Pledoi Endah Rumbiyanti


1 / 38
Pleidoi Endah Rumbiyanti
Jakarta, 19 Juni 2013
Yang Terhormat,
Ibu Dr. Sudharmawati Ningsih, SH MH, Ketua Majelis Hakim Yang Mulia serta Bapak-
Bapak Anggota Majelis Hakim Yang Mulia – Bapak Antonius Widijantoro, Bapak Anas
Mustaqim, Bapak Slamet Subagio dan Bapak Sofialdi,
Selamat Siang
Semoga Ibu dan Bapak dalam keadaan sehat wal’afiat.
Saya, Endah Rumbiyanti, berterima kasih kepada yang mulia majelis hakim yang telah
memberikan kesempatan bagi saya untuk berbicara, menyampaikan pembelaan pribadi
sayamuka sidang ini.Pembelaan pribadi saya saat ini adalah lebih kepada sisi saya
sebagai manusia, sisi nurani yang saya yakin, Yang Mulia memilikinya.
Ibu Bapak Hakim Yang Mulia,
Sebagai manusia dengan segala keterbatasan fisik dan mental, saya yakin bapak dan
ibu kini lelah dan jenuh. Mungkin kita tak sadar, bahwa persidangan ini telah
menghabiskan lebih dari dua ribu jam. Sidang-sidang berlangsung sejak pagi hingga
larut malam. Berbulan-bulan.
Saya membayangkan bahwa sepulang ibu dan bapak dari persidangan yang hampir
selalu berakhir larut malam ini, ibu dan bapak hakim harus menempuh sekian waktu
lagi untuk pulang.Tidak banyak lagi anggota keluarga yang masih terjaga ketika ibu dan
bapak tiba di rumah, di malam selarut itu.Menyambut Ibu dan Bapak setelah lalui harihari
menjalani persidangan ini.Hari-hari melelahkan yang penuh berisi silang pendapat,
argumentasi, emosi, serta teguran.
Karena itu, sayatidak ingin menambah kelelahan ibu dan bapak dalam pembelaan
pribadi ini.
Namun, Ibu dan Bapak Hakim, untuk Hari ini, kali ini saja, saya mohon yang mulia bisa
mendengarkan dengan hati, melihat saya sebagai ibu dengan 5 orang anak, seorang
manusia yang ingin berbakti untuk bangsanya dan keluarganya. Kali ini, saat ini saja,
saya mohon yang mulia bisa mendengarkan suara saya sebagai seorang ibu…
2 / 38
Majelis Hakim yang Mulia, Penasehat Hukum, Para Jaksa Penuntut dan Teman-teman
yang saya sayangi,
Saya mensyukuri tiap hari dalam hidup saya di bulan-bulan terakhir ini sebagai latihan
sebelum menghadapi Pengadilan yang Maha Agung di Akhirat nanti. Bedanya di
pengadilan terakhir itu, saya tidak perlu membela diri karena saya akan diadilii oleh
Yang Maha Tahu Segalanya dengan kebenaran yang absolut.
Tapi, saat ini, di dunia ini, saya perlu membela hak saya sebagai seorang manusia,
perlu mengungkapkan kebenaran yang saya yakini.Dimana kebenaran itu diserahkan
kepada Majelis Hakim Yang Mulia untuk memutuskan dengan adil dan bijaksana.
Dalam 180 hari menjalani persidangan kasus ini, saya memahami ada banyak hal yang
menjadi pertimbangan Yang Mulia untuk bisa menegakkan kebenaran…namun saya
yakin, Tuhan Yang Maha Bijaksana akan memberikan kekuatan bagi Majelis Hakim
Yang Mulia, pada saat yang tepat.
Dan seorang Hakim saya sangat yakini akan menjunjung tinggi mahkotanya.
…Yang menjadi Mahkota seorang Hakim adalah putusan dan pertimbangan
hukumnya…
Peranan hakim sangat mulia, karena merupakan ujung tombak yang sangat
menenentukan kewibawaan hukum dan menentukan tingkat kepecercayaan
masyarakat terhadap lembaga peradilan.Terlebih untuk kasus ini, tuntutan keadilan di
tengah-tengah masyarakat Indonesia khususnya akademisi dan pekerja profesional
sangat tinggi. Berbagai ikatan alumni dan pakar dari berbagai perguruan tinggi seperti
UI, ITB, IPB, Perbanas, UGM, Trisakti, UPN Yogyakarta, yang menunggu keputusan
dari hasil pengadilan ini. Kalangan dunia migas baik di negeri ini maupun di berbagai
Negara lainnyajuga menunggu keadilan bagi saya.
Ya, masyarakat luas, termasuk kaum ibu dan professional, sedang bersama-sama
saya, mereka ikut mengamati peradilan ini dengan sangat dekat.
Yang Mulia,
Belakangan ini saya baru menyadari bahwa seorang hakim dan seorang profesional,
yang berlatar belakang insinyur seperti saya, mempunyai kemiripan dalam
bekerja.Yang mulia dan saya sama-sama memutuskan sesuatu berdasarkan data dan
bukti.
Seorang insinyur mengumpulkan data, bukti, dan pengujian untuk membuktikan suatu
hipotesa, Ini kami sebut dengan metode ilmiah.Seorang hakim menimbang dan menguji
bukti yang diajukan Jaksa untuk melihat apakah seorang terdakwa bersalah.Ini yang
3 / 38
mungkin kita sebut pengadilan.Kita mempunyai kemiripan. Yang menjadi penentu
adalah apakahkita mengambil keputusan berdasarkan data dan bukti yang kita punya
ataukah kita sudah mengambil kesimpulan dari awal sehingga apapun buktinya,
keputusan tetap sama.
Saya yakin, Yang Mulia akan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang ada dan
dengan tanpa kesimpulan di awal.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Saya juga pernah membaca seorang legenda keadilan di Indonesia, Yap Thiam Hien
berkata, tugas pengadilan adalah “mencari dan menemui KEBENARAN”.
Semoga Yang Mulia juga setuju dengan pernyataan legendaris itu.Dan selama
hampir 6 bulan persidangan, telah lebih dari 80% saksi dan bukti surat tentang saya,
menghadapkan Kebenaran ke hadapan yang mulia, bahwa SAYA TIDAK BERSALAH.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Kenapa masyarakat luas mengamati dengan dekat persidangan ini?
Karena bagi mereka, bukti dan data sudah terang benderang menyatakan saya tidak
ada sangkut-pautnya dengan kasus ini.Malah seharusnya kasus ini tidak perlu ada jika
melihat pada bukti dan fakta.Saya Tidak Bersalah Yang Mulia.
Ibu Sudharmawati Ningsih dan Bapak-bapak Anggota Majelis Hakim,
Saya sering mendengar cerita bahwa seorang Hakim, dalam memutus perkara akan
selalu bertanya kepada hati nurani untuk mengetahui orang yang diadili jahat atau tidak,
lalu baru mencari pasal hukum untuk mendasari keputusan. Karena sejatinya, di ranah
hukum Pidana, hakim mencari kebenaran Materiil, yakni kebenaran yang mendekati
kebenaran Ilahi, berdasarkan bukti yang kuat, berdasarkan hasilanalisaterhadap
dakwaan jaksa dan pembelaan terdakwa. Namun saya pun pernah mendengar bahwa
seorang Hakim yang sudah berpengalaman bisa langsung tahu seseorang bersalah
atau tidak hanya berdasarkan hati nurani saja, setelah berinteraksi sebentar dengan
seorang terdakwa.
