Inkubator Grashof, Sang Penyelamat Bayi Prematur


Oleh : Dyah Sukasto

Suatu hari, ia bertandang ke rumah sang kakak yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak. Di sebuah sudut ruangan, matanya menatap sebuah kotak yang teronggok begitu saja. “Itu inkubator bayi, rusak,” kata sang kakak. Iseng, diamatinya inkubator tersebut. Lalu, secara detil ia menjelaskan kepada sang kakak mengapa alat tersebut tidak berfungsi. Ini mengundang kagum sanga kakak, yang lalu berkata “Jika kamu bisa, kenapa tidak kamu saja yang buat?” Sang kakak bertutur betapa banyak bayi tak tertolong karena sulit mendapatkan fasilitas ini.

Kata-kata sang kakak rupanya menancap di hati dosen Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Indonesia ini. Ia lantas berfikir untuk merancang inkubator bagi bayi prematur. Apalagi menurut keterangan sang kakak, selama ini inkubator dibeli dari Amerika Serikat dengan harga mahal. Riset pun dimulai pada tahun 1995.

Itulah cikal bakal lahirnya penciptaan inkubator Grashof oleh Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA.

Seabad yang lalu Grashof ilmuwan asal Jerman mengemukakan teori tentang konveksi alami. Teori perpindahan panas inilah yang dijadikan basic inkubator ciptaan Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA. Dalam rancangannya, Guru Besar FTUI ini memberi beberapa lubang pada ke empat sisi inkubatornya sedemikian rupa sehingga suhu ruang inkubator selalu stabil pada 34 derajat C.

Tujuan Desain Inkubator Grashof

Pertama, mengedepankan faktor kebersihan, yakni desain simpel agar mudah dibersihkan. Selain itu tata cara dan ketersediaan komponen relatif mudah didapatkan, karena 94 persen materinya buatan dalam negeri, sehingga memudahkan penggantian komponen. Kedua, dapat menghangatkan bayi dalam suhu 33 sampai 35 derajat Celsius.  Dan yang ketiga, mengedepankan faktor keamanan dengan adanya cut-off (termostat). Memiliki daya penghangat yang berasal dari dua buah lampu pijar berdaya 25 watt yang cukup untuk memberikan kehangatan di dalam kabin inkubator grashof

Prinsip Kerja dan Penerapan Teknologi Inkubator Grashof

Inkubator Grashof menerapkan sistem konveksi alamiah, dimana perpindahan panas berdasarkan aliran udara alami. Ada beberapa lubang di sekeliling inkubator bagian bawah yang dibuat miring, untuk mengantisipasi perbedaan ketinggian, perbedaan tekanan, dan massa jenis udara. Dengan demikian tercipta aliran alami dari dingin ke panas, dan akumulasi kehangatan terpusat di kabin inkubator.

Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA menjamin kondisi temperatur dalam kabin inkubator stabil seperti yang dibutuhkan bayi. Termostat dan tata letak lubang menciptakan terjaganya suhu di kisaran 33 hingga 35 derajat Celsius (tergantung kondisi sekitar). Selain itu akan terjadi pemerataan temperatur yang dibutuhkan bayi, mulai dari kepala hingga kaki. Dalam penelitian, sudah dilakukan pengamatan penyebaran panas melalui foto termal, yang menunjukkan aliran penyebaran panas yang merata dalam kabin inkubator.

From Research to Sociotechnopreneurship

Riset inkubator Grashof dimulai pada tahun 1995 di Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia. Sampai melahirkan inkubator pertama pada tahun 2001, yang disebut sebagai wood incubator, karena desainnya yang masih menggunakan banyak rangka kayu. Usaha Kecil Menengah (UKM) dimulai tahun 2005, produk terjual pada Juni 2006. Selanjutnya Inkubator Grashof ini diproduksi secara massal hingga awal tahun 2012. Antara tahun 2011 hingga 2012, merupakan fase socioentrepreneurship.

Pada tahun 2013, sang penemu mulai menerapkan sociotechnopreneurship, yakni dengan meminjamkan inkubator penemuannya secara gratis kepada masyarakat golongan ekonomi lemah se-Jabodetabek. Ia menyadari benar betapa banyak bayi prematur yang tidak mendapat kesempatan mendapatkan perawatan NICU karena keterbatasan biaya, belum lagi keterbatasan inkubator di fasilitas kesehatan umum. Hatinya tergerak untuk meminjamkan inkubator temuannya kepada bayi-bayi mungil yang membutuhkan kehangatan.

