Harapan Baru Untuk Bayi Prematur


Harapan Baru Untuk Bayi Prematur

Oleh: Adara Sekar Kedaton,

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2012 Universitas Indonesia

Awal kehidupannya di Bumi manusia akan mengalami tahap yang sama menjadi sosok bayi terlahir dari rahim seorang ibu. Pada masa ini, perkembangan otak dan fisik bayi selalu menjadi perhatian utama, terutama pada bayi yang terlahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan dengan berat badan lahir kurang dari 2.5 kg. Bayi akan disebut prematur jika terlahir dari kandungan berusia dini, dan dapat menyebabkan sebagian besar organ tubuhnya belum berfungsi dengan baik.

AdaraFisip_3291029733894501926_n

Menurut para ahli dibidang kedokteran mengatakan bayi prematur disebabkan beberapa faktor diantaranya kekurangan asupan gizi, kondisi stress saat mengandung, sang ibu mengalami gangguan penyakit jantung; darah tinggi; asma; kencing manis; serta penyakit dalam lainnya atau faktor masalah janin itu sendiri lepasnya plasenta sebelum waktunya; mengalami pendarahan dini; letak plasenta yang menutupi jalan lahir.

Bayi yang masih dalam kandungan memiliki rata-rata suhu sebesar 37 celcius. Sedangkan ketika bayi lahir suhu udara luar kandungan sebesar 30 celsius. Perbedaan suhu membuat bayi prematur yang terlahir dengan berat badan dibawah normal menderita hipotermia (kedinginan) karena simpanan energi dalam tubuhnya tidak sanggup beradaptasi cepat dengan perubahan suhu. Maka dari itu, bayi perlu berada dalam naungan inkubator (penghangat bayi) sebagai tempat sementara penyesuaian kondisi suhu. Dengan demikian bayi akan merasa nyaman tanpa menggigil karena kedinginan.

Biaya rumah sakit mahal  

Perawatan khusus untuk bayi prematur memakan banyak biaya. Penyewaan inkubator di rumah sakit dibanrol dengan harga yang tinggi. Hal inilah yang membuat dosen Fakultas Teknik Mesin, Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA tergerak dan membuat gebrakan untuk peminjaman inkubator bayi secara gratis kepada masyarakat yang kurang mampu.

Berawal dari proyek World Bank, melalui Direktor Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang didedikasikan untuk melakukan pengembangan ke masing-masing departemen Universitas. “Tahun 2010 ada proyek dari World Bank, proyek itu dibagi menjadi sub-proyek yang salah satunya bernama Advanced Technology Implication (ATI). Artinya kita mengimplikasi hasil dari laboratorium ke masyarakat pengguna. Dapatlah saya salah satunya, membuat inkubator bayi lalu kita sumbangkan ke rumah sakit ibu dan anak, sekaligus ke puskesmas-puskesmas di Jakarta. Saat proyek selesai, sisa uang saya buatkan inkubator lagi, untuk disumbangkan ke bidan-bidan serta bayi yang membutuhkan di seputar Depok, Pasar Minggu, dan Jakarta Selatan,” kata Prof. Raldi.

Melalui tulisan-tulisannya di blog, masyarakat mendapatkan informasi untuk inkubator bayi yang dipinjamkan secara gratis. Selain itu, kerap kali media-elektronik membantu Prof. Raldi agar gagasan berkembang ke berbagai daerah. Namun berbagai kendala seperti transportasi serta biaya listrik menjadi keluhan bagi masyarakat yang ingin meminjam inkubator bayi.

“Saya meminjamkan inkubator untuk golongan menengah kebawah, karena biaya untuk rumah sakit mahal apalagi untuk bayi prematur yang masuk ke ruangan (NICU). Jadi kami pinjamkan agar masa di ruangan perinatologi dapat dijalani di rumah. Setelah beberapa bulan di tahun 2012, saya membuat ukuran yang kecil dengan berat 13 kilogram, portable dan hemat energy 40 Watt saja”, kata Prof Raldi.

Agen relawan

Saat mendengar pernyataan Prof. Raldi untuk mengembangkan inkubator bayi di seluruh pelosok Indonesia, beberapa pihak bersedia menjadi agen relawan untuk meminjamkan inkubator bayi secara gratis. Ada pula muncul donator yang memberikan sumbangannya dengan ikhlas. Kini, agen relawan tersebar ke 15 kota di Indonesia meliputi Provinsi Jawa, Kalimantan Barat, Bali dan kemudian di Banda Aceh. “ November lalu ada relawan dari Jayapura yang datang langsung ke Fakultas Teknik, Universitas Indonesia mengambil satu paket inkubator bayi untuk menolong bayi-bayi prematur di Papua”, kata Prof Raldi

Saat ini terdapat 60 buah inkubator bayi yang sebagian ada di seputar Jabodetabek dan sebagian ada diluar daerah di tempat agen relawan, yang aktif dipinjamkan. Beliau mengatakan akan terus meminjamkan inkubator bayi agar dapat disebarkan ke 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Pengguna Inkubator bayi

Indri Haryanti, ibu berusia 28 tahun merupakan satu dari antara masyarakat yang menggunakan inkubator bayi karya Prof. Raldi. Putra pertama Indri, Adrian Putra Pratama terlahir lebih cepat dari perkiraan dokter (7 bulan) dengan berat badan 1.2 kg. Saat itu, Indri merasa keberatan dengan biaya rumah sakit yang tinggi, ditambah harus menyewa inkubator bayi per hari seharga Rp 1.000.000. Ketika mendapatkan informasi tentang peminjaman inkubator bayi secara gratis, ia segera menghubungi Prof. Raldi

“Belum terdaftar menjadi anggota BPJS menyulitkan saya untuk membayar rumah sakit, karena terhitungnya sebagai pasien umum,” kata Indri.

Cerita lain datang dari Siti Nurhawati, 40 Tahun meminjam inkubator bayi bukan karena tidak terdaftar sebagai anggota Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), melainkan rumah sakit tempat ia melahirkan anak ketiganya terbatas untuk meminjamkan inkubator bayi.

“Putra ke-tiga saya, Syafiq Muhammad Ali lahir secara prematur dengan berat badan 1.5 kg. Kebetulan suami saya pernah menonton acara televisi tentang peminjaman inkubator bayi secara gratis dari Prof. Raldi. Saya dan suami segera menghubungi beliau (Prof. Raldi)” ujar Siti Nurhawati.

Syafiq yang kini memiliki berat badan 2.9 kg, sudah lepas dari inkubator bayi yang digunakannya selama satu bulan. Siti mengatakan, Prof. Raldi melakukan hal yang luar biasa karena dengan kemuliaannya dapat membantu masyarakat tidak mampu yang memiliki bayi prematur.

Untuk mengetahui kondisi bayi secara berkala, Prof. Raldi melalukan monitoring secara langsung setiap minggu kepada orang tua, serta mengirim pesan melalui sms center, menanyakan perkembangan bayi terutama beratnya. Tidak ada persyaratan tertentu dan batas waktu peminjaman, hingga berat badan bayi normal 2,5 kg. Jika saat pengembalian inkubator bayi mengalami kerusakan, Prof Raldi tidak menuntut ganti rugi. “Harapan saya bisa membantu menyelamatkan bayi prematur sekarang agar kelak mereka menjadi generasi yang akan memimpin kita,” kata Prof Raldi.

Sms Center: 0856 59312070   Email: koestoer@eng.ui.ac.id

Facebook: Fanpage Y Bayi Prematur  (Telah dimuat di Radar Depok 17 Des 2014).

One response

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s