7 Rektor Bantah Terima Fee

7 Rektor Tercatat Terima Fee dari Perusahaan Nazar
SELASA, 04 OKTOBER 2011 | 07:50 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO/Seto Wardhana

Berita terkait
Hari Ini Komite Etik KPK Periksa Haryono Umar
Nazar Siap Bersaksi di Sidang Wafid
Pengacara Tetap Ingin Nazar-Chandra Dikonfrontasi
Nazaruddin Akan Didampingi 5 Pengacara
O.C. Kaligis Berkolaborasi dengan Elza Syarief Tangani Kasus Nazaruddin

TEMPO Interaktif, Jakarta – Tujuh rektor perguruan tinggi membantah telah menerima fee atas proyek yang dimenangkan PT Anugrah Nusantara. Bantahan itu dikeluarkan guna merespon informasi yang menyatakan nama mereka tercatat dalam laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dimiliki Anas Urbaningrum, kini Ketua Umum Partai Demokrat, dan mantan bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin tersebut.

Berdasarkan data yang dilangsir situs Gresnews.com, aliran duit kepada para rektor itu terjadi dalam kurun waktu dua tahun sejak 2007. Dalam laporan keuangan PT Anugrah, para rektor tercatat menerima duit dengan jumlah bervariasi dan untuk kepentingan yang beragam. Umumnya mereka tercatat menerima dana sebagai biaya entertaint.

Prof. Dr. Ir. Sudjarwo, Rektor Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang namanya muncul dalam catatan itu mengakui pernah mengajukan proyek ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun ia membantah menerima duit dari PT Anugrah sebesar Rp 10 juta pada 3 Desember 2008. “Saya sama sekali tidak menerima sepeserpun uang dari perusahaan pemenang proyek,” kata dia di ruang kerja Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Senin 3 Oktober 2011.

Catatan transaksi lain adalah untuk rektor Universitas Mataram, saat itu Prof Mansur Ma’sum, sebesar Rp 25 juta yang terjadi pada 16 Desember 2008. Lalu Rektor Universitas Riau, kala itu Prof Dr Ashaluddin Jalil, pada 23 Januari 2008 senilai Rp 23 juta. Nama Prof. DR. Yogi Sugito, Rektor Universitas Brawijaya, Malang, tercatat pada transaksi 5 November 2008 sebesar Rp 410 ribu.

Aliran lainnya ditujukan kepada Rektor Universitas Sriwijaya, Palembang pada 28 September 2007, kala itu dijabat Prof Dr Ir Zainal Ridho Djaffar, berbentuk dolar setara Rp 45,9 juta. Rektor Universitas Udayana, Bali pada 30 Januari 2007, kala itu Prof I Made Bakta, sebesar Rp 20 juta.

Rektor Universitas Airlangga, Surabaya, pada 27 Agustus 2007, yang saat itu Prof Dr Fascihul Lisan, pun dicatat menerima Rp100 juta. Pejabat pembuat komitmen Institut Pertanian Bogor dan Universitas Negeri Jakarta juga disebut menerima aliran dana Rp 30 juta.

Seperti halnya Sudjarwo, para rektor dan pejabat universitas yang ditemui Tempo membantah telah menerima aliran dana dari PT Anugrah.”Tak benar rumor yang mengatakan ada fee dari perusahaan tersebut,” ujar Kepala Hubungan Masyarakat Rektorat Unair, Dr Mangestuti Agil Apt.

Berdasarkan surat perjanjian jual beli saham PT Anugrah Nusantara tertanggal 1 Maret 2007, tertulis Nazaruddin sebagai pihak pertama yang menjual 30 persen sahamnya kepada Anas. Dalam perjanjian kontrak yang disahkan notaris di Pekanbaru pada 5 Juli 2007 itu tertera tanda tangan dengan nama Anas. Belakangan Anas mengaku sudah keluar dari perusahaan itu.

L SUPRIYANTHO KHAFID | DINI MAWUNTYAS | BIBIN BINTARIADI | ARIS ANDRIANTO | SOETANA MONANG HASIBUAN | ARIHTA U SURBAKTI