Doktor T Mesin Gatot Prayogo

Telah berhasil mempertahankan disertasinya dan memperoleh gelar DOKTOR dalam bidang Ilmu Teknik Mesin yang dipertahankan dalam sidang terbuka Senat Akademik Univ Indonesia dipimpin oleh Ketua Dewan Guru Besar FTUI Prof Dr Harry Sudibyo Sutjokro, pada hari Kamis 04 Maret 2011

GATOT PRAYOGO

Dengan judul disertasi

Kerusakan Awal Makro Bahan Komposit GFRP Akibat Beban Tumbukan Berulang RAINDROP.

Promotor Prof Dr Ir Tresna P Soemardi SE MS, Ko-promotor Dr Ir Danardono AS DEA, Dr Ir Gandjar Kiswanto MENG. Penguji Prof Dr Ir Satryo Soemantri Brodjonegoro, Prof Dr Ir Anne Zulfia S MSc, Prof Dr Ir Yanuar MSc M Eng, Prof Ir Jamasri PhD.

Lahir di Ponorogo pada 28 Maret 1959 (… sehingga oleh Prof B Suryawan sedikit dikomentari: ” Semestinya beliau lulus dari UNDIP… Universitas Di Ponorogo…”). Lulus dari Teknik Mesin FTUI tahun 1984, menikah dengan Dr Iriawati dan dikaruniai putra Genki Imam Prayogo dan putri Ghina Rahmadinia Prayogo. MEng di Toyohashi Univ of Technology.

Iklan

TPB The Prof Band Lupa Syairnya

Uda lama saya gak ikut latihan band The Prof. Emang biasanya kalau bulan puasa kan saya off jadi sejak bulan Agustus ya… Saya sdh tak pernah lagi ikut latihan sama TPB. Biasanya abis lebaran terus tune-in lagi.

Tapi ini lebaran sudah lama lewat dan banyak show dijalani oleh TPB saya masih gak ikut juga, ini karena banyak kegiatan ‘se-akan2’ bisnis. Begitulah jadinya minggu lalu waktu saya mampir di Odessa, yang niatnya cuman buat foto2 dan video aja, manager bilang “Minggu depan lo nyanyi ya..” Gitu aja pokoknya. Untuk kegiatan apa, dimana juga belum tahu. Emang kita2 gak biasa nanya2 detail kaya perempuan gitu. Pokoknya just main musik aja.

Jam 18-21 tgl 01Nop09 hari Ahad di Odessa… itulah seringkali jadwal latihan TPB. Dan tak lupa saya juara telat jadi datangnya juga setengah delapan. Dari balik pintu udah saya denger tuh intro lagunya Kuburan (ini band anak muda, yang mukanya di coreng moreng).-

Jadilah saya nyanyi itu lagu yang kata2nya kaya dibawah ini.

[*] Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya

Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya

[**] C A minor D minor ke G ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi

Back to [*] [**]

C A minor D minor Ke G ke C lagi A minor Demi moore ke C Ke C lagi D minor ke G ke C lagi

A minor D minor ke G ke C lagi A minor D minor Ke G Ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi

Nah abis dari C kita kemana nih.

Bagian tengahnya diisi dengan interlude brass, wah…kayanya bole juga tuh hasil karya arranger dan pelatih kita mas Harry Wisnu.

Hadir kemarin cukup banyak Professor, diantaranya Prof Sarlito, Prof Triatno, Prof Agus Sarjono, Prof Paulus Wirotomo (drummer), Prof Raldi, Prof Nugroho (dari Sahid). Berikut juga anggota lain pelatih Harry, Abang (saxo, ini anaknya mas Harry), Gedek, Faisal (keyboard), Budi Sukada, Mbak Yayi manager. Ada juga trio tiga penyanyi wanita ibu Erry Yudoyoko, mbak Een…dan satu lagi yang muda…. LUPA LAGI NAMANYA. Ini gara-gara nyanyi Lupa Lupa jadi lupa semuanya…

Sorry videonya rada berisik jadi tolong dikecilin volume speakernya kalo gak nanti sakit kuping. Tapi banyak pembicaraan di dalamnya saat latihan yg mungkin jadi menarik utk mereka yang ingin tahu dapurnya TPB.-

Pada saat yang sama SBY di istana lagi berunding dengan 4 tokoh masyarakat dalam penanganan masalah Bibit Slamet Rianto dengan Chandra hamzah yang dijadikan tersangka oleh polisi dan sekarang dipenjara Kelapa Dua. Diantara 4 tokoh itu ada Komaruddin Hidayat, Anis baswedan, Hikmahanto Juwana dan Teten Masduki. Sedang Presiden SBY ditemani oleh Djoko Sujanto, Dino Pati Jalal dan Deni indrayana. Dari konperensi pers setelah usai pertemuan kayanya akan dibikin Tim independen agar masalah ini bisa diselesaikan dengan cara-cara yang transparan.-

Kalo mo liat tiga dara penyanyi TPB, klik aja:

https://koestoer.wordpress.com/musik/hiphura-tpb-the-professor-band/

 

TVone Apakabar pagi week end

The Prof Band dalam acara TVone Apakabar pagi, untuk itu dengan sendirinya kudu bangun pagi dong. Jam 05.30 pagi 24Jan09 Sabtu sudah meluncur ke sudirman karena harus siap jam 6 sedang acara akan mulai jam 06.30. Tumben juga kali ini bertiga…wuih heibat mek, saya dikawal dua wanita Lina dan Lulu, dua bidadari cantik berjilbab. Rupanya mereka ingin juga menyaksikan acara Live on-air TVone Apakabar Pagi Indonesia Week End. Jadi yang ngurus Week End ini spesial, selalu on-air ruang terbuka dan ada musiknya kadang jazzy. Wawancaranya agak relax dan santai.

