Tomografi 3D made in Jogja


Terima kasih pak Pujianto atas lampirannya.

Memang betul, alat kita baru untuk model CTScan untuk spesimen laboratorium.
Ukuran diameter spesimen 5-25 mm, tinggi 20 mm.
Resolusi tinggi no problem. Untuk proses menghasilkab citra resolusi
tinggi 1500 x 1500, 600-1200 slices, perlu proses scanning data 20 menit.
Kita masih ingin lanjutkan inovasinya agar prosesnya dapat dipercepat
hingga maksimum 2 menit saja.
Waktu scan 20 menit relatif sama dengan waktu scan alat CTScan tercanggih
saat ini. Itupun baru 128 - 512 slices. 64 slices sudah kuno. Resolusi 512
x 512. Selama waktu 20 menit itu, pasien terpapar radiasi sekitar 100X
dosis radiasi sekali foto roentgen (chest radiografi). Bila niatan 2 menit
ini tercapai, maka dosis radiasi yang diterima pasien cuma 10X dosis foto
roentgen. Jauh lebih aman.
Bahkan bukan tidak mungkin saya dapat mencapai kinerja 1 menit scan saja.
Dosisnya bisa saya reduksi hingga hanya 5x dosis radiasi foto roentgen
saja.

Bila Indonesia mau bikin CTScan medis, maka Pemerintah (dan DPR) harus
memperbesar nyalinya.:=)

Salam,
GB Suparta
van Jogja

Dear all Sakit itu sakit beneran , baik badan maupun kantong nya dijaman modern ini , dan nakin membuat sakit sakitan sekelilingnya , Ingin sembuh itu pasti , masalahnya mampu enggak biayanya ? karena saking mahalnya berobat. Banyak kalangan akhirnya memilih terkun maupun jamoe dan juga prana atau apapun yg dapat dan menjanjikan kesembuhan.

Bisnis penyakit sangat menguntungkan , karena dibutuhkan , gak bisa nawar2 , harus cash keras , apalagi harus didiagnosa dengan alat canggih made in import, Rumah sakit swasta bertaraf internasional , tumbuh pesat dan makin besar , makin mewah ( service nya makin parah ) dg alat super canggih ditempatkan , rebutan dokter ternama dan ahli2 makin marak , tarif bukannya makin murah tetapi jor2an mahal2an , krn makin mahal makin mujarab, Ini bisnis yg tidak mengikuti management umum dan alamiah , kalau ingin ditelisik , keluar dari pakem2 management bisnis.

Coba lihat di jakarta , RS pemerintah maupun swasta , selalu penuh sesak dg orang sakit , berapapun tarifnya tetap penuh , apakah ini menunjukkan masih murahnya biaya sakit ? – buktinya mau beli kesembuhan sampai ngantri , atau memang pesakitan di Indonesia makin banyak ? siapa yg bisa menganalisa ? pasti gak ada yg pas.

Marak produk import , baik obatnya , dokternya dan yang paling banyak adalah peralatan super canggih ( apa benar alatnya ? ) – keingat jaman prambors , dimana ada mesin cuci full otomatis ( pakai full) , dari cuci , ngeringin dan setrika lipat jadi satu BOX , gede box nya karena didalamnya dono sdan kasino, heheh Jor 2 an import alat canggih , dan laku keras pakai ngantri juga, biayanya jut jut an , begitu harus bayar sebelum memakai alatnya, tambah sakitlah sipasien atau yg ngantar karena terke jut . inilah bis sakit. Pemerintah , khususnya Ristek yg menjadi tumpuan mengenai teknologi canggih dan memberikan insentive, agar perkembangan inovasi teknologi di Indonesia , tidak terlihat perannya , masyarakat melihat dan merasakan dimana tidak ada nya teknologi kita dalam peralatan , buktinya import semua. lokal gak iso. Naah ada satu lagi yg sangat menentukan perkembangan inovasi berbasis teknologi kita khususnya peralatan utk sakit , adalah Kementerian kesehatan , dg segala macam alasan untuk kepentingan masyarakat , lebih baik import saja, enggak beresiko , ijin edar saja ( walau sudah terbukti ) gak mudah , malah gak mungkin didapatkan.

Terlampir Karya inovasi teknologi anak bangsa untuk Indonesia ada dan bisa,Scanner dengan tampilan tomografi 3 D nya , agar dokter tambah teliti melihat hasilnya , sangat membantu diagnosa agar enggak ngawur , dan makin cepat sembuhnya, apakah bisa beredar ? , lain cerita , perjuangan panjang untuk menyatakan inovasi teknologi anak bangsa ada dan bisa, Selamat berjuang. click untuk memperbesar https://docs.google.com/file/d/0B94wf8jkFqMXUUZEV3Nkd2NaLUU/edit

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s