Tergantung Laptop

Tergantung Laptop

Manusia-manusia urban sekarang ini amat bergantung hidupnya pada sebuah gadget yang namanya laptop atau notebook atau netbook alias computer jinjing atau apalah namanya…terserah anda saja.

Kalo gak ada laptop seakan dunia berhenti. Coba aja ponakan datang dari bandung bawa ransel backpack isinya baju sedikit dan laptopnya. Tak lupa juga 2 hp nya balcberry dan nokia e63. Ngechat ngetweet dan mesbuk itu aja kerjanya. Ponakan lagi dari pondok labu bawa juga notebooknya dan fesbukan terus update status pacar2an gak jelas arah. Anak sendiri gitu juga…asyik banget download dengan DELL nya yang baru seminggu. Eh taunya bini gitu juga sambil marah2 ama mac-pro nya “lambat banget sih ni mac…kata orang bagus laptop ginian…”

Beh ternyata si bapak meriksa hasil kerja praktek murid juga pake vaio bekas si ibu… wah lengkap deh nyambut akhir tahun dan tahun baru dengan teman gadget laptop dan handphone.

Iklan

SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI

SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI

 Oleh : Adriano Rusfi

Malam ini saya tidak bisa tidur. Ini pasti gara-gara telah lebih dua minggu tak habis pikir : bahwa bangsa ini, sekadar punya kuda-kuda untuk mengambil alih teknologipun tak mampu. Ya, sekadar kuda-kuda. Tapi itu begitu penting. Saya ingat film The American Shaolin, bahwa ilmu pertama yang diajarkan di Biara Silat itu adalah kuda-kuda. Dan itu tiga tahun lamanya, hanya untuk kuda-kuda !!!

Tak habis pikir… lalu tak bisa tidur… Karena akhirnya saya berujung gelisah di tengah malam : bolehkah saya menggugat dan menghujat ? Bukankah saya hanya seorang psikolog yang tak berhak menjadi juri atas kompetensi atau impotensinya para teknolog kita ? Mungkin yang harus saya kutuk adalah keputusan saya untuk menerima tawaran survey tentang SDM IPTEK di dunia industri kita. Lalu survey “celaka” itu menghasut saya untuk menancapkan sebuah kesimpulan brutal : SDM IPTEK industri itu hampir-hampir tak ada !!!

Bah… nekad, menafikan segala ikhtiar puluhan tahun dari ribuan karyawan Research and Development (R&D) yang telah menguras rupiah dan pengorbanan yang tak sedikit. Baiklah… tapi, apa yang telah dihasilkan ? Saya hanya melihat para pekerja kreatif dan tukang-tukang berpengalaman yang berhasil merubah gelas berbibir bulat menjadi segi tiga. Apakah itu yang disebut sebagai SDM IPTEK ? Bukankah SDM IPTEK itu seharusnya adalah saintis dan teknolog yang menggunakan seluruh ikhtiar ontologis, epistemologis dan aksiologis untuk menggambarkan, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan dan merekayasa gejala-gejala ilmiah ? Atau, mungkin saya yang tak mengikuti perkembangan, bahwa belakangan antara teknolog dan teknisi sebenarnya adalah barang yang sama. Bahwa antara implementator dan operator bukan lagi hal penting untuk dipilah. Entahlah…

Sebenarnya saya telah berusaha untuk salut dan berjuang untuk bangga. Lihatlah, nun di sana telah ada “SDM IPTEK” kita yang mampu merubah knalpot sepeda motor tetap bekerja baik di dalam genangan banjir. Di sudut yang lain saya mendecakkan kagum kepada sekelompok doktor yang telah menerbangkan besi ke langit. Namun entah kenapa, saya tiba-tiba saja kehilangan selera setelah tahu bahwa sang modifikator knalpot canggih itu ternyata bahkan tak mampu menciptakan sebatang knalpot paling generik sekalipun, sepenuhnya dari nol. Dan apa yang harus saya gumamkan kalau ternyata para doktor perakit pesawat itu ternyata tak kuasa membuat transportasi yang lebih primitif dari itu : mobil. Beribu maaf… perakit, ternyata bukan pencipta.

