Renung 17 an


Hari kemerdekaan RI 17 Agustus 2014, dipenuhi dengan pesta rakyat di mana2. Hampir di semua daerah sampai RT RW merayakan dengan panjat pinang, lomba karung dll. Tentu kemerdekaan negeri kita untuk kaum terpelajar harus kita maknai lebih dari sekedar balap karung.

Teringat perkataan Bung Karno dulu… Duh waktu itu saya masih kecil banget, herannya koq ingat ya ?

Beliau bilang begini, perjuangan kalian nanti lebih berat dari kami2 ini. Karena kalian justru akan berhadapan dengan bangsa sendiri yang akan menjajah rakyat dengan berbagai bentuk.

Sebab itu saya tulis status di FB, ‘Merdekalah terhadap penjajahan bangsa sendiri’. Baca harian Kompas hari ini 18 Agustus 2014. Judulnya Tren Korupsi Naik Lagi. Sub: Sebagian Besar Tersangka Ada di Pemerintah Daerah dan Kementrian. Setelah sempat menurun praktek korupsi kembali marak dalam dua tahun terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan kurang efektifnya pemberantasan korupsi, yang menyebabkan koruptor tak pernah jera dan selalu memiliki kesempatan untuk melakukan korupsi. (Hal 5 Kompas cetak, Senin 18 Agustus 2014, Rubrik Politik dan Hukum).

Kondisi ini juga terlihat pada pileg yang lalu dimana calon-calon yang terpilih masih belum mencerminkan wakil rakyat sesungguhnya. Kebanyakan masih dikendalikan oleh nafsu berkuasa secara politik saja. Tentu saja tak kurang yang ingin cari penghasilan dari gaji besar para wakil rakyat itu. Sedangkan rakyat tetap menderita. Tak bisa menanggulangi kemiskinan dan selalu disuruh menolong diri sendiri tanpa kemudahan dari banyak sisi. Padahal ekonomi rakyat yang tak goyah dengan krismon ini adalah hasiil usaha sendiri tidak dibantu dengan uang pajak pemerintah. Rakyat berdaya sendiri.

Pemberdayaan Masyarakat

Menilik hasil pemilihan wakil rakyat yang masih belum akan menyuarakan Suhanura (Suara Hati Nurani Rakyat, supaya tidak rancu dengan partai Hanura). Baiknya para intelektual mulai menyingsingkan lengan baju, untuk turun tangan bertindak nyata. Jangan sekedar berteori, atau buktikan teorinya bisa jalan atau tidak. Jangan NATO jangan NAPO (NATO No Action Talk Only, NAPO No Action Plan Only). Mereka yang berada di Universitas biasanya NAPO, bikin rencana proposal melulu, tapi tidak bertindak nyata. Apalagi dengan anggaran DIKNAS dan DIKTI yang ‘mbludag’ sekarang ini, mereka nyaman dengan semua proposal penelitiannya yang hanya jadi kertas. Tentu saja dengan teori yang super canggih tapi tidak pernah bisa dijalankan.

Yo’ ayo’ berdaya lah, yo’ ayo’ bergotong royonglah. Yo’ musuh kita yang sebenarnya adalah kemiskinan dan ketidak adilan disemua sektor. Dan tidak usah maki2 siapa2…Dan tidak usah maki2 pemerintah…Dan tidak usah maki2 wakil rakyat nanti. Bekerja dan berkarya dalam diam.

Raldi 18 Agustus 2014.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s