Sampai disana sudah ada band lain Five Minutes dengan

4 pemain gitarnya. Rupanya mereka on-air lebih dahulu jadi TPB bisa briefing dan latihan sebentar.

Mari kita lihat videonya yang diambil oleh Lina sebagian dari arah kiri panggung, tentu saja berbeda angle dengan kamera TV.

TPB AND THE CHANGCUTERS (Sarlito)

Ini ada sedikit refleksi saya ketika main bersama Changcutters di Indosiar. Silakan difwd ke siapa-siapa yang mungkin tertarik.

JAN 11 2009 TPB & CHANGCHUTTERS

TPB AND THE CHANGCUTERS

Oleh:  Sarlito Wirawan Sarwono (Prof. Dr.).-

Waktu mbak Yayi (manajer TPB) sms saya bahwa TPB (“The Professors” Band) diminta main di Indosiar, saya biasa-biasa saja. Ini bukan pertama kalinya TPB muncul di TV.

Seingat saya TPB pernah main di TVRI (Kampanye Dialogis UI, 2004), Global TV dan Metro TV. Bahkan yang lebih heboh dari masuk tivipun sudah pernah: ikut JakJazz dan JavaJazz (2006 & 2007), malah sudah dapat Rekor Muri (Desember 2008). Karena itu,saya santai saja dengar undangan Indosiar ini.

Tetapi TPB tetap harus latihan, karena buat saya TPB harus selalu tampil prima. Padahal mas Harry Wisnu, instruktur TPB, masih berlibur ke Bali dengan keluarganya. Maklum pemberitahuan pas di tahun baru. Jadi HW saya sms, gak mau tahu…harus pulang. Tetapi dia gak punya duit untuk pulang duluan, karena dia naik mobil bareng keluarga. Jadi mbak Yayi dan saya cari akal, pokoknya kirim duit, HW bisa beli tiket pesawat dan tanggal 3 Januari 2009 sudah sampai Jakarta.

Rencananya HW akan tulis partitur sekaligus rekam lagu-lagu yang akan dimainkan. Dia rekam suara saxophone dan vokal yang masing-masing dipecah jadi tiga suara. Maksudnya supaya masing-masing bisa dengerin dulu CD-nya sambil latihan.

Maka tanggal 3 Januari malam, saya ke rumah HW. Malam-malam sekitar jam 21. Eeeh..bener, dia lagi ngerekam bersama juru rekam audio kita, namanya mas Lily. Rumahnya sepi, karena semua masih di Bali. HW rekam satu-per-satu lagu, mulai dari pengiring (combo dengan menggunakan mesin K-Board), brass dan vokal. Pekerjaan sangat berat, karena banyak sekali dan harus siap malam itu juga, karena besok sore (tanggal 4 Jan, Minggu sore) kami akan latihan.

Lagu-lagunya sudah ditentukan oleh Indosiar: Dua lagu rock dari TPB sendiri dan satu lagunya Changcutters, “I Love U Bibeh” (maksudnya “Baby”, tetapi sengaja dinorak-norakin), karena TPB mau dikolaborasi dengan Changcutters. Salah satu lagu TPB sendiri adalah ‘I Saw U Standing There” (The Beatles) yang akan dinanyikan oleh Prof Iam (Ikhramsyah) yang dokter spesialis kebidanan (pakar alat vital wanita).

Selain lagu ini sudah kami hafal, karena sudah pernah masuk album TPB, juga Prof Iam ini, kalau sedang menghadapi publik musik rock, gayanya bisa menggebrak publik sehingga semua bisa disuruh goyang. Beda bener dengan kalau sedang menghadapi alat vital wanita, tampangnya serius banget. Gak ada senyumnya sama sekali, karena alat vital memang gak bisa diajak tersenyum.

Lagu yang satu lagi adalah “Save the last dance for me”. Lagu ini sudah berkali-kali mau ditampilkan, partiturnya sudah sering dilatih, tetapi memang selalu batal dibawakan, entah kenapa. Tetapi, buat saya yang main saxophone, partiturnya memang agak rumit untuk dimainkan. Lagunya pun gak gampang untuk dinyanyikan, apalagi dalam trio (tiga suara). Tetapi sudahlah… hitung-hitung penghangatan memori tentang lagu itu.

Nah, yang bikin mabok adalah lagunya the Changcutters itu. Saya pikir lagu itu gampang banget, karena saya sudah sering dengar “I Love U Bibeh”. Tetapi yang saya mainkan, kan bukan lagunya, melainkan iringan dan interlude saxophonenya. Nah… ini yang ternyata sulit. Tanggal 3 malam itu, saya coba-coba ikuti mas Harry sambil dia rekaman… walaah.. sulitnyaaa… banyak break dan singkupnya. “Secara” notnya juga belum hafal, dan lagunya (iringan) baru dengar itu. Dasar amatir. Kalau profesional, kan begitu dikasih partitur, baca, langsung bunyi. Sekali dua kali latihan, jadi!

Saya mah, enggak. Lebih baik malam itu pulang saja dulu, dan mas HW terus merekam dengan mas Lily sampai pagi. Jam 11 hari Minggu saya ketemuan dengan HW di PIM II untuk menerima CD itu dan dari PIM saya langsung pulang ke rumah. Di rumah saya langsung nyebul (latihan saxophone, maksudnya).

Sorenya, waktu latihan, saya belum hafal juga. Padahal malam itu sudah direkam oleh Indosiar untuk promo. Untung yang disiarkan untuk promo adalah “I saw U standing There” yang memang kami sudah hafal di luar kepala.

***

Latihan tanggal 4 Januari 2009 diliput oleh Indosiar. Kamera-kamera beredar terus sementara kami berlatih. Profesor-profesor yang hadir diminta berkumpul untuk diambil gambarnya bersama-sama untuk promo. Di situlah untuk pertama kalinya ditentukan bahwa yang akan menjadi “Trias” (membawakan “I Love U Bibeh”) adalah Prof. Raldi, guru besar mesin dari Fakultas Teknik yang biasanya main fluite atau gitar. Ternyata Raldi ini suaranya bisa teriak seperti Changcutters, dan gayanya bisa lebih gila dari Trias.

