Wamen ESDM – in memo


Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo menilai Indonesia merupakan negara yang lucu.

Pasalnya, Indonesia memiliki sumber energi murah yaitu batubara, tetapi justru batubara tersebut malah diekspor. Sedangkan Indonesia memilih impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya lebih mahal. ”Indonesia negara lucu, ekspor yang murah, tapi impor yang mahal. Orang yang gak kaya minyak tapi pakai yang mahal. Orang miskin kalau pakai yang mahal maka akan susah hidupnya,” tegas Widjajono saat ditemui di Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, Jumat (30/3/2012).

Widjajono heran dengan kultur masyarakat Indonesia yang justru bangga dengan jumlah mobil yang banyak meskipun bahan bakarnya masih disubsidi. “Mobil di Singapura itu 5 tahun ganti, tapi di Indonesia malah bangga mobil tambah meskipun BBM-nya disubsidi,” pungkasnya (detikFinance.com, 30/3/12).

Lebih dari itu, negara ini juga pas disebut negara aneh. Pasalnya memang banyak keanehan dalam pengaturan negara ini. Berikut sebagian diantara keanehan yang terjadi di negeri ini:

Pertama, semua orang di dunia akan sangat takjub dengan melimpahnya kekayaan negeri ini. Hampir semua bentuk kekayaan alam ada di negeri ini. Namun anehnya, kekayaan itu tidak bisa membuat rakyatnya hidup makmur. Menurut data BPS:
(http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=1 ) pada tahun 2011 orang miskin di negeri ini masih ada 11.046.750 orang di kota, ada 18.972.180 orang di desa dan secara total di negeri ini masih ada 30.018.930 orang miskin. Itu pun dengan ukuran garis kemiskinan di kota Rp 253.016,- per bulan, di desa Rp 213.395,- perbulan dan secara gabungan ukuran garis kemiskinan jika pengeluaran Rp 233.740,- perbulan. Orang yang disebut miskin di negeri ini jika pengeluarannya kurang dari Rp 7.790,- perhari. Padahal dengan pengeluaran sebesar itu per hari hanya cukup untuk sekali makan dengan lauk ala kadarnya.

Kedua, dengan melimpahnya kekayaan negeri ini, ternyata pendapatan negeri ini termasuk dari hasil pengelolaan bermacam kekayaan alam itu tidak cukup untuk membiayai belanja negara sehingga kekurangannya ditutup dengan mencari utang baik dari dalam negeri dalam bentuk Surat Berharga Negara dan dari luar negeri. Jumlah utang pada akhir Januari 2012 yang telah mencapai Rp 1837,39 triliun. Jumlah itu jika dibagi dengan jumlah penduduk 239 juta maka tiap orang penduduk temasuk bayi yang baru lahir sekalipun terbebani utang sebesar Rp 7,688 juta. Keanehan ini makin menjadi.

Negara ini sangat patuh dalam membayar cicilan utang pokok dan bunganya tiap tahun. Normalnya, orang berutang itu hanya sementara, sesekali, tidak seterusnya dan punya rencana atau skenario untuk melunasi utangnya. Itu normalnya. Tapi hal itu tak terlihat dalam hal utang negeri ini. Utang seolah menjadi sesuatu yang tetap. Tiap tahun harus ada. Hal itu diantaranya adalah akibat tipuan doktrin anggaran berimbang. Sayangnya terlihat tidak ada rencana atau skenario mengakhiri utang itu.

Di dalam Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 bahkan sudah ada prediksi besaran cicilan utang pokok dan bunga hingga tahun 2055 dan itu bukan akhir dari cicilan utang. Normalnya, utang itu sifatnya emergensi/darurat, tapi anehnya dalam pengelolaan negeri ini, utang justru bersifat baku, tetap dan kontinu. Jelas ini adalah aneh dan abnormal.

Lebih aneh lagi, ternyata cicilan utang selama ini tidak mengurangi jumlah utang. Padahal cicilan utang itu jika diakumulasi sudah melebihi akumulasi utangnya sendiri. Akumulasi pembayaran cicilan utang baik bunga maupun pokok selama 12 tahun antara tahun 2000-2011 mencapai Rp 1.843,10 triliun. Tapi anehnya, jumlah utang negara tidak berkurang tapi justru bertambah. Utang negara per 3 Januari 2012 mencapai Rp 1.837,39 triliun.

Kalau dikatakan utang itu untuk membiayai pembangunan, maka bisa jadi itu bohong besar. Sebab sejatinya utang yang diambil itu adalah untuk membayar cicilan utang. Ambil contoh tahun 2012 ini. Di dalam APBN-P sudah ditetapkan defisit sekitar Rp 190,1 triliun atau 2,23% dengan rencana akan ditutupi dari pembiayaan (utang) dalam negeri sebesar Rp 194,5 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar minus Rp 4,4 triliun (artinya total pinjaman LN berkurang Rp 4,4 triliun). Ternyata jumlah itu habis dan tidak cukup untuk membayar cicilan utang. Di tahun 2012 besarnya cicilan utang mencapai Rp 261,1 triliun (cician pokok Rp 139 triliun dan cicilan bunga Rp 122,13 triliun).

Bahkan jika mengacu pada Buku Saku Perkembangan Utang Negara edisi Februari 2012 yang dikeluarkan oleh Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di halaman 46 disebutkan, pagu APBN-P 2012 untuk pembayaran cicilan utang (pokok dan bunganya) mencapai Rp 322,709 triliun, terdiri dari cicilan pokok utang Rp 200,491 triliun dan cicilan bunga Rp 122,218 triliun. Cicilan pokok utang itu terbagi dalam cicilan pokok pinjaman Rp 47,400 triliun (pinjaman DN Rp 140 miliar dan pinjaman LN Rp 47,260 triliun) dan cicilan pokok Surat Berharga Negara (SBN) Rp 153,091 triliun (SBN Rupiah Rp 152,091 triliun dan SBN Valas Rp 1 triliun). Sementara cicilan bunga Rp 122,218 triliun itu, terdiri dari cicilan bunga pinjaman Rp 17,887 triliun ( bunga pinjaman DN Rp 225 miliar dan bunga pinjaman LN Rp 17,662 triliun) dan cicilan bunga SBN Rp 104,331 triliun (bunga SBN Rupiah Rp 88,278 triliun dan SBN Valas Rp 16,052 triliun).

Jadi seluruh utang yang ditarik di tahun 2012 sebenarnya bukan untuk membiayai pembangunan tetapi untuk membayar cicilan utang dan itupun belum cukup dan harus mengurangi alokasi APBN yang seharusnya bisa untuk membiayai pembangunan.

Ketiga, subsidi secara umum khususnya subsidi BBM dirasakan memberatkan pemerintah dan menjadi beban APBN sebab menyedot alokasi APBN. Padahal istilah subsidi BBM itu masih dipertanyakan. Soalnya, istilah subsidi itu seolah pemerintah mengeluarkan uang dari kantongnya untuk dibayarkan kepada rakyat atau untuk nomboki pembelian BBM. Banyak kalangan menilai istilah subsidi BBM itu tidak tepat sebab yang sebenarnya adalah berkurangnya potensi pemasukan kepada kas pemerintah yang berasal dari migas. Soalnya diasumsikan BBM itu dijual ke pasar internasional dengan harga pasar internasional.

Namun karena BBM dijual di dalam negeri dengan harga murah di bawah harga pasar internasional, artinya ada potensi pemasukan yang hilang dan itulah yang dinamakan subsidi. Nah jika yang seperti itu dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN, anehnya, pembayaran cicilan pokok dan bunga utang tidak pernah dianggap memberatkan pemerintah dan membebani APBN. Padahal jumlahnya jauh lebih besar dari besaran subsidi. Dan pembayaran cicilan pokok dan bunga utang itu artinya uang benar-benar keluar dari kantong pemerintah, dan bukan hanya berkurangnya potensi pemasukan.

Keempat, pemerintah negeri ini begitu ngotot menaikkan harga BBM bersubsidi. Diantara alasannya adalah untuk penghematan. Jika harga BBM dinaikkan, penghematan bisa mencapai Rp 53 triliunan. Anehnya, pemerintah tidak terlihat ngotot menghilangkan anggaran-anggaran yang boros dan lebih berkesan kemewahan. Contohnya, anggaran kunjungan yang lebih bernuansa plesiran yang mencapai Rp 21 triliun, atau anggaran beli baju Presiden, Wapres, Gubernur, Wagub, Bupati/Walikota dan wakilnya, anggaran pembangunan atau renovasi gedung DPR yang sudah bagus, anggaran fasilitas bagi para pejabat, mobil dinas, dsb.

