Hari batik nasional 2 Oktober

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Duh sebenarnya saya sudah 3x menulis artikel berkaitan dengan hari batik nasional ini, namun setelah selesai saya pload…eh hilang, entah pergi kemana itu teks. Pokoknya hilang aja. Lalu saya nulis lagi, tentu saja isinya agak lain dengan yang pertama karena gak bisa dong kita bikin artikel yang persis sama kata2nya. Lalu diupload lagi…eh hilang lagi… Gimana sih bikin jengkel.

Ya udah saya tinggalin aja. Lalu tadi daripada judulnya ada terus isinya gak ada saya isi foto saya aja lagi pakai batik tanggal 02 Oktober…

Gimana komen anda terhadap batik yang saya pakai ?

Not bad kah ?

Ayuuhh komen dong di box bawah. Terimakasih ssebelumnya. Salam.-

Iklan

ANDI NATA

Anak muda ini adalah mahasiswa Mesin angkatan 2007. Saya kenal sudah sejak dia mulai masuk di DTM-FTUI (Dep Tek Mesin), kami sering diskusi tentang persoalan macam2. Dari mulai agama sampai bisnis. Dan nasehat saya untuk dia lain dengan orang2.

Jadi saya bilang begini: ” Andi, kamu gak usah kelarin sekolah deh, kan kamu sudah berhasil jadi wirausahawan, ngapain lagi sekolah ? Daripada kamu bolos2 melulu, sana bingung sini bingung, jadi brenti aja. Toh uang udah banyak..”

Tapi memang kalau anda lihat orang2 yang rajin di sekolah bahkan berprestasi excellent, biasanya gak jadi orang kaya. Mereka yang sekolah di jalanan (gak sekolah) malah sukses di bisnis. Ini seperti apa yang dikatakan oleh Robert Kiyosaki gurunya semua wirausahawan:

IF YOU WANT TO BE RICH…

DON’T GO TO SCHOOL.-

Nah baru saja si ANDI ini ngirim sms minta dukungan ama saya mau jadi juara favorit Wirausaha Muda Mandiri se Indonesia. Ya saya tolongin deh dengan menulis di blog ini agar teman2nya mendukung melalui Youtube katanya.

Ini SMS nya dibawah.-

-0-

Aslkm.. Pak, mhn do’a dn dkungan trs dr bpk,. Disampaikan kepada seluruh teman2, kluarga, dan kolega,

Dukung saya Andi Nata untuk menjadi Juara Favorit Wirausaha Muda Mandiri se Indonesia.

video sy mulai d publish pada tanggal 9-18 Januari 2012 di akun YouTube http://www.youtube.com/andi nata/wirausahamudamandiri

Persiapkan diri teman, kluarga dan kolega untuk mendukung dengan cara membuat akun Youtube dan memberi komentar positif kepada kami.

Oh iya, komentar terbaik ada insentif/hadiah yang disiapkan oleh Mandiri lohh.. ūüėÄ

Salam Wirausaha Muda. Dan temui sy d Expo Wirausaha Muda Mandiri d Jakarta Convention Centre 19-22 Jan 2012. Andi Nata-Finalis nasional wirausaha muda mandiri wakil jabodetabek. Tks

Hancurnya Industri Maritim Kita

-0- Salinan dari detiknews-0-
Selasa, 15 Maret 2011

Penyebab Hancurnya Industri Maritim Indonesia
Agus Pambagio – detikNews

Jakarta – Indonesia sebagai salah satu negara maritim besar seharusnya mempunyai infrastruktur ke maritiman yang kuat, seperti, pelabuhan yang lengkap terkait dengan keperuntukannya, sumber daya manusia yang berkelas, berbagai jenis kapal yang berkelas di berbagai sektor termasuk armada TNI Angkatan Laut, armada kapal dagang/kontainer, armada kapal angkut migas dan batubara, armada kapal penangkap ikan, armada kapal penumpang yang modern, aman dan nyaman serta regulator sektor kemaritiman yang kuat dan disegani dunia internasional.

Namun apa mau dikata, tampaknya pernyataan diatas masih sebatas mimpi, belum kenyataan. Melihat perkembangan industri maritim di Indonesia saat ini, saya sedih dan gemas. Bagaimana tidak? Sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai hari ini industri martim kita dikelola secara kaki lima. Akibatnya tidak ada satupun Negaradi dunia ini yang segan dan menghormati Indonesia sebagai salah satu Negara maritimyang kuat.

Mereka hanya menempatkan Indonesia sebagai Negara tempat memasarkan produk kemaritiman mereka dan mengambil sumber daya yang ada. Mau bukti? Mari kita bahas satu persatu yang menurut saya ini merupakan faktor utama hancurnya industri maritim nasional. Sementara pemerintah tak mampu membereskannya, seperti biasa tidakada ketegasan!

