Invers Turbulent Prandtl Number

Ujian Penelitian II nya Steve, berkaitan dengan

Invers Turbulent Prandtl Number, Viscosity ratio, turbulensi, Reynold, olakan, recirculation, k-epsilon, RNG k-e.

Tokoh-tokohnya Budiarso, Ahmad Indra, Made Kartika, Warjito, Raldi, Engkos.

Seakan-akan hebat…

Iklan

Kultum Raldi 08Juli14

Kultum dari Raldi jelang buka puasa di DTM-FTUI tentu saja sedikit banyak berhubungan dengan inkubator bayi dengan aktitasnya peminjaman gratis untuk gol menengah kebawah. 08 Juli 2014 terimakasih pada pak Syarif yang ambil video.
Aktifitas sosial yang disebut Socio-Technopreneurship sejak Januari 2012 sampai dengan Juni 2014 telah menolong 170 an bayi prematur bukan saja di Jabodetabek tapi juga di 8 kota besar lainnya.

 

Selanjutnya peminjaman gratis ini akan dikembangkan untuk 34 propinsi diseluruh nusantara.

Kick-Andy dan Raldi Brothers

Suatu hari dengan mengambil tempat lokasi di Perpustakaan UI yang menghadap ke Danau UI, Kick-Andy mewawancarai Koestoer Brothers (or Raldi Brothers ya…). Merupakan acara ‘behind the scene’ dari Kick-Andy Outdoor (atau on the spot …saya lupa), Andy Noya mewawancarai dua bersaudara yg mrpkan bagian dari…keluarga Koestoer diwakili oleh yang paling tua Dr Raldianto Spesialis Anak yang menjadi penasehat ahli dari Tim Inkubator Bayi UI dgn Program peminjaman gratis untuk gol menengah kebawah yang diprakarsai oleh Prof Raldi dari DTM-FTUI.
Semoga bermanfaat bagi masyarakat banyak apalagi setelah mendapat bantuan stimulan dari Yayasan Baitul Mal BRI.

Celotehan Mhs Kimia

Artikel ini merupakan salinan dari sebuah blog mahasiswa Teknik Kimia. Nanti dibawah anda bisa lihat addressnya.

-0-

Celotehan Prof. Raldi – Kapsel 5 September 2013. Kamis, 5 September 2013 di gedung K301 diadakan kuliah Kapita Selekta yang diadakan oleh Teknik Mesin Universitas Indonesia, dengan tujuan memahami permasalahan industry dan permasalahan yang dihadapi secara umum; mata kuliah ini tidak memiliki mata kuliah prasyarat pengambilannya, sehingga bisa diikuti oleh mahasiswa Teknik Mesin, Teknik Perkapalan, Teknik Kimia UI, yang sudah menginjak semester 2 keatas. Kamis ini pembicaranya adalah Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA; ia adalah Guru Besar di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang berkeahlian di bidang Konversi Energi. Seperti kebanyakan dosen Teknik Mesin, ia juga dosen yang suka humor dan berprestasi, dan sudah banyak bisnis teknologinya (teknopreneurship).

Tema yang dibahas kali ini cukup banyak, karena ini seperti celotehan dari Prof Raldi untuk penerus bangsa Indonesia ini. Tema pertama adalah tentang seni musik dalam kegiatan akademik. Sebagai orang yang suka musik Beliau menunjukan kepada kita para mahasiswa bagaimana peraturan main di penampilan musik klasik, kami para penonton harus datang memakai jas (berpakaian rapi) dan datang tidak boleh terlambat, karena pintu masuk ruang acara akan ditutup sampai penampilan berakhir, dan disaat permainan berlangsung para penonton harus diam untuk mendengarkan musik klasik yang dimainkan tanpa bantuan mic ataupun alat elektronik lainnya, suara musik ini sudah cukup diperbesar dengan bantuan perlengkapan di belakang pemain gitar klasik tersebut. Beliau bercita-cita dari saat remaja sebagai pemain band tetapi cita-cita beliau tidak sama dengan kehendak orang tuanya yang ingin beliau menjadi seorang engineer, walaupun begitu ia tetap bisa melakukan keduanya, walau diwaktu yang berbeda. Inti yang dimaksudkan oleh Prof. Raldi adalah jadilah apa yang menyenangkan diri Anda (bisa saja berkembang di akademik dan bisa juga di luar akademik); dan bercita-citalah sebesar-besarnya karena dengan disertai doa dan usaha, cita-cita kita akan terkabul disuatu saat nanti karena hanya Tuhan lah yang tahu waktunya. Komentar pribadi, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Prof. Raldi dan ingin menambahkan tentang Tuhan akan memberi pada waktu yang tepat.

Tema kedua adalah tentang pesan kapita selekta ini adalah writing with blogging. Karena jaman sekarang ini teknologi sudah maju, maka nilai edukasi / akademis itu bernilai jika tertulis dalam suatu yang bisa dibaca oleh umum (baik buku, blog, koran). Beliau juga seorang blogger yang cukup aktif. Inti yang diberikan : tulislah apa yang bisa kita sharingkan kepada orang lain sehingga orang lain juga mengetahui kesalahan-kesalahan maupun keberhasilan-keberhasilan yang kita buat dan sudut pandang lain atau baru tentang suatu permasalahan. Komentar pribadi, saya juga dulu sering blogging, tetapi lama kelamaan hal itu berkurang dan sekarang dimulai dengan hal ini saya akan mulai post hasil kapita selekta setiap minggunya.

Tema ketiga adalah dunia bisnis dan profesi untuk Indonesia masa depan dan energy Indonesia tahun 2030. Beliau mengungkapkan kesalahan Indonesia dalam masalah pemerataan penduduk dilihat dari jumlah energy listrik yang didistribusi 80% adalah untuk Jawa, Madura, Bali dan sisanya baru ke lainnya. Diharapkan pemerataan ini dimulai dengan pemaanfaatan energy geothermal yang belum dimaanfatkan oleh Indonesia, yang sebagaimana kita ketahui Indonesia adalah termasuk Negara yang dilewati oleh ring of fire. Beliau juga mengungkapkan tentang dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) untuk EBT (Energy Baru dan Terbarukan) tahun 2006 hanya 3% dan sampai tahun inipun masih bernilai yang sama. Diharapkan oleh beliau Indonesia dimasa yang akan datang bisa menyamakan nilai dana EBT sama dengan kebutuhan untuk minyak, batubara dan gas; agar Indonesia bisa bertahan bahkan maju karena negara kita ini kaya akan sumberdaya alamnya. Untuk memajukan Indonesia, Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur (tidak korupsi) maka bawahannya juga bisa dibenarkan secara hukum, seperti Jokowi-Ahok yang sudah mempraktekannya; dan juga Indonesia memang masih dikekang oleh Negara-negara asing, hal ini dibuat agar Indonesia tidak maju, untuk mengatasi ini Pemerintah harus mengembangkan usaha-usaha dalam negeri dengan bantuan dana, maupun membeli barang produk sendiri apalagi untuk teknopreneurship itu susah sekali untuk tetap bertahan apalagi jika tidak ada yang menyediakan dana. Komentar pribadi, untuk pemerataan hal ini bisa dibuat jika Indonesia dibuat Negara bagian(maksud saya masing-masing daerah harus mampu menghasilkan dana sendiri untuk daerahnya, maka mereka akan berusaha membuat lapangan kerja dan industry sendiri agar tidak memakan dana yang besar); untuk EBT saya setuju karena dengan riset-riset memajukan EBT tersebut Indonesia bisa menjadi Negara maju; untuk pemimpin yang jujur, saya setuju juga tetapi memang lebih baik lagi jika semua orang(atasan maupun bawahan) memiliki hati yang suci dan benar; untuk memajukan wirausahawan itu sangat benar, di Indonesia menurut saya masih sangat kurang pengusaha-pengusaha yang awalnya didanai oleh pemerintah.

Pesan tambahan dari Prof. Raldi adalah masalah tepat waktu, hal ini bisa dilihat dari Negara-negara yang maju seperti Jepang, Singapur,dll. Mereka tidak pernah main-main dengan waktu, telat sedikit saja Anda bisa kehilangan kesempatan bisnis Anda. Pesan lainnya yaitu, orang kaya pasti sombong, tetapi orang kaya sekali malah rendah hati, maka dari itu kita harus rendah hati dahulu biar nanti kaya raya :)

Kritik untuk Prof. Raldi: Terimakasih sudah membuka sudut pandang baru tentang apa yang terjadi di Indonesia, tetapi jangan cepat menyerahkan masalah itu kepada kita saja, Bapak juga masih bisa membenarkan Indonesia selama Bapak masih berkontribusi di Negara ini :P

Saran untuk semua yang ikut kapsel maupun yang membaca post ini, lakukan semua yang diberitahukan Prof. Raldi, karena tujuannya baik dan bermanfaat bagi kita maupun sekitar (Negara).

 -0-
Berikut ini addressnya.
Sorry ternyata ybs mhs Mesin bukan Teknik Kimia…

Raldi Talkshow Net.TV

Talkshow di Net.TV tgl 12 Nov 2013 tentang peminjaman gratis inkubator bayi untuk di rumah.

Karena talkshow video, lebih baik kita dengarkan dan lihat saja.

Mohon do’anya semoga bisa dikembangkan di 34 provinsi seluruh Indonesia.

-0-

Komen seorang kolega muda:

“profesor Teknik Mesin Universitas Indonesia ini tidak mempermasalahkan jika inkubator miliknya ditiru orang lain” ucap prolog acara..

“gak pentinglah itu buat saya. yang penting adalah,, emmm kita sudah menolong masyarakat yang membutuhkan…”, tambah lagi beliau…

aih aih.. subhanallah sekali… takjub saya… udah gratis, anti paten pula…
ayo ayo, bantu sebar info peminjaman gratis ini. demi mengangkat nama almamater, sekaligus kalimat ke-tiga tridharma PT.
cukup twit video / blog beliau di twitter. atau bisa juga facebook, atau lewat millist.. yang punya blog, mungkin bisa me-reblog posting di laman blog beliau…

 azimil.
Salah satu komen dari FB:
Imam Muhyidin Allah hu Akbar… sukses Prof.. kami sekeluarga turut mendoakan kesuksesan Prof dan Team DTM UI… sekalian sharing anak kami yang telah dipinjamkan incubator dari saat ini BB telah 3,2 kg dari awal 1,5 kg… Alhamdulillah sungguh mulia…

Beasiswa EROPA

TECHNO selection process sumary
TECHNO Project
July 2011- July 2015
Erasmus Mundus Partnership – Strand 1 lot 13
In order to facilitate your understanding of TECHNO selection process you will find in writing below
each step to take making selection process easier and successful.
1. ELIGIBILITY CRITERIA FOR APLICANTS
TO BE ELIGIBLE APPLICANT MUST REQUIRE BELOW CONDITIONS

 

Lihat lanjutannya di:

https://koestoer.wordpress.com/beasiswa-ln/beasiswa-erasmus-mundus/

 

Semoga bermanfaat.-

Peer Review

Proses untuk menjadi Guru Besar tidaklah mudah. Setelah melalui jabatan Lektor Kepala, dosen harus mengumpulkan sejumlah angka kredit (kum) tertentu baik untuk bidang penelitian maupun pengajaran. Di DTM Dep Teknik Mesin proses ini sudah berjalan relatif lancar dimana angka kredit yg diajukan diseleksi dulu oleh Peer secara internal. Kemudian akan dikirim juga ke external reviewer dari Universitas lain.
Kali ini Peer untuk kandidat GB

M Idrus Alhamid

sedang bekerja. Lihat mereka dengan serius membahas paper2 yg diajukan. Diantaranya adalah Prof Nandy Putra,Prof Yulianto, Dr Gandjar dan prof Raldi.

