Rektor UI dan Presiden RI

Oleh EFFENDI GAZALI

Isinya menyebut tidak kurang 33 nama dari tujuh fakultas sebagai produser, sutradara, aktor utama, dan aktor tambahan skenario penggulingan.Hampir semua elemen sivitas akademika ada di situ: anggota Majelis Wali Amanah(MWA), gurubesar,dekan, senat akademik,dan ikatan alumni (iluni).

Jika dokumen itu benar, mengapa ada begitu banyak orang mau berbuat seperti itu? Apakah nama-nama sekaliber Emil Salim, Martani Huseini, Pratiwi Sudarmono, Harkristuti Harkrisnowo, Rhenald Kasali, Hikmahanto Juwana, Firmanzah, T Basarudin, Ratna Sitompul, Donny Gahral Adian, dan Ade Armando ”mempersoalkan” rektor tanpa alasan logis? Hanya semata iri, iseng, atau bahkan semua ingin menggulingkan dan berhasrat menjadi rektor seperti isi dokumen tersebut? Dengan gaya sensasi ”bom buku”, tiba-tiba sebuah dokumen diantar ke Kelompok Kerja Wartawan Depok.

Judulnya ”Dokumen Rahasia, Rekaman Percakapan dari Skenario Besar Penggulingan Rektor Universitas Indonesia”. Masuk ke masalah isi, ternyata utamanya adalah ”sadapan” pesan singkat (SMS) dari telepon beberapa nama di atas. Selain melanggar hukum,  sebagian isinya dipelintir dan diletakkan dalam konteks yang keliru. Selain sadap-menyadap bergaya intelijen ini, sesungguhnya masih ada aneka telepon dan SMS intimidatif  pada beberapa nama. Forum resmi Dokumen itupun tidak memuat apa yang terjadi dalam forum resmi. Sebagai contoh,dialog langsung Iluni  FISIP UI dengan Rektor UI atau forum terbuka antar-elemen sivitas akademika tanggal 5 September. Konteks pertanyaan kritisdan orasi dihilangkan sama sekali. Yang ada hanya kebenaran tunggal si penulis dokumen rahasia. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa intelijen dan gaya intimidasi masuk keurusan kepemimpinan sebuah universitas.

Jawabannya barangkali soal doktor honoris causa dari Rektor UI untuk Raja ArabSaudi. Jelas, sebagian besar warga U Iterluka dengan pemberian yang umumnya mereka ketahui dari media itu. Kalau tidak ada ”bocoran” berita dari arabnews.com, bisa jadi tak ada media di Indonesia dan warga UI yang tahu. Lepas dari perasaan tersebut, hampir semua nama yang dituduh justru sadar bahwa gelar itu relatif sulit dicabut. Ini terutama karena kesalahan utama nya bukan pada penerima, melainkan pada pemberi dan proses tata kelola yang bermasalah. Dokumen juga tidak menyebut peran mediator Dipo Alam. Padahal, justru nama Sekretaris Kabinet ini yang menimbulkan tandatanya soal kemungkinan intervensi pemerintah! Seharusnya sikap pemerintah jelas dalam kasus doktor honoris causa ini. Ketika Ruyati, tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi, dieksekusi, Presiden SBY membuat konferensi per s(23/6) dan menyatakan telah menulis surat keprihatinan kepada Raja Arab Saudi.Isinya ”protes keras Kepala Negara RIatas eksekusi almarhumah Saudari Ruyati yang menabrak kelaziman norma dan tata krama internasional dengan tidak memberitahu pihak Indonesia”.

Lalu bagaimana mungkin, jika Presiden marah, Rektor UI dan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah malah memberi Raja Arab Saudi gelar ke h o r m a t a n ? Apakah Presiden SBY cuma pura-pura marah demi pencitraan? Lalu melalui nama-nama pejabat negara di atas dia meminta Rektor UI memberikan penghargaan untuk ”berdamai”? Semogatidak. Karena jika benar, sandiwara pencitraan itu akan makin membuat banyak pihak terluka. Tuntaskan segera Bagaimana ke depan? Kisruh tata kelolaUI harus tuntas segera.

