Hujatan pada pilpres


Oleh:  Lina Alwi

Sejak awal, saya memang bukan pendukung Jokowi sebagai calon presiden RI, apalagi setelah deklarasi pasangan calon presiden Joko Widodo–Jusuf Kalla. Tapi juga bukan berarti saya mendukung Prabowo Subianto, apalagi setelah di pasangkan dengan Hatta Rajasa. Wah ….. enggak banget deh ….!!! Saya hanya merasa sangat muak dengan cara berkampanye yang vulgar …  Hal ini bahkan sejak yang Joko Widodo masuk ke dalam kancah pemilihan gubernur DKI Jakarta berhadapan gubernur incumbent Fauzie Bowo dengan pasangannya Nachrowi Ramlie.

Sudah sejak semula, serangan kampanye hitam kepada Jokowi terasa sudah terlalu vulgar. Segala macam issue diketengahkan. Dari mulai soal asal – usul, kedaerahan, masalah agama yang dianutnya, tentu karena pasangan Joko WIdodo dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta adalah Basuki T Purnama yang beragama Kristen dan berasal dari etnis Cina, sampai hal–hal lain yang terasa sangat keterlaluan.

Usai terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, ternyata cercaan masih tetap berlangsung. Masyarakat banyak dibuta-tulikan oleh black campaign. Permainan kotor politisi busuk yang menguasai DPRD Jakarta.

Rancangan APBD terhambat, upaya menertibkan dan merapikan kesemrawutan Jakarta dihadang. Bahkan segala masalah yang ada di DKI Jakarta ditimpakan pada Jokowi – Ahok, begitu nama pasangan ini disebut orang seolah mereka berdualah biang keladi dari segala keruwetan yang ada di DKI Jakarta. Padahal sebagai segelintir orang yang memiliki wawasan lebih baik dari kebanyakan rakyat seharusnya kita tahu bahwa berbagai masalah di DKI Jakarta adalah akumulasi dari berbagai masalah yang selama puluhan tahun sejak bang Ali lengser, tidak pernah terselesaikan atau mungkin tidak pernah diperhatikan untuk diselesaikan.

Pasangan gubernur DKI Jakarta, Jokowi–Ahok baru mulai membenahi Jakarta. Hasilnya  …. Kalau kita mau jujur dan tidak membutatulikan hati–nurani, sudah mulai terasa. Dimulai dari pembenahan kawasan Tanah Abang yang banyak ditentang bahkan oleh salah satu pentolan di DPRD Jakarta yang …. Eh …. Ternyata, dia memang “jawara” yang hidup dari kutipan pada pedagang liar yang memenuhi dan membuat ruwet kawasan Tanah Abang.

Lalu pembenahan kawasan waduk Pluit dan waduk Ria – rio, pelapisan jalan raya, perbaikan kampung dengan membuat kampung deret dan saya yakin banyak lagi yang saya tidak bisa menuliskan karena saya memang bukan pengamat, apalagi berkepentingan atas prestasi kerja mereka kecuali sebagai penduduk DKI Jakarta yang memiliki akar nenek moyang Betawi.

Paling tidak … saya merasa betul perubahan itu karena jalan dari depan rumah hingga ke kantor sejauh + 8 km dilapisi aspal yang tebalnya bukan basa–basi. Padahal sudah 14 tahun saya tinggal di kawasan tersebut dan baru pada era Jokowi–Ahok lah ada perbaikan jalan yang bukan sekedar tambal sulam setempat

Tentu, tidak semua cerita sukses saja. Masalah kronis banjir dan kemacetan masih belum teratasi, apalagi dengan terbitnya kebijakan “tolol” pemerintah pusat berupa ijin penjualan low cost green car–LCGC.

