Bikin EKG sendiri


Bermula dari ngurusin inkubator sampailah kami sekarang pada satu kondisi yang memancing jiwa keinsinyuran kami. Setelah beberapa kali mengunjungi RS besar dan kecil termasuk Puskesmas, terlihat banyak hal masih sangat perlu ditangani. Jadi bayi prematur itu beratnya sangat minim, kalau bayi normal Indonesia beratnya 2,5 kg maka bayi yang sering kami tangani ini ada yg 2kg, 1,5 kg 1,2 kg, bahkan ada yang 1 kg saja. Dan surprisingnya bayi yg paling kecil yg pernah kami tangani beratnya hanya 700 gram. Dan bayi itu selamat, alhamdulillah (bahkan sudah beberapa kali kami menangani bayi yg beratnya 700-800 gram).

Bayi prematur ini biasanya langsung masuk ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit), yaitu ICU untuk bayi prematur. Dulu pada saat Nafsih Mboi jadi menkes beliau pernah bilang di TV bahwa biaya membangun 1 ruang NICU kira-kira 2 M. Menurut saya dia benar juga dengan harga pasaran alkes 3 th lalu. Ruang NICU ini juga ada levelnya NICU 1,2 dan 3 yg terakhir itu yg lengkap. Muncullah pikiran dibenak saya, kalaulah skr ini saya bisa bikin inkubator yg dipasaran 70 juta menjadi inkubator Grashof saya yg HPP nya 3,5 juta saja, mengapa saya tidak bisa bikin peralatan NICU yg 1 M itu dg biaya hanya 10% nya saja (kurang dari 100 jt). Dan nanti saya sumbangkan pada beberapa RS kecil dg siapa skr ini kami sudah bekerjasama (ada 3 RS).

Mulailah saya mencoba nyusun ecek2nya Roadmap, tapi dibenak saya saja. Pertama selidiki dululah berbagai posibilitinya lewat internet. Sesudah dipikir, rasanya kami akan mulai coba bikin – Patient Health Monitor -. Biasanya disebut PM saja. Jalan menuju kesitu akan dimulai melalui bbrp step. Step pertama kami akan bikin DAQ (Data Acquisition System), single and multichannel. Dan ini sdh berhasil prototipenya. Silakan lihat posting saya di FB  Klik disini

Prototipenya sdh jadi dan paling lambat bulan depan akan kami ajarkan gratis pada mhs S3 dan menyusul S2. Karena spt statement diatas ongkosnya jadi 10% saja bahkan bisa kurang untuk multi-channel. Dan saya mengerjakannya hanya perlu waktu 1 bulan saja diselingi dg semua kerjaan saya sehari-hari. Gak perlu biaya penelitian yang ratusan juta koq… Makanya saya ketawa terkekeh kalau ada dosen senior bikin penelitian ratusan juta… kenapa ? karena pasti hasilnya tidak akan berguna untuk siapa2 kecuali dirinya sendiri. Lalu seonggok kertas numpuk, sebagai laporan dan kemudian tidak dibuka-buka lagi.

Yah stop berwacana, mari bertindak nyata… Lalu yang kedua dalam perjalanan membuat M tadi kami akan buat EKG (ECG – Electro KardioGrafi). Kenapa koq saya terpikir bikin EKG ? Karena bikinnya lebih gampang dari DAQ tadi, sembari jalan coba nanti EKG kami uji cobakan di RS Lestari Cirendeu, Sila klik di [youtube:https://www.youtube.com/watch?v=nZutSdkM2bU]

Setelah itu saudaranya EMG Electro-Myography untuk saraf dan otot. Kemudian baru PM. Semua ini pasti ongkosnya murah dan dengan senang hati saya  akan menggunakan uang saya sendiri saja, gak usaha sana sini, proposal ini itu… Briefly… KERJAIN AJA ! Dan saya yakin semua yg saya tuliskan diatas Insya-Allah 3 bulan selesai.

Nah berikut videonya EKG saya sudah 90% selesai prototipenya…https://www.youtube.com/watch?v=LWRHXpLbdic

Tentu saja, seperti halnya Inkubator-Grashof saya tidak berniat untuk mematenkannya. Jadi dengan kata lain semua nanti bikinan saya diatas adalah OPEN SOURCE oriented. Semua boleh tiru boleh pakai, apalagi mahasiswa. Bahkan spt pernyataan diatas DAQ saja akan saya ajarkan kepada students, demikian juga yg lain.

Sesungguhnya jihad kita (kalangan intelektual) adalah, mengentaskan kemiskinan, menolong kaum marginal (org sakit, cacat, miskin, perempuan, anak, bayi dll), meningkatkan kualitas kehidupan gol tak mampu. Tentu saja jihad kita bukanlah meledakkan bom panci. Pastilah itu, kalo dalam MPKT istilahnya Sesat-Pikir. Nah supaya setiap rupiahnya berguna buat orang banyak maka sewajarnyalah bila anggaran Pengabdian Masyarakat ditingkatkan. Bahkan untuk negara kita ini anggaran P2M harus lebih besar dari Penelitian, ditinjau dari segi kemanfaatannya utk orang banyak. Tentu saja kalau negara maju berbeda. Mereka selalu ingin berada di Front-End of knowledge. Bila kita ikut2an sama mereka pastilah tidak akan pernah menyusul, wong mereka dalam banyak hal sudah establish koq. Jadi… sekali lagi jadi anggaran negara yang notabene duit rakyat benar2 akan berguna untuk rakyat. Kalo nggak… kan kita2 ini sama saja dengan oknum2 DPR yg menyalah gunakan uang rakyat terus menerus dan gak ada niat sama sekali menyejahterakan masyarakat banyak. Malu dong kita… sama anak2 muda sekarang yang di era-digital ini sudah banyak menolong sesama (lihat aja di acara Kick-Andy Metrotv). Lihat juga kitabisa.com penggalangan dana utk menolong sesama ide dari AlFatih Timur. Dan mereka itu berhasil karena usahanya sendiri tanpa dibantu oleh pemerintah. Kadang lucu juga buat saya kalau proposal P2M ini dituntut juga bikin paper scopus, hemat saya ini sejenis sesat-pikir juga. Targetnya harus dilihat di level masyarakat yg terbantu. Berapa banyak yg terbantu, lalu efek positifnya lama, apalagi kalau berkelanjutan. Kemudian nilai plus bila bisa terdiseminasi (penyebaran benih, orang terinspirasi berbuat yg sama atau sejenis). Apalagi bila terjadi pemberdayaan masyarakat.