Selama ini, banyak pihak sadar bahwa membawa masalah ini ke media seperti membuka aib sendiri. Namun, filsafat dan etika komunikasi mengajarkan: lebih baik bicara untuk memperbaiki keadaan. Bandingkan dengan lembaga penegakan hukum kita yang tokoh-tokohnya justru saling menutupi aib. Jelaslahposisi kisruh ini relatif tidak ditujukan untuk mencabut gelar. Sebagian besar pihak justru menyambut opsi Mendiknas (Ko m p a s ,7/9) berupa memperpanjang masa jabatan MWA sampai transisi selesai dan mempercepat pemilihan rektor. Petahana tentu boleh maju sesuai aturan dan asas keadilan. Selesai masalah ini, energi dan waktu kita harus digunakan kembaliuntuk mengupas secara jernih ketidak jelasan nasib TKI, kasus Nazaruddin, Bank Century, IT KPU, rekening gendut, wisma atlet, korupsi Kemnakertrans, dan seterusnya.

EFFENDI GAZALI

Dosen UI, Namanya Juga Disebut dalam Dokumen Rahasia (Kompas 10 Sept 2011).

Iklan

Iluni UI ttg Dr HC

Subject: Posting ketum ILUNI UI di milis Iluni Pusat ttg DR HC

Teman-teman yth,                 Membaca berita koran, saya juga kecewa atas penganugerahan DR (HC) kepada raja Saudi Arabia oleh Rektor UI, penghargaan tersebut terasa tidak tepat, tidak sensitif dan menurut  berita koran dilakukan dengan proses yang tidak “proper” (tidak mengikuti governance yang baik, tanpa melibatkan senat akademik) sehingga terkesan dilakukan secara “diam-diam”. Jika mengikuti logika di atas, maka protes  kepada Rektor UI sangat wajar dan perlu kita lakukan secara keras.                 Akan tetapi, ada banyak dimensi yang harus dipertimbangkan dengan baik. Pertama masalah penganugerahan gelarnya sendiri.   Perlu proses fact finding yang baik, sehingga kita ILUNI mengetahui persis latar belakang, pertimbangan mengapa DR (HC) diberikan kepada raja Saudi, proses penganugerahan apakah sudah dilakukan secara benar mengikuti governance yang baik, dan lain informasi yang relevan. Untuk itu kita perlu memperoleh informasi dari sumber primer, tidak hanya mendasarkan berita koran (yang belum tentu akurat).                 Kedua, (juga berdasarkan berita koran) protes dan ribut-ribut ini juga telah memasuki wilayah jabatan rektor, sehingga ada statement   yang menginginkan rektor di “gulingkan”. Jika sinyalemen ini benar, maka ini adalah masalah internal politics within UI. Perebutan jabatan rektor secara demokratis adalah hal yang wajar, dan polemik serta politiking di sekitar jabatan ini dapat dimengerti pula.  Namun jika issue internal politics digunakan secara   tidak tepat   serta menggunakan issue penganugerahan DR (HC) ini sebagai   rallying point, ILUNI perlu perlu lebih hati-hati, karena dua hal yaitu, pertama, seharusnya ILUNI  netral dalam hal jabatan dan/ atau proses pemilihan rektor, dan kedua, menggunakan atau menyalahgunakan issue penganugerahan DR(HC) ini secara berlebihan   dapat mempunyai implikasi yang luas terhadap nasib Tenaga Kerja / Tenaga Kerja Wanita Indonesia di Arab Saudi, sebagaimana akan disinggung di bawah.                 