Latihan hari pertama masih jauh dari harapan. Terutama saya, masih belum hafal-hafal juga partitur “I Love you Bibeh”. Terutama dalam fingering skill-nya, masih tersendat terus. “Secara” (ini istilah norak anak gaul, ternyata enak juga dipakai, ya) lagunya kan cepat, jari-jemari juga harus bergerak cepat, sambil teknik mengambil nafas juga harus pada saat yang tepat kalau gak ingin kehabisan nafas.

Jadi kami menentukan latihan lagi hari Rabu tanggal 8 Januari. Malam, setelah kantor. Saya latihan lagi di rumah. Mbak Yayi (saxophonist ketiga), sampai memerlukan les privat di rumah mas Harry.

Latihan hari Rabu, Pak Rektor (Prof Gumilar) dan istrinya, Bu Nenden datang. Prof Gumilar sebenarnya bukan penyanyi (yang penyanyi Bu Nenden, isterinya). Tetapi sejak MURI, beliau saya pasang (biar profesornya pas 10 orang) dan saya umumkan sebagai penyanyi. Maka sekarang dia harus nyanyi. Maka mas HW dan Prof Raldi memberi kursus kilat nyanyi “I Love U Bibeh” kepada Rektor. Awalnya gak hafal-hafal, kecuali bagian Luna Maya dan Britney Spearsnya. Tetapi lama-kelamaan hafal juga. Malah koreografinya dia bisa ngikutin Prof Raldi yang loncat sana-loncat sini.

Penyanyi wanitanya trio: Bu Nenden, Astrid (anaknya Sarlito, yang dulu ex-dosen psikologi UI) dan Maya (mahasiswa FISIP Antrop, anaknya HW, menggantikan mbak Een, ibunya/isterinya HW yang malam itu gak bisa datang). Mereka menyanyikan “Save the last dance for me” (featuring) dan menjadi backing vocal buat Prof Iam dan Prof Raldi + Prof Gumilar.

Masalahnya, koreografi mereka bertiga harus kompak sehingga enak ditonton. Gak boleh tabrakan seperti gaya Changcuters. Untuk itu didatangkan pelatih koreo dari Batavia Dance Group, namanya Ryan, BPM (bukan gelar akademik (bachelor in Pakar menari”, tetapi singkatan “Belum Pernah Mutilasi”). Ternyata koreografi ini cukup merepotkan buat penyanyi. Hafal lagunya, gerakannya tabrakan. Gerakan betul, nyanyinya lupa…hahaha… dasar amatir.

Latihan berikutnya adalah hari Jumat malam. Langsung di Studio 1 Indosiar. Istilahnya check sound, nyatanya ya latihan penuh. Pemain juga lengkap: Saya sendiri (psikologi, saxophone), Prof Safri (Dekan FHUI, gitar), Prof. Goti Triatno (Guru besar arsitek, gitar), Prof. Raldi Artono  (Teknik Mesin, gitar + vocal), Prof. Paulus Wirotomo (Sosiologi, drums), Prof. Iam (Kedoteran, vocal), Prof. Gumilar (Rektor/sosiologi, vocal). Semuanya 7 orang professor. Seharusnya ada Prof. Ronny Nitibaskara (Kriminologi, gitar), sayang beliau berhalangan dan pada hari H-nya pun beliau tidak tampil (walau sudah sempat bergaya di promo).

Yang non-profesor adalah: , HW alias Harry Wisnu (pelatih, saxophone), Yayi Paulus (isterinya Prof Paulus, manajer, alumni FISIP, saxophone), Iyan (mahasiswa FT, K-board), Nanta (alumni FT, bapaknya Iyan, Bass), Nenden (isterinya Rektor, vocal), Een (isterinya HW, pelatih vocal, vocal) dan Maya lagi (kali ini nggantiin Astrid yang berhalangan).

Untuk tiga lagu itu, kami berlatih hampir dua jam (jam 20-22), karena masih salah-salah dan koreografi para penyanyi masih tabrak-tabrakan. Beberapa crew sudah mulai capek dan putus asa. Tetapi mbak Rina yang mewakili Indosiar untuk group TPB terus memberi semangat. Kami sendiri sudah mencapai point of no returns, sebab promosi yang setiap hari di Indosiar, menyebabkan setiap kami (terutama yang para professor) ditanya oleh semua kawan masing-masing dan ditagih janji untuk main bagus pada hari H nanti. Kami jadi stress, sampai-sampai Bu Rina bolak-balik tanya, “Mana senyumnyaaa…” Mana bisa kami tersenyum kalau serba takut salah…?

Akhirnya tim vocal memutuskan untuk berlatih lagi hari Sabtunya, tanggal 10 Januari, pagi di rumah Rektor. Setelah berlatih dan berlatih, Astrid menyerah. Dia memang penyanyi dengan warna suara yang jazzy, tetapi bukan penari, melainkan olahragawan (squash dan yoga). Gerakan squash memang nabrak-nabrak, sedangkan Yoga sama sekali gak bergerak, jadi gak ada yang kompatibel dengan koreografi yang membutuhkan harmoni dalam gerak. Jadinya komposisi akhir penyanyi adalah Nenden, Een dan Maya.

Ibu dan anak tampil bersama, tetapi gak ada yang nyangka bahwa Een mamanya Maya, karena fisiknya masih…. Aduhaiii.. walaupun anaknya sudah 6 (kalau termasuk mas Harrynya ya … tujuh).

