Move On – Seri 1


Rasanya lebih menggigit kalau kita menggunakan istilah anak muda sekarang di medsos. Namun kemungkinan ada beberapa pengertian yang mirip, nanti kita lihat lebih lanjut dalam tulisan ini. Jadi artikel ini tentu saja ditujukan untuk kalangan tertentu, bila tidak keberatan saya sebut saja, untuk mereka yang sudah rada berumur dalam banyak pengertian. Bila ingin lebih eksak saya sebut saja mereka yang sudah berusia 45 th keatas. Bukan berarti sebuah angka mutlak 45 itu, bisa saja lebih muda dari itu atau lebih tua dari usia itu. Tapi bila sudah lebih tua, saya kuatir sudah merasa terlambat.
Saya cerita ttg diri sendiri dulu deh… Biar jelas ini merupakan pengalaman jadi pastilah – sesuai kata dengan perbuatan -. Setahun atau dua tahun menjelang umur saya 45, ada perasaan gelisah dalam diri saya. Sepertinya hidup ini koq kurang tantangannya, rasanya sejauh ini saya koq belum berbuat apa-apa yang bermanfaat. Paling ya untuk diri sendiri dan keluarga. Kemudian Allah memperjalankan saya kemana-mana dan mempertemukan saya dengan banyak profesor hebat dari berbagai negara. Berdiskusi ttg pendidikan mulai dari selevel SMA (saya visit SMA di Manila) s/d dengan studi S1, S2 dan S3 di berbagai negara. Saya diberi kesempatan melihat lebih dari 100 an laboratorium canggih dan sederhana di seantero dunia. Sampai saya bosan… Lalu napak tilas religius Mekah madinah masjidil Aqsha, Betlehem Yerusalem Amman Laut Mati Masjid Ibrahim dua kali ke Vatikan… Gak tahu lagi deh… Jadi untuk apa Allah menunjukkan tempat itu semua kepada saya. Lalu bikin makalah ilmiah untuk ikut seminar, rasanya mudah saja, Asal sudah bikin penelitian eksperimental, semua bisa di-report kembali karena semua itu sesuatu yang memang dikerjakan jadi resultnya juga tidak perlu dipersoalkan atau dibantah. Dan yang agak lebih mengesalkan saya, seakan-akan hebat dan canggih tapi tidak ada gunanya. Bahkan buat saya sendiri saja tidak ada gunanya apalagi untuk orang lain. Dulu belum jaman Scopus dan indeks-indeksan seperti sekarang. Jadi penelitian yang dilakukan tidak ditujukan untuk menambah angka kredit. Research for the sake of research only. Pernah suatu saat saya berada di seminar di kota Surabaya. Pembicara utamanya Ir Suleiman dulu direktur PT PAL (bikin kapal) beliau ini termasuk koleganya Habibie (mantan Pres dan d/h juga Menristek), ini yang disampaikan “Gak bisa kita meneliti sekedar meneliti saja, sekarang harus berubah, meneliti harus ada gunanya untuk bangsa ini”. Walaupun saat itu audience tidak ada yang bereaksi, jauh sesudah itu kata-kata itu terngiang ditelinga saya.

Masuk Ristek
Tahun 2004 saya pindah ke RIstek jadi pejabat eselon II istilahnya disana ASDEP (Asisten Deputi). Lumayan untuk pengalaman, jadi saya memahami birokrasi pemerintahan secara lebih detail, dan menurut saya sekarang semua itu hanya bikin saya jadi bodoh saja. Jadi peg negeri seakan kita dilarang untuk kreatif, itu sebabnya saya katakan untuk saya ini adalah medan yang kurang tepat. Jauh lebih baik jadi dosen yang atleast mentrasnfer ilmu tiap hari pada peserta didik, ilmu paling tidak jadi bermanfaat. Budget negara habis untuk sesuatu yang tidak manfaat. Saya yakin sampai sekarang pun masih begitu. Disatukan jadi Kemenristekdikti-pun tidak merubah keadaan. Malah lebih banyak duit habis untuk hal yang tidak bermanfaat. Walhasil 2 tahun disitu, saya mengundurkan diri, karena untuk saya kurang manfaat.
Sebulan sekali kompartemen Energi bikin meeting. Yang hadir para ahli dari berbagai lembaga riset, BATAN, BPPT, LIPI, Kem ESDM, juga ada Universitas. Setelah sekian bulan bertemu, sepakatlah para ahli ini bikin Buku Putih Energi. Guna memberi masukan pada pemerintah mengenai kebijakan Energi untuk negara kita. Task-force ini kemudian intens rapat bukan saja di kantor tapi juga sampai menginap di hotel. Jadilah kemudian sebuah buku yang warnanya putih isinya tentang berbagai hal tentang Energi. Pimpinan gugus ini dulu pak HH (Alm), tentu saja beliau sudah bekerja keras untuk bisa menjadikan buku ini sebuah karya yang diharapkan bermanfaat untuk pembuat kebijakan Energi di Indonesia. Namun sampai sekarang (itu tahun 2006) saya tidak pernah mendengar buku putih itu dijadikan acuan bahkan disinggung orangpun tidak. Boleh dibilang kerja keras yang menghabiskan budget sekian tapi tidak ada gunanya. Ini sekedar salah satu contoh saja kerjaan yang tak bermanfaat di kementrian, saya yakin masih banyak lagi kerjaan ataupun proyek yang mubazir dikalangan pemerintahan.
(Sementara saya hentikan disini dulu. Segera menyusul Seri 2…Pada frekwensi dan gelombang yang sama di blog saya. Jadi…jangan kemana-mana).-

……………………………………………………………………………..

Iklan

One response

  1. Suka sekali dengan pemikiran bapak… saya sangat tidak sabar untuk membaca seri ke-2 nya pak. Tidak bisa memejamkan mata hingga tengah malam begini ternyata ada alasannya dan alasannya sangat menyenangkan krena saya bisa menggerakkan jari untuk melihat beranda wordpress dan bisa membaca tulisan ini. Terimakasih pak
    -0-
    seri ke 2 nya sudah ada…search aja…

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s