SMS Centre

Cara memperoleh Inkubator Grashof relaif mudah, cukup melalui SMS. “Saya berpikir, alat apa yang bisa digunakan untuk menjadi jembatan komunikasi antara saya dan masyarakat. Dengan SMS, ponsel sederhana pun bisa,” tutur Prof. Dr. Ir. Raldi, DEA. Melalui SMS Centre “085659312070”. Awalnya informasi tentang peminjaman inkubator gratis ini hanya diumumkan di blog pribadinya. Lalu menyebar dari mulut ke mulut. Atau kalaupun tak bisa mengakses intenet, ada saja saudara atau kenalan orang tua si bayi yang mencarikan informasi di internet. Media massa juga berperan menyebar luaskan hal ini. Ia juga mempunyai fanpage di Facebook dengan akun Bayi Prematur dan Neonatal. Setelah itu para orang tua yang mau menyewa inkubator gratis akan menghubunginya melalui SMS. Hampir setiap hari selalu ada saja permintaan yang masuk, walau belum tentu transaksinya deal atau jadi meminjam.

Biasanya setiap ada SMS yang masuk ia akan membalasnya dengan memberi greeting : ‘Kami siap membantu Bapak/Ibu dengan layanan gratis inkubator bayi untuk di rumah’. Namun setelah itu, terkadang ia mendapat kabar lagi bahwa si pengirim SMS tidak jadi meminjam karena si bayi sudah berangsur sehat.

Cara peminjaman Inkubator Grashof cukup mudah, peminjam cukup memberi informasi nama bayi, berat lahir, tanggal lahir, nama orang tua, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat e-mail (bila ada), dan apakah bisa mereka mengambil inkubator langsung ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Rata-rata mereka menjawab bisa.

Namun dalam prakteknya, ada kalanya sang peminjam tinggal relatif jauh dan tidak memiliki ongkos.  Akhirnya orang tua datang ke FTUI dengan kendaraan umum, pulangnya diberi ongkos taksi oleh Prof. Raldi, karena inkubator tidak mungkin dibawa dengan kendaraan umum. “Terkadang menggunakan kendaraan saya, dengan diantar sopir,” tukasnya.

Pemakai inkubator gratis ini sangat beragam. Dari petugas mesjid, buruh pabrik, karyawan, ada juga yang berasal dari kalangan profesional. Menurut Raldi bayi itu tak mengenal kata kaya atau miskin. Jika ada inkubator di rumah, maka bayi bisa dibawa pulang, biaya perawatan di rumah sakit pun tak membengkak. Sebab, untuk menaikkan berat badan bayi prematur dibutuhkan waktu sekitar 1-2 bulan. Biasanya tiap 3 hari ia akan memantau perkembangan si bayi melalui SMS dengan orang tua bayi. Bagi Guru Besar FTUI ini setiap gram kenaikan berat badan bayi adalah kebahagiaan baginya.

Anti Hak Paten

Inkubator yang dipinjamkan dapat digunakan sampai bayi mencapai berat badan aman (sekitar 2,5 kilogram). Tak lupa ia selalu menganjurkan kepada keluarga si bayi tentang pemberian ASI eksklusif yang bisa cepat menaikkan berat badan bayi. Metode kangguru juga ia percaya menjadi cara alami untuk menghangatkan bayi prematur. Maka setelah disusui dan si ibu butuh beristirahat, bayi bisa ditaruh di inkubator. Yang juga ditekankan adalah pemberian stimulasi kepada bayi berupa sentuhan, mengajaknya bicara, menyanyikan lagu, dan sebagainya. Bayi yang sudah sehat biasanya tak betah lagi di inkubator, dan ia bisa kembali ke pelukan ibundanya. Inilah waktunya inkubator sudah bisa dikembalikan.