***

Akhirnya datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Hari Minggu, 11 Januari 2009. Ulang Tahun Indosiar ke 14. Para awak TPB (dan seluruh penampil) disuruh datang jam 15.00, karena sesudah itu pintu ke gang di depan Indosiar akan ditutup. Gerbang utama Indosiar sudah disulap jadi panggung. Dan ternyata di sekitar Indosiar sudah dibangun banyak panggung (saya dengar ada 7 panggung), di mana para bintang akan bermain bergantian di panggung yang berbeda-beda, sambil panggung yang sudah dipakai disiapkan untuk acara yang berikutnya dipanggung itu lagi.

Saya tidak hafal band apa saja yang muncul malam itu. Yang saya tahu selain Changcutters ada Ungu, Peter Pan dan entah apa lagi, dan grup anak-anak penyandang cacat yang membawakan acara tari dan nyanyi (termasuk “Laskar pelangi”) yang mengharukan (karena dibawakan oleh anak-anak tuna rungu, tuna netra, atau yang duduk di kursi roda).

Saya sendiri sudah hadir jam 14.00. Hujan lebat sekali. Turun dari mobil saya sudah ditunggu oleh Ulfa. L.O. (Liaison Officer/penghubung) untuk TPB. Dia siap dengan payung-payung besar untuk mengamankan saya dan saxophone saya dari hujan. Tetapi yang diamankan di atas (air hujan), yang lupa diamankan yang di bawah (ada teralis pendek di bawah panggung). Seharusnya saya melangkahi teralis itu, tetapi karena gak dikasih tahu, saya tersandung, maka terpuruklah saya (maksudnya: jatuh tengkurep gitu loh!). Fisik sih gak apa-apa, tetapi psikis terluka hebat…hahaha… maluuu.. tahu… diliatin orang banyak, seorang professor konduang jatuh tersungkur. Ulfa berteriak-teriak minta tolong dan seorang Satpam segera membantu dan saya cepat diamankan ke kubikel (bilik darurat) yang khusus disediakan untuk TPB di Studio 2 (pas di samping studio 1).

Sambil bersih-bersih baju, saya mengamati keadaan sekitar (dasar pengamat sosial, kan?). Rupanya Studio dua sudah disulap dengan membangun sekat-sekat sehingga terdiri dari bilik-bilik kecil (kubikel) untuk masing-masing artis, kecuali bagian tengah studio yang dibiarkan terbuka dengan banyak kursi. Kubikel kami cukup OK.

Rupanya dipersiapkan dengan matang. Ada beberapa kursi, dan satu meja rias, dan dua bilik kecil bertutup tirai kain untuk berganti pakaian dan sholat. Kepada TPB ditugasi seorang juru rias khusus (katanya beliau dosen IKJ Jurusan Tata-rias). Kotak-kotak makan siang dan dos-dos Aqua sudah tertumpuk di sudut kubikel agar setiap yang kelaparan atau kehausan tidak usah mencari makan minuman ke luar.

Tetapi kubikel kami segera penuh. Karena setiap anggota TPB yang datang membawa pasukan (anak, isteri, pacar, supporter, asisten tukang angkut tas dsb). Saya lihat-lihat, mungkin hanya saya sendiri yang datang sendirian. Supir saya, Yunus, saya suruh nunggu jauh-jauh di lapangan parkir (dia bisa nonton dengan nyaman dari layar raksasa yang dipasang di luar Indosiar).

Karena kubikel penuh, maka sebagian dari anggota duduk di luar. Nah, kebetulan sekali kubikel kami bertetangga dengan kubikelnya Dewi Persik (gabung dengan Tia AFI) dan Mulan Jamilah. Dan penutup kubikel hanya tirai dari kain putih tipis yang sealu berkibar setiap ada yang lalu lalang dekatnya (terhembus angin malam kaliii…). Akibatnya nampaklah barang sedikit anekdot-anekdot yang terjadi di dalam  kubikel-kubikel jiran itu.

Saya sendiri duduk di dalam kubikel sambil ngobrol dengan Rektor dan Prof Iam  mengenai masa depan UI (kedua prof ini malam itu alim, karena dua-dua ada  isterinya). Tetapi yang sering duduk di luar adalah Prof Paulus. Beliau ini, walaupun ada isterinya, nakalnya bukan alang kepalang. Setiap kali setelah beliau  melihat sesuatu, dia masuk ke kubikel untuk berceritera plus dibumbui dengan  khayalan-khayalan panas (seperti mau mengirim pisang ke sebelah…entah pisang maksudnya buat apa). Tapi yang paling heboh adalah ketika Prof Paulus melaporkan  bahwa Dewi Persik hanya memakai jala-jala untuk bawahannya… waduuh… Kata prof Raldi,  usia-usia sebaya professor-profesor ini, kalau melihat Dewi Persik pun sudah gak  “nendang” lagi… tapi denger ceriteranya Prof Paulus, saya jadi nendang juga,  nih…huahahaha…

Belakangan, pas sebelum manggung (giliran Dewi dan Mulan, pas sebelum TPB), Dewi dan  Mulan keluar dan bersalaman dengan kami satu persatu. Di situ para professor yang  tadinya urakan, langsung Jaim (jaga image) semua, seakan-akan alim semua, apalagi  Dewinya sopan banget, munjungan seperti kepada eyang-eyangnya sendiri. Berhenti dah  itu semua oceh-ocehan yang garing dan vulgar, yang tadinya berisik banget (kali Dewi  denger juga, yah?…hiiii.. malu). Tapi di situ jadi clear apa yang dikenakan Dewi.

Ternyata Dewi mengenakan stocking jala-jala, dan di atas stocking itu ia memakai  celana pendek ketat terbuat dari bahan jeans. Atasannya dia memakai baju ketat  berlengan panjang, sedangkan kakinya terbungkus sepatu boot ber-hak tinggi, sehingga tampak makin semampai (Pak Rektor malam itu juga pakai sepatu boot, tetapi kok gak semampai, ya?).