Biofuel dari lumut

Salah satu pengembangan energi alternatif ii adalah Bahan Bakar Nabati. DI Depok telah dikembangkan Biofuel yang berasal dari lumut (algae atau ganggang). TPLIT Depok di desa Sukmajaya yaitu tempat pembuangan limah manusia… maaf ..tinja. Disitulah telah di kembangkan ganggang yang memakan kototran2 atau CO2 yang kemudian dengan melalui beberapa proses fermentasi bisa didapatkan minyaknya yaitu biofuel yang selanjutnya dipakai sebagai aditif premium. Oktan yang didapat dengan campuran 5-10% bisa meningkat menjadi setara pertamax bahkan pertamax-plus.
Kunjungan mahasiswa mesin FTUI diprakarsai oleh dosen KKE pak Raldi yang mendapat akses ke TPLIT ini dari ahli ganggangnya sendiri Prof Ricky S. Wee. Visit dilaksanakan pada tgl 26 Feb 2011 sebagai kelanjutan dari kuliah energi alternatif pada mata kuliah KKE (Konversi dan Konservasi Energi) dimana satu sessi diisi oleh pak Ricky dengan memperkenalkan Bahan Bakar Nabati dari ganggang ini. Ganggang ini menyerap banyak CO2 sehingga TPLIT ini tidak berbau samasekali… oke kan ?
Sudah lebih dari satu bulan mobil saya panther menggunakan biodiesel dari lumut ini dan walaupun hanya dirasakan saja (oleh supir saya) kelihatannya memang jadi lebih baik kinerjanya. Pertama yang jelas jadi lebih hemat, lalu getarannya lebih halus dan pada kecepatan tinggi terasa lebih stabil. Mereka yang memakai biofuel ganggang ini (premium), laju kecepatan jadi meningkat, apalagi motor. Mahasiswa semua motornya dikasi biofuel, dan ternyata mereka bilang jadi lebih enak dan lebih laju.
TPLIT – Tempat Pembuangan Limbah Terpadu.
-0-
Penelitian tentang bahan bakar nabati pada dasarnya telah dilakukan selama beberapa puluh tahun terakhir (teks ini bahannya ngambil sana sini dari internet terutama). Berbagai jenis bahan bakar nabati dikembangkan mulai dari Jagung, Singkong, Jarak dan beberapa bahan pangan lainnya juga telah dilakukan. Selain bahan pangan yang telah disebutkan tadi, pengembangan bahan bakar nabati dari Alga (ganggang) juga dilakukan, terutama oleh negara negara maju seperti Amerika, Jerman, Jepang dan negara maju lainnya.
Mereka telah membuat penelitian dan pengembangan alga secara alamiah dengan ataupun dengan bio reaktor yang dikelola secara modern dengan peralatan modern yang berharga milyaran dolar. Namun sampai saat ini terkait dengan isu global warming, banyak perusahaan-perusahaan di dunia yang berusaha mencari “alternative fuel” dengan prinsip ramah lingkungan alias ” Go Green”, contohnya, perusahaan penerbangan raksasa British Airways dan Airbus mensponsori penelitian yang dilakukan Universitas Cranfield, Inggris. Tim Peneliti ini mempelajari cara memanen ganggang (algae) untuk bahan bakar pesawat jet. Ganggang dapat dapat diolah menjadi bahan bakar ” biofuel” dengan kandungan karbon yang rendah, ekonomis, dan ramah lingkungan. Ganggang dipilih karena tidak bersinggungan langsung dengan kapasitas sumber pangan manusia. Ganggang juga tidak merampas lahan pertanian. Tantangannya adalah menyediakan bahan bakar bio dalam jumlah besar yang cocok untuk segala jenis pesawat yang ada tanpa mengubah mesin. Anggota Tim Peneliti dari Universitas Cranfield menyatakan bahwa ganggang dapat diproduksi secara komersil dalam kurun waktu 4 tahun mendatang. Ganggang memiliki keunggulan dibandingkan “biofuel” yang lain yakni bisa dipanen setelah berumur 7-12 hari, atau 30-50 kali dalam setahun. Penerbangan dengan biofuel diperkirakan dapat mengurangi emisi gas CO2 lebih dari 80 persen, dan biaya bahan bakar juga semakin ekonomis.
Kebanyakan penelitian yang dilakukan di negara-negara maju mengalami hambatan karena mereka hanya memiliki musim panas selama 4 (empat) bulan setiap tahun. Hal ini berdampak pada biaya operasional yang sangat tinggi karena pengembangbiakan alga tersebut harus dilakukan di dalam ruangan dalam kondisi temperatur yang harus dijaga agar alga dapat tumbuh dengan baik. Proses ini membutuhkan biaya yang sangat besar sehingga skala ekonomis untuk produksi massal belum tercapai.
Perbedaan sangat besar terjadi dengan kondisi alam di Indonesia. Matahari bersinar sepanjang tahun atau 365 hari setiap tahun selama lebih dari 10 jam per hari. Alga (ganggang) memerlukan sinar matahari untuk menghasilkan fotosintesa dengan menyerap CO2 dan menghasilkan O2 untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, iklim di Indonesia sangat cocok untuk produksi Alga dalam jumlah besar, baik untuk jenis alga air tawar ataupun alga air laut. Sumber daya alam yang melimpah juga mendukung produksi Alga dengan biaya murah dan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan produksi di negara lain.
Dampak positif lain yang tidak kalah pentingnya dari pengembang biakan Alga ini adalah proses produksi akan mengurangi kadar CO2 di udara, dan menghasilkan O2 untuk lingkungan udara yang cukup baik.

Ketakutan Ketemu Dosen

Ini ceritanya Marjo dan Wawan. Keduanya mahasiswa Tugas Akhir Skripsi saat ini di Dep Teknik Mesin FTUI.

***

THE MASSIVE: JANGAN MENYERAH

Nama saya Marjo, saya adalah salah satu mahasiswa Program Pendidikan Sarjana Ekstensi (PPSE) departemen teknik mesin Universitas Indonesia angkatan 2008. Saya mengenal Prof.Raldi AK dari seorang mahasiswa S3 yaitu Dr. Harun Al Rosyid. Tapi tidak hanya beliau yang bertanggungjawab dalam hal perkenalan saya dengan Prof Raldi, melainkan ada dua nama lagi yaitu Dr. Nasrudin dan Hilman Alfian ST.

awal cerita saya diberitahu oleh rekan saya yaitu saudara Hilman bahwa Dr. Nasrudin membutuhkan beberapa mahasiswa untuk membantu penelitian mahasiswa S3, dalam hal ini adalah penelitian yang sedang dilakukan oleh Pak Harun untuk mendapatkan gelar Doktor. Setelah mendapatkan izin dari orang tua, maka saya dan saudara Wawan Mardiyanto mendaftarkan diri dan langsung diterima tanpa ada tes tulis maupun wawancara. Sejak saat itu kami berdua resmi membantu pak Harun. Karena pak Harun juga sedang menjalani bimbingan dengan Prof Raldi, maka secara garis komando saya juga termasuk mahasiswa yang dibimbing oleh prof Raldi meskipun saat itu tugas saya hanya membantu pak Harun.
Interaksi pertama saya dengan prof Raldi adalah pada saat presentasi progress penelitian pak Harun, pada saat itu saya dan Wawan diminta menjelaskan progress mengenai rencana operasi lab PLTU mini yang berada di DTM. Sebagai mahasiswa tentu perasaan cemas, takut dan deg-degan tidak bisa saya hindari. Apa lagi ini adalah presentasi pertama saya di hadapan Prof Raldi. Jika mencari kiasan, maka saya akan ambil suara bedug malam lebaran, begitulah suasana yang terjadi di dalam dada saya. Suara gemetar tidak bisa saya sembunyikan.
Dalam beberapa kesempatan saya di ajak pak Harun untuk ikut serta menghadap prof Raldi di ruanganya. Kesan yang saya dapat jika berada di ruangan prof Raldi adalah horor, suasananya tidak jauh berbeda seperti waktu pertama kali saya belajar duck dive di laut pulau pramuka. Perasaan horor takut tiba-tiba ada piranha, takut tiba-tiba ada hiu dan ketakutan lain yang muncul ketika pertama kali berada di laut. Setiap kali pertemuan dengan prof Raldi, saya memposisikan diri diam tanpa bicara kecuali jika ditanya, dan saya yakin jawaban saya sangat tidak bermutu. Mungkin kecemasan saya ini tergolong stadium tiga, tapi apa mau dikata, ini adalah pengalaman yang luar bisa bagi saya berada diantara Professor dan calon Doktor yang sedang berdiskusi. Maka saya berfikir siapalah bocah PPSE ini.
Dua semester berlalu, dan tiba saatnya pak Harun untuk sidang Doktoral. Saya diminta membantu menyiapkan segala urusan yang berkaitan dengan sidang. Dan pengalaman yang tidak terlupakan dari persiapan itu adalah saya diminta menjemput Prof.Dr.Peng.A.Mohamad dari University of Calgary Canada di peninsula. Dengan modal informasi nama dan lokasi hotel, saya datang ke peninsula. Saya tidak tahu bagaimana wajah dari si professor ini, saya hanya diberi nama. Saya duduk di loby hotel, setiap ada mobil berhenti dan yang turun orang bule, maka saya pasang mata elang. Kejadian ini berulang-ulang sampai 4 kali. Tiba-tiba Wawan memberi ide brilliant mengetik nama si professor di google, maka muncullah beberapa photo. Sialnya Hp si Wawan bukan keluaran terbaru, jadi photo orang di layar kelihatan buram. Lengkap sudahlah penderitaan di penin sula. Saya telfon pak Harun menanyakan ciri-ciri perawakan dari si professor. Sekarang ciri-ciri fisik sudah saya tulis di note. Saatnya menunggu bule turun dari mobil, setengah jam berlalu dan tidak ada bule yang masuk hotel. Saya datangi meja recepsionist hotel meminta sedikit pertolongan. Sedang asik berbincang, muncul seorang bule. Si bule ini menyebutkan namanya dan menanyakan kamar yang sudah dipesan. Wah ini dia orang yang dicari, dengan modal bahasa inggris taman kanak-kanak saya beranikan menyapa beliau. Akhirnya target berhasil ditemukan dan suasana menjadi lega kembali. Saya ajak beliau duduk di loby. Kata pertama yang beliau ucapkan adalah “hot”. Oh iya mister, Jakarta emang hot.
Akhirnya pak Harun dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Doktor. Sekarang giliran saya yang menjalani bimbingan dengan prof Raldi. Suasana hati kembali bergejolak, perasaan deg-degan tidak bisa dilenyapkan setiap kali bertemu dengan beliau. Saya ingin mengenal lebih dalam tentang beliau, tapi apa daya, keberanian selalu diam diparkiran setiap kali berada di kampus. Saya paksakan berkali-kali tapi tetap saja grogi. Saya teringat lagu “jangan menyerah” the massive. Ah tapi tetep aja deg-degan.
Suatu ketika dimeja beliau saya melihat ada buku bersampul warna kuning dengan judul “buku dua dekade”. Tring…tiba-tiba saya menemukan ide. Saya harus baca buku itu. Niat awalnya ingin pinjem, tapi tidak berani. Akhirnya saya temukan di blog beliau. Saya download dan mulai membacanya. Meskipun belum semua saya baca, tapi buku itu sudah menyelamatkan saya dari perasaan deg-degan yang berlebihan. Saya belum bisa bilang kalau perasaan itu sudah hilang, tapi setidaknya sekarang sudah berkurang dan keberanian untuk belajar dari beliau sudah muncul.
Proses bimbingan terus berlanjut dari minggu ke minggu. Berkat kesabaran beliau saya mulai memahami sedikit demi sedikit tentang PLTU. Satu hal yang selalu beliau tekankan adalah kita harus mengerti dan paham tentang masalah yang sedang dihadapi. Memang ada beberapa kendala ketika dunia buku dibawa kedalam kenyataan. Maka tidak heran jika untuk mengeplot diagram T-S saja saya membutuhkan waktu 4 minggu. Kendala yang dihadapi adalah dari titik pengukuran yang sesuai dengan diagram. Secara teori saya sedikit paham, tapi begitu mendapat data operasi dari lab PLTU mulai timbul permasalahan. Ada Sembilan titik pengukuran tekanan dan Sembilan titik pengukuran temperature. Saya jadi linglung titik mana yang harus dipakai untuk menggambar diagram T-S. Baru disuruh menggambar saja saya sudah bingung, apalagi nanti disuruh menghitung. Waduh lagu the massive terngiang kembali.
Datang lagi, salah lagi, bingung lagi. Kemudian datang lagi, salah lagi dan bingung lagi. Ini bimbingan terdahsyat yang pernah saya alami. Setelah menjalani 4 minggu akhirnya sekarang sudah mulai ada titik terang. Prof Raldi selalu memberi semangat untuk terus belajar. Soal dimarahin itu sudah resiko. Anggap saja ini sedang DIKLAT SAR atau LDK yang tentunya memiliki tujuan postif dan berguna dalam hidup saya ke depan.
Meskipun saya cenderung lambat dalam pergerakan, tapi beliau selalu sabar sedikit demi sedikit mengarahkan dan menjelaskan. Diskusi mengenai diagram T-S, P-h dan h-S sudah ada kemajuan. Tapi ini baru permulaan, katakanlah ini baru tes pendahuluan saja. Masih ada inti permasalahan yang harus di diskusikan dengan beliau. Semangat harus tetap membara, harapan harus tetap ada karena ridho guru adalah yang utama.
Ini sekedar tulisan, hanya ingin sharing tentang pengalaman. Jika kurang berkenan mohon dimaafkan. Scripta manent verba volant (Leo Tolstoy).