Mungkin malam ini saya tak bisa tidur, ulah mimpi sendiri yang saya buat terlampau fatal. Betul, saya terlanjur bermimpi bahwa seorang pakar adalah seorang yang tiba-tiba saja menyicip segelas ramuan asing, lalu serta-merta menari kegirangan sambil setengah menjerit, “A-ha ! Saya tahu kandungannya dan saya bisa membuat resepnya !”. Ya, dia Sang Koki Agung ! Dia membuat resep… Dia bukan pengemis yang meminta agar koki asing membocorkan rahasia ramuannya. Dia bukan pencuri formula yang mengendap di tengah malam menyelundupkan sebuah paten yang telah dikreasikan oleh orang lain dengan susah-payah. Dan dia pasti bukan tukang sampah yang menerima formula kadaluarsa atas nama belas kasih “alih teknologi”.

Mungkin tak ada yang dapat saya salahkan jika malam ini saya kehilangan selera kantuk. Toh saya hanya ditipu oleh mata dan sangka saya sendiri. Saya kira, jika seorang pemain basket telah begitu mahirnya menyarangkan Slam Dunk ke keranjang lawan, berarti dia adalah pemain basket tingkat atas. Saya hanya terlalu naïf untuk paham bahwa, di negeri ini, ada orang-orang yang telah berlatih Slam Dunk sebelum benar-benar menguasai dasar-dasar bermain basket. Permainan mereka begitu menawan dan akrobatis, namun sekaligus begitu menjengkelkan. Ya… menjengkelkan ! Karena mereka hampir selalu urung mewujudkan target sebuah pertandingan : Kemenangan !!! Sobat teknolog yang budiman, target pertandingan itu kemenangan, bukan Slam Dunk. Apa artinya inovasi, jika bahkan melakukan duplikasi sempurnapun kita belum bisa ???

Telah jam satu malam… Dan mata saya nanar menerawang ke masa silam. Ke kisah seorang teman yang kuliah di Teknik Mesin dan mengambil Tugas Akhir di bidang Mesin Pendingin. Ia lalu bekerja selepas lulus, membawa selembar ijazah dan idealisme : ia ingin alih teknologi. Dan iapun bekerja di sebuah perusahaan AC. Suatu malam nasionalismenya telah menggerakkan tangannya untuk mengambil tindakan heroik. Ia curi sebuah prototip AC dan menyelusupkannya pulang. Tiga tahun ia berburu misteri dan rahasia di lorong-lorong AC itu. Dan pada akhirnya ia menelpon saya, “Aku gagal”. Entahlah, ia telah belajar apa saja selama kuliah. Mungkin belajar mesin, tapi bukan filsafat mesin . Mungkin tentang pendingin, tapi bukan hakekat dingin. Mungkin tentang AC, tapi bukan formulanya. Ah… entahlah…

Seharusnya teman saya berganti nama saja dengan Samsung, industrialis Korea, mungkin guratan tangannya akan berbeda. Tadi siang saya baru saja bertandang ke sebuah lapaknya pada ajang Bazaar Bezar Bezaran di Jakarta Convention Center. Samsung buat dan jual apa saja, dengan cara yang paling memikat : ya mutunya… ya desainnya… ya teknologinya… ya harganya… Ia kompeten di televisi, komputer, printer, kamera, ponsel, tablet PC, dan masih banyak. Hampir saya membeli sebuah netbook keluarannya. Desainnya futuristik, spesifikasinya bersaing dan baterenya tahan 14 jam.

Tapi tidak. Samsung bukan bisa mencipta segalanya. Samsung hanya menguasai elektronika : hanya itu !!! Para koki R & D nya tidak belajar ponsel, atau komputer, atau kamera, atau televisi. Tidak ! Mereka hanya belajar elektronika. Mereka cukup tahu diri dan rendah hati, bahwa mereka harus memulai segalanya dari duplikasi, bukan inovasi. Mereka sadar, jika mereka telah menyadari esensi cukup sekali, maka selanjutnya mereka akan menghasilkan seribu satu turunannya dengan begitu mudah. Dan kuncinya hanya satu, berpikir sederhana : Principle of Parsimony !!! Bukankah ciri seorang pakar sejati adalah seorang yang pemikirannya mudah dimengerti awam ?