Sesudah selesai salam-salaman, maka acara group photo. Nah semua pengen deket Dewi. Profesor-profesor kok pada seperti anak kecil semua, berebut mau deket idolanya. Kalau saya mah tenang aja. Ngumpet di belakang juga gapapa. Yang penting besok minta tolong mahasiswaku yang polisi intel atau reserse untuk cari tahu HP-nya Dewi Persik… nah… itu kan solusi cerdas namanya? Pokoknya Save the last “dance” for me… ya, kan?

***

Ternyata jadi artis sengsara juga ya. Kami harus stand by sejak jam 15. Padahal latihan GR (gladi resik) baru jam 17. Di luar katanya hujan sudah berjenti (berkat pawang-pawang Indosiar yang sakti-sakti), tetapi lautan manusia tidak terkira-kira banyaknya. Konon pacarnya Maya, kena semprot air pengusir massa, sebelum akhirnya bisa menembus masuk ke dalam. Walaupun begitu di dalam kubikel kami terus mencoba focus dan konsentrasi, mempersiapkan fisik dan mental.

Para vokalis diminta maju semua oleh mas HW dan dengan iringan gitar, mereka dipandu mas HW untuk vocalizing (pemanasan vocal)…hm..hem..hem.. la..la..la..la..hahiheho..hahiheho… dan seterusnya.. dari nada rendah ke tinggi, kembali ke nada rendah dan seterusnya sampai tali-tali suara pada lentur biar nanti nyanyinya gak fals.

Selama menunggu itu, AC Studio 2 duingiiin sekali. Ada beberapa kali tercium bau kentut (pasti ada yang masuk angin), tetapi semuanya diam saja seolah-olah tak terjadi apa-apa, demi tata tenteram, sopan santun, etika dan agama. Katanya latihan jam 17, nyatanya hampir jam 18.00 kami baru mulai latihan.

Stand by di Studio 1 yang lebih dingin lagi, selama 30 menit. Gak boleh kemana-mana, tetapi bisa sambil nonton yang sedang GR di panggung. Dalam kesempatan itu Eko Patrio mendatangi saya untuk menyatakan apresiasinya. Begitu juga Indro. Saya cengar-cengir aja, karena dalam hati masih nervous bukan main.

Akhirnya TPB dipanggil naik ke panggung. Maka satu per satu kami naik ke panggung dan menempati posisi masing-masing. Tim kombo (drums, gitar, bass, K-board) bersempit-sempit ria di sudut kanan yang khusus untuk band (tetapi nampaknya mereka siapkan untuk band yang terdiri dari 4 oang saja, sementara kombo-nya TPB saja sudah 6 orang).

Tim brass (saxophones) ditempatkan di depan panggung, tepatnya di pinggir panggung penyanyi. Para vokalis ngumpet di belakang tiang-tiang raksasa di bagian paling belakang panggung, nunggu giliran untuk maju satu per satu. Begitu ada aba-aba dari floor director, tiga dara Een-Nenden-Maya muncul dari balik tiang, berjalan gontai ke depan sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar…”, langsung diikuti intro K-Board dari Iyan yang dilanjutkan dengan petikan bass, hentakan drums, dan jeritan saxophones yang member semangat, dan ketiga dara pun menyanyi “…save the last dance for me…” sambil bergeser ke kanan, ke kiri mengikuti koreografi yang sudah lumayan mereka hafal.

Dari bawah Bu Rina mengacung-acungkan prompter besar bertuliskan: S E N Y U M ! Tetapi anggota The Prof tetap saja tegang. Terutama Prof Paulus, yang masih terbayang-bayang Dewi Persik, sehingga ngitung birama salah-salah. Terpaksalah HW balik kanan membelakangi kamera untuk memberi aba-aba kepada drummer slebor kita.

Syukurlah lagu pertama selesai dengan selamat. Masuk lagu kedua, prof Iam turun dari tiang belakang panggung, sambil mengajak hadirin untuk ber-rock and roll, “… are you ready? … one, two, three, four…” dan langsung diikuti oleh jeritan kompak brass “I saw you standing there” dan Iam yang berbusana all jeans and boot, menggoyang audiens dengan gerak dan nyanyinya yang heboh.

Penonton waktu GR itu adalah crew dan calon-calon peserta/pemain di studio 1. Semuanya bergerak bersemangat mengikuti aba-aba Prof Iam. Jadi malam itu di panggung Studio 1 ada dua orang AFI, yaitu Tia AFI (Akademi Fantasi Indosiar), dan Prof Iam AFI (Alat Fital Ibu-ibu).

Selesai membawakan lagunya, Prof Iam langsung memanggil Prof Raldi dan Prof Gumilar. Mereka segera tampil, tetapi gak langsung nyanyi, karena nunggu intro gitar yang diikuti drum. Kok gitarnya gak bunyi-bunyiiii…. Eeh.. gak tahunya prof Goti yang harus intro dengan gitar malah lupa. Jadi dia nunggu penyanyi, sementara penyanyi juga nunggu gitar… waduuh… terus setelah gitarnya akhirnya bunyi… drumsnya gak sinkron singkupnya dengan gitar dan bass. Padahal Prof Raldi sudah siap dengan jarinya menunjuk-nunjuk mengikuti gaya Trias, dan Prof Gumilar sudah siap dengan busana koboinya, lengkap dengan topinya…. sambil mengafal kapan dia harus bilang Britney Spears, kapan Luna Maya, dan kapan nenek sihir dan kapan buaya… salah-salah ingat, bisa-bisa Britney Spears disangka buaya, dan Luna Maya dikata nenek sihir… Karena itu GR diulang beberapa kali, sampai pukul 18.30, yaitu pas acara ulang tahun akan dimulai.