Anehnya lagi, pemerintah tidak terlihat ngotot membenahi penggunaan anggaran yang selalu saja penyerapannya numpuk di akhir-akhir tahun yang kemudian rawan pemborosan, inefisiensi, tidak efektif dan rawan diselewengkan. Lebih aneh lagi, pemerintah juga tidak terlihat ngotot memberantas korupsi dan menyita harta koruptor termasuk mengejar uang negara yang dikemplang dalam kasus Centruy, BLBI dan lainnya?

Kelima, pemerintah bekerja keras meyakinkan bahkan terkesan memaksa rakyat untuk memahami dan menerima rencana kenaikan harga BBM. Anehnya, pemerintah tidak terlihat bekerja keras atau bahkan memaksa kontraktor-kontraktor tambang dan migas agar bagian pemerintah lebih besar lagi atau untuk menaikkan royalti yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Sekedar contoh, tak terlihat kerja keras dan paksaan pemerintah kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk menaikkan royalti PTFI sekedar agar sesuai dengan ketentuan PP No 45/2003, yaitu royalti emas 3,75 persen, tembaga 4 persen dan perak 3,25 persen. Bayangkan saja, selama ini royalti yang diterima negara dari PTFI untuk emas 1%, untuk tembaga 1,5% (jika harga kurang dari US$ 0.9/pound) sampai 3.5% (jika harga US$ 1.1/pound) dan untuk perak 1,25 %. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada kontrak karya atau kontrak bagi hasil pertambangan lainnya.

Keenam, Pemerintah berkeluh kesah dan merasa berat harus mensubsidi BBM untuk rakyat dengan jalan menjual BBM kepada rakyat di bawah harga internasional. Karenanya subsidi BBM harus dikurangi atau bahkan dihilangkan alias BBM harus dijual mengikuti harga pasar internasional. Dengan itu akan didapat penghematan Rp 53 triliunan pertahun. Menjual BBM kepada rakyat dengan harga murah dianggap pemerintah sebagai beban. Anehnya, gas dijual ke Cina dengan harga super murah, tapi pemerintah tidak pernah berkeluh kesah dan merasa berat. Padahal menurut anggota BPH Migas, A. Qoyum Tjandranegara, potensi kerugian negara tahun 2006-2009 mencapai 410,4 T. Itu sama saja mensubsidi rakyat Cina Rp 100 triliunan lebih pertahun.

Belum lagi ditambah kerugian tak langsungnya akibat PLN tidak bisa mendapat gas karena dijual ke luar negeri dan PLN harus memakai BBM yang harganya mahal sehingga PLN harus mengeluarkan biaya lebih banyak sekutar 37 triliun pertahun. Aneh sekali, pemerintah merasa sangat berat hati mensubsidi rakyatnya, pada saat yang sama pemerintah sama sekali tidak merasa berat bahkan merasa senang mensubsidi rakyat negara lain yaitu rakyat Cina.

Ini sekedar contoh keanehan pengelolaan negeri ini. Masih banyak lagi keanehan lainnya. Jadi tepat juga ungkapan Wamen ESDM bahwa negeri ini lucu. Bahkan bukan hanya lucu tapi aneh dan abnormal. Dan yang lebih lucu lagi adalah, sadar atau tidak, pak Wamen ESDM justru menjadi bagian dari pembuat keanehan dan kelucuan itu sendiri.

Dari grup “Paguyuban Ex-MOI”  Grup Google.

-0-

Dahlan Iskan ttg Widjajono

Jakarta (ANTARA News) – Saya terkesan dengan logika berpikir Prof Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang baru saja meninggal dunia di pendakiannya ke Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (21/4), yakni: kurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM).

Kalau sudah tahu bahwa produksi minyak kita terus menurun, kemampuan kita membangun kilang juga terbatas dan pertambahan kendaraan tidak bisa dicegah, mengapa kita terus mempertahankan pemakaian BBM?

Almarhum sering sekali mengajak saya berbicara soal itu. Almarhum merasa perdebatan soal BBM yang riuh-rendah selama ini sangat tidak mendasar. Tidak menyelesaikan akar persoalan. Hanya menimbulkan huru-hara politik. Saya sangat setuju dengan konsep almarhum untuk semakin beralih ke gas. Hanya saja memang diperlukan upaya yang ekstra keras untuk mengalihkan kebiasaan menggunakan BBM ke bahan bakar gas (BBG).

Almarhum juga sangat setuju mobil listrik nasional diperjuangkan. Bahkan, almarhum mengatakan BBM harus dikeroyok ramai-ramai dari segala jurusan. Terutama dari jurusan gas dan dari jurusan listrik. Tanpa usaha yang keras dari dua jurusan itu akan terus timbul kesan di masyarakat bahwa pemerintah, khususnya Pertamina, sengaja lebih menyukai impor BBM.

Pertamina dikesankan lebih senang impor BBM karena bisa menjadi obyek korupsi dan kolusi. Istilah mafia impor BBM begitu gencarnya ditudingkan –entah seperti apa wujud mafia itu. Seserius-serius Pertamina berupaya memberantas korupsi, tuduhan itu akan terus berlangsung. Apalagi, kenyataannya, impor BBM-nya memang terus meningkat

Tidak mungkinkah kita berhenti impor BBM? Tentu saja bisa. Tapi syaratnya berat sekali: kita harus memiliki kilang yang cukup. Minyak mentah itu baru bisa jadi BBM kalau sudah diolah di kilang. Kebutuhan BBM kita sekarang ini sekitar 50 juta kiloliter/tahun. Sedang kilang kita sendiri hanya bisa memproduksi BBM kurang dari separonya.

Kalau kita menghendaki tidak mau impor BBM lagi, kita harus membangun kilang baru sebanyak dan sebesar yang telah ada sekarang. Saat ini kita punya tujuh kilang minyak: Pangkalan Brandan, Dumai, Musi, Cilacap, Balikpapan, Kasim, dan Balongan. Total kapasitas produksi BBM-nya kurang dari 25 juta kiloliter/tahun.

Di sinilah pokok persoalannya. Mampukah kita membangun sekaligus kilang-kilang baru sebanyak kekurangannya itu?

Sejak 15 tahun lalu, kita memang tidak pernah punya kemampuan membangun kilang baru. Kilang terbaru kita umurnya sudah 18 tahun. Yakni kilang Balongan, Jabar, yang dibangun oleh Presiden Soeharto di tahun 1994. Presiden-presiden berikutnya tidak sempat memikirkan pembangunan kilang baru. Padahal, jumlah kendaraan terus bertambah. Akibatnya impor BBM tidak bisa dihindarkan. Bahkan terus meningkat.

Baru tahun lalu Presiden SBY memutuskan membangun kilang tambahan di Cilacap. Tahun ini Presiden SBY juga sudah memutuskan membangun dua kilang lagi. Tapi, Pertamina tidak mungkin membiayai pembangunan kilang-kilang itu sendirian. Sebuah kilang dengan kapasitas 300.000 barel, memerlukan biaya investasi sampai Rp 70 triliun. Bayangkan kalau harus membangun tiga kilang sekaligus.

Pertamina harus menggandeng investor. Mencari investor pun tidak mudah. Di samping biayanya sangat besar, masih ada kesulitan lain: sebuah kilang, baru bisa dibangun manakala sudah diketahui jenis minyak mentah seperti apa yang akan diproses di situ. Beda jenis minyak mentahnya beda pula desain teknologinya.

Para pemilik minyak mentah tahu posisi strategisnya itu. Mereka bisa mendikte banyak hal: mendikte harga dan mendikte pasokan. Investor kilang yang ingin masuk ke Indonesia, misalnya, meminta berbagai syarat yang luar biasa beratnya: tanahnya seluas 600 ha harus gratis, pemerintah harus menjamin macam-macam, dan pajaknya minta dibebaskan dalam masa yang sangat panjang.

Kalau dalam masa pemerintahan Presiden SBY ini berhasil membangun tiga proyek kilang sekaligus, tentu ini sebuah warisan yang sangat berharga. Saya sebut warisan karena bukan Presiden SBY yang akan menikmati hasilnya, tapi pemerintahan-pemerintahan berikutnya.

Dari gambaran itu, jelaslah bahwa sampai lima tahun ke depan impor BBM kita masih akan terus meningkat. Kecuali ide almarhum soal konversi ke gas itu berhasil dilakukan dan mobil listrik nasional berhasil dimassalkan. Kilang-kilang baru itu, seandainya pun berhasil dibangun, baru akan menghasilkan BBM di tahun 2018.