Sewajarnyalah bila kita berpikir jernih … banjir adalah masalah kronis yang sudah ada sejak jaman Belanda. Itu sebab bila kita mau berbesar hati memeriksa dokumentasi tata kota, maka kita bisa melihat betapa rancangan pembuatan “banjir kanal Barat dan Timur” sudah ada sejak dulu. Begitu juga dengan berbagai sodetan untuk mengalirkan air hujan.

Pembangunan di Jakarta memang sangat tidak terkendali. Aturan tata lota terutama yang berkaitan dengan tata guna tanah dan koefisien dasar bangunan–KDB banyak dilanggar. Wilayah resapan air dengan KDB 20% ternyata, secara massif, dilanggar oleh kongkalikong antara masyarakat dengan pejabat/aparat pemerintah koruptif.

Rawa, situ, hutan kota, perkebunan dan lahan pertanian semua berubah jadi hunian dan komersial. Jadi wajar saja kalau banjir menjadi tidak terkendali karena permukaan tanah tidak lagi cukup mampu menyerap curahan hujan. Salahkah pasangan gubernur DKI Jakarta? Bagi sebagian orang ….. pasti akan menjawab YA … pasangan gubernur DKI tidak mampu menyelesaikan masalah kronis di Jakarta.

Mereka lupa bahwa proses perusakan alam yang berjalan massif selama puluhan tahun, begitu juga dengan kesalahan kebijakan transportasi tidak akan bisa diselesaikan dengan segera. Butuh waktu yang cukup panjang bukan saja dari pemerintah daerah tetapi harus didukung selain oleh pemerintah pusat yang turut membebani kinerja DKI Jakarta dengan tugas sekaligus sebagai ibukota Negara, juga oleh seluruh masyarakat dari berbagai lapisan sosial.

Patuh pada aturan tata kota, berbagai peraturan daerah dan banyak hal harus dipatuhi guna tercapainya tujuan memperbaiki kualitan kehidupan di Jakarta.

Kalau perusakan ini sudah terjadi sejak berakhirnya masa jabatan bang Ali Sadikin pada tahun 1977, Berarti sudah 37 tahun, maka wajar saja kalau hasil perbaikannya belum terlihat karena pasangan gubernur DKI ini baru memerintah selama 19 bulan saja.

Gaya kepemimpinan Jokowi yang menjungkirbalikan gaya komunikasi dan penampilan pejabat pemerintah membuat Jokowi menjadi “media darling” sekaligus menjadi sasaran empuk lawan politik yang sepertinya melihat Jokowi sebagai ancaman bagi ambisi berkuasa segelintir elit politi negeri ini. Penetapan Joko WIdodo sebagai calon presiden RI dari PDIP memang semakin membuat runyam sosok Joko Widodo. Penampilan “lugu” dan merakyat yang didukung dengan wajah “ndeso” …. Wajah rakyat kebanyakan, ternyata semakin membuat runyam.

Ada pendapat pragmatis bila Joikow terpilih jadi RI1 pada pemilihan presiden bulan Juli 2014 yang akan datang, maka koordinasi penyelesaian masalah DKI-pusat menjadi lebih mudah sehingga perbaikan kualitas hidup di Jakarta akan lebih cepat. Benarkah begitu…? Kita lihat saja karena ini memang baru asumsi …

***

Lalu …., bagaimana dengan Prabowo Subianto?

Konon …… andai Prabowo menjadi presiden RI ke 9, maka TNI–RI akan memasuki babak baru yang “aneh bin ajaib”dan akan tercatat dalam sejarahnya serta mungkin hanya satu-satunya di dunia. Bisa masuk MURI atau bahkan Guinness book of record, yaitu········ TNI akan “diperintah” oleh Presiden RI sebagai panglima tertinggi TNI yang adalah jenderal yang sudah dipecat.

Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan Agum Gumelar berulangkali meminta Prabowo untuk mengingat sejarah

Prabowo yang kita tahu adalah anak Sumitro Djojohadikusumo, dan cucu Margono Djojohadikusumo yang keduanya sangat berpengaruh dalam tatanan perekonomian Indonesia pd jamannya. Kemudian menikah dengan salah satu anak penguasa negeri ini, kehidupan Prabowo tentu sangat nyaman. Jauh dari perih penderitaan hidup yang diderita rakyat jelata.