Depok 05 Feb 11
Marjo

——————————————————-

Selingan video, kelas KKE 2011

——————————————————-

GAK PENTING LULUS YG PENTING NGERTI

Oleh: Wawan

Pada awalnya saya bertemu dengan Pak Harun, beliau merupakan salah satu mahasiswa S3 di UI lewat perantara Pak Nasrudin. Bersama teman saya Marjo, kami diminta untuk membantu Pak Harun dalam penelitian tentang PLTU mini yang dimiliki oleh Departemen Teknik Mesin UI. Meskipun pada akhirnya semua yang kami lakukan ternyata bukan sepenuhnya untuk penelitian Pak Harun tetapi untuk penelitian kami sendiri.
Perkenalan dengan Pak Nasrudin dimulai dari marjo yang tiba-tiba mengajak saya untuk bertemu dengan beliau untuk urusan tugas akhir. Tanpa berpikir panjang dan tidak tahu tugas akhir apa yang nanti akan diberikan kami langsung berangkat. Sampai diruangan dosen saya bertemu Pak Nasrudin, kemudian marjo memperkenalkan saya kepada beliau. Sambil bersalaman dengan saya beliau mengatakan “Selamat Bergabung”, tetapi saya berbicara dalam hati “bergabung???, bilang iya aja belum”. Mungkin saya sudah “kecemplung” dan tingggal satu cara untuk bertahan yaitu berenang, beruntung materi tugas akhirnya tentang PLTU yang sesuai dengan minat saya.
Pertemuan tersebut kemudian berlanjut hingga pada akhirnya kami dapat mengoperasikan PLTU dan sudah mulai untuk mengambil data untuk penelitian. Setelah sebelumnya kami telah melakukan beberapa perbaikan pada PLTU tersebut, dari mulai membersihkan sampai mengganti dan menambahkan beberapa komponen dari PLTU. Ada pengalaman menarik saat kami harus melakukan perbaikkan pada tangki kondensat dengan cara hot deep yaitu proses pelapisan dengan menggunakan logam. Untuk melakukan hal tersebut kami harus membawa tangki tersebut kesebuah tempat didekat terminal pasar senen. Dimulai dengan melepaskan mur dan baut yang terpasang pada tangki kemudian mengangkatnya keluar. Massa dari tangki tersebut yaitu 60 kg, lumayan berat tetapi kami yakin akan lebih berat lagi mengingat perjalanan yang cukup jauh. Kami berencana membawanya dengan menggunakan bis, karena keterbatasan alat transportasi dan dana pastinya.
Dari lab, kami membawa tangki tersebut dengan menggunakan lori menuju halte teknik kemudian menaiki bis kuning. Didalam bis tampak mahasiswa lain melihat kami dengan tatapan aneh, mungkin mereka berpikir “ngapain nih orang bawa tempat sampah?” karena bentuknya yang memang mirip ditambah lagi dengan warnanya yang kuning. Setelah itu kami berganti bis dengan jurusan senen yang tampak penuh sesak ditambah dengan seorang pengamen.
Tibanya di senen kami menggotong tangki seberat 60kg tersebut kesebuah perkampungan didalam gang yang sempit, jaraknya sekitar 100m dari pinggir jalan, lumayan jauh. Untung saja kami sudah melakukan survey terlebih dahulu, jadi kami lebih siap secara fisik dan mental. Tetapi tidak dikira akan seberat ini menggotongnya, baru setengah perjalanan keringat sudah menetes, tangan sudah gemetaran dan mati rasa. Memang sulit sekali mencari pegangan yang pas untuk menggotong tangki ini. Setelah beberapa kali istirahat sejenak akhirnya kami sampai dilokasi.
Setelah bernegosiasi harga dengan pemilik toko, kemudian ia bertanya “Mas, tadi tuh barang dibawa kesini pake apa?” lalu kami menjawab “ digotong pak”. Sambil tertawa dia komentar “ kenapa ga pake lori saya aja mas?” dengan ketawa yang lebih keras saya berkata “Siaaaal…..”
Setelah beberapa hari, tangki pun sudah jadi dan siap untuk diambil. Kami tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali, akhirnya kami memakai lori dan diantarkan oleh kuli juga. Dengan menaiki bis jurusan depok akhirnya kami sampai dihalte dekat makara UI, melihat jembatan penyeberangan merupakan satu satunya jalan menuju halte bis kuning kami jadi ragu menaikinya. Dengan bermodal 20ribu kami lalu menggunakan taksi dan tibalah kami di lab, akhirnya…..
Setelah data dianggap cukup, kami harus mempresentasikan hasil kerja kami kepada seorang dosen, bukan kepada Pak Nasrudin tetapi kepada Prof. Raldi Artono Koestoer. Itu merupakan awal pertemuan dengan dosen pembimbing kami. Kesan pertama yang saya dapat dari pertemuan tersebut adalah “tegang” tetapi sedikit lebih rendah levelnya dibandingkan “horor” karena saya melakukan presentasi didepan professor yang belum saya kenal sebelumnya dan beserta handycam yang selalu dibawanya. Walaupun kami sering melakukan presentasi dikelas sebelumnya, entah mengapa yang ini berbeda.
Pertemuan tersebut mengawali pertemuan-pertemuan kami selanjutnya tetapi tidak merubah rasa “tegang”. Prof. Raldi merupakan orang yang sedikit sekali berbicara, tampaknya beliau lebih senang mendengarkan orang lain berbicara. Hal tersebut membuat kami harus lebih banyak berimprovisasi untuk mencairkan suasana. Tetapi ada hal unik dari beberapa kali kami presentasi, beliau dua kali saya catat sedang memejamkan matanya. Entah sedang mengantuk atau memang presentasi kami yang benar-benar membosankan. Kadang juga sering seperti diacuhkan, mungkin beliau sudah tahu apa yang akan kami bicarakan.
Buat saya, pertemuan dengan beliau serasa sedang mengahadapi ujian prasidang. Beliau banyak mengajukan pertanyaan yang membuat kami sampai pada suatu titik dimana kami sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan tersebut. Yang paling memusingkan adalah beliau tidak akan memberikan jawabannya tetapi beliau hanya akan mengarahkan saja dan kami sendiri yang harus mencari tahu jawabannya. Tetapi saya senang dengan hal itu karena membuat kami lebih siap untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan pada saat sidang nanti.
Kata-kata yang paling saya ingat ketika kami keluar dari ruangan adalah “kalian jangan kapok ya saya marahi”, karena beliau memang lumayan sering memarahi kami terutama kalau kami memberikan jawaban yang salah. Untungnya hal tersebut hanya dilakukannya pada awal-awal kami bertemu, mungkin itu bagian dari ospek beliau pada mahasiswa bimbingannya. Ada juga kata-kata dari beliau yang berkesan yaitu ketika akhir dari semester ganjil kemarin beliau berkata kepada saya “buat apa kamu lulus cepat kalau kamu tidak mengerti apa-apa, lulus itu tidak penting yang penting kamu mengerti”. Perkataan itu membuat saya semakin semangat untuk lebih mendalami materi.
Sudah satu tahun lebih pengerjaan skripsi yang saya lakukan belum juga selesai, mungkin pada semester genap ini saya bisa menyelesaikannya. Tetapi empat minggu terakhir sebelum tulisan ini dibuat sepertinya angin segar sudah mulai berhembus, beliau sudah mulai terbuka dan berbicara banyak pada kami. Serta sedikit demi sedikit kami mulai mengerti apa yang beliau mau. Semoga ini menjadi awal yang baik.

Terima kasih

Wawan Mardiyanto

Laskar Sepeda CSR Pertamina


Lihat video picture penyerahan sepeda pada sekolah negeri di Medan

http://www.facebook.com/home.php#!/video/video.php?v=457002794284

Pertamina tahun 2010 ini telah melaksanakan program CSR (Community Social Responsibility) dengan mencanangkan aktivitas Laskar Sepeda. Jadi di beberapa sekolah dibagikan sepeda yang intinya digunakan untuk murid2 bertransportasi dari rumah ke sekolah. Program ini dengan sendirinya juga mendukung program Lingkungan Hijau dan sehat dengan menggunakan sepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Telah dipilih beberapa daerah dimana Pertamina banyak beraktifitas yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Semarang dan Surabaya.

Kerjasama telah direalisasikan dengan nyata antara banyak pihak diantaranya Pertamina, PSSI (Persatuan Sepeda Sekolah Indonesia), FTUI, PT SUI (Sekawan Utama Int), PT SAE. Kerja tim ini dimotori oleh banyak tokoh yang telah mulai beraktifitas sejak bulan Juli 2010. Mereka diantaranya Julian (Ptm), Habe Arifin, Ahmad Rizali (PSSI), Raldi, Hendri (FTUI), Dedi Rahmat, Ismail H, Dedi Heri, Muh Reza, Ramadita Budhi, Yudha (PT SUI), Yong, Pamuji (PT SAE).

