Short Talk with Polman Babel


Dosen polman BabelJam 09.00 waktu Ind Barat saya mendapat kesempatan untuk bicara atau ngobrol2 dengan para pengajar di lembaga Pendidikan Polman Babel (Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung), dahulu adalah Politeknik Timah. Baru tahun 2010 mereka menjadi institusi negeri. Karena meman gtidak terlalu direncanakan, baru malamnya sambil makan kepiting dicetuskan ide untuk berbagi dengan para dosen disana, jadi dari tadinya siang dirubah menjadi pagi sebelum sholat jumat. Lumayan ada belasan dosen yg hadir sekalipun dadakan. Diskusi dimoderatori oleh Bpk Robert yang sudah mengontak saya bbrp kali sejak dari Jakarta.
Tentu saja saya mulai memancing motivasi dan semangat untuk berkarya bagi masyarakat babel sendiri, dari ceramah keynote saya sebelumnya tentang Socio-Technopreneurship Peminjaman Gratis Inkubator Bayi yang diawali hanya dengan uang sisa proyek untuk 2 inkubator sekarang sudah eksis jaringan relawan di 15 kota di seluruh Indonesia. Anjuran saya hanya satu saja:
ONE MAN ONE PRODUCT ONE ACTIVITY
Jadi pilih satu saja untuk anda jadikan produk unggulan anda sendiri, tidak usah banyak2. Dan pastilah sesuatu yang mampu anda kerjakan dan menjadi ‘passion’ anda jadi kesukaan anda yang tanpa dibayarpun anda mau mengerjakannya. Lebih dari sekedar hobi, sehingga mungkin anda harus mengeluarkan biaya sendiri. Itulah artinya investasi. Boleh dibilang uang hilang, atau anggap saja infaq sekedah. Sehingga tidak anda pikirkan lagi ongkosnya malah anda lebih berorientasi kepada hasilnya. Tentu saja saya mengatakan itu bukan kaya Mario Teguh yang sekedar ngomong sehingga akhirnya jadi konsultan cinta dan rumah tangga, tapi berbasis kepada PRODUK NYATA (bisa dilihat dan diraba) seperti nature nya kami dari Mechanical Engineering. Dan kita sendirilah yang harus mengusahakannya agar produk kita jadi bermanfaat untuk masyarakat.
Mereka punya problem kalau bikin proposal penelitian sering ditolak. Tentu saja juri2 itu salah arah, politeknik jangan disamakan dengan universitas yang memang menjadi pionir bagi kemajuan teknologi, politeknik lebih sesuai kepada pemanfaatan hasil karya utk masyarakat. lebih cocoknya pada Pengabdian Masyarakat yaitu sila kethga dari Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat).
Kebijakan yang pukul-rata untuk semua orang itu memang harus dirubah, maklumlah para decision maker itu tidak paham tentang pendidikan jadi yang muncul adalah hanya pola pikir ‘sok mau canggih’ jadi akhirnya semua penelitian itu tidak ada gunya utk rakyat. Para profesional medis juga banyak yang sok mau canggih, hal ini bisa dikonfirmasi pada orang yang paling pintar di UI yaitu Prof Agus ahli forensik. Padahal toh yang dipakai uang rakyat juga.
(raldi 28112014)

One response

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s