Untuk itu saya memohon Yang Mulia untuk saat ini menatap mata saya.Apakah
saya layak didakwa sebagai seseorang yang mencuri uang negara?Apakah masuk
akal bila seorang Rumbi yang tidak ada di Indonesia dari kurun waktu 2005-2010
menghilangkan uang negara sebesar uang yang dikeluarkanuntuk pekerjaan di ujung
kontrak? Bertanggung jawab untuk suatu kegiatan di periode 2006-2011? Apakah
seorang yang baru bertugas 6 bulan tanpa kewenangan terhadap proyek, pelaksanaan,
pembiayaan dan pembayaran dapat menyebabkan uang negara hilang tanpa ada
4 / 38
sangkut pautnya dengan proyek tersebut di kurun enam tahun sebelumnya?Apakah
salah, bila saya sebagai karyawan memenuhi perintah atasan untuk ditugaskan berbagi
ilmu ke Kejaksaan?Apakah salah seorang karyawan memenuhi tugas-tugas sesuai
dengan Tugas Pokok dan Fungsi yang digariskan Perusahaan padanya?Apakah salah
sebagai pekerja, saya mempercayai sepenuhnya bahwa KLH adalah lembaga yang
berwenang dalam penegakkan hukum lingkungan yang telah menyatakan TAAT bagi
kegiatan bioremediasi yang dijalankan perusahaan tempat saya bekerja?Apakah salah
bila saya sebagai pekerja bekerja dalam sistem multilevel review terhadap laporan
perizinan bioremediasi yang keluar dengan persetujuan atasan saya?
Semoga Yang Mulia mendengarkan hati kecil yang berbisik sepelan apapun suara itu
tentang saya.
Majelis Hakim yang Mulia,
Mohon ijinkan saya menceritakan tentang diri saya kembali, agar Yang Mulia lebih
mengenal seperti apa saya, seorang Rumbi, yang sekarang dipaksa duduk sebagai
seorang terdakwa kasus korupsi.
Saya selain bekerja untuk PT Chevron Pacific Indonesia, saya juga Ibu dari 5 anak,2
remaja tanggung, 2 dalam usia sekolah dasar dan dengan yang paling kecil berusia 3
tahun. Yang tertua 13 tahun yang saat ini sedang melakukan pendaftaran masuk ke
Sekolah Menengah Atas. Saya pernah menjadi lulusan SMA terbaik di propinsi Riau
tahun 1993 dan Mahasiswa Teladan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di tahun
1997, serta beberapa kali presentasi di forum internasional.
Kekaguman kepada almarhum Bapak saya yang pensiun dari PT Caltex Pacific
Indonesia membuat saya tidak ragu-ragu untuk menentukan pilihan kepada Chevron
(yang dahulu bernama Caltex) sebagai pilihan tempat saya bekerja sejak 31 Desember
1997.Bekerja di Caltex telah memberikan Almarhum Bapak kesempatan membesarkan
keempat anak-anaknya dengan layak, dan memberikan beliau banyak waktu untuk
kembali ke Sidoarjo kampung halamannya dan ke Ambarawa, tempat Ibunda
dibesarkan, serta untuk berbagi kepada sanak keluarga di sana. Memberikan hidup
multi dimensi dalam masa kecil saya.Karenanya saya ingin sekali bekerja di tempat,
yang memberikan saya penghidupan yang baik dan memberikan masa yang cukup bagi
saya dan keluarga, mengunjungi tempat almarhum Bapak serta keluarga suami sayadi
Timur Jawa dan ke tempat keluarga besar ibu saya di Jawa Tengah. Saya memilih
Chevron, karena perusahaan ini memberikan itu semua, termasuk nilai integritas,
kejujuran dan kelayakan hidup serta nilai-nilai kecintaan perusahaan terhadap
lingkungan, serta perhatian akan pegawai serta penduduk sekitar, memantapkan saya
berkarir di Chevron, untuk berkarir tanpa cela.
5 / 38
Kini sudah lebih dari 15 tahun saya bekerja untuk PT Chevron Pacific Indonesia. Bagi
saya bekerja di Chevron adalah juga wujud pengabdian kepada bangsa Indonesia,
karena saya tahu produksi minyak yang diproduksi oleh Chevron adalah sekitar 40%
dari produksi nasional. Bertahun bekerja di Chevron, semakin saya sadari, tidak ada
perusahaan yang begitu menjunjung tinggi perlindungan manusia dan lingkungan
seperti Chevron. Begitu banggamelihat daerah operasi Chevron, dimana dipertahankan
hutan-hutan Tropis yang masih perawan, yang tidak bisa dilihat di bagian manapun di
propinsi Riau.
Tidak hanya itu, setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, bekerja adalah juga wujud
pengabdian saya bagi anak-anak saya, agar mereka mendapat pendidikan yang baik
dan kehidupan yang nyaman.
Dalam kurun waktu 15.5 tahun ini, saya menjalankan tugas dari perusahaan sebaikbaiknya,
mengikuti peraturan yang berlaku, membayar pajak dengan taat dan
menjunjung tinggi nilai-nilai integritas perusahaan, nilai-nilai budaya bangsa dan agama
yang saya anut. Syukur saya panjatkan kepada Yang Maha Pencipta, dengan prestasi
kerja yang ada, membuka kesempatan saya untuk mendapat kesempatan dua kali
ditugaskan di luar negeri (Amerika Serikat), yang pertama sebagai bagian dari program
pengembangan karir selama 2005 hingga 2006 di Chevron Energy Technology
Company, sementara yang kedua merupakan program penugasan kerja di Chevron
Environmental Management Companyuntuk masa tahun mulai awal tahun 2008 hingga
pertengahantahun 2010.Saya bersyukur bisa belajar mengadopsi teknologi dari luar
negeri, bisa belajar tata kehidupan yang terkelola dengan baik, dan terlebih lagi karena
saya bisa memperkenalkan anak-anak saya mengenai dunia lain, budaya lain,
pengalaman lain untuk memperkaya hidup mereka.Membuat hidup mereka melebihi
multi dimensi yang saya miliki saat saya kecil dulu, tanpa meninggalkan kesederhanaan
dan etika budaya bangsa Indonesia.
Setelah kembali dari Amerika Serikat, pada tanggal 1 Juni 2011saya diangkat sebagai
Manager HES Lingkungan Sumatera Operations, di usia saya yang masih 35 tahun
saat itu.Dipilih melalui proses seleksi dari para pimpinan yang tergabung dalam PDC
(People Develoment Committee), tentunya bukan oleh Sdr. Kukuh dan Widodo
sebagaimana dakwaan, dan saya diseleksi dengan kriteria yang ketat. Saya dipilih
untuk memimpin timHES Lingkungan yang baru terbentuk di bawah Manager OE/HES
Sumatera untuk mengembang tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:
 Tugas Supervisi: Di bawah direksi/arahan dari Manager OE/HES (atasan saya),
melakukan pengawasan dan memiliki tanggung jawab kinerja para Subject Mater
Experts/professional bidang Lingkungan di perusahaan, dengan total bawahan
12 orang. Memberikan mentoring dan pelatihan untuk professional HES baru dan
pegawai magang HES
6 / 38
 Bila diminta: Memberikan Tenaga Ahli Teknis Lingkungan: untuk memberikan
dukungan terhadap implementasi proses lingkungan perusahaan [AMDAL,
RKL/RPL, UPL/UKL, PROPER]
 Bila dibutuhkan: menyediakan keahlian teknis dan saran kepada Operasi di
bidang Teknologi Lingkungan.
 Menyediakan Dukungan Antar Fungsional tim HES dan
 Menjaga hubungan Eksternal dengan KLH, BLH, Chevron Pusat (corporate)
Ini suatu anugerah tersendiri buat saya, karena saya mencintai lingkungan hidup…saya
mencintai alam ini beserta isinya. Dengan jabatan ini, saya dan tim, bisa melakukan
kampanye perlindungan lingkungan kepada pegawai dan keluarga di lingkungan kerja.
Majelis Hakim yang Mulia
Saya, suami saya (yang juga bekerja untuk Chevron), dan anak-anak kami, secara rutin
mengunjungi pusat latihan gajah, dan kami ikut serta dengan Balai Besar Konservasi
Sumber Daya Alam di Riau, melakukan upaya-upaya penyelamatan bagi Gajah
Sumatera yang semakin punah karena hutan mereka banyak digunakan untuk
perkebunan liar. Anak-anak saya begitu mencintai jam intai malam, untuk memastikan
gajah yang sakit tetap bisa dirawat.Gajah-gajah itu secara alami mendatangi camp kami
di Duri ataupun Lapangan Chevron, yang masih memiliki hutan asri bagi mereka untuk
bertahan hidup.