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan CSR BUMN yang betul-betul bisa berguna untuk masyarakat dan rakyat kita.  Tanpa perlu banyak birokrasi, tanpa banyak tanda tangan, tanpa perlu upacara, tanpa perlu formil2an… KERJAIN AJAH…-

CSR-DTMFTUI

CSR maksudnya anda tahu dong ya… Ya’  betul Corporate Social Responsbility. Kalau ingin tahu definisi yang lebih dalam tapi lebih bego bisa dilihat teks berikut dari internet:

Corporate social responsibility (CSR), also known as corporate responsibility, corporate citizenship, responsible business, sustainable responsible business (SRB), or corporate social performance,[1] is a form of corporate self-regulation integrated into a business model. Ideally, CSR policy would function as a built-in, self-regulating mechanism whereby business would monitor and ensure its support to law, ethical standards, and international norms. Consequently, business would embrace responsibility for the impact of its activities on the environment, consumers, employees, communities, stakeholders and all other members of the public sphere.

Jadi kira2 institusi besar harus memberi dampak positif pada lingkungannya baik manusia maupun yang bukan manusia. Dampak positif tersebut harus menjadi bagian program dari institusi besar tersebut. Kalau di negara ini maka isntitusi besar tersebut diidentikkan dengan perusahaan besar  seperti Chevron, Freeport, Newmont dll. Lalu selain dari nama2 gorila tersebut masih ada yang berbaju batik misalnya Pertamina, Aneka Tambang, Sampoerna Strategic Square (tripel S dong ya…) dll. Nah mereka2 itu punya program CSR dengan caranya masing2.

Tapi sekarang bukan gorila2 itu aja yang punya program CSR… tapi… DTM FTUI Departemen Teknik Mesin FTUI punya program CSR. Gak percaya kan ?

Institusi yang skalanya segede monyet kecil ini ternyata tidak kalah niatnya dengan para gorila itu. Program CSR DTM FTUI diwujudkan dengan memasukkannya menjadi bagian dari program besar DTM yang dikenal dengan nama IMHERE… ha..ha..ha.. jargon apa pula ini ?

IMHERE singkatan dari Indonesia – Managing Hire Education for Relevance and Efficiency. Lho..lho.. koq Hire sih… Salah dong ! Yang bener tuh ‘Higher’.  Nah gitu jadi persitas deh kelihatannya. Kalau mau tahu lebih banyak tentang IMHERE ini, ada 3 orang yang paling tahu, yaitu 1) Harinaldi 2) Gandjar Kiswanto 3) Agus Pamitran.  Sedangkan saya cuma tahu subprogramnya yang berkaitan dengan CSR ini yang disebut:

ATI singkatan dari Appropriate Technology Implementation.

Produk penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan di DTM FTUI yang sudah mature menjadi produk teknologi yang bisa digunakan masyarakat banyak, didorong untuk betul2 bisa memasyarakat. Ada 3 produk yang terpilih, karena memang dianggap sudah bisa digunakan langsung oleh masyarakat domestik, yaitu:

1)  Sepeda Lipat, yang diriset dan dikembangkan oleh Hendri DS Budiono. 2) Vaccin-Carrier dikembangkan oleh Nandy Putra dan 3) Inkubator bayi, yang sudah lebih dahulu dimasyarakatkan oleh Raldi dengan  PT SUI (induk dari MSU pemegang merk Medixe).

Program insentif ini memacu semangat para dosen, utamanya tentu di DTM sendiri. Sehingga kemudian beberapa peralatan baru telah dan akan dikembangkan diantaranya yang sudah jadi adalah Alat Pemadam ukuran kecil (maaf saya lupa namanya dikembangkan oleh Yulianto) dan tahun ini Ardiyansyah akan membuat Steriliser, dimana prototipe awalnya sudah diselesaikan tahun lalu.

Masih banyak produk2 lain yang sedang dikembangkan dan diusahakan untuk bisa secepatnya dimasyarakatkan dengan berbagai upaya, sekalipun mekanismenya di UI ini sendiripun belum ada. So… masa’ sih kita gak bisa bikin terobosan.

Manfaat positifnya amat banyak. Kita ambil contoh deh salah satu produk mobil Korea. Pada awalnya tentu mereka susah unutk memasarkan mobilnya, tetapi pemerintah Korea dengan amat konsisten membeli mobil2 buatan Korea sendiri. Jadinya perusahaan mobil mereka KIA, DAEWO dll itu jadi hidup dan mampu bersaing kemudian. Bahkan bersaing dengan Jepang sekalipun.

Kalau produk bangsa sendiri bisa dipakai sendiri… Boleh dong kita bangga. Berapa banyak tenaga kerja bisa terserap, tak usah disebut deh, banyak pastinya. Belum lagi bila peralatan kita berkaitan dengan alat kesehatan seperti dua produk diatas… berpa banyak jiwa yang bisa tertolong. Yang kejadian sekarang apa ? Coba mampir ke Rumah Sakit. Yang sakit bangsa kita yang untung bangsa lain, karena semua peralatan kesehatan buatan Luar Negeri.

Eh… Daripada ribut2 tak karuan… Yuk kita berbuat sesuatu.-

Mari kita lihat foto dan videonya.

videocsrdtm

HOME COMING DAY UI 31Juli2010

“Home coming Day UI 2010:

Hari Pulang Kampus Alumni UI”,

Sabtu 31 Juli, di Kampus UI Depok,

jm 7:00~21:00.

Acara bermacam2,

spt Aerobic/Senam Bersama,

Lomba Perahu Alumni di Danau UI,

Campus Bike,

Games,

Pameran & Pasar Kampus, dll,

srta pnampilan musik Artis2 Alumni UI dgn nama

“ZONA MEMORI ALUMNI UI: Penampilan Artis2 Alumni UI mulai zaman Kampus Salemba, Rawamangun hingga Depok”.

Acara ini ddukung oleh Zona Memori METRO TV & akn ditayangkan ON AIR.

Ada juga lho Antek (Anak Teknik) yang akan tampil di panggung,… udah tahu kan ?

Iya betul…

RALDI & NANTA FRIENDS

Raldi flute vocal, Nanta Bass, Iyan piano, Aldi drum, semua dari Teknik.

mereka akan turut menghibur anda 15 menit dipanggung.-

Salam, Arie Soesilo/Dir Hub Alumni UI/Pnggung Jawab Acara.

——————————–

Dari kampus FTUI:

Ini acara luarbiasa… ayo datang ramai2

Jangan lewatkan kesempatan ini,

Yang Tua, Yang STW (1/2 Tuwa) dan Yang Muda… Semua sama2 kumpul.-

Lihat juga hasil karya alumni dan mahasiswa UI.-

Diskusi Pengukuran Termoelektrik

Ferdiansyah mhs S2, Zuryati Jafar mhs S3, Raldi mhs S4, semua anak buah

Prof Dr.-Ing. Nandy Putra (Hamburger)

sedang mendiskusikan pengukuran pelat termoelektrik dibawah sinar matahari diatas gedung Engineering Center. Dalam rangka penelitian Aplikasi termoelektrik utk mendptkan sumber listrik dengan bantuan Energi Surya.

Beberapa hasil penelitian sudah bisa dikategorikan telah sampai di level komersial dan sedang mencari mitra. Diantaranya adalah:

1. Vaccin Carrier, termasuk portable VC alat pembawa vaksin, virus utk keperluan R Sakit dan kesehatan (Nandy Putra, Ferdiansyah).

2. Cool Box Motor, kotak pendingin utk taruh minuman di boncengannya motor, (Imansyah).

3. Nebulizer, alat utk dilewatkan gelembung gunamenarik virus. Utk clean air plasma cluster, (Danardono).

4. Sedang dikembangkan, Kulkas Termoelektrik. Kulkas tanpa kompresor tanpa freon.

5. Cryo-sugery, alat bedah mikro based on Thermo-electric system, untuk dokter bedah.

Mereka yg minat kerjasama, silakan kontak:

Ferdiansyah HP 081564638580.-

Cuman Ber4 Ngegowesnya

Pagi2 Gagat udah ngesemes nanyain mo ngegowes, dan sy uda jawab oke dan cc ke bram henki dan heri. Spt biasa sy dtg j 7 lwt dikit but… masi sepi.

Gak lama si Iman ama anaknya Umar dateng… wuh si Umar uda gede ya. Lama gak ketemu, yg terakhir bulan puasa th lalu kali saya lihat si Umar, mu’takif kecil yg selalu i’tikaf bareng kalo bulan puasa bila sudah sampai di 10 hari terakhir.  En kemudian si bram nyusul. Rupanya balesan sms sy ke gagat gak nyampe x.-

Sambil santai ngomongin si Hery Fuad yg kena DBD digigit nyamuk hutan UI.

Lama nunggu yg lain gak dateng2, akhirnya kita berangkatlah ngider UI dengan santai. Dan ternyata banyak juga rombongan lain yg memanfaatkan sabtu yang cerah di areal UI dengan track sepedanya ini, untuk bersepeda santai seperti kami.

Video lokal kembali beraksi dengan mengambil beberapa momen di UI-wood dan jalanan hutan UI.

Cikal bakal Institute of Seebeck and Peltier

Jadi begini… hmm tarik nafas dulu dong… Di lantai 3 Engineering Center FTUI ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pengembangan produk yang berbasiskan prinsip Termoelektrik (TE). Ini semua bisa jalan so far karena usahanya pak Nandy (gelarnya gak usah disebut… kepanjangan apalagi tak lama akan jadi GB, cuma berkasnya msh tertahan oleh seorang pejabat). Beliau jadi manajer fasilitas, jadi di conserve lah sebuah lokal utk riset TE ini. Beberapa proyek peneltian sudah dimulai yang kerja disitu Ferdiansyah (ini anak S1 baru lulus 3 bln lalu, tapi jago ngoprek krn lulusan politeknik lalu masuk Extensi). Walaupun bbrp proyek saya kurang sepakat arahnya, tapi gak apalah krn kesepakatan untuk jalan dulu itu lebih penting dari yang lain2. Nah Termoelektrik itu prinsip yang ditemukan oleh orang yang namanya Seebeck and Peltier. Ttg detail dari apa yang sedang dan apa yang direncanakan utk dikerjakan di INSEPEL ini nantilah kami cerita lebih panjang. Jadi tiga orang pendirinya Ferdi, Nandy, dan Raldi, nanti namanya akan di grafir di produk awal. cie…cie… hebat lo. Abang Rusdi pasti ngiri nih, tapi dia gak bisa komentar di email walaupun kemana-mana udah bawa Blackbery tapi gak tahu makenya….

Boleh dong orang bercita-cita BESAR.-
(Ral 26feb09).-

TPB AND THE CHANGCUTERS (Sarlito)

Ini ada sedikit refleksi saya ketika main bersama Changcutters di Indosiar. Silakan difwd ke siapa-siapa yang mungkin tertarik.

JAN 11 2009 TPB & CHANGCHUTTERS

TPB AND THE CHANGCUTERS

Oleh:  Sarlito Wirawan Sarwono (Prof. Dr.).-

Waktu mbak Yayi (manajer TPB) sms saya bahwa TPB (“The Professors” Band) diminta main di Indosiar, saya biasa-biasa saja. Ini bukan pertama kalinya TPB muncul di TV.

Seingat saya TPB pernah main di TVRI (Kampanye Dialogis UI, 2004), Global TV dan Metro TV. Bahkan yang lebih heboh dari masuk tivipun sudah pernah: ikut JakJazz dan JavaJazz (2006 & 2007), malah sudah dapat Rekor Muri (Desember 2008). Karena itu,saya santai saja dengar undangan Indosiar ini.

