PUNCLUT


Namanya kedengaran lucu di kuping, tapi begitulah adanya. Sering di tanah Pasundan kita mendengar nama-nama yang menggelitik terutama bagi mereka yang berasal dari luar daerah sunda.

PUNCLUT, begitulah namanya, kalau dari arah Bandung kota kita menuju Dago naik keatas masuk ke daerah ciembeuleuit… bisa bacanya gak ? pabalieut kan ? terus naik keatas jalannya hanya pas untuk satu mobil jadi kalau papasan sama mobil dari arah depan maka akan timbul kesulitan alias musti pelan2 dan kalau perlu brenti dulu. Jalannya naik tanjakan terus keatas, jadi kalo mobil tarikan kurang OK bisa balik mundur tuh…

Jalan ini tembus2nya di Lembang Pasar. Nah ditengahnya itulah ada resto2 tradisional pinggir jalan. Parkir ya apa adanya disekitar jalan dan tempat2 yang menjorok kedalam. Yang paling besar dan luas namanya restoran pak… aduh lupa saya. Pokoknya ada gambar bapaknya itu dan juga ibunya mak… sapa gitu deh. Kelihatannya spesialisnya adalah pepes, mulai dari ikan, jamur , tahu dan segala bentuk pepes, mungkin k.l. ada 10 jenis pepes yg ditawarkan. Tentu ada juga ayam ini itu bakara maupun gowreng.

Pemandangan kearah bawah sungguh indah, terlihat kota Bandung dan sekitarnya. Sehingga sambil nunggu pesenan kita ngobrol dengan pandangan lepas kearah bawah sambil dihembus oleh angin gunung yang dingin.

Boleh juga dilihat videonya dibawah ini.-

Iklan

One response

  1. Info tambahan ttg Punclut : Kl dr Bdg menuju Lbg lewat jalan biasa panjangnya kira2 17 km dan macet banget ,apalagi kalau hari kerja.Ttp kl lewat jl.Cimbeuluit ,hanya sekitar 4 km saja.Dari RS DR Salamun nanjak terus sampai RRI (2 km) jalannya aspal bagus,dari RRI menuju Punclut sdh diaspal juga walaupun aspal kls 2 (2 km juga).Kalau hari Sabtu & Minggu pagi area itu tidak dapat dilalui mobil karena banyak masyarakat berolah raga dg berjalan kaki ,dari kakek – nenek ,orang dewasa sampai ke cucu-cucunya sepanjang 4 km tsb.Di kanan-kiri jalan banyak pedagang2 sayur2an,buah2an,susu segar,jajanan ringan-berat dan warung2 tradisional yang biasanya menyajikan : Nasi Merah/Hitam/Putih dengan aneka Pepes dan sambal Cobexnya serta minuman Bandrek Bajigur.Jumlah pejalan kakinya lebih banyak dari pada Yg jalan Minngu Pagi di Jl.Thamrin…jelas sehat menghirup udara segar pegunungan…bukannya menghirup udara Knalpooot yang bikin umur pendek..he..he..he…tul gak Oom Tono,Bravo

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s