Kepedulian para politisi dan LSM seperti Migrant Care terhadap kurang sensitifnya rektor dapat dimengerti. Namun reaksi yang berlebihan, seperti tuntutan pencabutan gelar kehormatan DR (HC) dari raja Saudi, perlu pertimbangan yang mendalam. Kritik yang terlalu menggebu-gebu, apalagi sampai “menohok” kehormatan raja Saudi akan menimbulkan reaksi yang sepadan. Perlu kita ingat bahwa Kerajaan Saudi  Arabia bukanlah Republik Indonesia, dimana kita bisa mengkritik dan mengolok-olok bahkan kadang-kadang menghina, siapa saja tanpa implikasi hukum dan tanggung jawab moral. Arab Saudi adalah sebuah kerajaan monarki absolut yang memiliki sovereignty sendiri, kita suka atau tidak. Jika kehormatan raja tertohok, maka banyak cara pemerintah atau pejabat Saudi untuk membalasnya, banyak secara formal diplomatik ataupun melalui cara lain yang tidak formal tapi bisa menyakitkan.                 Saat ini ada lebih dari 1 jutaan warga Indonesia yang mengadu nasib di Arab Saudi. Posisi mereka sangat vulnerable dan tergantung pada friendly policy dari Pemerintah Saudi. Jika pemerintah Saudi  tidak friendly terhadap mereka lagi, berbagai kebijakan yang berakibat negatif terhadap TKI/TKW dan WNI pada umumnya dapat diterapkan, seperti tidak memperpanjang visa, menutup akses terhadap TKI di masa datang, ataupun harrasment dalam berbagai bentuk. Ini dapat dilakukan tanpa  gembar-gembor cukup misalnya dengan ‘gesture negative’ dari penguasa terhadap WNI, dampaknya bisa sangat berat terhadap saudara-saudari kita di sana.                 Oleh karena itu, marilah kita proporsional dalam menanggapi masalah ini. Sebagai ILUNI dan sebagai komponen bangsa marilah kita berpikir dan bertindak secara bijak. Jika ada kekeliruan dari Rektor maka mari sama-sama kita dorong perbaikan sistem agar kekeliruan yang sama tidak terjadi di masa yang akan datang. Saya berpandangan bahwa raja Saudi tidak bertambah kehormatannya dengan pemberian DR(HC) dari UI, tetapi raja dan rakyat Saudi bisa sangat tersinggung kehormatan mereka jika perlakuan kita terhadap issue ini menjadi diluar kontrol, seperti menjadikan issue ini sebagai komoditas politik dalam negeri dengan menjadikan Raja Saudi sebagai sasaran.   Mari kita hentikan polemik ini sebelum raja Saudi mengembalikan DR (HC) yang diagerahkan. Jika ini terjadi maka mungkin kita akan dikutuk oleh banyak warga kita, baik yang sekarang sedang menjadi TKI ataupun potensial TKI,  yang masih mengharapkan mencari sesuap nasi di negeri kaya minyak itu.                 Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir bathin.                 Salam lebaran,                 Sofyan Djalil

Berikan Gelar Pada Raja Arab, Rektor UI Akan Dipanggil DPR

Jumat, 26/08/2011 16:17 WIB
Berikan Gelar Pada Raja Arab, Rektor UI Akan Dipanggil DPR
Adi Nugroho – detikNews

Jakarta – Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Raja Arab Saudi oleh Universitas Indonesia (UI) berbuntut panjang. Komisi IX DPR yang membidangi Ketenagakerjaan berencana akan memanggil Rektor UI, Gumilar R Soemantri.

“Akan kita panggil Rekrot UI untuk cari dasar pemikiran pemberian, dasar keputusan Rektor dipertanyakan. Apa kontribusi Raja Abdullah terhadap ilmu pengetahuan dan kemanusiaan?,” ujar anggota Komisi IX, Okky Asokawati di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (26/8/2011).