Tetapi TPB tetap harus latihan, karena buat saya TPB harus selalu tampil prima. Padahal mas Harry Wisnu, instruktur TPB, masih berlibur ke Bali dengan keluarganya. Maklum pemberitahuan pas di tahun baru. Jadi HW saya sms, gak mau tahu…harus pulang. Tetapi dia gak punya duit untuk pulang duluan, karena dia naik mobil bareng keluarga. Jadi mbak Yayi dan saya cari akal, pokoknya kirim duit, HW bisa beli tiket pesawat dan tanggal 3 Januari 2009 sudah sampai Jakarta.

Rencananya HW akan tulis partitur sekaligus rekam lagu-lagu yang akan dimainkan. Dia rekam suara saxophone dan vokal yang masing-masing dipecah jadi tiga suara. Maksudnya supaya masing-masing bisa dengerin dulu CD-nya sambil latihan.

Maka tanggal 3 Januari malam, saya ke rumah HW. Malam-malam sekitar jam 21. Eeeh..bener, dia lagi ngerekam bersama juru rekam audio kita, namanya mas Lily. Rumahnya sepi, karena semua masih di Bali. HW rekam satu-per-satu lagu, mulai dari pengiring (combo dengan menggunakan mesin K-Board), brass dan vokal. Pekerjaan sangat berat, karena banyak sekali dan harus siap malam itu juga, karena besok sore (tanggal 4 Jan, Minggu sore) kami akan latihan.

Lagu-lagunya sudah ditentukan oleh Indosiar: Dua lagu rock dari TPB sendiri dan satu lagunya Changcutters, “I Love U Bibeh” (maksudnya “Baby”, tetapi sengaja dinorak-norakin), karena TPB mau dikolaborasi dengan Changcutters. Salah satu lagu TPB sendiri adalah ‘I Saw U Standing There” (The Beatles) yang akan dinanyikan oleh Prof Iam (Ikhramsyah) yang dokter spesialis kebidanan (pakar alat vital wanita).

Selain lagu ini sudah kami hafal, karena sudah pernah masuk album TPB, juga Prof Iam ini, kalau sedang menghadapi publik musik rock, gayanya bisa menggebrak publik sehingga semua bisa disuruh goyang. Beda bener dengan kalau sedang menghadapi alat vital wanita, tampangnya serius banget. Gak ada senyumnya sama sekali, karena alat vital memang gak bisa diajak tersenyum.

Lagu yang satu lagi adalah “Save the last dance for me”. Lagu ini sudah berkali-kali mau ditampilkan, partiturnya sudah sering dilatih, tetapi memang selalu batal dibawakan, entah kenapa. Tetapi, buat saya yang main saxophone, partiturnya memang agak rumit untuk dimainkan. Lagunya pun gak gampang untuk dinyanyikan, apalagi dalam trio (tiga suara). Tetapi sudahlah… hitung-hitung penghangatan memori tentang lagu itu.

Nah, yang bikin mabok adalah lagunya the Changcutters itu. Saya pikir lagu itu gampang banget, karena saya sudah sering dengar “I Love U Bibeh”. Tetapi yang saya mainkan, kan bukan lagunya, melainkan iringan dan interlude saxophonenya. Nah… ini yang ternyata sulit. Tanggal 3 malam itu, saya coba-coba ikuti mas Harry sambil dia rekaman… walaah.. sulitnyaaa… banyak break dan singkupnya. “Secara” notnya juga belum hafal, dan lagunya (iringan) baru dengar itu. Dasar amatir. Kalau profesional, kan begitu dikasih partitur, baca, langsung bunyi. Sekali dua kali latihan, jadi!

Saya mah, enggak. Lebih baik malam itu pulang saja dulu, dan mas HW terus merekam dengan mas Lily sampai pagi. Jam 11 hari Minggu saya ketemuan dengan HW di PIM II untuk menerima CD itu dan dari PIM saya langsung pulang ke rumah. Di rumah saya langsung nyebul (latihan saxophone, maksudnya).

Sorenya, waktu latihan, saya belum hafal juga. Padahal malam itu sudah direkam oleh Indosiar untuk promo. Untung yang disiarkan untuk promo adalah “I saw U standing There” yang memang kami sudah hafal di luar kepala.

***

Latihan tanggal 4 Januari 2009 diliput oleh Indosiar. Kamera-kamera beredar terus sementara kami berlatih. Profesor-profesor yang hadir diminta berkumpul untuk diambil gambarnya bersama-sama untuk promo. Di situlah untuk pertama kalinya ditentukan bahwa yang akan menjadi “Trias” (membawakan “I Love U Bibeh”) adalah Prof. Raldi, guru besar mesin dari Fakultas Teknik yang biasanya main fluite atau gitar. Ternyata Raldi ini suaranya bisa teriak seperti Changcutters, dan gayanya bisa lebih gila dari Trias.

Latihan hari pertama masih jauh dari harapan. Terutama saya, masih belum hafal-hafal juga partitur “I Love you Bibeh”. Terutama dalam fingering skill-nya, masih tersendat terus. “Secara” (ini istilah norak anak gaul, ternyata enak juga dipakai, ya) lagunya kan cepat, jari-jemari juga harus bergerak cepat, sambil teknik mengambil nafas juga harus pada saat yang tepat kalau gak ingin kehabisan nafas.

Jadi kami menentukan latihan lagi hari Rabu tanggal 8 Januari. Malam, setelah kantor. Saya latihan lagi di rumah. Mbak Yayi (saxophonist ketiga), sampai memerlukan les privat di rumah mas Harry.

Latihan hari Rabu, Pak Rektor (Prof Gumilar) dan istrinya, Bu Nenden datang. Prof Gumilar sebenarnya bukan penyanyi (yang penyanyi Bu Nenden, isterinya). Tetapi sejak MURI, beliau saya pasang (biar profesornya pas 10 orang) dan saya umumkan sebagai penyanyi. Maka sekarang dia harus nyanyi. Maka mas HW dan Prof Raldi memberi kursus kilat nyanyi “I Love U Bibeh” kepada Rektor. Awalnya gak hafal-hafal, kecuali bagian Luna Maya dan Britney Spearsnya. Tetapi lama-kelamaan hafal juga. Malah koreografinya dia bisa ngikutin Prof Raldi yang loncat sana-loncat sini.

Penyanyi wanitanya trio: Bu Nenden, Astrid (anaknya Sarlito, yang dulu ex-dosen psikologi UI) dan Maya (mahasiswa FISIP Antrop, anaknya HW, menggantikan mbak Een, ibunya/isterinya HW yang malam itu gak bisa datang). Mereka menyanyikan “Save the last dance for me” (featuring) dan menjadi backing vocal buat Prof Iam dan Prof Raldi + Prof Gumilar.

Masalahnya, koreografi mereka bertiga harus kompak sehingga enak ditonton. Gak boleh tabrakan seperti gaya Changcuters. Untuk itu didatangkan pelatih koreo dari Batavia Dance Group, namanya Ryan, BPM (bukan gelar akademik (bachelor in Pakar menari”, tetapi singkatan “Belum Pernah Mutilasi”). Ternyata koreografi ini cukup merepotkan buat penyanyi. Hafal lagunya, gerakannya tabrakan. Gerakan betul, nyanyinya lupa…hahaha… dasar amatir.

Latihan berikutnya adalah hari Jumat malam. Langsung di Studio 1 Indosiar. Istilahnya check sound, nyatanya ya latihan penuh. Pemain juga lengkap: Saya sendiri (psikologi, saxophone), Prof Safri (Dekan FHUI, gitar), Prof. Goti Triatno (Guru besar arsitek, gitar), Prof. Raldi Artono  (Teknik Mesin, gitar + vocal), Prof. Paulus Wirotomo (Sosiologi, drums), Prof. Iam (Kedoteran, vocal), Prof. Gumilar (Rektor/sosiologi, vocal). Semuanya 7 orang professor. Seharusnya ada Prof. Ronny Nitibaskara (Kriminologi, gitar), sayang beliau berhalangan dan pada hari H-nya pun beliau tidak tampil (walau sudah sempat bergaya di promo).

Yang non-profesor adalah: , HW alias Harry Wisnu (pelatih, saxophone), Yayi Paulus (isterinya Prof Paulus, manajer, alumni FISIP, saxophone), Iyan (mahasiswa FT, K-board), Nanta (alumni FT, bapaknya Iyan, Bass), Nenden (isterinya Rektor, vocal), Een (isterinya HW, pelatih vocal, vocal) dan Maya lagi (kali ini nggantiin Astrid yang berhalangan).

Untuk tiga lagu itu, kami berlatih hampir dua jam (jam 20-22), karena masih salah-salah dan koreografi para penyanyi masih tabrak-tabrakan. Beberapa crew sudah mulai capek dan putus asa. Tetapi mbak Rina yang mewakili Indosiar untuk group TPB terus memberi semangat. Kami sendiri sudah mencapai point of no returns, sebab promosi yang setiap hari di Indosiar, menyebabkan setiap kami (terutama yang para professor) ditanya oleh semua kawan masing-masing dan ditagih janji untuk main bagus pada hari H nanti. Kami jadi stress, sampai-sampai Bu Rina bolak-balik tanya, “Mana senyumnyaaa…” Mana bisa kami tersenyum kalau serba takut salah…?

Akhirnya tim vocal memutuskan untuk berlatih lagi hari Sabtunya, tanggal 10 Januari, pagi di rumah Rektor. Setelah berlatih dan berlatih, Astrid menyerah. Dia memang penyanyi dengan warna suara yang jazzy, tetapi bukan penari, melainkan olahragawan (squash dan yoga). Gerakan squash memang nabrak-nabrak, sedangkan Yoga sama sekali gak bergerak, jadi gak ada yang kompatibel dengan koreografi yang membutuhkan harmoni dalam gerak. Jadinya komposisi akhir penyanyi adalah Nenden, Een dan Maya.

Ibu dan anak tampil bersama, tetapi gak ada yang nyangka bahwa Een mamanya Maya, karena fisiknya masih…. Aduhaiii.. walaupun anaknya sudah 6 (kalau termasuk mas Harrynya ya … tujuh).

***

Akhirnya datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Hari Minggu, 11 Januari 2009. Ulang Tahun Indosiar ke 14. Para awak TPB (dan seluruh penampil) disuruh datang jam 15.00, karena sesudah itu pintu ke gang di depan Indosiar akan ditutup. Gerbang utama Indosiar sudah disulap jadi panggung. Dan ternyata di sekitar Indosiar sudah dibangun banyak panggung (saya dengar ada 7 panggung), di mana para bintang akan bermain bergantian di panggung yang berbeda-beda, sambil panggung yang sudah dipakai disiapkan untuk acara yang berikutnya dipanggung itu lagi.

Saya tidak hafal band apa saja yang muncul malam itu. Yang saya tahu selain Changcutters ada Ungu, Peter Pan dan entah apa lagi, dan grup anak-anak penyandang cacat yang membawakan acara tari dan nyanyi (termasuk “Laskar pelangi”) yang mengharukan (karena dibawakan oleh anak-anak tuna rungu, tuna netra, atau yang duduk di kursi roda).