Faktor Hambatan di Industri Maritim Nasional

Pertama, mari kita lihat sistem finansial untuk sektor maritim di Indonesia. Kebijakan sektor perbankan atau lembaga keuangan di Indonesia, yang sebagian besar keuntungannya diperoleh dari penempatan dana mereka di Sertifikat Bank Indonesia (SBI), untuk pembiayaan industri maritim sangat tidak mendukung. Mengapa?

Pertama, bunga pinjaman sangat tinggi. Berkisar antara 11% – 12% per tahun dengan 100% kolateral (senilai pinjaman). Bandingkan dengan sistem perbankan Singapura yang hanya mengenakan bunga 2% + LIBOR 2% (total sekitar 4%) per tahun. Dengan equity hanya 25% sudah bisa mendapatkan pinjaman tanpa kolateral terpisah karena kapal itu sendiri bisa menjadi jaminannya. Jadi tidak heran kalau pengusaha kapal nasional kesulitan mencari pembiayaan untuk membeli kapal, baik baru maupun bekas melalui sistem perbankan Indonesia.

Kedua,sesuai dengan Kepmenkeu No 370/KMK.03/2003 tetang Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai yang Dibebaskan Atas Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu dan/atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu, pasal 1, ayat 1 huruf e, jelas bahwa sektor perkapalan mendapat pembebasan pajak. Namun semua pembebasan pajak itu kembali harus dibayar jika melanggar pasal 16. Artinya kebijakan tersebut banci. Apa isi pasal 16?

Sesuai dengan pasal 16: Pajak Pertambahan Nilai yang terutang pada impor atau pada saat perolehan Barang Kena Pajak Tertentu disetor kas negara apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak impor dan atau perolehan Barang Kena Pajak Tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 1 huruf e, huruf f, huruf g dan huruf h ternyata digunakan tidak sesuai dengan tujuan semula atau di pindahtangankan

kepada pihak lain baik sebagian atau seluruhnya?. Artinya, jika pengusaha kapal akan menjual kapalnya sebelum 5 tahun sejak pembelian harus membayar pajak kepada negara sebesar 22,5% dari harga penjualan (PPn 10%, PPh impor 7,5% dan bea masuk 5%).

Di Indonesia jarang ada kontrak penggunaan kapal lebih dari 5 tahun, paling banyak 2 tahun. Jadi jika tidak ada kontrak, supaya pengusaha kapal tidak menanggung rugi berkepanjangan mereka harus menjual kapalnya. Untuk itu pengusaha harus membayar pajak terhutang kepada Negara sesuai Pasal 16 tersebut. Benar-benar industri maritim negara ini dihambat kemajuannya dari segi kebijakan fiskalnya oleh negara, kok bisa ya?

Di negara lain seperti Singapura, pemerintah akan memberikan insentif, seperti pembebasan bea masuk pembelian kapal, pembebasan pajak bagi perusahaan pelayaran yang bertransaksi diatas USD 20 juta karena Pemerintah Singapura menyadari kalau investasi di industri pelayaran bersifat slow yielding sehingga perlu diberikan insentif. Kalaupun kapal harus dijual, Pemerintah Singapura membebaskan berbagai pajaknya.

Dari pemberian berbagai insentif bagi perusahaan pelayaran, Pemerintah mana pun akan berpikiran bahwa penerimaan dari pajak mungkin akan menurun namun penerimaan dari sektor lain pasti akan bertambah. Misalnya, semakin banyak tenaga kerja asing tinggal dan bekerja pada akhirnya akan semakin banyak uang yang dibelanjakan di negara tersebut. Selain itu transaksi perbankan biasanya juga akan semakin banyak, sehingga pendapatan Negara juga akan meningkat. Benar-benar negara negara dikelola oleh negarawan yang cerdas.

Ketiga, buruknya kualitas sumber daya maritim Indonesia menyebabkan biaya langsung industri maritim menjadi tinggi. Meski pun gaji tenaga Indonesia 1/3 gaji tenaga kerja asing tetapi karena rendahnya disiplin dan tanggungjawab, menyebabkan biaya yang harus ditanggung pemilik kapal berbendera dan berawak 100% orang Indonesia (sesuai dengan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran) menjadi sangat tinggi. Ironisnya jika kapal berawak 100% asing yang mahal, ternyata pendapatan perusahaan pelayaran bisa meningkat 2x lipat. Aneh tapi nyata.

Keempat, persoalan klasifikasi industri maritim yang ada di tangan sebuah BUMN dibawah kendali Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan, PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), membuat industri maritim Indonesia semakin terpuruk. Semua kapal yang diklasifikasi atau disertifikasi oleh PT BKI, patut diduga tidak diakui oleh asuransi perkapalan kelas dunia atau kalaupun diakui, pemilik kapal harus membayar premi asuransi sangat mahal. Mengapa?