Okky mempermasalahkan gelar yang diberikan kepada Raja Arab Saudi, sebab selama ini banyak TKI yang mengalami kekerasan di negara tersebut. Tak hanya bertanya soal dasar pemberian gelar, Okky juga akan menanyakan seputar mekanisme pemberian gelar apakah syarat administrasinya telah terpenuhi. Ia mencium pemberian gelar ini hanya proyek mercusuar.

“Kita juga akan tanya apa persetujuan Mendiknas sudah didapatkan,” kata anggota Fraksi PPP yang juga mantan model papan atas ini.

Seperti diketahui, harian Arab News sebelumnya melansir, Rektor UI Prof Gumilar R.Sumantri datang Istana Al-Safa, Jeddah, untuk memberikan gelar Doktor HC pada Raja Abdullah pada Minggu, 21 Agustus. Gumilar memberikan gelar itu karena Raja Abdullah dianggap telah berkontribusi dalam mempromosikan pengajaran Islam yang moderat, mendukung perdamaian Palestina, dan menginisiasi dialog antar agama.

“Kami juga mengapresiasi Raja atas kontribusinya dalam bidang kemanusiaan dan usaha kerasnya dalam mempromosikan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Gumilar

Pemberian gelar ini ditentang berbagai kalangan. Tak hanya oleh kalangan LSM tetapi juga dari civitas akademika UI sendiri.

“Saya akan lawan. Ini soal bangsa. Tapi perlawanan akan dilakukan dengan cara terhormat. Ada tata caranya. Para profesor juga akan bereaksi. Prof Emil Salim marah,” kata Guru Besar UI, Thamrin Amal Tamagola.

(adi/ndr)

Modern Digital Library – UI

MODERN DIGITAL  LIBRARY – UI

Bahwa  Univ  Indonesia  akan  mempunyai  perpustakaan yang terbesar dan termodern di Asia Tenggara, barangkali anda sudah pernah mendengar, baik melalui pemberitaan dari mulut ke mulut maupun dari media massa cetak beberapa waktu yang lalu.

Namun seperti apakah wujudnya library itu ?

Mungkin jarang atau belum ada diantara kita  yang sudah pernah melihat wujudnya…

Tak dinyana tak diduga… tahu-tahu pagi tadi saya mendapat kesempatan yang langka untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri jeroan perpustakaan itu seperti apa. Bahkan diantar dan di guide sendiri oleh ‘seseorang’ yg istimewa, nanti saya ceritakan siapa dia.

Datang terlambat di gedung DRPM, janji jam 10 dengan pak Ibus Dir Makara Mas dan Prof Ricky Wee (dari  Imitsu, inventor Self Generated Power Supply*- ada sedikit info dibawah) bersama rombongannya. Yah karena terlambat tahu-tahu semua sudah visit ruang seminar, banyak yg sudah hadir a.l. Jonna, Anang, Budi, p Salahuddin. Jadi rencananya di ruangan yang baru itulah bulan Juni nanti kami akan mengadakan seminar dengan mengundang berbagai pihak untuk menunjukkan bahwa Indonesia bisa lebih unggul dari negara2 lain dengan penemuan energy Listrik dengan sumber power supply yang bersih tanpa energy fosil, green, silent… dst (cerita ini nanti dilanjutkan krn kita focus ke library dulu).-

Pak Ibus pulang lebih duu karena mau ngajar, menjelang jam 11.30 kami semua keluar mau pulang masing-masing membawa payung karena hujan diluar. Waktu kami mau saling berpisah… tahu-tahu… datang seseorang bertopi jaket hitam mendekat…

Wah rasa-rasa kenal nih… pernah koq saya melihat wajahnya… Setelah dekat malah saya yang ditegur,

“Pak Ral’… lho… baru saya tersadar ternyata orang ini…

Rektor UI – Prof Gumilar, yang datang sendiri berjalan kaki di tengah hujan. Setelah salaman beliau saya perkenalkan dengan Prof Ricky Wee. Omong punya omong pak Rektor menawarkan kami untuk sight-seeing gedung perpustakaan yang baru. Sekalian beliau ngecek persiapan untuk soft-launching gedung baru 8 tingkat ini yang rencananya akhir bulan Mei.