Kita tahu persis apa yang terjadi dalam lima tahun ke depan. Saat kilang-kilang itu nanti mulai berproduksi kebutuhan BBM sudah naik lagi entah berapa puluh juta kiloliter lagi. Berarti, impor lagi. Impor lagi.

Di sinilah Prof Widjajono geram. Kenaikan harga BBM, menurut beliau, seharusnya juga dilihat dari aspek pengendalian impor ini. Yang tidak menyetujui kenaikan harga BBM, menurut beliau, pada dasarnya sama saja dengan menganjurkan impor BBM sebanyak-banyaknya!

Kalau Prof Widjajono sering mengajak saya bicara soal konversi gas, saya sering mengajak bicara beliau soal mobil listrik nasional. Termasuk perkembangan terakhirnya. Saya tahu konversi gas memang bisa dilakukan lebih cepat dari mobil listrik nasional. Namun, kami sepakat dua-duanya harus dijalankan. Kami juga sepakat bahwa upaya ini tidak mudah, tapi pasti berhasil kalau dilakukan dengan semangat Angkatan 45.

Saya bersyukur sempat menginformasikan perkembangan terakhir mobil listrik nasional. Ribuan email dan SMS mendukung dengan gegap-gempita kehadiran mobil listrik nasional itu. Dan yang secara serius mengajukan konsep, desain, dan siap memproduksikannya ada empat orang.

Saya sudah melakukan kontak intensif dengan empat orang tersebut. Saya juga sudah membuat grup email bersama di antara empat orang tersebut. Kami bisa melakukan rapat jarak-jauh membicarakan program-program ke depan. Tanggal 21 April kemarin, kami menyelenggarakan rapat sesuai dengan program semula, meski pun rapat itu berlangsung di dunia maya.

Empat orang tersebut adalah orang-orang muda yang luar biasa.

Ada nama Mario Rivaldi. Dia kelahiran Bandung, pernah kuliah di ITB, kemudian mendapat bea siswa kuliah di Jerman. Mario bahkan sudah melahirkan prototype sepeda motor listrik dan mobil listrik. Saya sudah pernah mencobanya di Cimahi. Mario sangat siap memproduksi mobil listrik nasional. Selama ujicoba itu tiga tahun terakhir, Mario bekerjasama dengan LIPI dan ITB.

Ada nama Dasep Ahmadi yang juga kelahiran Tanah Sunda. Dasep lulusan ITB (Teknik Mesin), yang kemudian sekolah di Jepang. Dasep pernah bekerja lama di industri mobil sehingga tahu persis soal permobilan. Kini Dasep mengembangkan industri mesin presisi dan memasok mesin-mesin untuk industri mobil. Dasep sangat siap melahirkan prototype mobil listrik nasional dalam dua bulan ke depan. Saat ini Dasep sedang mengerjakan mobil-mobil itu.

Ada nama Ravi Desai. Anak muda ini lahir di Gujarat, tapi sudah lama menjadi warga negara Indonesia. Dia lulusan universitas di India dan kini menekuni banyak bidang inovasi. Dia mendirikan D Innovation Center dengan fokus ke energi. Ravi juga menekuni DC dan AC drive dan sudah memasarkannya sampai ke luar negeri. Saat ini Ravi sedang mengerjakan dua contoh mobil listrik nasional dan sudah akan selesai dalam dua bulan mendatang.

Ada pula nama Danet Suryatama. Anak Pacitan ini setelah lulus ITS melanjutkan kuliah di Michigan, AS. Danet kemudian bekerja di bagian teknik pabrik mobil besar di Amerika Setikat, Chrysler, selama 10 tahun. Danet sangat siap memproduksi mobil listrik nasional. Saat ini, sambil mondar-mandir Amerika-Indonesia, Danet sedang menyelesaikan contoh mobil listrik nasional yang juga siap dikendarai dalam dua bulan ke depan.

Tentu saya bisa salah. Lantaran email yang masuk jumlahnya ribuan, mungkin saja ada nama-nama lain yang tidak kalah hebat dan siapnya namun terlewat dari mata saya. Untuk itu saya siap menerima koreksi dan nama susulan.

Kepada keempat orang itu saya juga sudah informasikan betapa besar perhatian Presiden SBY pada perencanaan mobil listrik nasional ini. Saya juga kemukakan suasana pertemuan antara Presiden SBY dan empat rektor perguruan tinggi terkemuka (ITB, UGM, UI, dan ITS) yang penuh dengan semangat.

Waktu itu para rektor menyatakan sangat mendukung kelahiran mobil listrik nasional ini dan memang sudah waktunya dilahirkan. Para rektor juga mengemukakan masing-masing perguruan tingginya siap memberikan dukungan apa saja.

Sebenarnya saya ingin menghadirkan Prof Widjajono dalam pertemuan dengan empat putra petir itu dalam waktu dekat. Tapi, Prof Widjajono lebih dulu meninggalkan kita. Meski begitu Prof, saya berjanji kepada Profesor akan tetap meng-emailkan hasil pertemuan dengan empat putra petir itu ke alamat email Anda yang pernah Anda berikan kepada saya. Saya juga berjanji akan mengirimkan foto-foto mobil listrik nasional itu nanti ke alamat email Anda. (*)

*) Dahlan Iskan adalah Menteri BUMN.

Editor: Priyambodo RH

*****************************************************************************

Riwayat Hidupku
Oleh : Widjajono Partowidagdo

Saya dilahirkan di Magelang, 16 September 1951 dari keluarga militer. Magelang adalah penempatan pertama bagi ayah, Soeprapto Partowidagdo sesudah bergerilya di lereng Gunung Sumbing. Sebelum menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), ayah adalah Pembela Tanah Air (Peta) pada Jaman Jepang dan ditugaskan di Lumajang. Dari Magelang ayah ditugaskan di Slawi, Banjarmasin dan Jakarta, lalu kembali ke Magelang karena ditugaskan untuk ikut mendirikan AMN (Akademi Militer Nasional). Saya mengenang ayah sebagai orang yang sederhana, sabar dan suka menolong orang lain.

Masa kecil saya dari SD sampai SMP kelas 1 dijalani di Panca Arga, Komplek Perumahan AMN. Panca Arga berarti lima Gunung yaitu Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu dan Ungaran. Panca Arga berjarak lima kilo meter dari pusat kota (alun-alun) Magelang dan keberangkatan serta pulang dari sekolah diantar dengan bis komplek, yang menyebabkan anak-anak Panca Arga saling mengenal satu sama lain. Kegiatan lain yang saya ikuti adalah kegiatan Pandu (Pramuka). Saya bersekolah di SD Kanisius Pendowo Wetan dan SMP Negeri 1 Magelang.

Ibu, Watini adalah seorang Bidan. Ibu mendapat pendidikan Mulo (SMP) di Mendut. Sekolah di Mendut, yang lokasinya di depan candi Mendut, dikelola suster-suster Belanda dan siswi-siswinya wajib tinggal di asrama (pada jaman Jepang sekolah tersebut dibumihanguskan). Karena prestasinya, ibu ditawari untuk melanjutkan ke sekolah guru di Maastricht, Belanda tetapi karena perempuan, dia tidak diijinkan ayahnya. Kemudian ibu melanjutkan ke sekolah perawat dan bidan di CBZ (sekarang R.S. Dr. Karjadi), Semarang. Di Panca Arga ibu bertugas sebagai bidan membantu Dr. Soepandji. Dari ibu, saya belajar disiplin Belanda dan kerja keras (menyapu, mengepel, membersihkan kamar, membersihkan halaman dan memelihara binatang).

Kwartal ke 3 SMP kelas 1 kami pindah ke Bandung. Saya diterima di SMP Negeri 7 Bandung. Tadinya, kami sekeluarga tinggal di Hotel Papandayan selama lebih dari satu tahun, sebelum menempati rumah dinas di Jalan Aceh 121. Cinta monyet di SMP kelas 1 menyebabkan saya mengikuti teman sekelas sepulang sekolah. Betapa kecewanya, ketika si dia dijemput oleh seorang pria berkendaraan sepeda motor DKW dan memakai jaket biru ITB. Sejak itu, saya bercita-cita masuk ITB (Institut Teknologi Bandung).

Sejak SMA banyak teman sekelas saya baik pria maupun wanita yang belajar kerumah. Dengan mengajari teman sekelas, mengakibatkan saya menjadi lebih mengetahui pelajaran dari teman-teman karena mengajar, disamping berpahala, adalah cara belajar yang terbaik. Guru Kimia kelas 1 dan kelas 2 SMA saya adalah mahasiswa Farmasi ITB, Pak Said Balbet. Karena lulus ITB dan kemudian berdinas di Lombok, pak Said tidak mengajar di kelas 3. Pak Said menganjurkan kalau tidak bersekolah di Farmasi ya di Teknik Kimia di ITB. Kegiatan ekstra kurikulum saya di SMA adalah menjadi anggota Kijarsena (Kompi pelajar serba guna) yaitu latihan militer dibawah bimbingan Mahawarman Unpad (Universitas Padjajaran).