Hal tersebut patut diduga disebabkan dalam melakukan klasifikasi, PT BKI kurang profesional sehingga penilaiannya diragukan oleh semua pihak. Patut diduga PT BKI masih menganut paham dengan uang pelicin semua beres. Oleh sebab itu sebagian pemilik kapal tidak meregister kapalnya di Indonesia tetapi di Hong Kong, Malaysia atau Singapore. Akibatnya pelaksanaan UU No 17 tahun 2008 hanya retorika. Pengusaha kapal enggan meregister kapalnya di Indonesia karena klasifikasi yang dikeluarkan oleh PT BKI merupakan ‘pepesan kosong’ yang diragukan oleh semua lini sektor industri maritim global.

Langkah yang Harus Diambil Pemerintah

Jika industri maritim Indonesia mau berkembang dan siap bersaing dengan industri sejenis dikawasan, maka pemerintah dalam hal ini khususnya Kementerian Perhubungan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan harus membuka mata dan jangan mau dipengaruhi oleh para pelobi yang mewakili pihak-pihak yang mau untung sendiri tidak memikirkan bangsa ini.

Pertama, lakukan revitalisasi atau deregulasi di sektor fiskal sehingga kompetitif dengan beberapa Negara tetangga, kecuali Indonesia mau jadi pecundang terus. Kedua lakukan perombakan total dilingkungan lembaga pemberi klasifikasi sehingga dunia internasional pelayaran dan asuransi kerugian mengakui keberadaannya. Ketiga susun ulang kurikulum lembaga pendidikan maritim oleh Kemendiknas supaya Indonesia mempunyai SDM maritim yang berkualitas dan bertanggungjawab.

Beranikah Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, Menteri BUMN dan Menteri Pendidikan Nasional melakukan perubahan drastis tersebut? Sebenarnya saya ragu karena para menteri tidak berani bertindak (kecuali sidak) jika presiden belum memberikan titah. Jadi mohon kepada Presiden SBY yang sangat saya hormati untuk segera memberikan titah kepada keempat Menteri tersebut secepatnya, sebelum industri maritim Indonesia tinggal nama. Salam.

*) Agus Pambagio adalah Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen.

Hibah Insentif Dikti

Yth. Bapak/Ibu,

Menyampaikan informasi mengenai Hibah/Insentif Dikti:

1. Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Nasional à bagi staff yang sudah
punya draft artikel dapat mengikuti pelatihan. Peserta akan diseleksi, so,
silahkan masukkan usulan sesuai Panduan. Seluruh biaya ditanggung Dikti.
Deadline usulan: 24 Feb 2011 jam 16.00

2. Hibah Pengabdian Masyarakat Satu Tahun, yaitu Ipteks bagi
Masyarakar, @ Rp. 50 juta. Deadline: 29 Maret 2011, jam 16.00

3. Hibah Uber HKI, yaitu Hibah untuk melakukan penelitian agar layak
diajukan paten (@ Rp. 20 juta), atau untuk mendaftarkan patennya (@Rp. 7.5
juta). Deadline 29 Maret 2011 jam 16.00

4. Hibah Penulisan Buku Teks. Ini Hibah untuk membantu menyelesaikan
Buku Teks. Draft min. 200 halaman. Hibah @ Rp. 20 juta. Deadline: 30 Maret
2011, jam 16.00.

5. Pelatihan Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah International à bagi
staff yang sudah punya draft artikel dapat mengikuti pelatihan. Peserta akan
diseleksi, so, silahkan masukkan usulan sesuai Panduan. Seluruh biaya
ditanggung Dikti. Deadline usulan: 27 April 2011 jam 16.00

6. Hibah Pengabdian Masyarakat Multi Tahun, ada 4 skema: Ipteks bagi
Kewirausahaan, Ipteks bagi Produk Ekspor, Ipteks bagi Inovasi dan
Kreativitas Kampus, Ipteks bagi Wilayah. Masing-masing dapat didanai hingga
Rp. 100 juta / tahun. Deadline: 27 Mei 2011, jam 16.00

7. Insentif Penulisan Buku Ajar. Ini Insentif untuk Buku Ajar yang
sudah terbit. Besar insentif maks Rp. 15 juta. Deadline: 27 Juli 2011 pukul
16.00.

8. Bantuan Penulisan / Publikasi Artikel Jurnal International.
Insentif hingga Rp. 20 juta. Dapat juga diajukan untuk mendapat
reimbursement atas pembiayaan penerbitan jurnal. Deadline, Kamis 28 Juli
2011, jam 16.00

Seluruh Panduan dan surat edaran terlampir, kecuali Panduan dan Surat Edaran
Hibah Pengmas, dan Insentif Buku Ajar, dan Uber HKI (no. 2, 3, 6, dan 7 di
atas, akan diemailkan di email berikutnya). Deadline di atas adalah deadline
di DRPM.

Please mark the deadline on your agenda! Deadline terdekat adalah 24 Feb
2011, untuk pelatihan penulisan jurnal nasional……. Silahkan, ikut pelatihan
sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan dosen-dosen se Indonesia.

Keep typing and finalizing your proposals and beat the deadlines!

Salam hormat, Bondan