Negara Baru NKRXXX


Artikel ini merupakan  deklarasi sebuah… NEGARA BARU,,,

Ho..ho..ho.. Apa maksudnya ?

Jadi negara ini sama namanya dengan negara kita yaitu

NKRI… Tetapi bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang biasa anda tahu. Tetapi NKRI ini adalah singkatan dari… Negara…Kesatuan…Republik…

I..N..K..U..B..A..T..O..R..

Siapa saja rakyatnya ?

Rakyatnya adalah…Para bayi prematur yang sedang tidur nyaman didalam inkubator bayi. Ada yang tidur nyenyak – deep sleep – karena merasa mendapat kehangatan yang diinginkan mirip dengan saat dirinya sedang melayang didalam cairan ketuban ibunya. Ruhnya sudah ada, walaupun kecil mungil, beratnya kebanyakan dibawah 2,5 kg bahkan ada yang hanya 800 gram saja, bayi mungil ini sudah jadi manusia seutuhnya… Hanya masih lemah sekali. Sebagai manusia, bayi ini tentulah harus dimanusiakan… Dia bukan saja mempunyai HAK AZASI tapi juga mempunyai hak yang lebih penting lagi yaitu HAK UNTUK HIDUP.

Tanpa UUD

Tentu saja karena rakyatnya adalah para bayi prematur, maka tidak perlu ada UUD. Ataupun konstitusi,  rakyat tidak memerlukan kesepakatan dasar itu. Rakyat atau bayi prematur ini bilang: ” Koq bodoh sekali mikirin gitu-gituan, kami gak perlu cocomeo macam itu.” Dalam nyenyak tidurnya di kabin penghangat bayi mereka sering nggrundel – Jangan kaya di Indonesia,UUD dibikin sendiri dan dilanggar sendiri. Ngapain bikin UUD ?

Tanpa BAYAR

Gak pake bayar-bayar. Apa saja yang rakyat perlukan boleh ambil saja tidak usah bayar. Pokoknya pake aja. Semua sudah jadi haknya semua. Hi..hi..hi.. Enak ya. Wong bayi koq, kan butuhnya cuma ASI dan penghangat saja.

Tanpa Kuitansi

Lho wajar dong, kalau tak ada bayar-bayar…dengan sendirinya kuitansi tidak diperlukan. Bila ada orang yang rela menyumbang atau infaq sedekah dengan sendirinya tidak perlu diberi kuitansi wong sudah rela. Jadi nanti kalau ada orang yang mau nyumbang untuk rakyat bayi lalu minta kuitansi, gimana ? Lha dia suruh nyumbang ke tempat lain aja deh, tempat yang banyak kuitansi bahkan kalau mau kuitansi yang banyak atau yang markup juga bisa. Emang kalau nyumbang kotak masjid dihari jumat pakai kuitansi ya ? Kalau maksa minta juga, itu sih namanya gak rela.

Tanpa Sertifikasi

Iya di negara tetangga kami, itu tuh negara Indonesia, lagi musim segala sesuatu harus ada sertifikatnya.  Makanan aja harus ada setifikatnya, padahal kita-kita para bayi gak perlu gitu-gituan kan ? Emang ASI dari ibu kita harus disertifikasi ya ? Fungsi peralatan  berjalan dengan baik sudah cukup jangan di susah-susahin. Sertifikasi and kualiti tuh intinya apa sih. Kalibrasi aja pada gak tahu, sertifikasi lagi. Ketipu sama orang barat ya ? Dikira kalau sesuatu itu datang dari barat sudah benar. Buntutnya jadi bayar mahal deh… Rakyat bayi ternyata sudah lebih faham, makanya mereka bilang: ” Kami mah gak perlu gitu-gituan… ”

Tanpa Paten

Kami para bayi itu seperti kertas putih. Tanpa dosa dan masih berada dalam fitrah yang asli dengan demikian juga berada dalam fitrah agama yang asli. Berbagi untuk sesama adalah keharusan untuk kami dan kemudian juga menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Tidak ada perbedaan kaya atau miskin, bahkan tidak ada perbedaan agama untuk rakyat kami. Semua sama, sama -sama harus ditolong, wong belum bisa jalan belum bisa ngomong, belum bisa cari duit sendiri. Lha kalo ilmu itu gak mau dibagi, maka pelajar dan mahasiswa bisa jadi pada bodo semua dong, lha gurunya gak mau bagi ilmu ? Dosen bilang – Rumus saya ini sudah dipatenkan, jadi kalau anda mau tahu musti bayar -. Gak usah jadi dosen aja, lha muridnya gak mau dikasi tahu. Gila kali tuh dosen !

Tanpa Akreditasi

Mau memeriksa mata bayi prematur di Pusat Mata Jakarta. Harus dapat akreditasi dulu Pusat itu dengan JCI Join Commission International di Chicago USA. Emang gak bayar apa dapat akreditasi itu ? Bayar mahal pasti, dan lalu dibebankan pada pasien. Huh…bayi prematur miskin aja musti nyetor duit ke Chicago Amrik. Yang bener aja, emang gak ada ahli mata kita yang bisa meriksa mata bayi dengan ikhlas tanpa bayar. Pasti ada lah, cuman belum diberdayakan saja. Jadi semua lembaga kita masih tersihir oleh sistem yang membelenggu dari barat sana.

Itulah sebanya kami dengan terpaksa mendirikan negara baru yang anti sertifikasi, anti paten, anti akreditasi, dengan sendirinya anti scopus2an buat semua tulisan ilmiah yang tidak bermanfaat untuk rakyat banyak. Hentikan semua ketololan terstruktur itu. Kembali harus melihat kebutuhan rakyat banyak. Itulah yang harus diutamakan. Memangnya uang pajak untuk kepentingan siapa ? Masa hanya untuk kepentingan Gayus dan Hadi Purnomo, para koruptor pajak itu, berikut dengan semua begundalnya di Dirjen Pajak.

Dasar negara kami hanya satu…

K..e..i..k..h..l..a..s..a..n.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s