Pilihan masuk Teknik Kimia dan Farmasi, berubah total ketika seorang teman di SMP memperlihatkan buku petunjuk masuk ITB dari Himpunan-himpunan Mahasiswa ITB. Di buku tersebut terdapat Jurusan Teknik Perminyakan dengan gambar mobil Pertamina, dengan iming-iming mudah mendapat beasiswa. Akibatnya, pilihan saya berubah menjadi Teknik Perminyakan sebagai pilihan pertama dan Teknik Kimia pilihan kedua. Saya juga diterima di Kedokteran Unpad. Kakak perempuan saya Widjajaningsih kemudian menjadi Dokter Unpad dan adik saya Tridjatiningsih kemudian menjadi insinyur Pertanian Unpad. Saya masuk Teknik Perminyakan ITB tahun 1970.

Kebiasaan mengajar teman-teman dilanjutkan ke ITB, tidak hanya dengan beberapa teman seangkatan tetapi juga dengan beberapa kakak kelas. Saya juga aktif di kegiatan Himpunan Mahasiswa, sebagai Ketua Dies, Ketua Pembangunan Gedung Himpunan dan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan “Patra”.

Saya beruntung mendapat kesempatan mengikuti leadership training Course (Orientasi Kepemimpinan Mahasiswa) pada bulan November 1973 di Puncak Pass Hotel. Di situ saya banyak mendapat pengetahuan tentang kepemimpinan dan politik serta kegiatan antar disiplin. Kegiatan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengapa ITB tidak memiliki program studi tentang hal tersebut dan menimbulkan pemikiran kalau saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi maka saya akan mengambil studi antar disiplin.

November 1975 saya lulus dari Jurusan Teknik Perminyakan ITB. Disamping mengajar saya melalukan penelitian membuat model simulasi reservoir kerjasama Lemigas dan ITB di El Nusa. Pertengahan 1978 – pertengahan 1979 saya menjadi anggota tim reservoir study untuk lapangan Minas, Caltex di Rumbai dengan menggunakan model simulasi komputer. Ketua Timnya adalah Mas Rachmat Sudibjo dari Lemigas. Tahun 1979 saya mendapat dua beasiswa untuk sekolah di Amerika Serikat dari USAID (United States Agency for International Development) dan dari Caltex, tetapi ITB meminta saya untuk menerima beasiswa Caltex dan kalau saya diterima di PhD program saya boleh melanjutkan dengan beasiswa USAID. Akibatnya, saya harus mengambil Master di bidang Petroleum Engineering di USC (University of Southern California) di Los Angeles (LA). Saya datang ke LA bersama saudara Doddy Abdasah dari Teknik Perminyakan ITB. Beberapa tahun kemudian saudara Pudji Permadi dan Leksono menyusul dengan beasiswa yang sama.

Kebetulan di Petroleum Engineering, Professor Elmer Dougherty sedang menjadi kepala Proyek World Energy Model untuk OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries). Dia menganjurkan kalau saya mau riset dengan dia sebaiknya mengambil pelajaran-pelajaran Operations Research dan Ekonomi. Saya berpikir kalau saya mengambil pelajaran-pelajarannya saja tetapi tidak mengambil gelar akan kurang optimal, maka setelah mendapat Master di Petroleum Engineering saya mengambil Master di bidang Operations Research di Department of Industrial and System Engineering, lalu Master di bidang Economics (dengan Thesis An Energy and Economy Model for Indonesia). Saya menjadi anggota Pi Epsilon Tau, Petroleum Engineering Honor Student Society.
Mungkin karena saya sering membantu orang kesulitan dalam belajar di SMA, di ITB maupun di Petroleum Engineering USC, maka ketika saya mendapat kesulitan di Operations Research, saya sering dibantu oleh Masayoshi Komiya, dari Jepang dan di Ekonomi oleh Ramesh Amatya, dari Nepal. Waktu mengerjakan proyek komputer pertama kali di EL Nusa, 1976 juga dibantu oleh system analyst nya, mbak Yasintha. Dari pengalaman tersebut saya yakin bahwa kebaikan yang pernah kita berikan, pada saatnya akan kita peroleh walaupun tidak harus dari orang yang sama, persis kata-kata The Beatles yang dipasang didepan didepan Hard Rock Cafe di Kuta, Bali ”And in the end, the love we take is equal to the love we make”.

Pada waktu mengambil data untuk disertasi saya pada akhir 1982 di Indonesia saya dianjurkan untuk mengikuti workshop di Univeristy of Wisconsin, Madison mengenai Energy System Analysis selama dua bulan, termasuk mengunjungi Pusat Penelitian Energi di Washington D.C., Chicago, Colorado dan San Fransisco. Di Madison pada waktu itu ada beberapa rekan dari ITB yang sedang mengambil Master yaitu saudara Boy Kombaitan dan Arsegianto dari ITB dan mengambil PhD yaitu pak Umar Said dan Yogo Pratomo dari Departemen Pertambangan dan Energi serta pak Kisdarjono dari ITB.

Sekolah di Amerika Serikat lumayan menyenangkan dan banyak teman. Disamping orang Indonesia, banyak juga teman dari negara-negara Asia lain terutama dari Taiwan, Korea, Iran, Arab Saudi, Jepang, India, Pakistan dan Nepal. Pernah juga dekat dengan teman-teman dari Amerika Serikat waktu latihan yoga dan aerobic. Sering juga saya menjemput teman-teman yang datang dari Indonesia dan mengantar teman-teman yang pulang ke airport. Sering juga mencarikan apartemen buat teman-teman yang baru datang. Banyak juga mendapat teman karena mereka berkunjung ke LA. Tugas rutinnya adalah mengantar mereka ke Univesal Studio dan Disneyland serta kadang-kadang ke Sea World di San Diego. Kalau karyasiswa (karena dananya terbatas) biasanya mereka menginap di apartemen saya.

Diantara yang berkunjung tersebut yang susah dilupakan adalah waktu mbak Meutia Hatta dengan adiknya, Halida Hatta dan putrinya, Hanum. Hanum walaupun hanya beberapa hari di LA sangat dekat dengan saya. Bahkan anak kecil tersebut menyebut saya dengan Oom Bulan, sebagai pasangan Oomnya yang lain yaitu Bintang (Sri Bintang Pamungkas). Kemudian, saya mendengar bahwa Hanum meninggal karena kecelakaan di kolam renang, di Yogya. Saya sedih sekali mendengarnya.

Di samping belajar, saya dan teman-teman juga sempat jalan-jalan. Minggu biasanya kalau tidak ke Santa Monica Beach, UCLA (U. of California, Los Angeles) di Westwood atau ke Hollywood, kita jalan-jalan cari sale. Saya pernah mengikuti acara keliling California dari YMCA (Young Men Christian Association). Kita mengunjungi, Sequia NP (National Park), Yosemite NP, Fresno, Solvang, San Fransisco dan lain-lain. Saya beberapa kali mengikuti acara dari Public Administration ke Grand Canyon di Arizona, Zion NP di Utah dan Las Vegas.

Pernah juga dengan beberapa teman jalan ke Utah melewati Oregon menuju Seatle, Washington mengunjungi keluarga Pak Danisworo, dosen ITB yang kuliah disana serta Mas Heroe Kuntjoro Jakti, sahabat saya yang tadinya kuliah di Claremont, dekat Los Angeles. Kemudian kita melewati Montana, Idaho menuju Yellowstone NP. Kembalinya ke LA kami melewati Utah dan Nevada.

Tahun 1985 saya mengunjungi saudara Gandung yang sedang kuliah di Tulane, New Orleans lalu bersama keluarga Gandung dan keluarga Purnomo Yusgiantoro (Purnomo adalah teman seangkatan di ITB yang waktu itu kuliah di Colorado School of Mines) ke Orlando mengunjugi Epcot Center dan Disney World. Kita juga mengunjungi Alabama, Missouri, JFK Space Center dan Key Biscaene, sebuah pulau yang sudah dekat Kuba.

Tahun 1986 saya mengunjungi Egidia dan James Kobielus (teman sejak di Wisconsin) di Washington DC. Kemudian, ke Harvard U. mengunjungi saudara Jinny Charles yang sedang mengambil Master di Kennedy School of Government dan sebelumnya sempat mampir dan jalan-jalan di New York. Selanjutnya menuju Cornell U. di Ithaca, Niagara Falls, U. of Wisconsin, Madison dan kembalinya ke LA lewat Chicago.