Kami pulang ke kubikel untuk menunggu lagi. Tadinya kami dijanjikan (sesuai jadwal), manggung jam 20.00, tetapi mundur jadi jam 21, dan mundur lagi jadi jam 22. Selama menunggu itu kan degdegan sekaleee… Keringat dingin gak berhenti-henti mengalir. Kalau saya sesekali ke WC, liwat monitor TV, tengok para artis professional yang bermain luar biasa, saya jadi pengin pulang aja… Untung gangguan setan bisa saya atasi. Dengan mengucap Audubillahiminas syaitonirojiiim… saya bertekad kun faya kun! Untungnya ada Dewi Persik yang sedikit membuat kami rileks.

Pas jam 21.30 kami ngumpul Briefing akhir dari mas HW, membulatkan tekad, berdo’a dan yell… one..two..three..four..so-so-so!!. Sesudah itu kami siap digiring menuju panggung Studio 1. Penontonnya sudah penonton beneran, bukan penonton jadi-jadian seperti waktu latihan tadi. Kami diminta menempati pos masing-masing di panggung, sementara Dewi Persik dan Mulan Jamilah juga siap. Kemeja Dewi Persik terbuka bagian atasnya, mempertontonkan dadanya yang bertitik-titik peluh…aduhai…siapakah gerangan pemuda yang beruntung boleh mengusap peluh-peluh nakal ituuu…???

Breng-breng-breng..!!! Tiba-tiba band pengiring Dewi dan Mulan menghentak nyaring. Saya terbangun dari lamunan dan sempat melihat pandangan mas HW juga ke arah yang sama…hihihi… mas HW ada isterinya juga nakal…

Dewi dan Mulan langsung menggeliat-geliat dan meloncat-loncat sambil mengeluarkan vokalnya yang powerful menguasai suasana di seluruh Studio 1. Pada akhirnya mereka berhenti seperti patung sambil menyerukan…”Berikutnya kita undang … The professor band…” dan kedua tangan mereka mengacu kepada posisi TPB. Kamera berpindah dari Dewi dan Mulan ke TPB. Satu detik, dua detik… saya tunggu… sambil mulut saya siap di mouth piece saxophone…kok gak mulai-mulai? Tiga detik.. akhirnya saya menengok ke belakang. Ternyata saya lihat mulut Iyan sedang membuat kata-kata (bahasa bibir), “M A T I” untuk dibaca HW. Astaga… K-board mati? Saya panik habeess… Mau pingsan.

Tapi kalau pingsan disorot kamera kan lebih jelek lagi. Tetapi HW sama sekali gak panik. Dia tunjuk Pak Nanta pada bass. Ternyata juga sama, mulut pak Nanta komat-kamit…”M A T I”. Saya udah mau pingsan beneran, tetapi HW tetap tenang. Dia tunjuk Prof Raldi pada gitar. Ternyata gitar bunyi! Dia mainkan satu bar, brass langsung masuk dan bass dan K-board ternyata juga udah bunyi.

Untungnya ternyata ketiga dara berhati baja luar biasa, ketika K-board mati, mereka tidak panik. Mereka cuma nunggu dua detik, langung jalan menuruni undakan menuju bagian depan panggung sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar”. Pas mereka sampai di depan panggung gitarnya Prof Raldi sudah bersambung dengan brass, dan mereka langsung masuk.. nyanyi… Intro yang sangat cantik. Saya lega benar, karena itu saya tersenyum lebar dan saya lihat semua anggota TPB tersenyum. Senyum lega, bahagia, gak jadi malu… gitu loh. Bukan senyum untuk mengentertain penonton.

Tetapi yang jelas kami bisa tersenyum terus sambil bermain sampai akhir, yang membuat Bu Rina senang bukan alang kepalang, karena tidak perlu mengangkat-angkat promptnya lagi.

Pada akhir lagunya, tiga dara memanggil Prof Iam yang segera tampil dari belakang tiang, meloncat-loncat kecil menuruni undakan sambil mengajak penonton bergoyang. “One..two..three..four..when you are just seventeen…” dan pak Handoko, Dirut Indosiar, pun ikut bergoyang.

Dalam interlude Prof Iam memperkenalkan kawan-kawannya pemain TPB yang professor. Tiba pada giliran Prof Paulus, beliau mendemokan drum roffel-nya sampai hampir meruntuhkan studio. Luar biasa, Prof Paulus sudah melupakan Dewi Persik. Buktinya dia berhasil menjaga tempo drumnya dengan gilang-gemilang selama sekitar 12 menit, mengiringi tiga lagu yang tadinya sulit sekali dikuasai.

Selesai Prof Iam, dua anak kembar, prof Raldi dan Prof Gumilar dipanggil turun dari balik tiang. Penampilan Prof Raldi yang seperti cicak nginjek petasan langsung mengundang tempik sorak penonton. Ditambah lagi dengan Prof Gumilar dalam busana koboi yang berhasil membuang kemaluannya (baca: rasa malunya) jauh-jauh. Maka gegap gempitalah seluruh Studio 1.

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tahu apa yang terjadi, karena mata saya terpaku pada partitur yang tidak boleh salah baca. Nasib saya memang selalu diridhoi Allah. Partitur sesulit apapun, pada hari H selalu dipermudah oleh Allah. Sekan-akan ada malaikat yang membantu menggerakkan jemari saya yang selama ini salah-salah melulu.

Pengalaman seperti ini terjadi juga waktu JakJazz dan JavaJazz. Tentu semua ini berkat do’a saya yang khusuk. Untuk masalah lain mungkin do’a saya tidak khusuk, atau saya PD aja sampai lupa berdo’a, tetapi kalau mau main band yang super berat, selalu saya berdo’a dulu. Dan terbukti Allah tidak pernah ingkar janji… ya, kan?