Hal-hal yang saya lakukan dengan anak-anak saya tersebut,saat ini adalah hal yang
langka, karena saat ini saya tidak bisa berada di Sumatera, tidak saja untuk
mendampingi anak-anak saya, namun juga untuk melakukan upaya-upaya
penyelamatan bagi lingkungan.
Bagi saya, bekerja adalah beribadah, berdoa dan meyakini bahwa hasil yang baik akan
diraih dengan diawali niat yang baik. Bekerja sebagai manager lingkungan pun saya
awali dengan niat bahwa agar segala kegiatan yang dilakukan Chevron, selalu
memberikan nilai-nilai yang baik bagi lingkungan, memberikan tempat hidup yang baik
dan layak bagi siapa pun nantinya yang menempati lahan bekas eksplorasi dan
eksploitasi jika seandainya Chevron tidak lagi ada di negeri ini. Menciptakan kesadaran
bagi anak-anak, bukan saja anak saya, agar mereka tumbuh sebagai insan yang peduli
lingkungan, sebagi insan yang menyadari bahwa Yang Maha Kuasa menitipkan bumi ini
ke kita dari anak cucu kita. Bekerja bagi saya tidak untuk hari ini, tapi untuk masa
depan, tidak saat saya masih bisa menghirup udara ini, namun setelah saya tidak ada
lagi di dunia… saya ingin, anak-anak dan cucu-cucu saya hidup dengan baik. Karena itu
juga, saya bekerja dengan nilai-nilai integritas dan kearifan, saya ingin, saat saya
tiada nanti, anak saya memiliki nilai integritas, yakin akan kearifan serta tidak
memiliki musuh karena ulah saya.
7 / 38
Karena itu, tidak akan pernah saya ajarkan anak-anak kami untuk melalaikan tugas
mereka, bahkan Gaza, anak kami yang paling kecil pun kami ajarkan untuk melakukan
tugas-tugas kecil, yang kami yakin akan berguna bagi dia nantinya. TIdak akan pernah
pula kami mengajarkan anak-anak kami untuk mencuri, berbohong dan hidup berfoyafoya.
Setiap pengeluaran yang ada harus dipikirkan baik buruknya, kami ajarkan
mereka untuk menabung, dan kami bersyukur, mereka bisa hidup dengan nyaman
dengan apa yang kami miliki saat ini, yang berharga bagi kami…yaitu cinta kasih,
kearifan, pengertian dan kebersamaan.
Saat kasus Bioremediasi ini mulai mendera saya, sejak 6 bulan saya menjadi manager
Lingkungan, anak-anak saya yang remaja, sangat mudah mengerti bahwa semua ini
adalah fitnah bagi ibunya. Dengan lantang anak sayaberbicara, “kalau ibu saya korupsi,
saya tidak hidup dengan uang jajan terbatas…dan tidak mungkin ibu saya lalai, karena
di semua kesibukan, ibu selalu berikan waktu untuk kami…”
Yang Mulia,
Sejak saya menjabat di Juni 2011, tidak satu pun laporan kwartalan terkait perizinan
kegiatan bioremediasiyang tidak tersampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup
(KLH), dan tidak pernah ada laporan yang dikembalikan oleh Kementerian Lingkungan
Hidup, begitupula sepanjang sejarah bioremediasi dilakukan, tidak pernah ada laporan
yang dikembalikan ataupun surat peringatan dari KLH.Karenasaya dan timsaya tetap
menjaga agar tidak ada pelanggaran apapun terhadap lingkungan. Laporan
pembersihan lahan yang berdasarkan PERMEN LH 33/2009 sebagaimana disebut
Jaksa dalam Tuntutan dan Laporan perizinan kwartalan (Berdasarkan KEPMEN LH
128/2003 dan Izin Bioremediasi), semua sudah secara regular dilakukan oleh tim kami.
Semua laporan itu disetujui dan ditandatangani oleh pimpinan tertinggi HES di
Sumatera, atasan saya, dan direview kembali di Jakarta sebelum disampaikan ke KLH.
Data untuk laporan tersebut kami peroleh dari timyang memiliki fasilitas dan proyek
bioremediasi, yang bukan dalam kewenangan saya dan tim saya, dan kami juga tidak
berwenang melakukan koreksi akan data yang masuk.
Yang Mulia,
Bersyukur, pada saat saya menjabat, di tahun 2011 dan tahun 2012, atas kerjasama
yang baik dari semua pihak di perusahaan, PT. Chevron Pacific Indonesia memperoleh
predikat PROPER BIRU dari Kementerian Lingkungan Hidup karena kinerja lingkungan
yang baik. Hal ini juga membuktikan bahwa PT Chevron Pacific IndonesiaTAAT di
semua aspek lingkungan hidup termasuk perizinan yang dibutuhkan, untuk
semua kegiatan yang dilakukan dalam mengelola lingkungan, termasuk
Bioremediasi.
8 / 38
Yang Mulia, terkait penanganan dalam kasus ini, saya ingin sekali mencurahkan isi hati
saya kepada Majelis Hakim, karena kasus ini telah menginjak-injak hak azasi saya
sebagai manusia, dan telah merusak hidup saya, tidak saja saya pribadi, suami, namun
anak-anak saya dan keluarga besar saya, akibat pemaksaan kasus ini dan menetapkan
tersangka secara terburu-buru serta pemaksaan untuk segera mendakwa saya kurang
dari sebulan dari keputusan pra-peradilan yang membebaskan kami karena Penahanan
kami Tidak Sah.
Sampai detik ini, saya tidak mengertiapa yang mendasari Kejaksaan menetapkan saya
jadi tersangka, dulu menahan saya, dan kini mendakwa saya.
Saya pernah melihat sebagian dari Jaksa tersenyum-senyum saat kami masuk ke
ruangan ini di awal sidang sebagai terdakwa, namun saya kembalikan ke diri
saya…mereka sama seperti saya, mahluk Tuhan, dan tidak sempurna, suatu saat
mereka akan mengerti bahwa Saya Tidak Bersalah. Sebagian besar dari mereka, saya
yakini, kini sudah tidak bisa lagi merasa nyaman dengan dakwaan ini, karena mereka
sudah menyadari bahwa mereka mendakwa orang yang TIDAK BERSALAH namun
tidak kuasa untuk menghentikan proses hukum, dan harus meneruskan dengan
merekonstruksi pasal-pasal sesuai logika mereka berdasarkan dakwaan yang tidak
cermat dan tidak benar adanya.
Yang Mulia,
Sebagaimana Yang Mulia tahu, dan saya harap sudah dibaca dalam laporan Komisi
Nasional Hak Azasi Manusia, Pada bulan Desember 2011, beberapa bulan setelah
menjabat sebagai Manager Lingkungan Sumatera, saya ditugaskan oleh
manajemen/pihak pimpinan perusahaan untuk datang ke Kejaksaan Agung untuk
memberikan penjelasan mengenai apa itu Bioremediasi, dan bagaimana
pelaksanaannya di PT. Chevron Pacific Indonesia. Saya pun menjelaskan kepada
Kejaksaan Agung sesuai dengan aktivitas bioremediasi yang dilaksanakan di wilayah
operasi Chevron, berdasarkan ilmu yang dipelajari dan masukan dari rekan-rekan kerja
di lapangan.
Tiba-tiba pada bulan Maret 2012, tepatnya tanggal 16 Maret 2012, lewat berita di
internet (mulai dari website kejagung hingga beberapa laman berita) disebutkan
beberapa nama tersangka tindak pidana korupsi kasus Bioremediasi, dimana 5 orang
diantaranya dari PT. Chevron Pacific Indonesia dan saya disebutkan sebagai salah
satunya.Ternyata penjelasan yang disampaikan kepada penyelidik, yang didukung
dengan informasi dari lapangan, melalui telepon ketika menerangkan kepada
penyelidik, bulan Desember 2011 tersebut, tanpa pemeriksaan lanjutan, berakhir
dengan mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan datang, meluluh lantakkan
9 / 38
segalanya.Merusak rencana keluarga, menghancurkan harkat dan martabat.Merusak
kebahagiaan anak-anak serta merusak perasaan orang tua saya.