Disertasi saya Oil and Gas Supply and Economics Model for Indonesia macet karena walaupun sudah menyelesaikan modelnya, datanya tidak cukup untuk menyelesaikannya. Data yang saya butuhkan adalah cadangan dan luas lapangan-lapangan migas di Indonesia. Pada tahun 1984 karena sudah lima tahun dan karena tidak adanya usulan untuk memperpanjang dari Jurusan Teknik Perminyakan ITB, beasiswa saya diberhentikan. Ketika saya mengunjungi pak Kisdarjono di U. Of Wisconsin tahun 1986 saya mendapat informasi bahwa teman-teman yang lain karena ada usulan dari departemennya masing-masing dialihkan beasiswanya ke World Bank. Untungnya, Dr. Jean Taylor, advisor saya untuk program USAID memberitahu saya untuk meminta bantuan ke Permina Foundation yang kemudian berubah menjadi Indonesian Cultural Foundation. Singkatnya, saya mendapat beasiswa untuk membayar tuition (yang hanya 2 kredit karena saya hanya mengambil disertasi) dan uang untuk bertahan hidup $200 per bulan dan dibayar 3 bulan sekali.

Untung pada saat-saat sulit tersebut teman-teman banyak membantu. Mereka meminta saya tinggal bersama mereka, satu kamar berempat (sewanya $300/bulan, sehingga saya iuran $75/bulan). Mereka, Pak Andarus Darahim dan Pak Ali Mufiz berasal dari BKKBN dan Pak Prajogo dari BAPPENAS mengambil Master di Public Administration. Semuanya yang dari BKKBN angkatan tersebut adalah 9 orang, sehingga disebut Wali Songo, karena kebanyakan ahli agama. Macetnya disertasi serta akibat mengikuti penataran P4 di Konsulat Jenderal RI di Los Angeles, mengakibatkan saya aktif di Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Pada tahun 1980 di majalah Tempo pernah dimuat bahwa mahasiswa Indonesia di Los Angeles berfoya-foya. Untuk mengubah image tersebut maka saya diminta mendirikan Kelompok Diskusi Permias LA dengan kegiatan melakukan diskusi dan menerbitkan tulisan-tulisan mengenai permasalahan bangsa. Kegiatan kami mendapat dukungan penuh dari Pak Haringun, Konjen RI di LA (bahkan dipuji KBRI Washinghton) sehingga kami bebas menggunakan ruangan diskusi, photocopy dan lain-lain di KJRI. Dalam kegiatan tersebut saya dibantu Wali Songo dan beberapa mahasiswa undergraduate.

Pada saat sulit tersebut saya malah lebih sering makan enak karena diundang makan oleh karyasiswa atau diajak makan ke restoran oleh adik-asik undergraduate. Bahkan, kalau teman-teman pulang ke Indonesia untuk liburan mereka sengaja menitipkan apartemen (beberapa diantaranya mewah), dengan lemari es penuh makanan.

Kegiatan di Permias tersebut menyebabkan banyak teman. Selain melakukan kegiatan di Los Angeles juga dikota-kota lain seperti San Diego, San Fransisco, Long Beach, Fresno dan Davis. Pada acara Permias tersebut saya bertemu Mari Pangestu yang ternyata sama-sama sedang pusing mengerjakan disertasi. Kegiatan Permias juga didukung oleh Pak Lucas, kepala perwakilan Pertamina di LA. Pada suatu kesempatan main ke Perwakilan Pertamina di LA tahun 1985 penulis bertemu Ibu Yurika, lawyernya. Mbak Yurika bertanya tentang kegiatan saya di LA. Saya menjawab saya sebetulnya sedang mengerjakan disertasi tetapi macet karena kekurangan data. Mbak Yurika mencari buku (di perpustakaan) yang dikerjakan konsultan Inggris yang mendata perminyakan di Indonesia dan ”ajaib” nya yang saya butuhkan untuk disertasi, yaitu cadangan dan luas lapangan migas di Indonesia, ada disitu. Sesudah memasukkan data tersebut dan diskusi dengan pembimbing saya, setahun kemudian saya bisa sidang disertasi.

Mari Pangestu selesai lebih dahulu dan sebelum pulang dia cerita agak nervous karena mampir di Singapura untuk presentasi. Kemudia dia kirim surat dari Jakarta, bercerita bahwa presentasi tersebut dilalui dengan selamat. ”There is always the first thing for everything”, ceritanya. Akhirnya saya selesai juga PhD di awal 1987 dan atas kebaikan Pak Lucas saya boleh menyelenggarakan syukuran di kediamannya di Beverly Hills dengan mengundang para pembimbing dan professor saya lainnya di USC. Teman-teman dari KJRI juga mengisi acara dengan pemutaran film tentang Indonesia.

Pada bulan Maret 1987 saya meninggalkan Amerika Serikat menuju Paris, karena ada adik kelas, Suharmoko yang bekerja di Total dan sedang ditugaskan disana. Saya mengambil kesempatan tersebut untuk keliling Eropa menggunakan Eurail Pass dan ke Inggris, karena kebetulan adik saya sekolah di Norwich. Dalam perjalanan selama satu bulan tersebut saya hanya tinggal di hotel di Florence, Madrid, Amsterdam, dan London. Yang lain kalau tidak tidur di kereta api, tinggal di rumah teman, temannya teman dan saudara.

Sesudah di Indonesia, saya kembali mengajar di ITB dan diberi tugas mengajar Manajemen dan Pengelolaan Lapangan. Pada bulan Agustus 1987 saya menjadi konsultan Pertamina untuk membantu Pertamina mengevaluasi lelang lapangan-lapangan Pertamina untuk dikerjakan pihak lain, karena Pertamina tidak mempunyai modal cukup. Kebetulan kantor Eksplorasi – Produksi Pertamina berada di Kramat Raya, dekat kampus UI (Universitas Indonesia) di Salemba.

Pada awal 1988 saya iseng-iseng mencari teman saya sekolah di USC yaitu Ronny Muntoro yang kebetulan waktu itu menjadi wakil Direktur Program Magister Manajemen (MM) di UI. Karena kebetulan Ronny tidak ada, saya bertemu Mari Pangestu yang waktu itu menjadi sekretaris program di Pusat Antar Universitas (PAU) bidang Ekonomi, UI yang kebetulah kantornya di atas perpustakaan UI di depan MM. Saya diperkenalkan ke Iwan Jaya Azis oleh Mari. Kemudian Iwan menawari saya menangani proyek Resource Accounting yang merupakan kerjasama dengan World Resources Institute (WRI). Saya diminta menangani migas (non renewable), karena yang hutan (renewable) sudah ditangani WRI. Kemudian saya diperkenalkan ke asisten kuliahnya, Ninasapti Triaswati (Tissa) dan dia meminta Tissa menjadi asisten riset saya.

Kemudian, dengan pengelompokkan penelitian-penelitian di PAU Ekonomi UI, saya diminta menjadi Koordinator Penelitian Model Pembangunan Yang Berkelanjutan (Sustainable Development). Dua peneliti yang saya usulkan adalah pak Umar Said, yang saya kenal waktu di Wisconsin dan Isna Marifa yang saya kenal waktu mampir di Los Angeles. Anggota yang lain adalah pak Affendi Anwar dan Pak Dudung Darusman dari IPB, Tissa dan Sirajudin dari Fakultas Ekonomi (FE) UI dan Amanda Katili dari BPPT. Kebetulan Amanda adalah alumni Biologi ITB. Saya juga sering main ke LPEM (Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat) karena direkturnya, Mas Dorodjatun Kuntjoro Jakti, adalah kakak sahabat saya. Mas Heroe. Mas Djatun pernah mampir ke Los Angeles dan sangat menghargai ITB.

Singkatnya, saya menikah dengan Tissa pada 26 Maret 1989. Jejak kami kemudian diikuti teman-teman di PAU yang lain Mari, Iwan dan Isna. Sesudah kami menikah, Tissa dan saya ke Bangkok. Tissa ambil kuliah musim panas mengenai Energy Economics di Asian Institute Technology dan saya menjadi peneliti tamu di kampus tersebut. Agustus 1989 Tissa berangkat ke University of Illinois di Urbana – Champaign mengambil Master di bidang Ekonomi. Agustus 1990 saya internship di World Resource Institute, Washington D.C. dan Tissa juga melakukan independent study disana. Kami menyewa rumah diluar kota di Virginia. Kembali ke Indonesia, saya mampir University of Hawai.