Jadilah kemudian kami mengunjungi ruangan demi ruangan sambil diguide dan dijelaskan segala sesuatunya oleh bapak Rektor sendiri. Kelihatannya beliau sangat antusias sekali, karena

–          Modern digital and multimedia library –

Ini akan menjadi ikon kebanggaan Universitas Indonesia di masa depan.

Mari kita lihat sedikit foto-fotnya dan di akhir nanti ada video sight seeing kami bersama bapak Rektor UI dan Prof Ricky Wee.

Ruang Seminar modern dengan multimedia, bisa memuat 200 orang.

Tersedia juga ruang diskusi kelas yang bisa memuat 50 orang dengan pemandangan kearah danau yang indah. Tentu ada juga ruangan seperti perpustakaan tradisional yang berisi buku-buku. Tempat untuk group discussion, ruang belajar dan riset, ada ruang yoga, dance hall, banyak lagi yang saya tidak ingat.

Pak Rektor sedang menjelaskan apa-apa saja fasilitas modern yang ada di gedung ini. Studio musik juga tersedia dimana bisa membuat recording, bahkan ada ruang teater full akustik.

Mari kita lihat juga beberapa videonya.-

Di video nanti anda akan lihat juga sebuah hall besar berisi 1000 komputer station Apple setara ipad II (kalo ini saya sendiri yg ngomong, tapi jumlah 1000 nya beneran). Disitu anda bisa cari ebook apa aja yang eksis di dunia baik maya maupun nyata. Internet katanya kecepatan tinggi… gak tahu berapa ? kali 200 km/jam… Kan katanya kecepatan tinggi… sama dong sama Ferrari.

Pohon Baobab di UI

Pohon Baobab diyakini mempunyai daya regenerasi tinggi. Pohon yang tumbangpun, selama masih menyentuh tanah, hampir dipastikan akan tetap hidup dan bertunas kembali (dari majalah TEMPO 22-28 Nov 2010). Lihat videonya.-

Itulah sebagian kecil keistimewaan Ki Tambleg (nama pohon Baobab) yang membuat Gumilar (Rektor UI) kesengsem. Rektor tak segan turun tangan agar Ki Tambleg hidup di UI. Sudah 7 yang direlokasi dari Subang Jawa Barat sejak September lalu. Gumilar menambahkan kandungan air Baobab bisa mencapai 70% dari berat tubuhnya. Iu belum termasuk kemampuan menyerap air sebagai sumber persediaan makanan.

idup di UI. “Pohon ini,” kata Gumilar, Selasa pekan lalu, “adalah jawaban atas ancaman terhadap keamanan pangan di masa depan.” Sehari sebelumnya, prosesi serupa digelar untuk menegakkan ki tambleg seberat 80 ton.

Kini sudah tujuh ki tambleg yang direlokasi dari Subang, Jawa Barat. Pemindahan lima pohon ki tambleg dilakukan sejak September lalu. Tak aneh jika batang-batang raksasa ki tambleg itu telah bertunas. Kelimanya bisa dilihat berdiri melingkar di halaman depan gedung rektorat. Adapun sisanya, itu tadi, di halaman belakang gedung yang sama. Proses relokasi belum selesai lantaran masih ada tiga pohon lagi yang akan dipindahkan ke UI. “Ini rekor dunia. Belum ada yang memindahkan pohon sebesar ini, apalagi hingga sepuluh,” kata Gumilar antusias.

Ukuran pohon yang direlokasi ke UI jauh dari ukuran sebenarnya saat tumbuh di Subang. Satu dari dua pohon yang ditanam terakhir mempunyai berat 135 ton, dengan tinggi 17 meter dan diameter batang 4,7 meter. Satu lagi setinggi 14 meter dan beratnya 45 ton. Tapi, untuk kelancaran pemindahan, pohon itu terpaksa dipangkas. “Setelah dipangkas, beratnya jadi 80 ton dan 35 ton dengan tinggi 12 meter,” kata Maryanto, konsultan proyek pemindahan ki tambleg.

