Sukarelawan FTUI, kita lakukan segera identifikasi data, dengan kemampuan keilmuan yang ada mari kita cari pemecahan secara bertahap segera mulai dari yang sederhana dulu (jangan yang njilmet2-maaf bahasa jawa), di EC ada ruang yang bisa untuk diskusi, target Dies UI (Feb 2014) sudah ada hasil pemecahan sekecil apapun (bukan konsep tp action). Saya sendiri kepingin rasanya bersihkan danau UI (tengok kenanan kalau sedang berkendara dan nikung di sebelum FE dari bunderan makara)..itupun masih belum terlaksana he..he..tapi kalau yang lain sudah (lihat foto terlampir) nyontek bung Ale, Jabat erat Hendri yAng Kurang Kerjaan On Fri, 22 Nov 2013 09:16:29 +0800, Bondan T. Sofyan wrote:

Setuju Prof. Gotty, thanks to bu Leni for raising this issue. Prinsipnya: reduce, reuse dan recycle. Saya sepakat juga dengan Prof. Misri, utk reduce, pendekatannya harusnya policy. Saya juga “jengah” melihat baliho-baliho besar, termasuk di lingkungan kita sendiri di FT. Aduuuhh….. sekarang foto saya ada juga di situ :))) Lama-lama, selasar kita seakan berdinding, karena baliho besar-besar di kanan kiri. Namun saya juga paham kebutuhan untuk mensosialisasikan program, ditengah budaya yang semakin “cuek”, butuh diinfokan langsung didepan mata, tentang apa yang terjadi. Sehingga, perlu dicari keseimbangannya, sehingga kebutuhan sosialisasi terpenuhi tanpa merusak pemandangan indah di sekitar kita. Untuk reuse, penggunaan oleh warteg patut disyukuri, namun itu terjadi secara alamiah dan kadang melanggar hukum. Sehingga, tetap perlu dipikirkan secara sistematis,bagaimana mekanisme reuse yang bermanfaat, terorganisir dan terukur. Termasuk penggunaan oleh perternakan seperti disampaikan Prof. Heri. Nah, utk recycle, ini tantangan keilmuan kita semua. Seperti diketahui, hampir semua kemasan produk berbahan dasar plastik, seperti kemasan makanan ringan (Chiki, wafer, dll) serta kemasan sachet Rinso, shampoo, dll, juga merupakan produk yang sulit sekali di daur ulang. Selama ini baru dijadikan kerajinan tangan. Ini bisa sekalian kita shoot, karena sejenis dengan limbah baliho. Sejalan dengan program Green FTUI kita, ayoooo kita rumuskan reduce, reuse dan recycle ini secara ilmiah. Kalau kita bisa mencari solusi utk hal ini, this will be a real contribution to our nation. Kita bentuk tim yuk. Salam Green FTUI, Bondan On Fri, 22 Nov 2013 00:40:14 +0000, Triatno Yudo Harjoko wrote:

Teman sejawat, saya mencoba ‘melihat’ dari sisi lain . . .🙂 Persoalan (issues) adalah – apakah kita harus menghentikan produksi plastik? atau Stop baliho plastik?; Atau apakah kita berniat meng-up-cycle plastic waste (eco-effective)? Cradle to Cradle – biological cycle – turns waste into food (biological nutrients) dan menginspirasi technology untuk menirunya (technological nutrients). Artinya memiliki daur ulang yang tidak boleh “diganggu” dengan mendesain techno-cycle. Tantangannya – apakah DTK atau lainnya tertarik untuk membidik persoalan sampah teknologi menjadi ‘makanan’ technologi? Sie Gow Tie

 

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s