Buta Mata Buta Warna dan Buta Hati


Tercenung lama, geleng kepala berkali-kali, ada rasa sedikit sakit hati sedikit dendam untuk tidak mengatakannya sedikit-banyak menyumpah-nyumpah, kalau saya saja punya rasa seperti itu apalagi mereka yang benar-benar cacat tuna ini-itu, mendengar berita di Metrotv kemarin tentang seleksi calon mahasiswa untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri SNMPTN. Kalaulah negeri kita ini hancur karena ulah para koruptor… Kalaulah negeri kita ini kalah jauh prestasinya dibanding dengan negeri tetangga sekalipun mempunyai kekayaan alam berlimpah, Karena pejabatnya hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan golongannya… Itu sih semua soal biasa. Dalam beberapa tahun saja bisa diperbaiki bila pemerintah berganti dengan pejabat-pejabat yang amanah.
Tetapi…,  sekali lagi… tetapi… bila pejabat penentu kebijakan dunia pendidikan baik ditingkat nasional Diknas, maupun lokal perguruan tinggi menentukan kebijakan diskriminatif yang salah, melarang mereka yang Tuna-Netra, Tuna-Rungu, Buta Warna dan cacat lain untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas atau pendidikan tinggi lainnya, apapun bidangnya maka akibat buruknya sangatlah fatal. Masa depan bangsa ini akan tertutup kabut, atau penjajahan 350 th akan terulang lagi tanpa bisa bangkit. Jauh lebih parah dari kehancuran karena korupsi…
Mengapa demikian ? Mengapa masa depan bangsa bisa hancur karena pejabat pendidikan yang ‘the so-called’ intelek itu salah menentukan kebijakan.
Karena diskriminasi dan larangan diatas menyangkut pada marginalisasi pendidikan untuk kaum muda sekarang, anak-anak kita, cucu-cucu kita nanti. Pembatasan pada mereka yang sangat mungkin punya bakat dan otak yang cemerlang. Yang akan jadi pemimpin di masa depan nanti. Masa depan negara kita akan kelam dan tertutup kabut karena penentu kebijakan pendidikan kita berpikir sempit dan terkotak.
Andai mereka itu insinyur, pastilah mereka itu insinyur-insinyuran, bila mereka ST tentulah mereka itu ST-ST an. Andai mereka itu Doktor, pastilah mereka itu doktor-doktoran, andai mereka itu dokter, pastilah mereka itu dokter-dokteran.
Siapa itu dokter-dokteran, mereka itu dokter palsu, hanya anak kecil yang bermain dokter-dokteran. Jadi bukan dokter beneran, hanya bajunya saja tapi pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan seorang dokter tidak dimilikinya. Bila mereka Profesor pastilah bohong gelarnya itu, karena dia tidak tahu esensinya pendidikan…Apalagi…apalagi kalau dia professor ilmu pendidikan…pastilah itu gelar palsu yang sebenar-benarnya.
-0-
Alkisah sesorang di Inggris, kalau bicara terdengar seperti knalpot motor lagi idle, tidak ada orang yang bisa mengerti. Matanya juling hanya satu yang bisa melihat secara kabur, itupun tertutup kacamata tebal. Tidak bisa jalan, jadi sepanjang waktu menggunakan kursi roda, jadi dia cacat banget. Namun di Negara itu semua orang cacat bisa dan boleh sekolah ke perguruan tinggi dan boleh pilih jurusan apa saja. Sekarang ini kira2 umurnya beliau sudah 70 sekianlah. Saya membaca bukunya 10 th yang lalu. Disitu tertulis, beliau membuat sebuah formula atau rumus yang…yang satu rumusnya…panjangnya…panjangnya… 49 halaman. Kalau anda cukup intelek tebak saja siapa beliau itu, inisialnya SH. Silakan posting di FB.
-0-
Suatu hari di lab, kami bekerja dengan banyak kabel dan warna-warni dengan diameter yang cukup kecil. Warna yang bervariasi itu menunjukkan standar yang digunakan, apakah JIS, BS, ISO, AFNOR, DIN, atau ASTM (jaman itu belum ada CE). Dengan susah payah saya memisahkan kabel-kabel tersebut, toh akhirnya saya berhasil juga. Tidak seluruhnya saya menggunakan mata, separuh keberhasilan itu adalah karena saya menggunakan otak. Pada warna yang saya sulit membedakan, saya ukur resitance-nya dan karena tipe kabel itu memang materialnya berbeda maka dengan mudah kita bisa membedakan nilai resistance bahkan sudah langsung digitalized berbentuk angka. Pemisahan dan cara saya menangani persoalan itu saya ceritakan pada supervisor yang juga seorang GB. Beliau langsung kasi komen begini: “Alors donc…Vous-etes Daltonian hein… « Kira-kira artinya begini : « oh jadi kamu termasuk Daltonian. » Kenapa saya disebut Daltonian oleh Supervisor ini ?
Dulu anda pernah belajar tentang Hukum DALTON kan ? Nah rupanya si Dalton ini…BUTA WARNA. Oh jadi saya termasuk kaumnya Dalton ya… Gpp juga sih… Gak ada bedanya koq ama yang lain.