Tetapi perhatian saya tiba-tiba terpecah, ketika tiba-tiba penonton menjerit-jerit histeris. Saya mengintip sebentar dengan sudut mata saya (sementara masih membaca partitur), ternyata ke empat awak Changcutters semua naik ke panggung. Trias asli langsung bergabung dengan kedua Trias palsu dan membawakan “I Love U Bibeh” dengan gayanya yang asli juga, termasuk merosot-merosot di panggung (Prof Raldi boleh berjingkrakan, tetapi untuk merosot dipanggung… nanti duluu…kalau ada tulang punggung yang terjepit..ujung-ujungnya RSCM…hahaha..).

Sudah barang tentu, penonton berteriak-teriak, “Lagi!..Lagi!…Lagi!”. Maka kami dan Changcutters pun mengulangi lagu itu sekali lagi, sambil layar TV menanyangkan telop penutup. Rupanya sutradara sengaja menempatkan kolaborasi TPB dan Changcuters pada acara penutup, agar bisa jadi klimaks betul dari acara HUT Indosiar ke 14 itu.

***

Bahagian ceritera berikutnya adalah anti klimaks. Pak Handoko, langsung memberi selamat begitu saya turun dari panggung. Di ruang ganti, kami berkumpul, evaluasi. Semuanya puas. HW menjelaskan apa yang sudah bagus dan apa yang masih kurang. Prof Iam, saya, Bu Rina, dan yang lain kasih masukan. Tetapi semuanya puas. Prof Benny Hoed yang tidak dipasang pada event kali ini mengucapkan selamat liwat sms. Begitu juga Astrid yang gak jadi berparisipasi. Selanjutnya HP setiap partsipan penuh dengan ucapan selamat. Facebook saya juga begitu.

Konon Indosiar langsung merencanakan program khusus untuk TPB, dan seorang teman pemain band juga, langsung mengundang TPB untuk main bareng di hotelnya dia. Pokoknya top-markotop, mak-nyooos!!!

The Prof Band manggung di Java Jazz (v 1.2)

The Prof Band tampil di Java-Jazz 08 lanjutan (v 1.2)

 

-o-

Goro2 Ne, Gotty’s song, Lullaby, Quando2, You’ve got a friend, Masquerade, The way u looked to nite, Lately. Mungkin ada juga lagu yang lupa karena koq sekarang jumlahnya Cuma 8 padahal jumlah lagunya ada 9. No worry sir, we’ll continue with 8 songs.-

-o-

 Yah… sambil ngopi sabtu pagi, saya lanjutkan cerita tentang perjalanan The Professor Band perform di Java-Jazz 2008. Version 1.x mengacu pada cerita TPB sendiri di Java-Jazz 2008 sedangkan cerita penyanyi atau group lain di Java-Jazz 2008 saya pisah jadi version 2.x dan 3.x. Gitu loh maksudnya.

En critanya kemarin dah sampai saat-saat stress sebelum tampil kan…

 Nah seperti itulah, hampir selalu rada tegang. Bagi saya keadaan ini sama kaya kalau kita akan tampil membaca makalah di seminar atau conference. Kira-kira beginilah rasa under-pressure yang terjadi. Akhirnya majulah ke panggung seorang MC entah siapa namanya wanita cantik baju hitam mengumumkan, kira-kira kalimat akhirnya ”Inilah The Professor Band yang anggotanya para Professor dari Univ Indonesia… dalam Java-Jazz 2008.”Tepuk tangan penonton… Gak riuh rendah koq, biasa aja, malah cenderung sedikit yang tepuk tangan kecuali suporter TPB yang emang udah ikut dari awal. Mereka itu keluarga kita2 juga, dan 1 atau 2 teman yang kebetulan lagi makan minum di F n B cafe itu. Lagu pertama digebrak oleh mas Ronny* dengan Goro2ne, kliatannya seru juga en dengan mandolin walau macet2 tapi suaranya nyaring dan cukup menggugah penonton sehingga berakhir lagu pertama ini dengan sambutan hangat penonton. Kliatan mereka mulai ngumpul dekat panggung dan mulai ikut goyang rada di jazz2in. Lumayan lagu pertama bisa bikin gebrakan apalagi featuringnya mas Ronny yang kondisi kesehatannya memprihatinkan (Semoga Allah memberi karunia kesehatan utk beliau). Setelah itu baru mas Ito* bicara memperkenalkan kami satu demi satu. Mas Ito khusus datang dari Malaysia, beliau stay 6 month untuk ngajar disana. Hanya ada dua status untuk semua member, yaitu Professor dan calon Professor. So what ? Why bother ?Mas Yayang* main drum untuk lagu ini, kondisi kesehatannya juga memprihatinkan jadi apa boleh buat ikut mainnya satu lagu aja. Delapan lagu selanjutnya drum dimainkan oleh drummer tamu kita Cendy Luntungan. Guyz, ai esyur yu, mainnya memang hebat.- Yang kedua kami sebut Gotty’s song. Ini sebetulnya lagu blues, namanya saya lupa apaan, GPP kan ? (GPP singkatan Gak Pa Pa alias Nggak Apa-apa bhs Inggrisnya No What What). Mas Gotty* mainin gitarnya. Dan seperti biasa beliau musti di-dorong2 dulu kedepan karena sangat pemalu. Kemudian mainnya sambil nunduk terus gak brani ngliat ke depan. Tumben sekarang beliau gak pake topi jadi botaknya dan ubannya kliatan jelas. (Ini ralat, ternyata jagoan kita pakai topi item mek, waktu dibawah gak dipake soalnya), Ga’papa kan ? Kan memang itu cirinya Professor bener… Penonton makin ramai dan bergairah. Gak nyangka kalo Professor bisa juga mainin lagu kaya gini, gitarnya dipakein efek di teken2 di kaki jadi suaranya me-liuk2. Lagu ini emang cita2nya mas Gotty, udah ber-tahun2 beliau pengen mainin lagu ini tapi mas Harry pelatih selama 4 tahun berjalan, buang muka aja terus, tapi entah mengapa tahun lalu beliau mulai ada perhatian sama permintaan mas Gotty untuk memainkan lagu ini. Barulah Prof kita ciang bun jin Kun Lun Pay ini bisa ketawa sehingga giginya kliatan. Lagu Lullaby yang dinyanyikan oleh Bipop-UI mendapat sambutan hangat dari penonton. Bu Nenden Gumilar (ibu Rektor UI), dengan Quando2. featuring music ditengah, disitu satu2nya flute saya kedengeran ditepukin oleh suporter TPB, termasuk si Nanta bokapnya Iyan sekeluarga. Eh iya videonya minta dong rekamannya, kalo bisa sih udah jadi CD langsung ya. Lumayan seneng2 sendiri. You’ve got a friend oleh mbak Een, Masquerade mbak Erry, The way u looked 2nite Astrid. Dan yang terakhir tamu dari Government yaitu… Menteri Pemuda dan Olah Raga Dr Adhyaksa Dault dengan lagunya Lately. Wah rame terus dan penonton sudah rame2 ikut nyanyi karena semua orang kenal dengan lagu2 yang dibawakan.Sukses atau nggak… gak jadi masalah yang penting ikut partisipasi.  Kata Marwan peniup trompet, Sekarang ini lebih bagus dari tahun lalu. Saya sendiri sih performance nya sama jelek dengan tahun lalu alias ikut2an doang. Bagian2 susah saya potong dan nada akhirnya saya ikut rame2 jadi kayanya seru. Dulu tertulis, saya mungkin terakhir kali main di event Jazz tahun 2006 lalu. Bahkan statement itu sdh tertulis di buku Dua Dekade saya, sehingga si Kemo yang udah baca buku saya nanya ”Katanya mau brenti Ton, koq lo masih ikut2 aja latihan musik ?” Terus terang saya gak bisa jawab, karena kenyataannya hobi saya ikut2an main musik dan rame jadi penggembira kata mas Harry ”Sing penting sampeyan seneng mas.” 