Mungkin itu yang dimaksudkan dengan sebuah Center of Excellence. R & D bukanlah sebuah pabrik, dan SDM-nya seharusnya bukan para juru masak. Dia adalah sebuah pusat, dan harus berpikir terpusat, bukan macam-ragam. Center of Excellence seharusnya adalah penghasil brainware, bukan software, apalagi hardware. Software dan hardware adalah ulah kelakuan para pabrikan, bukan ulah perbuatan SDM IPTEK yang berhimpun di R & D. SDM IPTEK Samsung adalah koki pencipta resep dan formula, sedangkan pabrikannya adalah juru masak yang melahirkan produk dan benda. Karena Center of Excellence bukanlah Center of Competence.

Sudahlah… terlalu malam hati ini untuk dibakar cemburu kepada Samsung. Toh wajar, mereka memang lebih dekat dengan biara Shaolin. Mereka mungkin telah belajar sabar untuk menguatkan kuda-kuda tiga tahun lamanya. Mereka, dan hampir seluruh peradaban Asia Timur, adalah orang-orang yang sabar dan pekerja keras. Maka, Jepang lebih memilih Kaizen yang merayap namun pasti (continuous improvement), ketimbang konsep Innovation yang melompat dan meletup. Ya… nun di pertengahan abad ke 19 mereka memilih restorasi (renovasi) bukan inovasi. Sudahlah… toh kita tak sama dengan mereka : mereka sabar, dan kita pengambil jalan pintas.

Tampaknya India pun memilih belajar ke para tetangganya di Timur itu untuk maju menapak. Sebuah dialog dalam film The Three Idiots secara tajam menyiratkan itu : Sebuah kisah tentang Sang Rektor berpendidikan Barat yang dengan bangganya menceritakan tentang inovasi berbiaya 150 Juta Dollar Amerika oleh NASA, agar sebuah pena mampu memuncratkan tintanya di ruang hampa udara antariksa. Namun, Sang “Idiot” India bernama Rancho menampiknya dengan logika sederhana,

“Jika tinta tak memancar di luar angkasa, kenapa tak digunakan pinsil saja ???”.

Ya, yang sering kita lupa, bahwa duplikasipun adalah sebuah langkah awal yang paling cerdas. Dan yang dibutuhkan hanya ini : Sebuah kejeniusan yang idiot !!!

India telah mempersonifikasikan dirinya ke dalam sosok Rancho, yang menertawakan sekian banyak kerumitan, textbooks dan rumus-rumus tanpa hati, lalu menawarkan kesederhanaan.

Menggelisahkan… sementara kita sebagai bangsa justru telah kehilangan daya abstraksi, daya ekstraksi, kemampuan meracik-ramu, atau kecakapan susun-tata, yang merupakan modal dasar untuk menjadi peneliti dan perekayasa. Kita kehilangan imajinasi sejak dini, ketika dongeng telah digusur oleh baca-tulis-hitung di usia TK, padahal itu syarat abstraksi dan formulasi. Kita kehilangan kemampuan mapping, ketika kertas gambar putih telah digantikan begitu cepatnya dengan kertas bergaris, padahal itu modal konstruksi. Kita kehilangan kreativitas, persis saat hak belia kita untuk melakukan deformasi dan “merusak”, digantikan secara kejam oleh format-format kurikulum pembelajaran pra-sekolah yang “santun dan membangun”. Padahal, untuk membangun bumi ini Tuhan sengaja mengutus makhluk perusak : Kita, manusia !!!