Saya sendiri sudah hadir jam 14.00. Hujan lebat sekali. Turun dari mobil saya sudah ditunggu oleh Ulfa. L.O. (Liaison Officer/penghubung) untuk TPB. Dia siap dengan payung-payung besar untuk mengamankan saya dan saxophone saya dari hujan. Tetapi yang diamankan di atas (air hujan), yang lupa diamankan yang di bawah (ada teralis pendek di bawah panggung). Seharusnya saya melangkahi teralis itu, tetapi karena gak dikasih tahu, saya tersandung, maka terpuruklah saya (maksudnya: jatuh tengkurep gitu loh!). Fisik sih gak apa-apa, tetapi psikis terluka hebat…hahaha… maluuu.. tahu… diliatin orang banyak, seorang professor konduang jatuh tersungkur. Ulfa berteriak-teriak minta tolong dan seorang Satpam segera membantu dan saya cepat diamankan ke kubikel (bilik darurat) yang khusus disediakan untuk TPB di Studio 2 (pas di samping studio 1).

Sambil bersih-bersih baju, saya mengamati keadaan sekitar (dasar pengamat sosial, kan?). Rupanya Studio dua sudah disulap dengan membangun sekat-sekat sehingga terdiri dari bilik-bilik kecil (kubikel) untuk masing-masing artis, kecuali bagian tengah studio yang dibiarkan terbuka dengan banyak kursi. Kubikel kami cukup OK.

Rupanya dipersiapkan dengan matang. Ada beberapa kursi, dan satu meja rias, dan dua bilik kecil bertutup tirai kain untuk berganti pakaian dan sholat. Kepada TPB ditugasi seorang juru rias khusus (katanya beliau dosen IKJ Jurusan Tata-rias). Kotak-kotak makan siang dan dos-dos Aqua sudah tertumpuk di sudut kubikel agar setiap yang kelaparan atau kehausan tidak usah mencari makan minuman ke luar.

Tetapi kubikel kami segera penuh. Karena setiap anggota TPB yang datang membawa pasukan (anak, isteri, pacar, supporter, asisten tukang angkut tas dsb). Saya lihat-lihat, mungkin hanya saya sendiri yang datang sendirian. Supir saya, Yunus, saya suruh nunggu jauh-jauh di lapangan parkir (dia bisa nonton dengan nyaman dari layar raksasa yang dipasang di luar Indosiar).

Karena kubikel penuh, maka sebagian dari anggota duduk di luar. Nah, kebetulan sekali kubikel kami bertetangga dengan kubikelnya Dewi Persik (gabung dengan Tia AFI) dan Mulan Jamilah. Dan penutup kubikel hanya tirai dari kain putih tipis yang sealu berkibar setiap ada yang lalu lalang dekatnya (terhembus angin malam kaliii…). Akibatnya nampaklah barang sedikit anekdot-anekdot yang terjadi di dalam  kubikel-kubikel jiran itu.

Saya sendiri duduk di dalam kubikel sambil ngobrol dengan Rektor dan Prof Iam  mengenai masa depan UI (kedua prof ini malam itu alim, karena dua-dua ada  isterinya). Tetapi yang sering duduk di luar adalah Prof Paulus. Beliau ini, walaupun ada isterinya, nakalnya bukan alang kepalang. Setiap kali setelah beliau  melihat sesuatu, dia masuk ke kubikel untuk berceritera plus dibumbui dengan  khayalan-khayalan panas (seperti mau mengirim pisang ke sebelah…entah pisang maksudnya buat apa). Tapi yang paling heboh adalah ketika Prof Paulus melaporkan  bahwa Dewi Persik hanya memakai jala-jala untuk bawahannya… waduuh… Kata prof Raldi,  usia-usia sebaya professor-profesor ini, kalau melihat Dewi Persik pun sudah gak  “nendang” lagi… tapi denger ceriteranya Prof Paulus, saya jadi nendang juga,  nih…huahahaha…

Belakangan, pas sebelum manggung (giliran Dewi dan Mulan, pas sebelum TPB), Dewi dan  Mulan keluar dan bersalaman dengan kami satu persatu. Di situ para professor yang  tadinya urakan, langsung Jaim (jaga image) semua, seakan-akan alim semua, apalagi  Dewinya sopan banget, munjungan seperti kepada eyang-eyangnya sendiri. Berhenti dah  itu semua oceh-ocehan yang garing dan vulgar, yang tadinya berisik banget (kali Dewi  denger juga, yah?…hiiii.. malu). Tapi di situ jadi clear apa yang dikenakan Dewi.

Ternyata Dewi mengenakan stocking jala-jala, dan di atas stocking itu ia memakai  celana pendek ketat terbuat dari bahan jeans. Atasannya dia memakai baju ketat  berlengan panjang, sedangkan kakinya terbungkus sepatu boot ber-hak tinggi, sehingga tampak makin semampai (Pak Rektor malam itu juga pakai sepatu boot, tetapi kok gak semampai, ya?).

Sesudah selesai salam-salaman, maka acara group photo. Nah semua pengen deket Dewi. Profesor-profesor kok pada seperti anak kecil semua, berebut mau deket idolanya. Kalau saya mah tenang aja. Ngumpet di belakang juga gapapa. Yang penting besok minta tolong mahasiswaku yang polisi intel atau reserse untuk cari tahu HP-nya Dewi Persik… nah… itu kan solusi cerdas namanya? Pokoknya Save the last “dance” for me… ya, kan?

***

Ternyata jadi artis sengsara juga ya. Kami harus stand by sejak jam 15. Padahal latihan GR (gladi resik) baru jam 17. Di luar katanya hujan sudah berjenti (berkat pawang-pawang Indosiar yang sakti-sakti), tetapi lautan manusia tidak terkira-kira banyaknya. Konon pacarnya Maya, kena semprot air pengusir massa, sebelum akhirnya bisa menembus masuk ke dalam. Walaupun begitu di dalam kubikel kami terus mencoba focus dan konsentrasi, mempersiapkan fisik dan mental.

Para vokalis diminta maju semua oleh mas HW dan dengan iringan gitar, mereka dipandu mas HW untuk vocalizing (pemanasan vocal)…hm..hem..hem.. la..la..la..la..hahiheho..hahiheho… dan seterusnya.. dari nada rendah ke tinggi, kembali ke nada rendah dan seterusnya sampai tali-tali suara pada lentur biar nanti nyanyinya gak fals.

Selama menunggu itu, AC Studio 2 duingiiin sekali. Ada beberapa kali tercium bau kentut (pasti ada yang masuk angin), tetapi semuanya diam saja seolah-olah tak terjadi apa-apa, demi tata tenteram, sopan santun, etika dan agama. Katanya latihan jam 17, nyatanya hampir jam 18.00 kami baru mulai latihan.

Stand by di Studio 1 yang lebih dingin lagi, selama 30 menit. Gak boleh kemana-mana, tetapi bisa sambil nonton yang sedang GR di panggung. Dalam kesempatan itu Eko Patrio mendatangi saya untuk menyatakan apresiasinya. Begitu juga Indro. Saya cengar-cengir aja, karena dalam hati masih nervous bukan main.

Akhirnya TPB dipanggil naik ke panggung. Maka satu per satu kami naik ke panggung dan menempati posisi masing-masing. Tim kombo (drums, gitar, bass, K-board) bersempit-sempit ria di sudut kanan yang khusus untuk band (tetapi nampaknya mereka siapkan untuk band yang terdiri dari 4 oang saja, sementara kombo-nya TPB saja sudah 6 orang).

Tim brass (saxophones) ditempatkan di depan panggung, tepatnya di pinggir panggung penyanyi. Para vokalis ngumpet di belakang tiang-tiang raksasa di bagian paling belakang panggung, nunggu giliran untuk maju satu per satu. Begitu ada aba-aba dari floor director, tiga dara Een-Nenden-Maya muncul dari balik tiang, berjalan gontai ke depan sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar…”, langsung diikuti intro K-Board dari Iyan yang dilanjutkan dengan petikan bass, hentakan drums, dan jeritan saxophones yang member semangat, dan ketiga dara pun menyanyi “…save the last dance for me…” sambil bergeser ke kanan, ke kiri mengikuti koreografi yang sudah lumayan mereka hafal.

Dari bawah Bu Rina mengacung-acungkan prompter besar bertuliskan: S E N Y U M ! Tetapi anggota The Prof tetap saja tegang. Terutama Prof Paulus, yang masih terbayang-bayang Dewi Persik, sehingga ngitung birama salah-salah. Terpaksalah HW balik kanan membelakangi kamera untuk memberi aba-aba kepada drummer slebor kita.

Syukurlah lagu pertama selesai dengan selamat. Masuk lagu kedua, prof Iam turun dari tiang belakang panggung, sambil mengajak hadirin untuk ber-rock and roll, “… are you ready? … one, two, three, four…” dan langsung diikuti oleh jeritan kompak brass “I saw you standing there” dan Iam yang berbusana all jeans and boot, menggoyang audiens dengan gerak dan nyanyinya yang heboh.

Penonton waktu GR itu adalah crew dan calon-calon peserta/pemain di studio 1. Semuanya bergerak bersemangat mengikuti aba-aba Prof Iam. Jadi malam itu di panggung Studio 1 ada dua orang AFI, yaitu Tia AFI (Akademi Fantasi Indosiar), dan Prof Iam AFI (Alat Fital Ibu-ibu).

Selesai membawakan lagunya, Prof Iam langsung memanggil Prof Raldi dan Prof Gumilar. Mereka segera tampil, tetapi gak langsung nyanyi, karena nunggu intro gitar yang diikuti drum. Kok gitarnya gak bunyi-bunyiiii…. Eeh.. gak tahunya prof Goti yang harus intro dengan gitar malah lupa. Jadi dia nunggu penyanyi, sementara penyanyi juga nunggu gitar… waduuh… terus setelah gitarnya akhirnya bunyi… drumsnya gak sinkron singkupnya dengan gitar dan bass. Padahal Prof Raldi sudah siap dengan jarinya menunjuk-nunjuk mengikuti gaya Trias, dan Prof Gumilar sudah siap dengan busana koboinya, lengkap dengan topinya…. sambil mengafal kapan dia harus bilang Britney Spears, kapan Luna Maya, dan kapan nenek sihir dan kapan buaya… salah-salah ingat, bisa-bisa Britney Spears disangka buaya, dan Luna Maya dikata nenek sihir… Karena itu GR diulang beberapa kali, sampai pukul 18.30, yaitu pas acara ulang tahun akan dimulai.

Kami pulang ke kubikel untuk menunggu lagi. Tadinya kami dijanjikan (sesuai jadwal), manggung jam 20.00, tetapi mundur jadi jam 21, dan mundur lagi jadi jam 22. Selama menunggu itu kan degdegan sekaleee… Keringat dingin gak berhenti-henti mengalir. Kalau saya sesekali ke WC, liwat monitor TV, tengok para artis professional yang bermain luar biasa, saya jadi pengin pulang aja… Untung gangguan setan bisa saya atasi. Dengan mengucap Audubillahiminas syaitonirojiiim… saya bertekad kun faya kun! Untungnya ada Dewi Persik yang sedikit membuat kami rileks.

Pas jam 21.30 kami ngumpul Briefing akhir dari mas HW, membulatkan tekad, berdo’a dan yell… one..two..three..four..so-so-so!!. Sesudah itu kami siap digiring menuju panggung Studio 1. Penontonnya sudah penonton beneran, bukan penonton jadi-jadian seperti waktu latihan tadi. Kami diminta menempati pos masing-masing di panggung, sementara Dewi Persik dan Mulan Jamilah juga siap. Kemeja Dewi Persik terbuka bagian atasnya, mempertontonkan dadanya yang bertitik-titik peluh…aduhai…siapakah gerangan pemuda yang beruntung boleh mengusap peluh-peluh nakal ituuu…???