Saya sangat menghargai keluarga Prabowo Subianto. Sebagai orang yang lahir dari keluarga kalangan intelektual, tumbuh dan besar di luar negeri, Prabowo Subianto tentu sudah biasa bergaul dengan kalangan atas. Kalangan “terhormat” di berbagai bidang. Para pengusaha, militer, diplomat dan sebagainya. Ditunjang dengan kemampuannya berbicara dalam berbagai bahasa asing serta lingkungan pergaulannya ini akan menjadi modal kuat bagi Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia masuk dalam kancah pergaulan diplomasi internasional dengan penuh percaya diri. Kita sama tahulah … bahwa kebanyakan orang Indonesia, langsung menjadi “bisu” saat harus berbicara, berdiplomasi, bernegosiasi apalagi harus berdebat dengan bule..

***

 

keren ya, dulu, waktu masih jadi jendral

Melihat kedua calon presiden Indonesia 2014, kita seperti diajak melihat persaingan antara kaum ksatria melawan sudra. Perlawanan rakyat jelata melawan kaum intelektual. Antara golongan orang kota dan intelek, diwakili oleh Prabowo Subianto yang sudah terbiasa bergaul di kalangan masyarakat kelas atas melawan Joko Widodo  yang “cuma” anak pengusaha mebel “kampungan. yang lekat dg kesulitan hidup rakyat.

Politik Indonesia pada era demokrasi saat ini, sudah mengarah pada pembodohan rakyat. Pemilihan umum kini sarat dengan praktek Money politic bahkan penguasa Negara memanfaatkan kekuasaannya “menjarah” APBN untuk digunakan sebagai money politic berbalut program pemerintah untuk meredam turunnya pendapatan rakyat akibat kenaikan BBM.

Gara–gara money politic ini pula, maka ongkos pribadi untuk pencalonan diri sebagai calon legislatif maupun eksekutif menjadi sangat tinggi. Maka tidak mengherankan kalau korupsi mejadi semakin masisif dan merata demi “mengembalikan” modal yang sudah dikeluarkan.

Kampanye pemilihan juga semakin vulgar dan membabi buta. Etika dan sopan santun sudah semakin hilang. Caci maki semakin kerap dilakukan dan diumbar. Sayang sekali hal ini juga dilakukan oleh orang–orang yang relatif berpendidikan tinggi Siapa yg akan anda pilih…?
Tentu yang sesuai dengan hati nurani dan harapan2 yg kita inginkan

Vote for new era Indonesia 2014


Posting oleh Lina Alwi ke Catatan kecil dari sekitarku pada 5/21/2014 09:38:00 PM

One response

  1. Sungguh memprihatinkan keada”an SPIRIT penduduk negri ini ! sa’atnya orang2 bijak seperti anda mau terus peduli, tetap semangat dan berbuat lebih banyak Demi kemaslahatan dunia akhirat ! …….semoga para pemimpin negri ini BER”ISTGFHAR” BERSAMA SELURUH RAKYAT INDONESIA…..Memohon Ampunan Pada Yang Maha Kuasa dan meminta memelas Agar diberikan PEMIMPIN YANG TERBAIK, DIRIDHOI, yang dibekali KEBEranian dalam MENEGAKkan KEBENARAN agar dapat menjalankan AMANAH disertai kePINTARannya untuk menjadi SURI TAULADAN bagi rakyatnya !
    Dan berlindung agar jangan diberikan Pemimpin yang DHolim, Pemimpin yang Menang karena HASIL KECURANGAN Dari BERBAGAI KONSPIRASI Antara Durzana dan IBLIS LAKNAT’TULLOH !………YA RABB, Kami Rindu PertolonganMU ! AMiiiiiiiN

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s