Saya diminta pada bulan Maret 1991 secara informal menjadi Ketua Panitia Persiapan Program Pasca sarjana Studi Pembangunan ITB oleh Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat (Pak Naya) pada acara makan malam pada bulan Maret 1991 di hotel Le Meridien di Vancouver, salah satu kota yang paling cantik di dunia. Kami baru datang pagi harinya untuk menghadiri seminar mengenai Resource Accounting yang diselenggarakan oleh World Resources Institute. Pak Naya waktu itu datang sebagai wakil dari Pemerintah Indonesia (Kementrian Negara Lingkungan Hidup) dan saya sebagai seseorang yang diminta mempresentasikan Resource Accounting untuk kasus Indonesia. Dua negara lain yang diundang pada seminar tersebut yaitu China dan India. Pak Naya bilang : “Wid, saya diminta untuk menjadi Ketua Panitia Persiapan Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB, tapi saya kan sedang jadi pejabat. Bagaimana. kalau you saja yang jadi ketua, kita kan belajar ilmu yang sama”. Pak Naya bercerita bahwa Prof Ir. Hasan Poerbo MDE (Pak Hasan) dan Ir. Saswinadi Sasmojo PhD (Pak Sas) telah mempersiapkan konsep program tersebut, tetapi saat itu dibutuhkan seseorang yang mau jungkir balik (lebih muda) untuk membuat program tersebut dapat diimplementasikan.

Sekembalinya ke Indonesia dari Vancouver, saya mempelajari apa yang sudah dikerjakan oleh Pak Hasan dan Pak Sas untuk persiapan program tersebut. Pada waktu itu ada kerja sama antara CIDA (Canadian International Development Agency) dengan PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) ITB. Pihak CIDA diwakili Dr. Fred Carden dan Louise Gardiner yang sudah tinggal di Indonesia selama 5 tahun. Sekretaris program tersebut adalah Ibu Rionita A. Indra seorang alumni dari Dalhousie University, Canada dalam bidang Development Studies. Kemudian kami mengadakan seminar besar sebagai persyaratan supaya suatu program bisa disetujui oleh P dan K. Disamping seminar besar tersebut, ada dua seminar kecil yang dihadiri oleh beberapa undangan dari luar ITB seperti Pak Kwik Kian Gie, Pak Christianto Wibisono, Pak Lukman Sutrisno dan Pak Adi Sasono.

Pada bulan Nopember 1991 saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi School of Environmental Studies, York University dengan biaya CIDA. Sebelumnya, Pak Hasan Poerbo dengan istri telah berangkat lebih dulu ke sana. Saya tinggal di Toronto dan tiap hari dari tanggal 10 Nopernber – 20 Nopember 1991 bolak balik Toronto dan York. York adalah satelit Toronto. Disini saya mengenal lebih baik Pak dan Bu Hasan Poerbo karena sering ke apartemennya dan sering jalan-jalan sama-sama baik di York maupun Toronto. Disini saya mengenal Pak Hasan sebagai sosok yang kebapaan dan sederhana serta selalu memikirkan mereka yang kurang baik nasibnya dan saya juga mengenal Bu Hasan yang sangat bangga akan suami dan anak-anaknya. Ada cerita Bu Hasan selalu saya ingat yaitu bahwa Pak Hasan pernah ditawari Proyek merancang TMII (Taman Mini Indonesia Indah), tetapi beliau mengusulkan apakah tidak lebih baik uang sebanyak itu digunakan lebih dulu untuk kesejahteraan rakyat kecil dan nanti kalau kita sudah lebih makmur baru membuat TMII. Akibatnya, proyek tersebut diberikan kepada orang lain. Di York, saya juga mengenal dosen ITB yang mengambil Master disana yaitu Teti Argo dari Planologi, Wiwik Dwi Pratiwi dari Arsitektur serta Roma Manurung dari PPLH.

Pak Hasan adalah orang yang sangat dikagumi oleh Dr. Fred Carden. Setelah meninggalkan Indonesia, Fred bekerja dibidang konsultan serta, banyak melakukan perjalanan dan studi di seluruh penjuru dunia. Fred banyak menulis buku terutama mengenai Evaluasi Program Bantuan Internasional. Dia lebih banyak membahas mengenai mengapa dan bagaimana suatu proyek bisa berhasil sehingga dapat dipergunakan untuk proyek lainnya. Fred adalah pengamat pembangunan yang bertumpu pada masyarakat dan percaya bahwa faktor utama, yang menyebabkan pembangunan bisa berhasil adalah masyarakatnya, konsultan hanyalah fasilitator. Akibatnya, apabila konsultan tidak bisa membaur dengan masyarakat maka pembangunan tidak akan berhasil. Fred adalah seorang yang sangat rendah hati. Ketika saya tanya kenapa kamu berbeda dengan kebanyakan orang Barat lain, dia menjawab karena saya bertemu Pak Hasan di Indonesia dan dalam perjalanan saya berikutnya, saya banyak bertemu Pak Hasan – Pak Hasan lain di beberapa negara.

Tanggal 20 Nopember 1991 saya melintasi perbatasan Canada di Niagara Falls menuju Cambridge, Massachusetts. Di Cambridge, saya tinggal di apartemen saudara Hotasi Nababan yang sedang mengambil Master di Technology and Policy Program (TPP) di MIT (Massachusetts Institut of Technology). Saya dianjurkan untuk menghubungi Dik Hotasi atas anjuran saudari Isna Marifa. Hotasi bercerita bahwa Isna, putri Pak Soedjatmoko (Rektor Universitas PBB), lulus dengan pujian dari TPP di MIT. Isna mempunyai latar belakang undergradute di bidang geologi dari Bryn Mawr (salah satu dari seven sisters) dan pernah kerja praktek di Freeport, Irian Jaya. Karena Master thesisnya tentang environment, Isna juga mengambil pelajaran-pelajaran hukum di Harvard University, tetangganya MIT. Saya diantar Hotasi untuk menemui Prof. Richard Neuville, ketua TPP. Dari Prof. Neuville saya banyak sekali bahan dan buku-buku yang berguna untuk Program Studi Pembangunan ITB. Dari Cambridge saya bersama-sama saudara Hendro Sangkoyo mengunjungi Conell University di Ithaca untuk kedua kalinya. Mas Yoyo mengambil Master di bidang Regional Planning di Cornell. Kemudian saya menuju Urbana menjenguk istri. Karena saya mendapat undangan untuk mengunjungi Technology and Development Group di Twente University di Netherlands, dan supaya tidak mengganggu istri yang mau ujian akhir semester, saya berangkat ke negeri Belanda dan tiba di sana tanggal 5 Desember 91.

Di Schipool saya dijemput oleh Dr. Nico, S. Nordholt lalu menuju ke Enshede, dimana Twente university berada, yang terletak di dekat perbatasan Jerman. Saya tinggal di Logika, guest house campus. Twente adalah Universitas yang kuat di bidang Teknologi dan menggunakan bahasa Inggris. Didekatnya, terdapat daerah semacam Silicon Valleynya Standford tetapi lebih kecil. Kelompoknya Pak Nico telah membantu pendirian Development Technology Center (DTC) di ITB. Saya banyak mendapat informasi mengenai Technology Policy and Management di kampus yang asri dan penuh ditumbuhi pohon ini. Beberapa tahun kemudian kami melakukan penelitian bersama Universitas ini. Setelah tinggal di Twente dua hari saya jalan-jalan keliling Eropa menggunakan Eurail Pass selama 15 hari mengunjungi Jerman, Denmark, Austria, Swiss dan Perancis.

Di Kopenhagen saya menginap di kediaman Dubes RI di Denmark, pak Haringun yang sebelumnya pernah menjabat Konsul Jendral RI di Los Angeles. Saya diminta untuk menenangkan mahasiswa Indonesia disana yang mengeluh karena, kebanyakan dosennya tidak mau mengajar dalam Inggris, tetapi memberikan ujian dalam bahasa. Inggris. Saya menjelaskan yang penting harus pulang mendapat gelar dan kalau bisa meneruskan ke program doktor. Karena kalau penelitian, dosennya pasti berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Negara-negara Skandinavia adalah sangat kaya dan sangat maju di bidang Teknologi. Dari Denmark saya mengunjungi Institute of World Economies di Kiel di dekat Hamburg di Jerman, karena saya pernah mengerjakan proyek kehutanan bersama mereka di Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia, saya mendapat proyek yang lain lagi. Perpustakan Kiel tentang Indonesia sangat lengkap. Sesudah keliling Eropa saya kembali ke Urbana, Illinois USA lalu saya tinggal disana sampai 14 Januari 1992. Tissa pada waktu itu sudah mengambil PhD dengan menjadi research assistant. Di University of Illinois pada waktu itu terdapat juga dosen-dosen yang lain dari FE UI, diantaranya Sri Mulyani (Ani), Raksaka Mahi dan Bambang Brodjonegoro dan dari ITB, Intan Achmad dan Achmad Nurudin. Kebetulan, kakaknya Ani dan kakaknya Bambang adalah sahabat-sahabat saya, sehingga sering dititipin . Pak Achmad Nurudin dikenal sebagai kyai karena ahli agama. Ada juga dosen FE UGM, mbak Sri Adiningsih. Saya jalan-jalan keliling daerah tengah dan timur Amerika Serikat akhir tahun 1992 dengan istri saya dan juga keliling Eropa tahun 1993.