Ini terkadang menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Prof. Raldi, karena ada beberapa orang tua yang tidak kooperatif, sehingga ia harus mengirim orang untuk mengambil inkubator tersebut. Beruntung jika alamatnya belum berpindah. Kadang akhirnya beberapa inkubator tidak dapat diambil alias hilang. Namun, konsekuensi ini sudah diperhitungkan olehnya. “Padahal semestinya inkubator tersebut bisa terus berkeliling untuk menolong bayi-bayi malang lainnya.”

Yang tak terbayarkan adalah ketika ada orang tua yang mengembalikan inkubator dengan membawa bayinya yang sudah sehat. “Itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai besarnya.”

Prinsip sociotechnopreneurship semakin mantap dijalankan, bahkan ia berani mengatakan dirinya anti-hak paten. Artinya, bila ada yang ingin meniru inkubatornya silakan saja, asalkan menganut prinsip sociotechnopreneurship. “Bila ada yang ingin meniru silakan saja, semakin dikembangkan, semakin banyak bayi tertolong.”

Soal biaya produksi, operasional, dan perawatan, semuanya didapat dari dana pribadi maupun sumbangan dari para alumni Fakultas Tenik Universitas Indonesia. Kini, sebanyak 110 an unit sdh ada siap pakai, dan sudah ratusan bayi terselamatkan karenanya. Modelnya pun semakin dibuat praktis, sejak tipe awal, A-01, A-02, seterusnya hingga kini tipe F, yang semakin simpel, dengan berat hanya 13 kilogram dan daya 30 – 50 watt.

Dalam pengembangannya, Prof. Raldi terus berusaha memperbaiki temuannya dengan menerima masukkan dari orang tua bayi. Dan kini tipe yang baru tengah dalam risetnya.

Fototerapi untuk Bayi Kuning

Karya yang diciptakan oleh Prof. Raldi tidak hanya inkubator untuk bayi prematur, ia juga mengembangkan inkubator yang dilengkapi dengan fototerapi untuk bayi kuning (bilirubinemia). Yang biasanya digunakan bersama dengan inkubator karena prinsipnya alat ini merupakan terapi dengan sinar jadi bayi harus dalam keadaan telanjang hanya menggunakan pampers saja. Supaya tidak kedinginan maka bayi ditaruh di inkubator, sinar bluelite bisa menembus lapisan transparan atau akrilik sehingga sinar bluelite bisa sampai menyentuh kulit  bayi kuning. Mata bayi juga harus ditutup dengan kain warna gelap.

Target Menjangkau 34 Provinsi

Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA tengah berkonsentrasi menjangkau 34 provinsi se-Indonesia. Sudah ada beberapa titik di beberapa daerah yang sudah berjalan, ia menyebutnya sebagai agen relawan. Ia ingin kelak satu kota atau satu centre relawan memiliki 10 inkubator.

Saat bertandang ke kantornya di Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia, ada enam Inkubator Grashof di depan ruangannya. Menurut Roihan, sang asisten, biasanya yang tersisa hanya satu atau dua inkubator. Dan kami juga sempat melirik whiteboard di ruang kerja Prof. Raldi, tercatat empat inkubator dinyatakan hilang alias tak terlacak keberadaannya, karena sang peminjam tak memenuhi janjinya. Namun itu semua tak menyurutkan semangat berbagi, apalagi kini Inkubator Grashof ciptaannya sudah sampai ke Magelang, Semarang, Yogyakarta, bahkan Aceh dan Jayapura. Ini membuat sang penemu memikirkan desain yang lebih praktis, misalnya sistem knock down, agar mudah dibawa kemana-mana.

Salah satu bayi yang mendapatkan layanan peminjaman inkubator gratis dari UI.

Salah satu bayi yang mendapatkan layanan peminjaman inkubator gratis dari UI.

Dyah SUkasto penulis artikel ini dlm rangka buku 20 innovasi.

Dyah SUkasto penulis artikel ini dlm rangka buku 20 innovasi.

-0-

Tambahan 04/08/15 (Raldi AK), posting di FB juga.-

SMS PAGI INI:
04/08/2015
08:23:32
mhn maaf baru respon.. bayi kami nyaman di dalam inkubator, beratnya saat ini 1,3 kg. Sebelumnya 1,07 kg saat pulang dr RS. kami pun berharap bayi kami terus sehat. trm ksh atas dukungan & doanya.
nawawi cibinong

Iklan

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s