Nama dan jabatan saya serta empat pegawai lainnya terpampang di halaman berita
internet maupun tertulis di koran esok harinya sebagai tersangka tanpa ada alasan
yang jelas dan tanpa surat resmi penetapan sebagai tersangka. Saya sendiri sangat
kaget dengan penetapan tersangka itu, karena saya tidak melakukan kesalahan sama
sekali, bahkan posisi saya saat ini sebagai Manager Lingkungan juga sama sekali tidak
berkaitan dengan aspek kontrak, pelaksanaan proyek dan aspek keuangan.
Saya saat itu teringat, ucapan Edison Effendi, seseorang yang di bulan Februari 2012,
satu bulan sebelum pengumuman tersangka di media online, datang dengan Bapakbapak
Jaksa tanpa status jelas ke Sumatera. Saat itu saya diminta tolong oleh pimpinan
operasi dan pimpinan saya untuk ikut menyambut mereka di lapangan Minas. Di
lapangan, Edison, menghardik ke beberapa teman, saat pemberian briefing
keselamatan, dia bilang “Sampai Ketemu di Pengadilan!”.Saat itu, memang saya tidak
terima dia menakut-nakuti teman-teman saya, dan tidak mengerti mengapa dia bicara
itu beberapakali, dan akhirnya saya sampaikan, “hati-hati Pak bicara persidangan di
lapangan, tolong hargai kami”.Namun dia melengos pergi. Setelah itu saya tidak tahu
bagaimana proses berjalan, sampai saya membaca berita mengejutkan sebulan
kemudian.
Saya bingung Yang Mulia, kenapa saya dituduh bertanggung jawab atas kerugian
Negara untuk proyek yang pelaksanaannya dan pembayarannya sudah dari 2006 dan
berada di ujung kontrak saat saya mejabat, dimana saya sendiri tidak ada di Indonesia
selama proyek berjalan, dan saat saya menjabat, saya bukanlah pemilik proyek, tidak
berwenang dalam pembayaran proyek serta proses cost recovery. Di luar itu, proyek ini
sendiri tidak pernah mendapatkan hukuman pelanggaran lingkungan dari pihak
yang berwenang, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup.Terlebih lagi, yang
mengejutkan, fakta di persidangan menyebutkan proyek ini adalah murni uang
Chevron.Uang sebesar 9.9 juta dollar yang didakwa, telah ditahan pemerintah dengan
mekanisme over and under lifting tahun yang lalu.
Saya tetap dapat berdiri tegar karena saya yakin SAYA TIDAK BERSALAH dan sejak
Maret 2012 itu, sayasudah mendapat dukungan kuat dari Keluarga, Rekan-rekan di
Chevron dan keluarga mereka, rekan-rekan dari akademisi, kolega di Chevron Pusat
(corporate), alumni berbagai perguruan tinggi hingga pimpinan teratas Chevron karena
mereka tahu bahwa saya telah menjalankan tugas dengan benar sesuai nilai-nilai
integritas yang harus dipegang sebagai karyawan Chevron. Itu terbukti dari hasil audit
tahunan perusahaan bahwa saya bersih dalam menjalankan tugas, tidak ada
pelanggaran etika bisnis yang merugikan pihak manapun, apalagi negara.
10 / 38
Yang Mulia, saat saya pertama kali diperiksa sebagai saksi setelah dijadikan tersangka,
para Jaksa Penyidik, menanyakan saya pertama kali tentang pengadaan. Saya jawab,
saya tidak tahu sama sekali, karena bukan bagian saya dan tidak ada sangkut paut
dengan tim saya. Mereka lalu saling berpandangan, dan menanyakan, kenapa Ibu ada
di sini?Saya Jawab dengan Pertanyaan lagi “lho kan pihak bapak yang menetapkan
saya sebagai tersangka?”
Lalu enam bulan setelah dijadikan tersangka, sayabaru dipanggil sebagai tersangka,
dan saat hari pertama pemeriksaan tersebut ada pengumuman perintah penahanan
dimana sebelumnya saya sudah diperbolehkan pulang oleh Jaksa Penyidik yang kini
menjadi Jaksa Penuntut saya.
Saya diperintah untuk ditahan di RUTAN Pondok Bambu, namun saat diantar, RUTAN
Pondok Bambu tidak bisa terima dan harus dipindahkan malam itu juga ke RUTAN lain.
Kejaksaan Agung panik dan saya akhirnya dititipkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta
Selatan, dimana itu adalah rumah tahanan laki-laki dan dengan kondisi tanpa alas tidur
dan ventilasi. Saya baru dapat masuk ruang tahanan pukul 1:30 dini hari. Suami saya
harus memastikan kamar dapat dikunci, namun apa daya, 30 menit setelah suami saya
pulang, saya diganggu oleh beberapa orang hingga dua kali yang hingga kini saya tidak
tahu siapa mereka.
Saya dan suami, selalu saling mengingatkan, jalankan tanpa tangis serta tetap
tersenyum – ini terinspirasi oleh didikan orangtua saya yang mengajarkan bahwa “kita
ini bukan bangsa pengecut”.Jalani semua tantangan demi kebenaran.
Yang Mulia, selama 63 hari ditahan, saya hanya satu kali diperiksa sebagai saksi pada
hari keduapuluh di tahanan, setelah itu didiamkan hingga dibebaskan pada 28
November 2012, berdasarkan putusan praperadilan tanggal 27 November 2012 yang
memutuskan untuk membebaskan saya saat itu juga, karena penahanan yang tidak
sahdan tidak adanya bukti-bukti yang mendukung tuduhan. Keputusan pra peradilan
adalah jugamemerintahkan Kejaksaan Agung untuk mengembalikan nama baik serta
harkat martabat saya sebagai manusia, namun hingga kini tidak setitik pun dilakukan
oleh kejaksaan. Lalu sayang sekali, karena proses di Kejaksaan Agung yang lama,
saya terpaksa harus menjalani tambahan tahanan tidak sah sehari lagi di dalam penjara
yang sudah melanggar hak saya sebagai manusia merdeka.
Saya sudah menjalani hari-hari di RUTAN Pondok Bambu sebagai tahanan titipan,
namun karena saya ditempatkan di penjara, saya diperlakukan bak narapidanadan
bersama 24-30 orang dalam ruangan 4×8 m persegi, tidur di lantai tanpa adanya tempat
tidur yang layak. Menahan kerinduan akan buah hati saya, dan setiap harus berjumpa
mereka, ada batas waktu.
11 / 38
Majelis Hakim yang Mulia
Yang Mulia, Selama 63 hari ditahan itu, dan sejak proses pengadilan dijalankan mulai
20 Desember 2012, keluarga saya tercerai berai, suami dan anak bungsu harus pindah
sementara di Jakarta untuk rutin mendampingi saya, baik saat ditahan, menjalani
persidangan dan melakukan wajib lapor secara mingguan yang sudah 27 minggu kami
jalani dengan patuh. Sementara anak-anak yang lain terpaksa dititipkan kepada
beberapa keluarga di Duri, Riau. Selama ini telah dirampas hak saya untuk bisa
mendampingi anak-anak saya, menjalankan peran saya sebagai ibu untuk mereka.Dan
ketidakadilan ini juga membuat anak-anak saya tidak bisa mendapat pendampingan
dari ayah dan ibunya saat terjaga di malam hari, saat menjalani ujian dan saat mereka
harusnya dengan bangga jalan ke podium ditemani orangtuanya menerima sertifikat
kelulusan.
Yang Mulia,
Sebagai warga Negara yang taat pajak, saya mohon, yang mulia bisa menilik kembali
betapa banyak pelanggaran hak azasi terhadap saya sebagai seorang ibu, sebagai
seorang manusia… secara resmi, laporan KOMNAS HAM yang telah mendunia itu
menyebutkan, adanya pelanggaran HAM terhadap saya.
Yang Mulia, ……dan bapak-bapak Jaksa Penuntut Umum.
Mungkin ini kali terakhir saya berkesempatan berbicara dengan bapak-bapak Jaksa
dalam kasus ini.Dari hati saya, rasanya saya juga ingin berbicara dengan istri bapak—
dari hati ke hati.Juga dengan anak-anak bapak, tentang kasus ini. Barangkali mereka
jauh lebih mengerti tentang apa yang saya dan anak-anak saya rasakan.Sayangnya
saya tidak tahu kemana harus bertemu mereka.