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia awal 1992 tersebut saya mampir di Tokyo dan tinggal di Saitama University karena mempunyai saudara yang sekolah disana. Saitama adalah sekolah pascasarjana di Jepang yang menggunakan bahasa Inggris dan berkonsentrasi pada kebijakan publik. Di Jepang saya di temani Dr. Kosuke Mizuno yang pada waktu itu bekerja di IDE ( Institute For Developing Economies). Pak Mizuno pernah membuat disertasi di Indonesia sehingga bisa berbahasa Indonesia dan Sunda serta kemudian menikah dengan putri Indonesia, alumni biologi ITB yang kemudian mendapat doktor dalam bidang Teknologi Kimia di Waseda University di Jepang. Beberapa tahun kemudian pak Mizuno pindah mengajar di Kyoto University dan sering mengajar di Program Studi Pembangunan ITB.

Saya ditawari Iwan Jaya Azis menjadi Direktur PAU-Ekonomi-UI karena dia lihat dosen-dosen FE UI lebih sibuk memikirkan LPEM daripada PAU. Iwan pada waktu itu merencanakan mau mengajar di Cornell U. dan menemani istrinya kuliah disana. Saya bilang saya sudah mempunyai komitmen di ITB disamping belum tentu teman-teman lain di FE UI setuju.

Pada awal 1992 itu pak Sas dan saya mempersiapkan bahan untuk persentasi mengenai Program Studi Pembangunan dan kemudian presentasi di Senat ITB. Pada pertengahan 1992 saya diminta presentasi lagi, hanya kali ini didepan rapat pimpinan ITB dan sesudahnya ITB meminta ijin dari Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (P&K) untuk Program Magister Studi Pernbangunan ITB. Ternyata oleh P & K Program yang diusulkan tersebut di dimintakan penilaian oleh Konsorsium Ekonomi, karena banyak orang mengidentikan pembangunan dengan ekonomi.

Ketua Konsorsium Ekonomi saat itu adalah seseorang yang berpandangan luas dan bijaksana yaitu Prof. Dr. Suhadi Mangkusuwondo, yang sebelumnya pernah menjadi Dirjen Perdagangan Luar Negeri. Pak Suhadi mendapat Master dari MIT dan PhD dari U. of California di Berkeley. Saya kenal beliau karena saya pernah memasukkan makalah untuk majalah EKI (Ekonomi dan Keuangan Indonesia) dan kebetulan Pak Suhadi adalah pemimpin redaksinya. Beliau berkata : “Dik program ini bukan ekonomi jadi kita tidak berhak menilainya dan akan kita kembalikan ke P & K”. Salah satu hal yang paling diingat dari Pak Suhadi sebagai dosen istri saya adalah nasehatnya: “Di hidup ini kita tidak boleh sombong, jangan sombong ke orang yang lebih pintar karena ada kemungkinan dia jadi dosen anda, dan jangan sombong ke orang yang kalah pintar karena ada kemungkinan dia jadi boss anda”.

Tidak tahu bagaimana caranya ternyata berkas usulan Program Magister Studi Pembangunan ITB jadi kesasar ke Direktorat Pendidikan Tinggi Swasta P&K sehingga harus diminta untuk dikembalikan ke Direktorat Binsarak (Pembinaan Sarana Akademis). Saking pusingnya staf di Binsarak akhirnya bertanya kepada saya : “Usulan ini sebaiknya dinilai siapa pak?” Saya jawab : ”Mungkin sebaiknya dinilai Gabungan Konsorsium Ekonomi, Sosial dan Teknologi”. Bapak tersebut menjelaskan : ”Harus pilih salah satu pak, karena tidak ada dananya”. Saya menambahkan : ”Kalau salah satu sebaiknya Konsorsium Teknologi”. Kemudian, dipilihlah Konsorsium Teknologi sebagai penilai Program Pascasasarjana Studi Pembangunan ITB. Akibatnya, saya ditelepon Prof. Ir. Kudrat Soemintapoera PhD: “Pak Wid ini ada permintaan penilaian tolong bantuin saya menjawabnya”. Kebetulan saat itu saya adalah anggota Konsorsium Teknologi. Pak Kudrat adalah seseorang yang berpandangan luas, maklum keahliannya adalah system analysis. Singkatnya Magister Studi Pembangunan ITB disetujui untuk dilaksanakan berdasarkan surat P dan K nomor : 03/KT/I/93.

Pada saat berdirinya, Program Studi Pembangunan ITB hanya menempati dua ruangan yaitu sebuah kelas berukuran 5 m x 6 m dan sebuah sekretariat berukuran 5 m x 5 m. Angkatan pertama hanya berdiri dari 9 orang. Pada rapat Komite Kurikulum ditentukan bahwa kunci Studi Pembangunan adalah Analisis Kebijakan dan karena tidak ada yang bersedia mengajar maka saya sebagai ketuanyalah yang menjadi pengajar.

Pada tahun 1996 bekerjasama dengan Ikatan Alumni ITB kita membuka kelas di Ikatan Alumni ITB di Jakarta. Tahun 1997 kita pindah ke Jakarta Design Centre dan tidak bekerjasama lagi dengan IA – ITB, kemudian tahun 2002 kita pindah ke Institut Bankir Indonesia (IBI). Kebanyakan peserta di Jakarta adalah dari Departemen Pekerjaan Umum (Kimpraswil) serta Pemda DKI (Daerah Khusus Ibukota). Peserta lainnya adalah dari Departemen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Depdagri, Pertamina, PGN (Perusahaan Gas Negara), BP (Badan Pengelola) Migas, BP dan lain-lain. Pada tahun 2000 bekerjasama dengan UNRI (Universitas Riau) kita membuka kelas di kampus UNRI di Pekanbaru. Pesertanya kebanyakan dari Pemda, Bappeda dan Caltex.

Tissa selesai PhD nya akhir 1994 dan kembali ke Indonesia Januari 1995. Kami mempunyai putri Kristal Amalia pada 14 Nopember 1996. Kristal diambil singkatan Kerinci, Rinjani, Semeru, Tujuh, Agung dan Latimojong karena kebetulan saya suka mendaki gunung. Saya sudah mendaki gunung-gunung di Jawa yang ada di buku Mari Mendaki Gunung di Jawa. Kemudian saya mendaki Fuji, Kinabalu dan Jayawijaya. Mendaki gunung buat saya lebih mendekatkan diri dengan Tuhan karena perjalanannya berat dan beresiko, sehingga selalu berdoa. Mendaki gunung bukan untuk menaklukkan gunung tetapi justru menaklukkan diri sendiri seperti dinyatakan oleh Nanoo Sakaki, “I don’t climb mountain … Mountain climbs me … Mountain is myself … I climb on myself”.

Tahun 1994 saya diangkat menjadi Pembantu Dekan Urusan Akademis Fakultas Teknologi Mineral ITB dan selesai tahun 1998. Sekembalinya dari Amerika 1996, Tissa diangkat menjadi Sekretaris Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan UI dan kemudian menjadi Ketua Jurusan sampai 2002. Sesudah itu dia menjadi konsultan beberapa lembaga Internasional seperti USAID, AUSAID, British Council, Pemerintah Belanda dan Uni Eropa, akibatnya kami pindah dari Depok ke Kebayoran Baru, Jakarta. Kristal sekolah di SD Al Azhar. Tahun 1999 Tissa dan saya naik Haji. Kemudian selesai Tissa mengerjakan penelitian Asia Link untuk Uni Eropa di Brussel, tahun 2004 Tissa, Kristal dan saya keliling Eropa. Tadinya kami berniat mulai dari Spanyol Selatan, tetapi karena bom meledak di Madrid kami ke Jerman dulu.