Jakarta, Dinihari 10 Maret 2011

Adriano Rusfi

Peneliti SDM

Asal Cuap2 Aja Koq…

Asal Cuap2 Aja Koq…

Ceramah di Global Islamic School

Oleh: Raldi A. Koestoer

Ini kunjungan yang ke 3 dan kali ke 2, saya memberi ceramah di Global Islamic School di daerah Condet. Dan kali ini audience-nya adalah guru-guru sains dan matematika dari tingkat SMP sampai SMU. Sedangkan ceramah pertama dulu di bulan Agusus 2007, malah audience-nya itu tidak saya ketahui dari level mana. Yang jelas mereka adalah guru dari sekolah itu. Jarak Depok ke Condet tidak terlalu jauh, 15 menit nyetir pada siang jam 1330 itu mengakibatkan saya datang 10 menit lebih awal dari jam 14 waktu yang disepakati bersama beberapa hari sebelumnya.

Hubungan dengan GIS ini bisa berlangsung lantaran teman saya ngobrol dan berdiskusi masalah pendidikan Wahyu Razak sekarang jadi Wakil Direktur di GIS. Sedangkan Direkturnya adalah pak Syaichol, orang yang saya kenal di SD Al Azhar (sekolah anak saya) sebagai pembina. Mereka gembira bahwa saya mau dan mempunyai kepedulian terhadap pembinaan pendidikan di tingkat SMU. WR bilang kebanyakan dari mereka lulusan UI dari FMIPA. Memang guru kepala SMU nya kelihatannya saya sudah sering lihat tapi… entah dimana lupa. Dia negur saya tadi waktu ketemu saya lagi keliling sembari nungguin WR. Namanya Ai, sepertinya kami sudah kenal lama.

Semua ada kira-kira 15 orang, setelah pak Syaichol membuka sebentar, WR memulai dengan memancing persoalan apa saja yang menjadi kendala bagi para guru. Yang menjadi kegundahan mereka adalah semester depan pelajaran harus diberikan dengan bahasa Inggris. Demikianlah tuntutan dari orang tua murid, karena mereka menginginkan anak-anaknya keluar dari sekolah sini bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus. Para guru sendiri merasa mereka belum kapabel untuk mengajar dalam bahasa asing itu. Untuk materi sains dengan bahasa Indo saja sering problem, apalagi dengan bahasa Inggris. That’s the reason why they feel a bit worry if the program start next semester. But I found one of them, in the discussion speak pretty good english. I spoke in two languages in giving them motivation. I told them, belajar berenang dengan berenang. Gunakan momentum ini untuk memperbaiki diri dengan target yang amat jelas dan sudah didepan mata. Kalau menunggu guru-guru untuk mempersiapkan diri dulu, baru nanti setelah siap program dimulai, menurut saya malah tujuan tidak akan tercapai. Justru dengan mulainya program berbahasa Inggris ini guru dengan terpaksa dari minggu ke minggu memperbaiki diri dalam penguasaan bahasa asing.

Beberapa trick yang saya lakukan saya sampaikan pada guru. Diantaranya adalah apa yang tercantum dalam Quantum Learning dengan satu dua metode disitu guru bisa belajar memperbaiki diri dulu baru menggunakannya langsung bersama dengan murid-murid. Saya yakin dalam satu semester saja guru-guru akan meningkat pesat kemampuan berbahasa Inggrisnya karena keadaan akan memaksa mereka untuk maju. Kemudian tambahannya sekarang adalah, gunakanlah teknologi. Sekarang ini tekno digital mempermudah banyak hal dari film, video, audio digital display, komputer, mp3 dll dll. Semua itu akan banyak membantu komunikasi dan membantu kerja otak baik kanan maupun kiri.

Boleh dibilang untuk saya sendiri, itulah inti kemajuan saya dalam mengajar dengan mempergunakan bahasa Inggris. Untuk mereka yang belum terbiasa, hal ini merupakan siksaan berat. Tapi saya telah mulai, sejak mengajar di kelas internasional, mungkin th 2000. Dan dikelas regulerpun saya sering menggunakannya. Kuncinya adalah first language english, second language bahasa, if you’re stuck with english, both students or teacher are allowed to speak bahasa. So the communication could always be continued anytime. Enforce student to make group’s presentation in english. The discussion will make everybody practice the multiway communication without any difficulty. In the end of the session, everybody will be surprised that the class enrolled very well.

