Hemat Energi


Sudah lama saya tidak menulis di blog saya ini. Tentu saja semua ini karena saya se-akan2 sibuk ngurusin bayi prematur di berbagai kota. Tapi sebenarnya gak gitu2 amat… Memang saya rada malas koq nulis…

Jadi karena memang saya bukanlah seorang penulis profesional, maka dengan sendirinya tidak ada rasa wajib menulis. Boleh dibilang menulis itu ‘semau gue’ kapan saja ada mood … ya nulis, kalo gak ada mood ya gak nulis.

BTW, saya masih ingin menyampaikan banyak hal tentang peralatan alkes inkubator. Dalam banyak ceramah saya disana-sini, inkubator GRASHOF kami ini saya klaim sebagai inkubator HEMAT ENERGI… Tentu saja banyak alasan untuk mengatakan demikian, tapi inti utamanya adalah konsumsi energi dari inkubator kami ini hanya 40 Watt saja. Jadi tentu saja sangat hemat konsumsi energinya dibanding dengan semua inkubator di Rumah Sakit, yang konsumsinya kebanyakan variatif dari 300-500 Watt.

Persoalannya adalah, mengapa bisa demikian hemat ?

Saya senang menjelaskan sebabnya atau pola-pikir ini, baik kepada para mahasiswa teknik dan politeknik, bahkan juga pada siswa2 SMA. Dan banyak hal yang nanti bisa kita bikin  jadi hemat energi dengan pola pikir seperti ini.

Jadi…Kebayakan asal inkubator di RS itu datang dari Luar Negeri, mis Eropa, Amerika, Jepang. Bahkan sekarang ini yang paling banyak di RS adalah buatan Cina. Di negara2 itu, suhu udara luar sangat rendah antara 0 s/d 10 derajat Celsius, pada musim dingin s/d musim semi demikian juga musim gugur. Hanya dimusim panaslah suhu luar meningkat menjadi sama dengan suhu di negara kita. Bahkan sering kali tetap lebih rendah daripada di Jakarta yang suhu luar siang harinya mencapai 33 dgC. Di negara2 itu, hampir semua ruangan diperlengkapi dengan heater (pemanas udara di ruangan) agar suhu meningkat dari mis 5 derajat menjadi suhu ruangan yang nyaman rata2 (by designed) 17-18 dgC. Itupun buat kita orang Indonesia segitu itu masih terasa dingin menggigil. Bila anda orang Jakarta bayangkanlah suhu di Bogor Puncak malam hari adalah 20 DgC. Itupun kita tetap merasa kedinginan.

Sehingga wajarlah bila diperlukan energi yang besar di negara itu untuk menaikkan suhu kabin inkubator dari dari 17 dgC suhu ruang menjadi 33-35 dgC (suhu kabin inkubator). Karena pada kondisi hangat seperti itulah bayi prematur yg mengalama hipotermia, merasa nyaman. Sedangkan suhu ruang di Jakarta ini atau dimanapun di Indonesia daerah tropis (+/- 10 derajat LU dan LS) mencapai 29-30 dgC. Jadi untuk naik menjadi 33 dgC pastilah tidak memerlukan banyak energi.

Lalu inkubator GRASHOF ini memang khusus untuk bayi Indonesia…Memang apa artinya ? Orang eropa dan amerika itu ras-nya berbeda dengan kita. Rata2 badan mereka besar demikian pula bayi2nya. Jadi kalau bayi kita rata2 beratnya 2,5 s/d 3,2 kg, maka bayi2 mereka rata2 beratnya adalah 3,5 s/d 4,2 kg. Kalau bayi normal kita beratna segitu maka bayi prematur kita beratnya lebih rendah lagi yaitu 1-2 kg saja. Dengan sendirinya Panjang badannya juga tidak sepanjang bayi eropa. Bayi prematur Indonesia rata2 40-45 cm, bayi normal kita +/- 50 cm, bayi Eropa 55-60 cm.

Nah… karena ukuran bayi prematur (atau BBLR) yang kecil itu, maka kabin bayi, ukurannya bisa saya perkecil secara volumetrik. Tentu saja ukuran volume kabin diperkecil  ini jadi membuat konsumsi energi jadi lebih sedikit lagi. Dari hasil percobaan di laboratorium ternyata untuk mendapatkan suhu 33 di kabin bayi kita cukup memasang pemanas 40 Watt saja. Pemanas yang kami gunakan adalah bohlam lampu pijar biasa yang harganya hanya Rp 6000 saja, jadi sangat murah. Kemudian melalui percobaan juga, pemasangan dua lampu itu hasilnya lebih baik dari satu lampu, karena distribusi kalor bisa lebih merata. Maka kami menggunakan 2 lampu. Lalu di pasaran bebas lampu 20 Watt itu tidak ada, yang ada 25 Watt, jadilah sekarang ini kami menggunakan pemanas 2×25 Watt lampu pijar.

Dengan membatasi penggunaannya, hanya di Indonesia saja, Maka dapatlah kiranya kita pastikan bahwa inkubator Grashof kami ini akan save dan berfungsi dengan baik di seluruh Nusantara.

Berita gembira yang mutakhir dari kami adalah bahwa, peminjaman gratis inkubator telah berkembang di 21 kota di Indonesia. Tentu saja untuk bisa mencakup seluruh Nusantara maka perlu dikembangkan leih lanjut di 300 an kota dari Sabang sampai Merauke. Demi untuk menyelamatkan bayi2 kita.

Selanjutnya lagi, setelah cakupan di negara kita cukup banyak. Pengembangan selanjutnya adalah untuk negara2 disekitar Equator, yang kebanyakan juga negara under-developped, Equator-Rim… Negara2 di Afrika mis Somalia, Tanzania, Central Afrika, Kamerun, Sudan, Congo, Nigeria, Angola, dan lain. Sedangkan untuk Negara2 Amerika Latin, mis Brazilia, Venezuela, Equador, Colombia, dan lain-lain.

Bila anda sudah mengenal adanya Blok Barat dan Blok Timur maka Bung Karno dulu memperkenalkan Non-Blok, sedangkan khusus untuk menolong bayi prematur ini saya memperkenalkan negara2 Blok Equator atau kita sebut saja BLOK-TENGAH. Tentu saja akan dipimpin oleh NKRI (Negara Kesauan Republik Inkubator).-

Gitulah kira2…

2 responses

  1. Pondasi teknologinya sudah mantaps Prof..
    Mengingat 6 thn (2009 – 2015) 21 kota,
    maka 300 kota (jika linier), butuh 70 thn-an lagi
    mungkin landasan sistem peminjaman nya perlu di lapis aspal model baru Prof ^^
    misal menggandeng lembaga kemanusiaan nasional, seperti Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat, yang konon relawannya sudah meliputi seantero Nusantara.
    -0-
    Adhin, terimakasih. Alhamdulillah kami memulainya (peminjaman gratis) dari Jan 2012, jadi baru 3 thn saja. Dan perkembangannya tidak linier tp spt deret ukur, jd lebih cepat.
    Tentu saja semua ini atas berkah Allah SWT, mhn doa anda semua, semoga semua lancar. Salam.-
    Raldi AK.-

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s