Bagian crita  ini lama keluarnya di blog wordpress karena saya masih belum bisa ngedit video klip. Abis panjang banget yang ini sampai 50 menit. Jadi dengan tripod HP soner lokal bikinan saya, bisalah saya ngambil image sendiri di band. Maklum Cuma satu posisi jadi agak mbosenin kali ya. Mau dipotong masukin youtube editing di HP nya masih blom bisa, jadi teksnya aja dulu deh saya masukin. BTW msh ada crita Jjazz 08 ini karena kelanjutannya saya nonton Iga Mawarni. Salam sambil nyruput kopi. Raldi Sabtu 09.40 WIB 15 Maret 2008.-

Note: mas Ito – Prof Sarlito Wirawan Sarwono, yang lain liat di v 1.0.

TPB Cendy Luntungan Menteri Adhyaksa

Kolaborasi TPB dengan Bipop-UI and Cendy Luntungan and Menteri Pemuda Dr Adhyaksa Daud 

Setelah kembali dari show di hotel Panghegar Bandung tanggal 04 Maret 08 selasa yang lalu, TPB (The Professor Band) kembali berlatih keras dalam rangka ikut partisipasi di Java-Jazz 2008. Tapi ada baiknya sedikit kisah show Bandung diutarakan disini. Karena ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian TPB untuk bisa perform steady. Di antaranya mas Paulus* baru saja selesai operasi prostat sehingga beliau tidak begitu bisa perform main drum. Untuk show Bdg sementara di replace oleh Aldi (mhs Teknik Metalurgi entah angkatan berapa). Mbak Yayi* istrinya manager TPB tangan kanannya tak bisa diangkat karena belum lama operasi kanker, syukur jari jemarinya masih bisa bergerak sehingga masih bisa niup saxophone.  Acaranya milik Departemen Sosial dimana mas Paulus malam itu memberi Baca lebih lanjut

Kalo latihan telat melulu

Jam 1/2 8 malam saya berangkat dari rumah di daerah lebak bulus nuju ke darmawangsa. Disitu ada studio musik namanya Odessa, tempat latihan The Professor Band (TPB) setiap hari minggu jam 6-9 malam.
Kenapa saya baru berangkat 1/2 8 ?
Ini karena saya memang pemain paling malas. Jadi latihan mulai jam 6 saya baru dateng jam 8. Gile bener.. gimana si SWS gak marah2 kalo ngeliat saya dateng telat. Dalam hatinya pasti ngedumel “Mau nampang doang lo… ikut latihan kagak”.
Waktu saya bilang ke istri mau berangkat latihan band, dia sambil sewot ngomong:”Koq baru bilang sekarang sih ?” Sambil pura-pura bodo saya jawab sekenanya “Kan udah 3 minggu yang lalu ngomongnya”.
Sampai di studio semua tengah asyik laihan lagu Jazz yang saya rada gak ngerti. Harry sekeluarga 1 istri 3 anak ada semua. Si Abang sudah main saxophone sekarang. Dan sudah cuku pintar sedikit dibawah bapaknya. Tentu jauh lebih hebat dari kita2. Dua anak gadisnya ikut nyanyi, kabarnya istrinya Een juga akan nyanyi untuk Java-Jazz nanti. Ini saya ketahui dari omong2 setelah latihan. Budi Adelar, Gotty, Paulus, Yayi udah pada tune-in kayanya. Belakangan datang mas Tonny (Martani Huseini) dan istri.
Ada lagi kabar yang lucu dan lumayan bagus buat TPB… apa itu?
Pak Agum Gumelar katanya mau ikut nyanyi dengan TPB pada Java-Jazz nanti. Beliau kan akan mencalonkan diri untuk jadi Balon Gubernur Jabar, jadi perlukah tmapil dimana-mana termasuk diajang pentas musik.
Minggu depan latihan lagi sampai nanti acaranya bulan Maret, tanggalnya saya belum tahu.
(Ral 210108).-