Breng-breng-breng..!!! Tiba-tiba band pengiring Dewi dan Mulan menghentak nyaring. Saya terbangun dari lamunan dan sempat melihat pandangan mas HW juga ke arah yang sama…hihihi… mas HW ada isterinya juga nakal…

Dewi dan Mulan langsung menggeliat-geliat dan meloncat-loncat sambil mengeluarkan vokalnya yang powerful menguasai suasana di seluruh Studio 1. Pada akhirnya mereka berhenti seperti patung sambil menyerukan…”Berikutnya kita undang … The professor band…” dan kedua tangan mereka mengacu kepada posisi TPB. Kamera berpindah dari Dewi dan Mulan ke TPB. Satu detik, dua detik… saya tunggu… sambil mulut saya siap di mouth piece saxophone…kok gak mulai-mulai? Tiga detik.. akhirnya saya menengok ke belakang. Ternyata saya lihat mulut Iyan sedang membuat kata-kata (bahasa bibir), “M A T I” untuk dibaca HW. Astaga… K-board mati? Saya panik habeess… Mau pingsan.

Tapi kalau pingsan disorot kamera kan lebih jelek lagi. Tetapi HW sama sekali gak panik. Dia tunjuk Pak Nanta pada bass. Ternyata juga sama, mulut pak Nanta komat-kamit…”M A T I”. Saya udah mau pingsan beneran, tetapi HW tetap tenang. Dia tunjuk Prof Raldi pada gitar. Ternyata gitar bunyi! Dia mainkan satu bar, brass langsung masuk dan bass dan K-board ternyata juga udah bunyi.

Untungnya ternyata ketiga dara berhati baja luar biasa, ketika K-board mati, mereka tidak panik. Mereka cuma nunggu dua detik, langung jalan menuruni undakan menuju bagian depan panggung sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar”. Pas mereka sampai di depan panggung gitarnya Prof Raldi sudah bersambung dengan brass, dan mereka langsung masuk.. nyanyi… Intro yang sangat cantik. Saya lega benar, karena itu saya tersenyum lebar dan saya lihat semua anggota TPB tersenyum. Senyum lega, bahagia, gak jadi malu… gitu loh. Bukan senyum untuk mengentertain penonton.

Tetapi yang jelas kami bisa tersenyum terus sambil bermain sampai akhir, yang membuat Bu Rina senang bukan alang kepalang, karena tidak perlu mengangkat-angkat promptnya lagi.

Pada akhir lagunya, tiga dara memanggil Prof Iam yang segera tampil dari belakang tiang, meloncat-loncat kecil menuruni undakan sambil mengajak penonton bergoyang. “One..two..three..four..when you are just seventeen…” dan pak Handoko, Dirut Indosiar, pun ikut bergoyang.

Dalam interlude Prof Iam memperkenalkan kawan-kawannya pemain TPB yang professor. Tiba pada giliran Prof Paulus, beliau mendemokan drum roffel-nya sampai hampir meruntuhkan studio. Luar biasa, Prof Paulus sudah melupakan Dewi Persik. Buktinya dia berhasil menjaga tempo drumnya dengan gilang-gemilang selama sekitar 12 menit, mengiringi tiga lagu yang tadinya sulit sekali dikuasai.

Selesai Prof Iam, dua anak kembar, prof Raldi dan Prof Gumilar dipanggil turun dari balik tiang. Penampilan Prof Raldi yang seperti cicak nginjek petasan langsung mengundang tempik sorak penonton. Ditambah lagi dengan Prof Gumilar dalam busana koboi yang berhasil membuang kemaluannya (baca: rasa malunya) jauh-jauh. Maka gegap gempitalah seluruh Studio 1.

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tahu apa yang terjadi, karena mata saya terpaku pada partitur yang tidak boleh salah baca. Nasib saya memang selalu diridhoi Allah. Partitur sesulit apapun, pada hari H selalu dipermudah oleh Allah. Sekan-akan ada malaikat yang membantu menggerakkan jemari saya yang selama ini salah-salah melulu.

Pengalaman seperti ini terjadi juga waktu JakJazz dan JavaJazz. Tentu semua ini berkat do’a saya yang khusuk. Untuk masalah lain mungkin do’a saya tidak khusuk, atau saya PD aja sampai lupa berdo’a, tetapi kalau mau main band yang super berat, selalu saya berdo’a dulu. Dan terbukti Allah tidak pernah ingkar janji… ya, kan?

Tetapi perhatian saya tiba-tiba terpecah, ketika tiba-tiba penonton menjerit-jerit histeris. Saya mengintip sebentar dengan sudut mata saya (sementara masih membaca partitur), ternyata ke empat awak Changcutters semua naik ke panggung. Trias asli langsung bergabung dengan kedua Trias palsu dan membawakan “I Love U Bibeh” dengan gayanya yang asli juga, termasuk merosot-merosot di panggung (Prof Raldi boleh berjingkrakan, tetapi untuk merosot dipanggung… nanti duluu…kalau ada tulang punggung yang terjepit..ujung-ujungnya RSCM…hahaha..).

Sudah barang tentu, penonton berteriak-teriak, “Lagi!..Lagi!…Lagi!”. Maka kami dan Changcutters pun mengulangi lagu itu sekali lagi, sambil layar TV menanyangkan telop penutup. Rupanya sutradara sengaja menempatkan kolaborasi TPB dan Changcuters pada acara penutup, agar bisa jadi klimaks betul dari acara HUT Indosiar ke 14 itu.

***

Bahagian ceritera berikutnya adalah anti klimaks. Pak Handoko, langsung memberi selamat begitu saya turun dari panggung. Di ruang ganti, kami berkumpul, evaluasi. Semuanya puas. HW menjelaskan apa yang sudah bagus dan apa yang masih kurang. Prof Iam, saya, Bu Rina, dan yang lain kasih masukan. Tetapi semuanya puas. Prof Benny Hoed yang tidak dipasang pada event kali ini mengucapkan selamat liwat sms. Begitu juga Astrid yang gak jadi berparisipasi. Selanjutnya HP setiap partsipan penuh dengan ucapan selamat. Facebook saya juga begitu.

Konon Indosiar langsung merencanakan program khusus untuk TPB, dan seorang teman pemain band juga, langsung mengundang TPB untuk main bareng di hotelnya dia. Pokoknya top-markotop, mak-nyooos!!!

TVone menayangkan Deproftek

Stasiun TV yang baru naik daun TVone, memulai acara pagi dengan

– Apakabar Indonesia –

Dan tadi pagi 14 November 2008 jam 08.15, ditayangkanlah wawancara dengan Deproftek yaitu para musikus guru besar Fak. Teknik UI. Sambil memperkenalkan lagu-lagu ciptaannya, Prof Bambang Sugi sebagai leadvocal mengawali jumpa onair dengan lagu -SI Biru-. Prof Budi Susilo walau malamnya masih belum tahu lagu apa yang akan dibawakan, pagi itu datang lebih awal jam 07.00 untuk latihan dulu 3 lagu dibimbing oleh instruktur musik kita Ir Guananta. Beliau ini hanya bisa meniup saxophone kalau ada not doremifasolnya. Latihan yg hanya 30 menit itu ternyata sudah cukup untuk mendukung penampilan Deproftek. Pak Dekan Prof Bambang Sugi bertindak sebagai jubir mengisahkan perjalanan bermusik di lingkungan kampus ini. Dengan di backup vocal oleh Prof Raldi (sayang mic nya kurang berfungsi jadi tak begitu kedengeran) tiga buah lagu ciptaan diperkenalkan dalam kesempatan yang hanya 15 menit di acara pagi tadi.

Sebagian rekamannya dapat dilihat di video youtube yang dishoot alakadarnya oleh Lina dengan E90 Nokia langsung didepan layar TV.

Lagu kedua dibilang rada jadul oleh mas Indi… gpp deh ya.

Wawancra diakhiri dengan sebuah country rock song: Jakarta Kota Kita.-

Maju Terus Deproftek…

Deproftek in action

Performance Deproftek dengan lagu hitnya Si Biru pada acara reuni FTUI 02 Nop 08. Muncul pertama diantara band-band lain yang sudah beken tidak membuat Deproftek keder, bahkan makin semangat nyanyi danmain musiknya. Terutama lagu pertama yagn merupakan lagu hit ciptaan sendiri yang judul lengkapnya adalah – Si Biru Kijang Pantherku -.

Dengan dimotori oleh Prof Bambang Sugiarto sebagai lead vocal, Prof Budi Susilo Supanji memainkan saxophone, Prof Triatno Yudoharjoko lead guitar, Prof Raldi vocal dan flute serta dibantu oleh Ir Guananta bass dan anaknya Iyan keyboard. Tak lupa drummer jadul yang sudah beken Ir Satrio Arismunandar.-

Membawakan 3 lagu ciptaan diawal menambah meriah suasana. Tak lupa Prof Budi mendapat kessempatan feeaturing dengan saxo nya pada dua lagu yaitu Too Young dinyaanyikan oleh Raldi dan juga Danny Boy dibawakan secara instrumentalia.

Lagu Jakarta Kota Kita yang berirama country merupakan persembahan terakhir dari Deproftek, yang mendapat sambutan (dan sambitan) cukup hangat dari penonton alumni.

Lagu Keresahan dibawakan oleh Bangsugi dan Ral selalu menjadikan cerita lama teringat kembali terutama dikala merasa kesulitan menjalani profesi sebagai dosen. Video berikut menayangkan performa Deproftek dalam membawakan lagu tsb.-

Guru Besar FTUI main Musik

Perkembangan Musik di FTUI

(Awalnya para Guru Besar Fak Teknik UI bermain musik)

Oleh: Raldi A. Koestoer

**00**

Tokoh-tokoh dalam bualan kosong ini:

Mas Gotty Prof Dr Ir Triatno Yudoharjoko, Guru Besar bidang Arsitektur.

Mantan Ketua Dept Arsitektur.

BS, Budisus Prof Dr Ir Budi Susilo Supandji, Dirjen Pothan Dephan, Guru Besar bidang Teknik Sipil.

Mantan Dekan FTUI.

Bangsugi Prof Dr Ir Bambang Sugiarto M Eng, Dekan FTUI, Guru Besar Bidang Combustion (T. Mesin).

Dekan FTUI.

Raldi, Ton Prof Dr Ing Raldi Artono Koestoer, Guru Besar bidang Heat Transfer (Tek Mesin).

Mas Abim Prof Dr Ir Abimanyu, Guru Besar bidang Arsitektur.

Nudiarso Dr Ir Budiarso M.Eng. Dosen Teknik Mesin.

Wakil Direktur DRPM UI

Nanta Ir Guananta, instruktur musik, alumni T Mesin, kerja di Properti.

Kemal Ir Kemal Darwis, MC nya Fak Teknik dari dulu sejak mhs.

Singkatan-singkatan:

A, Ars, A68 Arsitektur, Angkatan masuk tahun 1968.

M, M80 Mesin, masuk tahun 1980

TGP Teknik Gas Petrokimia

Mt Metalurgi (jurusan atau Departemen di FTUI).