****

Sejak dulu ikut proyek EEDP (Engineering Education Development Program) 1995, saya sering memberikan ceramah pendidikan baik di tingkat perguruan tinggi maupun tingkat sekolah menengah dan sekolah kejuruan. Beberapa coba saya ingat:

–       Itenas Bandung

–       ITI (Institut Teknologi Indonesia), tiga kali

–       FTUI, ini juga mungkin 3 kali

–       Univ Darma Persada

–       Univ Muhammadiyah Yogyakarta

–       Batan Serpong

–       SMU Lab School, kalau ini bukan utk guru tapi murid kelas 3

–       Guru-guru SMK dan STM Indonesia Timur, training di Diknas

–       Para guru di Musi Banyu Asin

–       Para guru di Balikpapan

–       Guru SMU I Depok, 2 kali

–       Guru SMU dan SMK Batujajar

–       Guru di GIS dua kali

Kalau Lina istri saya tanya:”Apa sih yang kamu ceramahin didepan para guru itu ?”

Jawaban saya klise selalu itu-itu aja:”Tau tuh aku asal cuap-cuap aja… Heran mereka koq mau-maunya ndengerin…”

Sebuah jawaban yang menunjukkan kedangkalan pemikiran dan kualitas yang amat meragukan…

(Ral 20Des07, Idul Adha versi pemerintah).

Siklus Fauzi dalam Pengukuhan Guru Besar ITB

Mereka yang lulus dari bidang Teknik Mesin di perguruan tinggi tentu pernah mendengar tentang beberapa siklus yang kerap dibahas dalam kuliah yang ada hubungannya dengan Konversi Energi. Diantaranya adalah Sklus-siklus Carnot, Otto, Diesel, Rankine, Brayton, Stirling, demikian seterusnya. Nama siklus itu berkaitan dengan nama penemunya, dan tak pelak lagi semua itu nama-nama orang Eropa. Penemuannya sendiri sudah cukup lama dalam orde ratusan tahun, mulai abad 18 s/d abad 20 an.

Tapi kali ini putra asli Indonesia memperkenalkan siklus baru, dan tentunya wajar bila siklus ini diberi nama sesuai dengan nama penemunya. Berdasarkan prinsip Combination with Replacement dari Zwilinger, Fauzi kemudian menyusun set siklus termodinamika menggunakan 5 proses isokhorik isobarik isotermal isentropik dan isentalpik. Dengan mempertimbangkan untuk siklus daya maka set siklus itu bisa menjadi 34 set… wuah banyak sekali ya.

Demikian disampaikan dalam pidato ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung

Profesor Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman

dengan judul – Potensi Riset dan Aplikasi Ilmu Konversi Energi untuk Memenuhi Kebutuhan Energi di Indonesia -.

pada tanggal 09 April 2010 di hari jumat jam 14.00.-

Prof Fauzi memberi gambaran bagaimana bila negara kita kekurangan energi… Lampu ruang sidang dimatikan dan semua hadirin berada dalam kegelapan. Dengan begitu semua hadirin langsung merasakan betapa repotnya bila mati lampu mati listrik, bahkan hampir di semua kantor apalagi PNS, bila lampu mati semua pada pulang. Tak ada lagi yang mau kerja. Lihat juga ilustrasi video saat Prof Fauzi berpidato lampu dimatikan sehingga semua jadi gelap. Lahir di Bandung 09 Des 1960. SMP SMA di Maryland USA, 1978-81 Univ of Maryland 70 kredit lanjut ITB 1981-1984 penghargaan preatasi akademik terbaik. 1986-1988 Univ of Minnesota MSME, 1988-1992 Univ of Minnesota PhD.-

Pidato ilmiah selanjutnya disampaikan oleh

Prof Kuspriyanto

dengan judul: – Perkembangan Komputer: Pemahaman dan Perspektif Masa Depan -.

Menurut prof Kuspriyanto perspektif masa depan komputer berkaitan dengan waktu, kemudian real-time, space, ubiquitous (…gerangan binatang apakah ini ?), artificial intelligence, perangkat input-output…
Lahir di Yogya 1950, istri RA Kabirun Kuwati Doktor sistem otomatik USTL Prancis 1981.