Ilmu di lab itu berbasis pada prinsip Seebeck – Peltier, sampai hari ini saya pakai dan sudah banyak dan akan lebih banyak lagi, menyelamatkan bayi premature yang berjuang sendirian melawan hyphothermia.
-0-
Dari 6 lelaki dalam keluarga ada 3 orang yang BW. Saya yang tengah, dan kakak saya paling tua dipanggil mas Yaxxxx, yang saya rasa otaknya paling kurang…hik…hik..hik… Bapaknya si Ninxx (Amxx Lutxxx, yang komen di FB tuh. Dia pasti cekikikan baca artikel ini, coz bapaknya dibilang otaknya paling kurang…)
Tapi sekurang-kurangnya otaknya (duh ini bahasa gak karuan)… toh dia bisa juga jadi DSA. Apa itu DSA ? Dokter Spesialis Anak. Tuh… otak yang paling kurang aja bisa jadi dokter bahkan spesialis lagi.
Wah saya ini adik yang kurang-ajar ya, kakak dibilang otaknya kurang. Minta maaf Mas…minta maaf sekali lagi…Sorry Ninxx… Sungguh ini cuman becanda. Maksudnya untuk menunjukkan bahwa si BW itu bisa jadi dokter bahkan spesialis, sudah ribuan anak kecil mendapatkan pelayanan beliau termasuk semua ponakan laki (duapuluh lebih)… disunat sama beliau. Tuh… heboh kan ?
Kemudian saya yang tengah… Wah ini gak fair kalo cerita tentang diri sendiri. So plis Tanya aja deh ama yang posting di FB. Si Aropa keren, Shoim ganteng (kesian deh lo im…), Azimil Rajo dirajo, Fariz Sepang… Siapa lagi tuh yang gak kesebut. Ceritain deh, yang bagus dan yang jelek biar fair. Tentang diri saya, gak pp koq saya di maki-maki. Saya anggap itu sebagai imbalannya saya suka maki-maki orang di dalam kelas.
Lalu adik saya, nah ini bedanya dengan saya rada banyak. Pertama… kalo saya pemain gitar, dia pemain biola. Saya di Universitas dia di pemerintahan, dia pendek saya tinggi…? Gak deng, terbalik. Kayanya dia kerjanya cuman cengangas-cengenges aja, tapi tahu-tahu jadi eselon satu di Kemenko. Itupun sambil main biola ujug-ujug jadi Doktor ilmu lingkungan. Kabarnya setelah selesai jadi Preskom di PT KXX sekarang jadi Preskom juga di PT PEXXX, semua BUMN. Kayanya dia dapat banyak kemudahan karena dia BW deh..? Tanya aja ama orangnya ada di FB tuh.
-0-
Saat saya melihat wawancara Metrotv dengan dua penyandang cacat buta mata Sarjana Hukum lulusan UI, saya terharu sangat waktu yang laki itu mengatakan bahwa dia bisa membaca web internet dengan jelas dan clear tanpa kesulitan apapun dengan computer khusus untuk orang cacat. Dia bilang “Dunia ini sudah terbuka luas bagi saya dengan berselancar tanpa halangan apapun didunia maya.” Duh…Mengapa harus ada pembatasan lagi, kalau mereka yang cacat itu saja sudah membuktikan dirinya mampu berprestasi sama dengan atau bahkan lebih daripada mereka yang normal, maka sungguh buta hatinya mereka yang menentukan kebijakan diskriminatif itu. Bagaimana perasaannya nanti kalau suatu saat mereka punya anak yang cacat yang nanti tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi padahal otaknya mampu. Percayalah bahwa bila kita peduli dan memberi kesempatan yang sama pada mereka yang cacat dengan mereka yang normal, maka hasil positifnya akan kita dapatkan berkali lipat di kemudian hari. Ini hukum alam saja sebenarnya.
-0-
Mewakili semua perasaan mereka yang punya kekurangan fisik, hati saya berdoa… Allah ampunilah mereka yang belum mengerti, maafkanlah kebijakannya yang kurang tepat. Turunkanlah hidayah dan petunjukmu agar mereka memperbaiki apa yang kurang tepat bagi para penyandang cacat…
Semoga Negara kita tahun ini betul-betul mendapat pemimpin yang adil dan amanah yang lebih adil pada mereka yang cacat yang lebih peduli kepada para difabel, memberi kesempatan yang sama pada si Buta Warna. Memberi bantuan pendidikan pada mereka yang kurang mampu. Sehingga masa depan anak cucu akan jauh lebih baik daripada masa kita sekarang.

NB:  Gara-gara postingan saya yang kontradiktif di FB, tadi pagi saya dicaci-maki oleh seseorang dengan SMS. Saya cuma balas “Sabar…sabar…”  Expecting tulisan ini meluruskan apa-apa yang masih bengkok, semoga bermanfaat untuk dunia pendidikan kita.

—000—

Copy status Facebook

SNMPTN : Mereka yg Buta Warna (calon mhs) dilarang masuk Teknik…hayo loh…rasain loh yg BW…Sial nasib loh… Emang elo-eloh dianggap otaknya gak nyampe koq… Jadi jangan suka sok pintar.
6Like ·  · Promote · Share

One response

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s