Transaksi Aneh


Kemarin kami bertiga selesai solat dhuhur di masjid, jalan cari makan di warung. Mampirlah kami di warung makan prasmanan. Nasi dan lauk ambil sendiri. Ada macam2 lauk diantaranya rendang, ikan goreng, kikil, daging ayam dll.
Saya ambil nasi hangat belakangan dan seperti biasa saya minta nasi sedikit saja, istilahnya nasi setengah. kemudian beberapa sendok gulai nangka, dan mungkin sayur pare (yang kata orang pahit itu, tapi buat saya koq enak). Juga tempe…yang diiris kecil2 itu apa namanya ya. Maklum deh perbendaharaan kata saya kalo soal makanan agak minim. Jadi kalo makan asal makan aja gak tahu nama makanannya. Teman ada yg ambil rendang ada yang ikan goreng.
Minum gak macam2 cuman teh. Ada yg pake es ada yg anget manis.
Selesai makan, ibu warung kami panggil untuk hitung berapa bayarnya.
GIliran saya mengatakan apa yang saya makan:”Nasi, gulai nangka sayur pare ama tempe kecil”. Ibu warung ini bilang ” Ikannya aja apaan ?”.
Saya sebut lagi apa yang saya makan tadi, artinya saya ulang lagi kata2 saya tadi. Eh si ibu juga ngulang lagi “ikannya aja !” Agak lebih menegaskan bicaranya.
Kami bertiga berpandang-pandangan. Kemudian saya langsung mengerti…
Jadi apa yang saya makan itu tidak dihitung sama si ibu, alias gratis. Andaikan saya ambil sepotong rendang atau ikan goreng, nah itu baru bayar. Sepotongnya sekian (mungkin 20 ribuan gitu). Walhasil saya makan yang saya rasa cukup kenyang itu gak dihitung bayar oleh si ibu warung alias gratis aja. Kami bertiga terheran-heran sebenarnya, tapi diam saja.
” Jadi semua berapa ?” Demikian saya tanya kemudian. si ibu itung mengitung, “55”. Gitu katanya maksudnya 55 ribu rupiah. Saya kasi 1 lembar 50 dan satu lembar 20.
“Wah ada lima’an gak ya, biar jadi pas”.
“Gak ada bu, ya udah ibu ambil aja semua”. Saya bilang.
Kali ini dia yang terhenyak, sambil ketawa lebar “Banyak amat…belum pernah ada yang kaya gini…didoain deh biar sukses semua”.
Duh ini transaksi yang menyenangkan untuk semua pihak. Pertama makan cukup enak dan lumayan kenyang. Kedua bayarnya murah bahkan nyaris gratis. Ketiga didoain lagi oleh penjualnya, sehingga pantaslah kita balas doa ibu tadi semoga juualannya makin laku dan untung.

Mengapa bisnis tidak kita bikin model begini saja, ketimbang ngotot2an mau untung sendiri semua.
Saya ingat sebuah buku judulnya Bisnis cara Nabi. Yang penting kita bikin orang lain senang dulu, baru kita semua dan semua pihak lain yang terkait sama-sama senang.

Iklan

One response

  1. gimana cara saya bisa bergabung di relawan inkubator ini pak..
    saya mau ikut dan belajar membuat inkubator ini, biar bisa bantu saudara2 kita yang ada di labuhan batu, rantauprapat..
    HP saya: 0852 7623 0202
    Nama: Muhammad Noer Hasibuan, ST
    Panggilan: Septa
    Tgl, Tempat Lahir: Padangsidempuan, 23 September 1987
    -0-
    Bikin permohonan mel email koestoer@eng.ui.ac.id

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s