Pertengahan 1997 saya diundang oleh Pak Subroto, ketua IIEE (International Institute of Energy Economist) untuk presentasi didepan wartawan mengenai Pertamina. Saya jelaskan bahwa kesulitan Pertamina adalah bahwa dia terlalu diatur Pemerintah, tidak seleluasa perusahaan lain. Sebagai contoh dia tidak bisa mengumpulkan dana sendiri sejak Ibnu diganti, tidak seperti perusahaan swasta atau Petronas. Pada makalah saya, saya mengusulkan strategi untuk meningkatkan kemampuan nasional migas. Kemudian, karena sebuah harian menyebutkan menurut saya Pertamina belum layak sebagai Badan Usaha maka saya mendapat masalah di ITB karena ditakutkan hubungan ITB dan Pertamina jadi kurang baik. Pada masa sulit tersebut saya mendapat dukungan dari banyak dosen ITB dan Mas Arifin Panigoro Ketua PII (Persatuan Insinyur Indonesia), serta adik-adik dari IA (Ikatan Alumni) ITB, Jakarta yaitu Meilono Suwondo, Alhilal Hamdi, Hatta Rajasa dan Alimin. Akhirnya, Senat ITB memutuskan bahwa pernyataan pribadi dosen adalah tanggung jawabnya sendiri.

Kebetulan pada masa sulit tersebut saya mendaki Gunung Fuji di Jepang bersama Sutopo dan Flora Damayanti, mahasiswa disana. Sekembalinya dari Fuji saya bertemu dengan Pak I.B. Sudjana, Mentamben dan Pak Abdau, Dirut Pertamina dalam acara malam Indonesia di Hotel Imperial, Tokyo. Saya dikenalkan oleh Pak Purnomo (Asisten Mentamben) : “Ini teman sekelas saya, kerjaannya naik gunung dan hobinya ngajar“. Pak Abdau malah memberi komentar : “Sekarang you terkenal lho di Pertamina”.

Saya menjadi Ketua Program Studi Pembangunan ITB sampai 2004. Kami berusaha menciptakan suasana kekeluargaan antara dosen, mahasiswa dan karyawan. Kami belajar, bekerja dan santai, sering bercanda dan tertawa. Kalau standar Kate Ludeman dipakai pasti kami mendapat nilai tinggi. Menurutnya, satu-satunya cara terbaik untuk menilai kesetiaan sebuah tim adalah dengan mengetahui berapa seringnya anda bercanda. Saya sering mengajak mahasiswa baik di Teknik Perminyakan maupun Studi Pembangunan untuk study tour, mendaki gunung, menyusuri laut dan piknik. Kebetulan saya mempunyai sebidang tanah di Maribaya, yang sering dijadikan tempat acara outbound, latihan kepemimpinan dan tujuan trekking (5 km) dari hutan Juanda, Dago. Padepokan Maribaya tersebut diberi nama Academus, mengingatkan sekolah Plato di hutan kecil di tepi Athena. Di Academus diajarkan matematika, filsafat dan olahraga.

Tahun 2004 saya menjadi Guru Besar dalam Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas dan tahun 2005 menjadi Ketua Kelompok Keahlian Pemboran, Produksi dan Manajemen Migas di Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral di ITB. Saya pernah mengajari negosiasi harga gas bagi teman-teman di Indonesia Power, PJB dan PLN serta menjadi penasihat Masyarakat Kelistrikan Indonesia (MKI). Pada IPA (Indonesian Petroleum Association) conference 1995, saya mengusulkan pemberian insentif untuk lapangan marginal. Saat ini menjadi penasihat Asosiasi Perusahaan Migas (Apermigas) Nasional. Saya juga diminta Asosiasi Panas Bumi (API) untuk mengusulkan harga listrik panasbumi yang bisa membuat usaha panasbumi di Indonesia bergairah. Saya sering dimintai pendapat mengenai kebijakan energi, migas, panasbumi, Coal Bed Methane (CBM) dan biodiesel.

Saya pernah menjadi konsultan di Departemen ESDM (Energi Sumber Daya Mineral), Ditjen Migas, Ditjen LPE (Listrik dan Pengembangan Energi), Ditjen Minerbapabum (Mineral, batubara, panasbumi), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Perindustrian, Depertemen Pekerjaan Umum, Kantor Meneg Lingkungan Hidup (KLH), Redecon, Lemigas, Pertamina, PGN, Perusahaan Minyak Multinasional, BP (Badan Pengelola), Migas, BPH (Badan Pengatur Hilir Migas), ADB (Asian Development Bank serta Word Bank Saya lumayan banyak yang kenal di dunia perminyakan karena saya sering menjadi moderador atau pembicara seminar serta memberikan kursus tentang Ekonomi dan Manajemen Migas disamping banyak alumni ITB di sana, sehingga kalau seminar atau ke kantor-kantor institusi atau perusahaan migas dan energi sering diberi salam orang. Saya menulis dua buku “Manajemen dan Ekonomi Minyak dan Gas Bumi” serta “Mengenal Pembangunan dan Analisis Kebijakan”. Di samping itu saya menjadi koordinator penulisan buku Agenda 21 Sektor Energi.

Saya pernah presentasi makalah di Amerika Serikat, Kanada, Singapura, Australia, Selandia Baru, Philipina, Cina, Belanda, Jepang dan Turki. Saya selalu mendapatkan sponsorship, biasanya dari perusahaan-perusahaan migas atau panasbumi. Tissa juga sering presentasi di luar negeri, karena menjadi konsultan lembaga-lembaga internasional. Yang paling sering, dia diundang ke Oxford University pada pertemuan tahunan bulan September. Biasanya, Kristal ikut ke Oxford karena dia suka lihat sekolah “magic” nya Harry Potter. Tissa lebih sering diwawancarai di televisi, koran, dan majalah dari saya, maklum ekonom UI. Bahkan dia yang dipercaya menanyakan program ekonomi pak SBY pada tanya jawab Pemilu lalu. Dia juga aktif di beberapa tim di Departemen Pendidikan Nasional. Tissa pernah menjadi pelajar teladan se Jakarta, Ketua Osis SMA 70 yang pertama dan Ketua AIESEC di FE UI. Tissa tahun 2006 menjadi anggota DRN (Dewan Reset Nasional). Tahun ini (2007) saya menjadi anggota Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Migas dari ESDM.

Berkelana adalah hobi saya. Saya sudah mengunjungi banyak sekali negara di dunia. Saya lebih senang jalan sendiri daripada ikut tour, karena di jalan lebih sering bertemu teman dan pengalaman baru. Saya lebih sering tinggal di rumah teman, daripada di hotel, disamping murah juga mendapat informasi lebih banyak. Teman tersebut bisa saudara, teman sekolah, teman di pekerjaan, bekas murid, peserta kursus saya, temannya saudara, saudara atau temannya teman, atau ketemu di seminar dan perjalanan. Penulis seperti Karl May, Charles Handy, David Korten suka berkelana. Daniel Jonson penulis perminyakan yang terkenal adalah pendaki gunung.

Banyak teman, menyebabkan hidup ini menyenangkan dan segalanya jadi lebih mudah, seperti dinyatakan dalam sajak Susan Polis Schutz: When someone cares … it is easier to listen … it is easier to talk … it is easier to work. When someone cares … it is easier to laugh”. Setiap mendapat kesulitan, saya merasa selalu di tolong Tuhan, melalui teman-teman. Jadi ingat kata-kata di suatu lagu : You can always count on me, for sure. That’s what friends are for”.
Like · · Unfollow Post · 2 hours ago
3 people like this.
M Abdul Kholiq Ada kata kunci menarik, yang sekarang (di BPPT, khususnya di TPSA) kembali/sedang/akan naik daun: “Resource Accounting”, khususnya Natural Resource Accounting, NRA.
2 hours ago · Like
Esi Lisyastuti Susanto dongengnya panjang tapi menarik–terimakasih telah berbagi bapak🙂
about an hour ago · Like
M Abdul Kholiq Ya, sekedar copy paste. Message yg menarik: perbanyak teman dan pelihara pertemanan tsbt.
about an hour ago · Like · 1
Raldi Artono Koestoer mumpung inget… p kholiq tolong skema instalasi bioenergi nya ditunggu oleh Sari. Due date sdh dekat…
7 minutes ago · Like
M Abdul Kholiq Prof. Raldi Artono Koestoer: sudah saya kirim beberapa ilustrasi (juga skema) ke Sari dkk via email tgl 25 Maret y.l. Di situ juga ada sumbernya, dan Sari dkk saya pikir bisa merunut dan kontak sumbernya, kira2 yg ada “di pasaran” ukuran berapa saja.
3 minutes ago · Like
Raldi Artono Koestoer ok thankyou…

One response

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s