Bapak-bapak Jaksa,
Ada begitu banyak hal yang membuat hati saya teriris, ketika di awal persidangan saya
mendengar dakwaan dari bapak-bapak, serta tuntutan yang dibacakan beberapa waktu
lalu.
 Pertama, ketika bapak-bapak mengatakan—baik di dalam persidangan maupun
di media massa, bahwa proyek pemulihan tanah terkontaminasi minyak mentah
ini fiktif.
Saya ingin mengajak bapak-bapak Jaksa Penuntut Umum, Yang Mulia ibu bapak
hakim, para hadirin, yang hadir di ruangan ini, untuk berpikir dengan logika
sederhana saja. Begini:
Upaya pemulihan tanah terkontaminasi minyak mentah telah melewati ratusan
ribu jam kerja dari ratusan orang dari berbagai disiplin ilmu, dari berbagai institusi
12 / 38
yang terdiri dari puluhan ahli dan akademisi, mulai studi awal hingga
pelaksanaannya. Proyek ini diawasi oleh puluhan ahli independen, serta
berbagai institusi yang terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang
lingkungan.Para ahli ini tidak mungkin menghancurkan kredibilitas dan hasil
pendidikan puluhan tahunnya untuk merekayasa suatu hal yang fiktif, bertahuntahun,
dengan orang yang berganti-ganti.
 Kedua bahwa saat disampaikan bahwa proyek ini tidak memberikan manfaat
bagi negara sehingga disebut korupsi. Mohon Bapak-bapak bayangkan, seperti
bapak sudah ikut ke lapangan, dalam beberapa jam saja, saya yakin bapakbapak
tidak akan mau kembali ke sana, karena luar biasa panasnya di bawah
terik matahari.Bayangkan pak, ratusan orang bekerja dengan regular di bawah
terik matahari, mengembalikan fungsi tanah ke kondisi yang aman untuk
ditanami dan untuk masyarakat sekitar. Tidak pernah ada masyarakat yang
mengeluh saat lahannya dibersihkan, bahkan mereka yang meminta untuk
dibersihkan, tidak pernah ada keluhan dari masyarakat sekitar spreading area
yang telah berhasil ditumbuhi tanaman-tanaman.Para pekerja itu Pak, selain
membantu untuk memperbaiki lingkungan, mereka juga mencari nafkah bagi
keluarga mereka pak…mereka, juga sama dengan saya, bekerja demi
penghidupan yang halal…mereka, kalau dipanggil kemari, pasti akan bersaksi,
bahwa tanah yang penuh minyak benar diolah untuk menjadi bersih.
 Ketiga, saat bapak-bapak di Kejaksaan mencari celah izin lingkungan, yang
membuat Jaksa buta akan Undang-Undang Lingkungan, dan bahkan bertindak
sebagai Ahli Hukum Lingkungan, padahal dasar Jaksa salah? Kenapa fakta
persidangan banyak diplintir saat membuat tuntutan? Kenapa mendadak
disebutkan, UU lingkungan dapat dikesampingkan, namun saya dipersalahkan
karena saya lalai menerapkan norma hukum lingkungan dalam jabatan saya
yang masih 6 bulan?
 Keempat, kenapa keteranganpara pimpinan Chevron yang berperan sebagai
saksi dan penjelasan saya menyatakan bahwa saya tidak berwenang
memberikan saran bila tidak diminta, dan proyek ini oleh KLH sudah dinilai TAAT
saat saya menjabat, dikesampingkan semua oleh Bapak-bapak Jaksa? Kenapa
lalu tiba-tiba BapakJaksa menetapkan tugas saya, seolah Bapak sebagai atasan
saya yang membuat tupoksi bagi saya? Baru ini saya tahu, setelah 15.5 tahun
bekerja di Chevron, ternyata Kejaksaan punya otoritas membuat Tugas
Pokok dan Fungsi buat pegawai Cevron dalam hal ini saya, yang jauh beda
dengan apa yang memang digariskan perusahaan untuk saya.
Kepada Bapak-bapak Jaksa saya bertanya, Apa salah yang saya, ibu dari lima anak ini
lakukan kepada bapak semua, sehingga bapak demikian bersemangat untuk meyeret
saya ke pengadilan dan menghukum saya? Apa salah dari anak-anak saya sehingga
13 / 38
mereka harus menanggung derita karena semangat bapak-bapak untuk menghukum
saya?
Apakah Bapak-bapak Jaksa lupa akan pelajaran agama mana pun, fitnah itu tidak
diperkenankan bagi orang yang ingin merasakan surga? Surga itu tidak terbuka bagi
orang yang berniat untuk meruntuhkan hidup orang-orang tidak bersalah?Mohon maaf,
saya tidak bermain sebagai Tuhan, tidak sama sekali, saya hanya mengulang apa yang
saya pelajari dari pelajaran agama yang selalu diajarkan sejak saya kecil.
Bapak-bapak Jaksa,
“kita manusia tidak ada yg sempurna… kesempurnaan hanya milik Tuhan dan hanya
Tuhan… dan karena ketidaksempurnaan sebagai manusialah sehingga Bapak jaksa
membuat kesalahan dalam melakukan penyelidikan dan dakwaan, karena
ketidaksempurnaanlah bapak jaksa mendengar kesaksian seseorang pembohong yang
dianggap ahli tapi sebenarnya tidak bisa dijadikan dasar sama sekali utk mendakwa,
karena ketidaksempurnaan lah bapak Jaksa menganggap ahli palsu itu ibarat dewa
yang sempurna”
Puji Tuhan ada pengadilan …dengan ditempatkannya hakim-hakim Yang Mulia, yg
bisa memberikan kebenaran dan keadilan sehingga bisa mencegah akibat dari
ketidaksempurnaan dari sekelompok manusia dimana akibatnya itu adalah bisa
menghancurkan kehidupan orang – orang yg tidak bersalah
Ini sebabnya kenapa saya dan semua terdakwa kasus ini mendapatkan banyak sekali
dukungan dan simpati dari orang-orang yang mengikuti jalannya kasus serta jalannya
persidangan. Jadi tidak hanya saya yang melihat, ratusan bahkan ribuan orang yang
melihat liputan persidangan ini secara langsung, baik dari internet dan TV di dalam
camp di operasi Chevron, mereka semua melihat yang sama dengan apa yang kita lihat
dalam ruangan ini…Pernah beberapa dari mereka yang memantau bertanya pada saya,
kenapa kamu bisa sabar?
Saya men jawab: Saya sabar karena Saya Tidak Bersalah, Saya selalu Yakin Allah
bersama yang Baik dan Benar,
ijinkan saya mengutip salah satu filsafat Jawa:Sabar iku ingaran mustikaning
laku.(Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yg
sangat indah dalam sebuah kehidupan)
Saya juga menjawab: Saya juga harusnya berterimakasih kepada mereka yang
menzalimi saya, termasuk ke Edison Effendi dengan keterangannya yang
merupakan kebohongan-kebohongan yang nyata di persidangan, karena mereka
14 / 38
membuat mata kita, bukan saja di Indonesia, namun di belahan dunia lain
menyadari bahwa ada yang harus dibenahi di proses hukum ini…saya mendapat
banyak email keprihatinan dari seluruh dunia…dan itu bagi saya adalah semangat untuk
Perubahan yang Lebih Baik bagi Indonesia…Ini adalah fase kehidupan yang harus saya
jalani…dan fase yang mereka hadirkan untuk saya, membuat anak-anak saya menjadi
pribadi yang kuat, yakin akan keberanian, tidak pengecut dan membuat saya sadar,
betapa banyak yang mendukung, mencintai saya, suami, ibunda saya dan anak-anak
saya. Betapa saya menyadari, karunia Yang Maha Adil luar biasa indah nya, dan
betapa Dia telah memberikan saya Ibu yang tangguh, keluarga yang solid dan ribuan
teman yang baik.