Menurut Maryanto, ki tambleg yang dia relokasi sangat istimewa. Ki tambleg mempunyai ukuran batang yang besar dan kokoh. Batang pohonnya lunak, hampir sama dengan batang pohon kelapa. Daunnya hijau dengan lebar setara telapak tangan anak usia dini. “Kadar air dalam kayunya sangat tinggi,” kata Maryanto. Beberapa di antaranya diperkirakan berumur seratusan tahun.

Gumilar menambahkan, kandungan air baobab bisa mencapai 70 persen dari berat tubuhnya. Itu belum termasuk kemampuan menyerap air sebagai sumber persediaan makanan. Daun pohon ini dapat digunakan untuk lalap atau sayur. Kulit pohonnya dapat digunakan untuk membuat tali, bahkan pakaian. Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipergunakan sebagai obat tradisional.

Di Eropa, buah pohon baobab telah diterima luas sebagai produk alam. Dagingnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lain. “Ini pohon masa depan,” kata Gumilar.

Suatu waktu Gumilar membawa pulang buah baobab. Di rumahnya, buah yang asam itu diolah sendiri. Gumilar membuat dua hidangan: satu sup asin, satu lagi sup manis. “Yang manis saya campur kurma,” katanya. Hidangan buatannya itu dimakan ramai-ramai dengan wartawan. Hasilnya? Kedua sup itu ludes. “Istri saya sampai bilang ke mereka, �Kalian mau saja dijadikan kelinci percobaan,'” kata Gumilar berkelakar.

Pakar buah tropis, Reza Tirtawinata, pernah membawa buah baobab dari Angola, Afrika. Masyarakat setempat memang terbiasa mengolah buah yang disebut imbondeiro ini sebagai minuman segar atau campuran es krim. “Tapi nilai ekonominya tidak ada,” kata doktor dari Institut Pertanian Bogor ini. Di Angola, baobab tumbuh liar dan tidak dipelihara. Tentang kandungan nutrisi buah baobab yang luar biasa, Reza tak membantahnya.

Ide pemindahan baobab ke UI tercetus pada awal 2008. Saat itu, Gumilar sedang berada di Jerman. Satu artikel koran berbahasa Inggris membuatnya penasaran. Lebih-kurang isinya menuturkan kandungan nutrisi buah baobab. “Buah istimewa ini dijuluki superfruit,” kata Gumilar.

Pohon baobab diyakini mempunyai daya regenerasi tinggi. Pohon yang tumbang pun, selama masih menyentuh tanah, hampir dipastikan akan tetap hidup dan bertunas kembali. Salah satu buktinya dirasakan Gumilar saat pohon di depan gedung rektorat tersambar petir. “Lihat, pohon ini pernah disambar petir, tapi tetap tumbuh daunnya,” kata Gumilar seraya menunjuk pohon raksasa itu.

Pucuk dicita, baobab pun tiba. Gumilar mendapati puluhan baobab raksasa tumbuh di Subang. Dua tempat hidup baobab itu merupakan ladang tebu milik PT PG Rajawali II dan lahan milik PT Sang Hyang Seri. Setelah membahasnya bersama, kedua perusahaan bersedia menghibahkan pohon-pohon baobab kepada UI.

Lalu bagaimana baobab sampai ke Indonesia? Baobab di kawasan Subang diperkirakan ditanam pemerintah kolonial Belanda lebih dari 160 tahun lalu. Bahkan yang lebih tua dibawa para pedagang dari Timur Tengah yang menyebarkan Islam. Selain di Subang, kita bisa melihat baobab raksasa di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur, dan di Nusa Tenggara. “Jumlahnya puluhan saja,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Purwodadi Tuladi.