MOVE-ON

Bila saya ceramah tentang penyelamatan bayi prematur diberbagai kesempatan maka bagian yg menarik ada pada beberapa pertanyaan: 1) Darimana biayanya ? 2) Bagaimana bisa tersebar ke berbagai kota (perJuli 2017 sudah ada di 52 kota dan kabupaten) ?

Akan saya bahas yg kedua saja, yg pertama akan terjawab sendiri nanti. Jadi inkubator kami bis atersebar karena adanya – Jaringan Silaturahmi AGEN RELAWAN – yang tersebar di berbagai kota itu. Siapakah Agen Relawan itu (saya singkat saja AR). Mereka adalah orang2 yang menghubungi saya, baik bertatap muka maupun mel internet email, medsos dll. Mereka menyatakan ingin membantu aktivitas kami menolong bayi prematur. Mereka adalaah orang2 yang sudah pindah dari GOLONGAN KIRI ke GOLONGAN KANAN. Siapakah Golkir itu, ini kira2 definisinya. Bila anda baru selesai sekolah lalu ngelamar kerja, maka anda pasti minta gaji dong. Kalau sudah 5 th kerja minta tambah gaji dong…Wajar saja. Bila sdh 10 th minta fasilitas motor atau mobil, bila sdh 15 th minta diasuransi. dst dst… Lihat kata kuncinya yg saya bold yaitu minta. Berarti dia itu peminta-minta. Kita gunakan kata yg sedikit lebih sopan daripada Pengemis. Makin lama kita juga jadi makin pengalaman dan tambah keahlian, maka jadilah Peminta-minta profesional.

Lalu siapakah Golkan itu ? Mereka ini tidak lagi minta2, tidak grasa grusu nyari duit, rebutan rejeki, rebutan pangkat. Bahkan sebaliknya tidak minta2 tapi malah… Senang memberi, senang sedekah, infak, wakaf. Gembira bila bisa membantu orang lain yg sedang susah. Bahagia dalam berbagi. Kalau mau Lebaran gak maksa2 minta THR. Mereka2 ini yakin se yakin2 nya bahwa rejeki datang dari Allah SWT. Hidup itu tidak sekedar hadir, sekedar ADA tapi juga hidup itu BERMAKNA. Inilah orang2 yang sudah berhijrah dari segi fisik maupun mental. Atau bahasa anak muda sekarang sudah MOVE-ON.

Mereka dari Golongan Kanan itulah yang 100% membantu kami bukan saja dalam meminjamkan inkubator pada keluarga bayi tapi mereka juga memberikan dukungan moral, advokasi nasehat, krn gol tak mampu itu berkorelasi erat dengan miskin, tak berpendidikan, minder, no akses dsb… Shg sangat perlu dibantu. Mereka sudah tersaring sendiri karena persyaratan Agen Relawan itu adalah 1 mengganti biaya produksi 3,5 jt per unit inkubator. Dari sinilah terlihat bahwa pertanyaan pertama ttg biaya jadi terjawab. Dengan kata lain mereka ini donatur juga. 2 Tidak diperkenankan mengkomersilkan inkubator (tidak boleh menjual  tidak boleh disewakan dg mengambil bayaran). 3 Mau mengantar inkubator ke rmh ibu bayi (kan org tak mampu jadi juga gak punya mobil dong). 4 Mau mengambil kembali bila sudah selesai. 5 Mau memelihara inkubator itu. Jadi itulah syaratnya jadi AR, dengan demikian program ini sudah terbiayai sendiri.

Bila nanti kami memproduksi EKG, EMG dan PM, menyusul nanti EEG, adakah diantara anda yang punya ide bagaimana caranya agar peralatan ini nanti berguna untuk masyarakat banyak seperti inkubator diatas. Krn kalau dilepas kepasar secara BAU saja Business As Usual  maka dia pasti akan jadi mahal dan buntutnya tidak berguna lagi utk masyarakat banyak. Alat itu akan dijual dg harga tinggi sehingga RS atau lembaga kesehatan akan menarik bayaran utk pemakaiannya dan org tak mampu tidak tertolong lagi.

Duh udah banyak cerita gak karuan… Mohon maaf bila saya ada salah kata, dan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Malah saya ingin mengajak anda untuk memberi makna pada kehidupan kita masing2 (jadi tidak sekedar ADA). Mari kita HIJRAH bersama. Luaamaaa lhooo… move-on fisik dan mental itu, saya sendiri membutuhkan waktu… bertahun-tahun.

-0-

Raldi A. Koestoer – 09 Juli 2017.-

 

Iklan

2 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s