Saya tidak marah kepada Para Bapak Jaksa, karena saya memahami, Tuhan tidak
memberikan kita orang-orang yang kita inginkan, Dia berikan kita orang-orang yang kita
butuhkan, untuk mencintai kita, untuk membantu kita bahkan Dia berikan orang-orang
untuk menyakiti kita, agar kita menjadi orang yang lebih baik…
Majelis Hakim Yang Mulia,
Sebenarnya bila Yang Mulia bisa menilai, siapa yang zalim dan terzalimi, Yang Mulia
pasti akan sepakat bahwa kita mencari kebenaranbukan membenarkan dakwaan kabur
serta serabutan agar bisa menjatuhkan vonis Bersalah.
Dan untuk tanah-tanah yang dijadikan bukti untuk persidangan ini, bila mereka bisa
berbicara, pasti akan berbicara lantang untuk memohon tidak dijadikan saksi
kepalsuan, karena alam tidak pernah berdusta…suatu saat nanti, saya akan bertemu
dengan tanah-tanah itu, sebagaimana mereka juga akan bertemu kita semua di ruang
ini… dan saat itulah, dapat diketahui apakah mereka merengkuh kita dalam damai, atau
akan berbalik menghantui masa-masa panjang kita dalam kekelaman karena kepalsuan
yang dijadikan dasar semua kezaliman ini.
Selain bukti tanah yang tidak valid, Selama ini, pada persidangan ini juga, telah nyata
ditegaskan bahwa tidak ada bukti saya memperkaya diri…tidak ada bukti saya
memperkaya orang lain…dengan uang siapa pun. Kerjasama yang didakwakan atas
saya, Kukuh dan pak Widodo, tidak berdasar, karena tidak ada laporan dari mereka ke
saya, dan mereka bukanlah bawahan saya. Serta semua proses pelaporan adalah
dikaji banyak pihak dan transparan.
Majelis Hakim yang mulia,
Saya, kami semua di sini, masih mempercayai bahwa pengadilan itu adalah tempat
untuk mendapatkan keadilan, meskipun keadilan itu tidak selamanya dapat diraih
dengan cara yang mudah.Keadilan itu harus diperjuangkan.Salah satu tempat untuk
memperjuangkan keadilan itu adalah pengadilan.Pengadilan ini bukan tempat
15 / 38
penghukuman, termasuk dalam perkara korupsi, karena saya percaya tidak jarang
orang yang didakwa korupsi adalah orang yang TIDAK BERSALAH seperti
saya.Sehingga tidak layak untuk dihukum.
Sebab sebagaimana yang mulia dan saya yakini, kita tidak ingin hukum digunakan
untuk memberangus keadilan yang seharusnya dipelihara, atau untuk membatasi dan
menghancurkan hak-hak yang seharusnya dijunjung tinggi.
Dengan keyakinan inilah, maka saya percaya bahwa pengadilan ini adalah satusatunya
tempat yang harus dipercaya dan ditunjukkan sebagai tempat menegakkan
keadilan dan kebenaran.
Putusan Bersalah Majelis Hakim yang Terhormat akan diratapi, bukan hanya oleh anakanak
saya termasuk yang masih dibawah umur, tetapi akan ditangisi oleh ribuan
karyawan dan keluarganya, ribuan akademisi, ribuan ibu, karena melihat dan
merasakan hukum belum berpihak kepada kebenaran, Namun putusan BEBAS akan
disyukuri dengan sujud syukur oleh keluarga dan kolega saya, karena putusan BEBAS
itulah putusan yang berpihak kepada kebenaran yang dikemukakan selama
persidangan ini serta kenyataan sesungguhnya.
Saya menghormati Majelis Hakim, karena Hakim adalah Jabatan yang Mulia, saya
sangat memahami betapa beratnya tugas itu ditengah keterbatasan kita sebagai
manusia.Namun saya percaya ketika nurani kita gunakan untuk menilai satu perkara,
suara nurani akan melahirkan keberanian untuk menegakkan keadilan. Dan keadilan
itulah yang saya harapkan datang dari Majelis Hakim Yang Mulia.
Ibu dan Bapak Hakim Yang Mulia,
Bahwa anda adalah juga seperti saya, orang-orang yang percaya bahwa memang akan
pengadilan akhir bagi kita semua, bahwa hanya ada satu Hakim Yang Maha Adil untuk
kita semua. Bahwa Pengadilannya kelak adalah tentang apa yang telah Ibu dan Bapak
lakukan terhadap sesama umat manusia selama ada di dunia…termasuk terhadap saya
dan anak-anak saya.
Adalah anak-anak saya yang saya pikirkan, kondisi perkembangan mereka, kebutuhan
mereka akan pelukan dan perhatian orangtuanya. Serta Kondisi Suami saya yang
harus meninggalkan pekerjaan kantornya untuk mendampingi saya menghadapi masamasa
ini.
Ibu dan Bapak Hakim Yang Mulia,
Ada seorang anak perempuan, berusia 13 tahun, usia yang penuh keingintahuan dan
mampu untuk melakukan pencarian-pencarian informasi lebih dalam. Seorang anak
dimana ibunya tengah mengalami proses pengadilan yang panjang. Ada hal yang
16 / 38
merisaukan ibunya, ketika anak ini berpersepsi bahwa hakim-hakim yang mengadili
ibunya adalah orang Jahat.Kepada puterinya itu, sang ibu mengatakan berkali-kali
“Nak, para hakim, yang mengadili Ibu adalah orangtua juga, sama seperti ibu, mereka
adalah juga orangtua yang bijaksana, terlebih karena mereka mengadili nasib manusia.
Mereka adalah representasi Tuhan di dunia. Maka dipilihlah orang-orang yang
bijaksana dan bernurani untuk duduk sebagai hakim.”
Yang Mulia,anak perempuan itu, bernama Carissa, dengan ibu bernama Rumbi. Ini
anak saya yang mulia, yang selalu mengirimkan foto penuh senyuman untuk
menyemangati ibundanya setiap akan maju sidang.
Bapak, Ibu Hakim, mohon bantu saya, untuk meyakinkan Carissa, bahwa apa yang
saya katakan tentang Bapak dan Ibu Hakim adalah orang yang bijaksana itu Benar.
Bantu saya yang Mulia…
17 / 38
Lalu Ibu Hakim, suatu kali, ada seorang anak berusia 2.5 tahun pergi ke penjara untuk
bertemu ibunya yang dipenjara. Anak itu begitu sering pergi menemui ibunya, dan
mengerti bahwa begitu melihat ada petugas berseragam mendekat, dia serta merta
memeluk ibunya.Ibu Hakim tahu kenapa?Karena dia tahu, itulah saat dia harus
berpisah dengan ibunya.Dan inilah anak itu, Gaza Ghifari Kertanegara, putera bungsu
saya.
18 / 38
Yang Mulia, kini, efek psikologis bagi Gaza, bahwa dia tidak pernah mau ditinggal,
karenanya selelah apapun dia ingin terus ikut, agar tidak terpisahkan lagi dari ibunya.
Ibu dan Bapak Hakim Yang Mulia,
Cerita lain, Suatu kali, ada anak laki-laki berusia 8 tahun, yang selalu ingin memastikan
kondisi ibunya, dimana ibunya tengah disidang. Dalam benaknya, ibunya duduk sendiri
di tengah, seperti yang pernah dia lihatdi TV, dan ibunya dimarahi banyak orang dari
berbagai sisi.Nalurinya membuat dia ingin melihat ibunya langsung, memohon datang
ke sidang dan berusaha masuk, namun diusir karena usianya tidak cukup.Deraan
beban yang besar harus ditanggung anak sekecil itu. Bapak Ibu Hakim, anak itupun
kemudian jatuh sakit, dan dalam baringnya – tanpa pendampingan ayah ibunya – di
rumah sakit, pertanyaan yang sering dia tanyakan kepada yang menjaganya…”Apakah
Ibu saya masih dimarahi di sidang?”
Dan anak itu itu bernama Dio.Ini anak saya yang ketiga Yang Mulia, saat dia terbaring
sakit tanpa orangtuanya di sisinya.
19 / 38
Ibu Sudharmawati Ningsih, Bapak Antonius, Bapak Anas, Bapak Slamet dan Bapak
Sofialdi yang terhormat,
Saya dan Keluarga berdo’a selalu, semoga Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih
selalu memberi kekuatan kepada Ibu dan Bapak-bapak untuk dapat terus memegang
kebenaran. Semoga keadilan dapat ditegakan untuk saya.