Peneliti Kebun Raya Purwodadi, Deden Nudiana, menyatakan baobab tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Pohon dari kerabat randu-randuan ini hanya cocok tumbuh di daerah kering atau tepatnya daerah beriklim monsun kering. “Iklim yang tidak cocok bisa membuat baobab tidak berbuah,” katanya. Setahu dia, baobab di Kebun Raya Bogor, yang ditanam berbarengan dengan di Purwodadi pada 1950-an, belum bisa menghasilkan buah lantaran pengaruh cuaca.

Tapi itu bisa berbeda dengan Depok, yang berdekatan dengan Jakarta. Gumilar mengatakan kehadiran ki tambleg di UI mempunyai peran penting. “Baobab kami gunakan untuk konservasi dan riset,” kata Gumelar. Ia yakin berbagai khasiat, fungsi, dan karakteristik baobab berpotensi menjawab masalah manusia di masa depan. Kini krisis pangan sudah di depan mata akibat isu pemanasan global, perubahan iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat. Jika dimanfaatkan, Gumilar yakin, ki tambleg akan menjadi salah satu tumpuan dalam mempersiapkan nutrisi, kalsium, bahan pangan sayuran, dan pengembangan obat-obatan herbal.

Proyek ambisius itu masih harus melalui ujian panjang. Sementara ini, kesulitan yang sudah harus dihadapi adalah semua hal yang berkaitan dengan proses pemindahan pohon-pohon itu. Satu pohon memerlukan enam hari. Selain crane, dibutuhkan truk trailer beroda 26 untuk pengangkutan dari Subang, yang menempuh jarak 135 kilometer selama 17 jam. Biayanya bisa mencapai Rp 100 juta.

Rudy Prasetyo, Ananda Badudu (Depok)

Doktor HC untuk Rektor UI

Rektor UI Raih Doktor Honoris Causa di Inggris

[ Rektor UI Raih Doktor Honoris Causa di Inggris] Rektor UI Raih Doktor Honoris Causa di Inggris

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK–Rektor Universitas Indonesia (UI), Gumilar Soemantri menerima gelar Doktor Honoris Causa di bidang science dari Universitas Loughborough, Inggris, Selasa (20/7). Ia menerima penghargaan karena dianggap berhasil membangun reputasi UI di dunia internasional melalui bidang kerjasama penelitian.

”Penghargaan ini merupakan sebuah apresiasi tidak hanya bagi UI, tetapi bagi masyarakat Indonesia, khususnya pemerintah Republik Indonesia,” ujar Gumilar yang merupakan Rektor termuda UI ini.

Pemerintah, kata Gumilar, terus mendorong perguruan tinggi di Tanah Air untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan riset yang kelak mampu mengulang sejarah bangsa ini menghasilkan karya akademik, seperti penghargaan Nobel, yang bermanfaat luas bagi kehidupan masyarakat dunia.

Univesitas Loughborough merupakan salah satu universitas di dunia dengan reputasi internasional. Universitas ini selama empat tahun berturut-turut, 2006-2009, dinobatkan sebagai universitas terbaik di Inggris untuk kategori ‘The Best Student Experience’. Selain Loughborough, UI juga menjalin kerjasama dengan beragam universitas lain, salah satunya Universitas Oxford.

Rektor UI bicara ttg peradaban

Rektor UI Prof Dr der soz Gumilar R Somantri, berbicara tentang peradaban, peran UI, cluster research, liberal arts dll.
Tolong speaker anda volumenya dikeraskan supaya suara Rektor bisa terdengar lebih jelas.
Pembicaraan ini berlangsung di Mekah dalam kesempatan bapak Rektor umroh beserta keluarga. Hadir dalam acara ngobrol santai selepas buka puasa 15Sep09 ini Dr Muh Idrus Alhamid dan Dr Misri Gozan. REktor berjanji akan memperjelas maksudnya ini dalam bentuk paper beberapa halaman.