**00**

Ini cerita tentang bagaimana para dosen teknik UI memanfaatkan waktu relaksnya dengan berbagai kegiatan. Beberapa dosen yang gemar bermusik, dalam hal ini kebanyakan dulunya juga mantan pemain band dan vokal group di tahun 70 an. Bermula dari inisiative pak Budiarso dosen dari Teknik Mesin yang berusaha mengumpulkan mantan mahasiswa angkatan 60-70-80 yang jadi dosen, dengan sedikit fasilitas pihak dekanat (waktu itu pak Bud Pudek II FTUI dekannya Prof Djoko), jadilah berkumpul di lantai 1 dekanat. Diantaranya mereka itu mas Abim (dari Ars nama lengkap dan gelarnya nanti aja deh kalo gak nulisnya bingung), mas Gotty (Ars) , saya sendiri Raldi (M), mas Budiarso (M), Bangsugi (M). Masih ada lagi dari Elektro pak Arifin Jauhari, bu Endang (E) adalagi ibu MMX (sy lupa namanya) dari TGP, Danardono (M). Andi Noorzaman (TGP). Banyak juga partisipan lain yang walau tak bisa main musik tapi aktif ikut nyanyi rame2 Anis, Dedi (Mt) dan juga Eddy Siradj (Mt). Semua ini dengan alat bawa sendiri dan satu ampli fakultas yang bukan untuk band.

Baca lebih lanjut

Presentasi Hibah bersaing

Presentasi Penelitian Hibah Bersaingdalam rangka monitoring dan evaluasi Dikti telah dilaksanakan tgl 13-14 Okt 2008 di Hotel Sheraton Media. Dari FTUI ada beberapa yang turut serta diantaranya Bapak dan Ibu, Anondo, Yuswan, Prasasti Wulan, M Idrus Alhamid, Raldi (gantiin Nandy) dan beberpa yang lain.

Videonya bisa dilihat pada tayangan berikut:

Mohon maaf pada beberapa rekan lainyang tak sempat diambil videonya. Maklumlah ini kan shooter amatir. Berikut ini ada boss kita ikut presentasi. Yang tua tak mau kalah dengan yang muda.

Bodyguard peneliti, saking besar badannya menutupi semua angel kamera.

Yang paling ‘muda’ tapi sok tua dan sok tau.

I’tikaf Perdana

I’tikaf Perdana di Masjid AttinBermula dari SMS nya Iman bunyinya begini:

Ini SMS yang kedua, From Imansyah Saturday 06 September 9.55 AM.

Assalamualaikum para shoimin, para alhaj dtm, kami mengajak bpks utk itikaf perdana mlm minggu 6 sept di msjd. Attin, mulai pk. 23. Jng lupa bawa perlengkpn sholat,sarung, quran, sikat& makanan utk sahur. Ilal liqo fi attin.

Dikirim ke beberapa orang mungkin adalah 7-8 orang teman2 sekantor. Nah… biasanya SMS model begini ini… maaf ya… m e n a k u t k a n… hiiii bener gak sih ?
Kenapa jadi menakutkan ya ? padahal sebaliknya niat baik dari Iman itu seharusnya ditanggapi dengan senyum, sambil mengucap “Alhamdulillah kita sudah diingatkan kembali oleh sohib Iman untuk mengingat Allah lebih khusu’ lagi.”

 

 

 

Tapi guyz.. Emang aktivitas ini bukan sesuatu yang gampang koq… Bener deh.
Terutama untuk mereka yang belum pernah melakukannya. Bagi mereka yang sudah pernah sekali dua kali i’tikaf kesulitannya lain lagi… ya itulah… bagaimana mempertahankanya agar lebih bisa meningkatkan frekwensinya. Dan puncaknya di 10 hari terakhir Ramadhan kalo bisa sih kita tinggal terus di masjid.
Pernah saya bilang sama Rusdi (sohib yang masih up and down), “Halangannya itu setinggi gunung Rus…” Bahkan saya sering ngeledek bang Rusdi Malin ”Bang ente jangan tiarap dong kalo ada tembakan SMS i’tikaf.” Untuk mereka yang sudah berkeluarga biasanya halangan malah datang dari…maaf lagi saya musti bilang… dari istri. Hal yang wajar kalau istri lebih suka suaminya selalu berada dirumah, apalagi dimalam hari. Sehingga banyaklah alasan untuk melarang suami pergi itikaf ke masjid. Dan biasanya suami nurut sama istri karena memang lebih enak tinggal di rumah dimalam yang dingin apalagi kalau cuaca mendung diselingi dengan hujan rintik2. Itulah yang saya bilang halangannya setinggi gunung. ”Kan sholat tahajud bisa juga di rumah” demikian kata istri tercinta. Maka lumerlah hati para suami, nurutlah dia apa kata istrinya.

Halangan lain adalah dari diri kita sendiri. Rasa malas itu ada dalam diri setiap manusia. Sehingga kadang2 untuk mengalahkannya kita perlu dorongan dari luar, misalnya seperti SMS dari Iman tadi salah satunya. Kemudian saling memberi semangat antara kawan. Jadi kalau rasa malas ini bergabung dengan rayuan istri untuk tinggal di rumah saja, maka mantaplah hati kita untuk…TIDAK PERGI ke Masjid. Nyenyaklah kita tidur dirumah sambil dikelonin sama istri. Berat nggak tuh halangannya… setinggi gunung nggak tuh hambatannya. Gunung aja masih gampang didaki, tapi rayuan istri…mana tahaaaaannn.-

 

Jadi untuk mereka yang sudah bisa melewati berbagai hambatan itu maka Berbahagialah… karena anda telah lulus dari ujian yang maha berat. Terimalah ucapan selamat dari saya, karena anda segera akan menerima limpahan kasih sayang dari Allah SWT.

Anda telah memenangkan perang yang maha berat, perang melawan diri sendiri. Mengalahkan musuh yang nyata sungguh lebih mudah daripada mengalahkan musuh yang bersarang di hati kita sendiri.

 

I’tikaf perdana ini dimaksudkan untuk membiasakan diri menjelang 10 hari terakhir nanti. Boleh dibilang warming-up menghadapi saat2 terakhir Ramadhan dimana dahulu nabi beserta keluarga dan sahabatnya berada di masjid untuk membaktikan diri pada Allah semata. Waktu untuk berpikir tentang agama Allah, untuk kita merefleksi diri, untuk mengambil putusan2 yang mengubah diri kita dimasa yang akan datang. Untuk menghimpun kekuatan dan keyakinan bila menghadapi masalah yang berat dalam kehidupan. Justru disinilah kita diberi kesempatan dan kekuatan untuk selalu berada di jalan Allah.-

 

Jadi dari banyak orang yang di SMS oleh Iman hanya 3 orang yang jadi Mu’takif… Jangan heran pemirsa… itu mah biasa. Bahkan kita musti bilang – Alhamdulillah sudah ada 3 orang yg datang -. Waktu saya datang jam 11 an Iman sdh mulai solat tahiyatul masjid. Waktu kami berdua tiduran rupanya lewat tengah malam baru datang sohib ustad Ahmad Indra. Berhubung bagun mlm sedikit terlambat qiyamulail dipercepat dengan 4 rakaat plus 1 witir. Sahur bersama seperti yang anda lihat di videoklip sungguh merupakan nikmat Allah yang tiada tara.

Tapi saksikan nanti di 10 hari terakhir Ramadhan kita masjid2 jami Jakarta akan penuh dengan ribuan mu’takif yang akan mengisi semua space kosong masjid kita dimalam hari. Mari mari marilah kita tersenyum bersama datangnya Lailatul qadr malam indah seribu bulan.-

(Raldi A. Koestoer 07Sep08, 07Ram1429h).-

UI Holywood Bike

Bikers di Teknik yang tergabung dalam TBC Teknik Bikers Club dengan ketuanya

Dr Ing Henky Ashadi

sedang beristirahat di UI Holywood sambil minum dan motret2. Raldi Bram Bito Henky… in action.

Karena sekarang cuaca mendingan agak bagus, relatif kering, kita seneng ngetrack keluar masuk hutan UI. Bersepeda keliling danau.

Wah… nikmatnya… sulit dinyatakan dengan kata2. Hanya bisa dirasakan sambil bersepeda. Ayo dong ikut bersepeda agar sehat badan kita.

Sekawan Utama International

Alhamdulillah pada hari ini Senin 21 Januari 2008 jam 11.30 WIB telah ditanda tangani pembentukan holding Company:

PT Sekawan Utama International.

Empat orang pendirinya adalah: Raldi Artono Koestoer, Sri Bramantoro Abdinagoro, Ramadita Budhi, Muhammad Fauzan. Disyahkan dan disaksikan oleh notaris ibu Herawati di Jl Tebet Raya Jakarta.-

Diawalinya dengan berdirinya PT Medixe Sekawan Utama yang aktifitas utamanya adalah memproduksi alat kesehatan, pada tanggal 1 Des 2005, maka SUI ini akan menangani berbagai kegiatan bisnis non medikal. Beberapa diantaranya yang sudah dalam rencana adalah: Energi dan Lingkungan, Agro-industri, Konsultan dan Training, Pertambangan, Konstruksi dan manufakturing.

Dengan misi untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri serta membuka lapangan kerja sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia, kami mohon doa dari bapak ibu dan rekan-rekan sekalian, agar aktifitas bisnis ini dapat berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi rakyat Indonesia.

Safari Qiyamulail dan i’tikaf bersama

Itikaf th 2004 mesjid Baitul Hakim Elnusa, Jl TB Simatupang
Ki-ka: Rusdi, Iman, Raldi, Kemo, Hermas

MARI MARI

QIYAMUL-LAIL
Assalamualaikum WrWb,

Kepada Yth :
Bapak-Bapak,

1. Ahmad Indra 0818135802 16. Nandy P 0811810465
2. Bambang Sugiarto 0811860153 17.Nasruddin 081585935355
3. Budihardjo 08159908313 18.Nanang M.Syah 0818181859
4. Budi Pahlawan 0811837276 19. Pratikno S 08111428420
5. Danardono 0811132844 20.Poernawan 08161991499
6. Djoni Asmanto 0818735623 21.Raldi Artono K 08161992186
7. Daryanto Darmadi 0811159354 22.Rusdy Malin 0816822425
8. Engkos A. Kosasih 08561780790 23.Sofyan Harahap 021 7402126
9. Gandjar Kiswanto 0817815658 24.Sri Haryono 081319130069
10.Hendri D.S.B 0816758129 25.Tresna. P.S 0816824490
11.Hengky 0811810465 26.Yongky 0818991854
12.Hermas Cipto 085210325305 27.Yudan 081806219503
13.Imansyah 081314228235 28.Yahya Saleh 0816805315
14.Jos Istianto 081585284524 29.Yuriadi Kusuma 081511789002
15.Joko T.S 0811891736 30. Bramantyo 08159104502

Daftar tambahan lihat dibawah

Dengan jadwal sbb :

Tanggal tahun 2006 Mesjid

– 29 Sept – 07 Ramadhan (Jum’at malam Sabtu) At-Tin TMII
– 7 Okt (Sabtu malam Minggu) Agung Kebayoran
– 14 Okt (Sabtu malam Minggu) Istiqlal
– 18 Okt (Rabu malam Kamis) Kampus UI Depok
– 19 Okt (Kamis malam Jum’at) Pondok Indah
– 20 Okt (Jum’at malam Sabtu) El-Nusa Simatupang
– 21 Okt (Sabtu malam Minggu) Bintaro Sektor 9
– 22 Okt (Takbiran) Mesjid At-Tin TMII

Jangan lupa masing-masing membawa : perlengkapan makan sahur, tas, kantong plastik, dlsb.
Ajaklah keluarga, teman-teman dan saudara2 lainnya.

Semoga ibadah kita diterima oleh Nya, mudah2an kita mendapatkan Lailatul qadar.

Amiiin.

Wassaalamualaikum WW
———————————
31. Kemo Sabnani 08161158789 32. Nasrudin 081585935355 33. Yudhan 081806219503
34. Medixe Sekawan Utama 70459011 35 Qose 081310651443 36. Ihsan bet 081510026035