Keputusan Majelis Hakim saat ini akan dikenang sepanjang masa. Bukan hanya saat
ini, tetapi sebagai catatan sejarah yg akan dilihat anak cucu… Catatan yang bila baik
akan selalu baik pula dikenang… Yang Mulia akan dikenang sebagai Pahlawan
Keadilan. Bayangkan anak cucu Yang Mulia akan bangga menceritakan betapa
beraninya Yang Mulia dalam menegakkan kebenaran…dengan Berani membebaskan
orang yang Tidak Bersalah…Tanpa Takut akan Tekanan siapa pun.
Yang Mulia…hilangnya waktu berharga saya didalam tahanan selama 63 hari itu dan
waktu-waktu yg saya lalui untuk persidangan yang katanya paling panjang dan
melelahkan sepanjang dunia peradilan indonesia…semua itu tidak akan ada uang dan
harta berharga di dunia yg dapat menggantikan dan membeli waktu berharga yg telah
hilang antara kebersamaan saya dan keluarga saya, tapi saya tidak akan mengeluh
…karena saya tahu saya TIDAK BERSALAH…saya hanya berharap dengan segala
ucapan do’a yang saya lafaskan setiap detik, setiap menit,siang dan malam semampu
saya sebagai manusia bahwa hal itu tidak terjadi lagi kepada saya dan teman-teman
saya yang TIDAK BERSALAH.
Yang Mulia,
Dengan segala kerendahan hati saya meminta, Bebaskanlah saya di tingkat pengadilan
ini, saya mohon Yang Mulia bisa mengatakan hitam adalah hitam, putih adalah putih…
Majelis Hakim Yang Terhormat, Penasehat Hukum, Jaksa Penuntut Umum dan Temanteman,
Dalam kesempatan ini, saya, suami dan anak-anak saya, ingin mengucapkan
terimakasih dari hati terdalam atas dukungan yang luar biasa dari keluarga besar,
sahabat, para alumni UI, ITB, IPB, UPN Veteran, Perbanas, Trisakti, ITS, adik-adik
mahasiswa, para wakil rakyat di DPR, para tokoh masyarakat, para ahli lingkungan di
Indonesia dan dunia Internasional, komnas HAM, Chevron, dan keluarga besar
karyawan, Serikat Pekerja, Para Penasehat Hukum dan beberapa lembaga
pemerintahan.
Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kita semua.
Akhir kata, saya ingin mengutip kata-kata dari Mahatma Gandhi
20 / 38
“Di muka bumi ini ada sebuah pengadilan yang paling mulia yang jauh diatas
pengadilan apapun yang dilakukan oleh semua lembaga hukum dan peradilan.
Pengadilan itu berlangsung di dalam hati nurani kita sebagai manusia.”
Salam Nurani untuk Keadilan
Salam Damai dan Adil dari semua anak-anak saya bagi yang mulia, dari Carissa
Ardiningrum, Aristo Bayuaji, Diogenes Abhinaya, Gayatri Hanania dan Gaza Ghifari
Kertanegara…
Saat ini mereka menanti, berdoa bersama ribuan orang yang lain, memohon keadilan
dan KEBEBASAN bagi saya, Endah Rumbiyanti, Ibu mereka.
Lamp
Gambar
yang Di
iran Fot
r Mampu B
iterima
to-foto D
Bercerita L
Dukunga
ebih Bany
an
ak – Berikut adalah Foto-foto D
2
Dukungan
1 / 38
22 / 38
Foto Ibunda yang Setia Menemani Saya Setiap Sidang
Foto ibunda saya yang melaporkan pelanggaran HAM atas anaknya, mencari keadilan
hingga ke KOMNAS HAM
23 / 38
Foto Dukungan dari Berbagai Belahan Dunia
24 / 38
25 / 38
Foto Dukungan dari Berbagai Kalangan Alumnidemi Nurani untuk Keadilan
26 / 38
Audiensi Alumni dengan DPR
27 / 38
Foto Dukungan – Aksi Simpatik Warga Chevron dan Perusahaan Mitra Kerja Serta
Keluarga di Duri – Riau,
28 / 38
Foto Dukungan Profesional Migas demi Nurani untuk Keadilan
29 / 38
30 / 38
31 / 38
32 / 38
33 / 38
34 / 38
LAMPIRAN KESAKSIAN TEMAN‐TEMAN RUMBI TENTANG RUMBI
Rumbi adalah ibu dari lima orang anak yang tertua ada di bangku SMP tengah mengikuti ujian akhir
untuk jenjang SMA. Yang paling kecil baru memasuki usia tiga tahun dan selalu dibawa ke mana saja saat
ini oleh Rumbi. Rumbi adalah wanita yang aktif, dia dan suami (yang juga pegawai Chevron) tetap
menjaga keaktifan mereka di tengah prahara yang menimpa keluarga mereka saat ini.
Berikut ini adalah penuturan beberapa teman Rumbi yang dikumpulkan baik dari wawancara langsung,
maupun tertulis.
Nama Kesaksian
Teman‐teman UI Rumbi seorang teman yang cerdas, siap
membantu orang lain ataupun lingkungan
sekitarnya dengan sepenuh hati. Hal ini tampak
dalam keseharian dimana Rumbi memiliki teman
dari berbagai kalangan dan tingkatan baik teman
pegawai, BP, GOI bahkan wartawan. Sebagai
seorang teman, Rumbi dapat diandalkan
khususnya ketika diberi action item pasti akan
diselesaikan lebih cepat dari waktunya dengan
hasil yang melebihi harapan. Di kalangan temanteman
mahasiswanya dulu, Rumbi dikenal bukan
hanya karena kecerdasannya saja (dari nilai IP
ataupun penghargaan sebagai Mahasiswa Telada)
tapi karena keterlibatannya yang aktif di
organisasi mahasiswa dan juga tetap bergaul
dengan kalangan teman mainnya.
Terhadap lingkungan, Rumbi sangat peduli,
seperti terdengar khabar Rumbi membantu
menyelamatkan gajah dan anaknya yang terjebak
di lingkungan perusahaan Chevron, dia mengurus
dengan telaten dan secara berkelanjutan hingga
mendapat apresiasi dari Menteri ESDM saat itu.
Sebagai teman kerja, Rumbi termasuk orang yang
kritis dan sering memberikan tantangan terhadap
suatu keadaan untuk bergerak lebih maju.
Sebagai personal, Rumbi memiliki banyak talenta,
seperti nge_MC yang dijalani sejak sekolah, nari,
35 / 38
memasak, home decoration, fashion, dll.
Nur – Rekan Kerja, Duri Salut dengan mbak Rumbi, karena pemimpin lakilaki
belum tentu setegar mbak Rumbi. Saya harus
belajar banyak dari mbak Rumbi.
Ruri Indra – Ibu Rumah Tangga,
Teman (Duri)
Walaupun saya tidak bertemu setiap hari dengan
mbak Rumbi, saya merasa bahwa beliau adalah
wanita yang special. Mengapa saya berkata
demikian, karena selama saya kenal dengan
beliau, selalu saja kenal dengan beliau selalu saja
bentuk perhatian kepada saya mapun keluarga
saya dari mbak Rumbi. Padahal kalau dilihat dari
jarak rumah, rumah kami saling berjauhan, suami
beliau dengan suami saya tidak dalam 1 team,
dunia pergaulan kami berbeda, dan jarak umur
kami pun berbeda, tetapi saya merasa bahwa
perhatiannya beliau itu benar‐benar tulus
adanya…bukan karena beliau menginginkan
sesuatu dari saya, yang seperti kebanyakan orang
lakukan. Dengan adanya cobaan yang menimpa
mbak Rumbi, saya berharap mbak dan keluarga
bisa tabah, sabar dan kuat, ini adalah jalan hidup
yang sudah digariskan oleh Allah SWT, tetaplah
bersihkan hati mbak Rumbi …semoga badai ini
cepat berlalu ya mbakku sayang…we love you so
much 
Turnadi – teman dari SMP
(Jakarta)
Tidak berlebihan kalau Rumbi dikatakan wanita
pekerja yang berhasil dilihat dari jabatannya, tapi
sebagai pribadi, Rumbi tetap menyenangkan dan
tidak ada perubahan dalam bersosialisasi. Tetap
rendah hati, santun dan yang paling penting tetap
bersahaja. Di luar dari sosok wanitya berhasil,
Rumbi memiliki kematangan dalam berfikir, hal
ini sudah diperlihatkan dari duduk di bangku SMP
dan SMA. Kepedulian terhadap teman dan
lingkungan dan kematangan berfikir yang
direalisasikan dengan meraih nilai yang baik dan
menjadi pemimpin dalam organisasi selama masa
sekolah (sempat menjadi ketua Umum Ikatan
Remaja Caltex Duri (sekarang Ikatan Remaja
Chevron Duri) bersamaan dengan Ketua I OSIS
SMA Cendana Duri). Wanita yang anggun, yang
akan selalu memberikan kontribusi positif kepada
teman, rekan kerja dan lingkungannya. Itu yang
saya tahu tentang Rumbi.