Lanjutannya masih ada cerita ttg universitas di Inggris, di video berikut…

Wisuda UI 29-30 Agustus 2008

Wisuda sarjana Univ Indonesia berlangsung tgl 29 dan 30 Agustus 2008. Bagi mereka yang telah lama lulus dari UI mungkin kedengaran aneh bahwa wisuda sekarang ini diselenggarakan 3 kali.

Mengapa koq 3 kali wisudanya ?

Memang demikianlah adanya. Jumat 29 Agustus 2008 jam 14.30, wisuda untuk sarjana S1. Nah nampaknya ini yang paling banyak audiencenya. Bayangkan saja wisudawan/wati S1 reguler saja jumlahnya 2381 orang. Belum lagi ortu handai tolan yang ikut datang hadir tambah lagi dengan mhs baru kira2 3500 orang, semua tumpleg bleg di balairung UI. Waduh.. penuhnya mek.. Besok sabtu pagi jam 9, wisuda untuk master doktor spesialis dan profesi. Sedangkan sabtu 30/08 jam14.30 untuk program diploma. Nah bisa dibayangkan tuh capenya para pejabat UI. Sedangkan yang salam2an dengan ribuan orang itu sudah dilaksanakan kamis sore.

Dan wisuda sarjana ini bukan sarjana S1 reguler saja tapi bareng juga diwisuda S1 ekstensi yang jumlahnya ada 1185 orang, lalu S1 internasional 58 orang.

Jaman sekarang lulusannya pada pinter2… coba bayangkan jumlah yang cumlaude saja ada ada 211 orang… Banyak banget ya… Kalau jaman dulu tuh rasanya nggak ada lulusan S1 cumlaude ? Begtu banyak lulusan kita yang pinter… tapi kenapa negara kita makin ancur ya… gak usah dijawab mo..

Sementara itu dulu laporannya besok diterusin.

***

Nah ini diterusin laporan wisudanya (30 Agustus 2008).-

Dari PPSE (Prog Pendidikan Sarjana Ekstensi) ada juga yang cumlaude, jumlahnya 26 orang… bagus kan ? Dari program sarjana kleas internasional yang cumlaude ada 9 orang. Sedangkan mhs baru program sarjana yang masuk ada 8195 orang.

Rektor UI Prof Gumilar dalam pidatonya menyatakan UI sebagai – flag carriers of the nation – melalui putra/i terbaiknya telah memberikan sumbangan yang berarti bagi tegaknya Indonesia. Oleh karenanya kelangsungan sejarah Univ Indonesia tidak dpt dilepaskan dari perjalanan bangsa dan masyarakat Indonesia. Kita telah memasuki 1 abad kebangkitan nasional dan kondisi yang dihadapi tidak kalah kompleks, kemiskinan, disparitas sosial. Indonesia di awal abad ke 21 ini sedang menjalani titik alih (turning point) di segala bidang. Yang diperlukan saat ini adalah meremajakan visi perubahan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Membangun tulang punggung bansa melalui Universitas adalah pilihan yang harus diambil. kita tidak dapat lagi menjadi bagian dari the silent majority namun harus menjadi the creative minority yang mampu menularkan semangat perubahan pada seluruh penjuru republik tercinta: The Nation in Await. Demikian Rektor.-

HCD UI 2 – Merumput

Band Oke 04, alumni Teknik angkatan 87-89. Mereka berhasil memancing penonton untuk bersama-sama MERUMPUT… alias berjoged diatas rumput. Kelihatan bapak2 Andiba, Montery, Bangsugi… Koq saya gak kliatan ya ?

 

Pagi harinya ada pelepasan balon dalam rangka peresmian track sepeda UI yang baru selesai 10 km dari rencana 20 km. Rektor UI Prog Gumilar dan Menkominfo Sofyan Jalil berpidato.