36 / 38
Andrie Anne dan Solly Sandra –
Teman dari SMA (Jakarta)
Rumbi yang kami kenal dari dahulu sekolah
sampai hari ini adalah sosok wanita cerdas (sudah
pasti), tangguh, luar biasa dan tahan banting.
Semua dihadapi dengan tenang dan kepala dingin.
Tidak pernah cheating atau curang dalam
menggapai sesuatu. Semua prestasi yang diraih
selama ini memang karena kecerdasan,
ketekunan, kerja keras dan kekuatannya sendiri
(plus do’a tentu saja). Rumbi juga tidak pernah
mengeluh atau menyalahkan kondisi atas apa
yang terjadi, semua dihadapi dengan tegar.
Mesir Karo Karo – Rekan Kerja Pagi‐pagi begitu datang, sapa semua orang yang
pintu ruangannya terbuka. Dan sering bersenda
gurau dan berdiskusi tentang pekerjaan di lorong
kantor dengan team environmental, sebelum
masuk ke ruangan. Suasana kekeluargaan sangat
terasa dalam menyelesaikan semua pekerjaan.
Semoga MBak Rumbi sehat‐sehat dan semua
rintangan/masalahyang dihadapi bisa selesai
dengan baik.
Zulfarina Rosyidi – Dosen
STIKES, Teman, Ibu Rumah
Tangga – Duri
Kalau orang belum mengenal dirinya secara dekat,
akan menyangka dirinya sombong, seperti
awalnya saya dulu menganggapnya. Tetapi
kenyataannya berbeda sekarang, kadang dia lebih
ada di saat saya sulit dibandingkan saudara saya
sendiri, sangking hebatnya dia menghargai orang
lain. Dia adalah wanita karir sejati, dimana selalu
memikirkan pekerjaan tetapi di sela‐sela
kesibukannya, ternyata dia masih bisa menyisakan
ruang waktunya untuk keluarga dan orang‐orang
di sekitarnya dengan hanya mengirimkan pesan
sekedar menanyakan khabar, yang kadang kala
belum tentu dapat dilakukan orang yang hanya
ibu rumah tangga seperti saya. Satu lagi yang
tidak semua rang dapat tiru dari dirinya adalah
ketegarannya dalam menghadapi masalah hidup
yang dihadapinya, selalu bisa tersenyum walalu di
belakangnya beruntutan masalah yang akan
diselesaikan Tetaplah sabar kakakku, sebarkan
kebaikan sebanyak‐banyaknya selagi kamu
mampu, karena kebaikanmu lah yang akan
membantumu kelak…
Dhiana Tungul Aroean – mantan
lawyer, ibu rumah tangga
Rumbi yang saya kenal adalah pribadi yang sangat
mandiri, apa adanya dan satu lagi adalah suka
37 / 38
(Minas) blusukan ke mana saja untuk cari barang antic 
Bobby Kurniawan – Earth
Scientist, ETC ‐ Houston
Saya merasa sangat bersukur dapat menjalin tali
persahabatan dengan Rumbi. Dari sejak pertama
berkenalan 15 tahun yang lalu sampai sekarang,
saya merasa kualitas pribadi beliau tidak pernah
berubah. Rumbi memiliki kepribadian yg mandiri,
rendah hati, dan berintegritas tinggi. Dia tidak
akan segan untuk membantu dan membela teman
atau kolega yang menghadapi kesulitan dalam
pekerjaan atau problema keluarga. Tanpa rasa
segan dan dengan tulus beliau bersedia
mengorbankan waktu dan energi pribadinya
untuk membantu dengan sepenuh hati. Sebagai
teman yang sangat mengenal Rumbi, saya sangat
sedih atas ketidakadilan yang sedang
menimpanya. Saya sangat sedih atas pejabatpejabat
pemerintahan yang mengatas namakan
“keadilan” tapi bertindak semena‐mena. Semoga
mata hati para pejabat itu terbuka baik oleh fakta
yang ada. Semoga mereka sadar akibat perbuatan
mereka berapa banyak kehidupan normal
keluarga orang lain yang telah terjungkir balik.
Andaikan mereka bisa mencoba memakai
“sepatu” orang yang dituduh semena‐mena
seperti Rumbi, mungkin mereka baru dapat
menyimpulkan “enough is enough”. Rumbi
temanku. Terima kasih untuk tetap menjadi
teman disaat suka dan duka. Semoga kita tetap
menjadi teman sejati sampai disaat usia senja.
Salam sejahtera,
Bobby
Carissa ‐ 13 thn, Anak, Duri Ibu rumbi adalah seorang ibu yang sangat
perhatian terhadap anak‐anaknya. Pas ibu lagi
sibuk pulang pergi dari Jakarta ke Duri, semunya
terlihat sangat sepi. Bahkan semua makanan yang
saya cicipi rasanya sangat hambar tanpa
kehadiran Ibu. Ibu kalau berpegian selalu
berdadan sangat fashionable. Dan Ibu selalu
bersikap baik terhadap orang‐orang yang ada di
sekitarnya. She equally loves her children very
much.
38 / 38
Indra Mulyabudiwan – Legal,
CPI – posted at Facebook Aksi
Solidaritas Kasus Bioremediasi
Ada satu hal yang saya kagumi dari Rumbi, yaitu
konsistensi, Keberanian serta kekuatan
mentalnya. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh
kebanyakan orang. Ketika suatu saat saya
berkesempatan menengoknya di Rutan Pondk
Bambu, terbesit satu pertanyaan kenapa dia tidak
menghuni kamar “khusus” seperti yang dihuni
oleh beberapa tokoh yang dituduh melakukan
tindak pidana korupsi, yang menawarkan
beberapa kemudahan dan kenyamanan. Sudah
menjadi rahasia umum jika sel “biasa” dapat
dihuni oleh belasan orang hingga puluhan orang
dalan satu ruangan kecil, sedangkan sel “khusus”
dapat hanya dihuni oleh satu orang saja sehingga
penghuninya mempunyai sedikit privasi yang tidak
dimiliki oleh tahanan lainnya. Pertanyaan serupa
rupanya pernah juga disampaikan oleh Jaksa
Pendidik yang juga pernah mengunjunginya didi
Rutan Pondok Bambu untuk memeriksa Rumbi.
Sungguh mencengangkan jawaban yang
dikemukakan oleh Rumbi, dia menolak seraya
berkata “Itulah yang membedakan saya dengan
koruptor sejati.” Sang Jaksa langsung terdiam
sementara satu orang rekannya meninggalkan
ruangan tanpa berkata‐kata. Entah apa yang ada
di dalam benak mereka saat itu. Intinya dia tidak
mau menghuni sel “khusus” karena dia tidak
merasa bersalah seperti yang dituduhkan, dia
bukan seorang koruptor! Dia lebih memilih tinggal
bersama tahanan “biasa” karena dia merasa
sebagai orang biasa yang menjadi korban salah
tangkap. Perjuangannya masih cukup panjang tapi
sedikit demi sedikit kebenaran mulai terkuak.
Dewi Diana Sari – Dokter
Umum, kakak – Bandung
Rumbi is the smartest, strongest and bravest
woman in the family…

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s