Penemu Anti Kanker Dilarang Seminar


TEMPO.CO, Jakarta – Ilmuwan dan peneliti tomografi, Warsito Purwo Taruno, tidak diizinkan untuk menjadi pembicara dalam seminar deteksi dini kanker di Hotel Sahid Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2013. Rencana presentasi penemu rompi antikanker itu mendapat protes dari asosiasi dokter.

“Dari Kementerian Kesehatan akhirnya tidak memberi izin saya menyampaikan materi seminar saya tentang ECVT untuk diagnostik, meskipun tadinya undangan awalnya juga berasal dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 22 Oktober 2012.

Rencananya, presentasi ECVT itu akan disampaikan Warsito dalam seminar bertajuk “Workshop Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Menggunakan Metode Nonradiasi.”

Teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau electrical capacitance volume tomography (ECVT) adalah temuan Warsito yang telah dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi itu bahkan telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antariksa Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang–alik selama misi ke antariksa.

Sistem pemindai ini mirip dengan CT Scan dan MRI untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh manusia. Tapi, perangkat ini lebih canggih karena pasien tak perlu masuk ke dalam tabung, seperti MRI yang cuma menampilkan gambar dua dimensi. Gambar yang dihasilkan dari ECVT ini berbentuk tiga dimensi.

ECVT juga mampu membunuh sel-sel kanker. Warsito membuat ECVT dalam berbagai bentuk unik, ada yang mirip helm, bra, dan celana, yang disesuaikan fungsinya untuk kanker otak, payudara, atau prostat.

-0-
Menurut Warsito, alasan penolakan karena Kementerian Kesehatan menerima surat protes dari asosiasi dokter. “Mereka keberatan apabila saya menyampaikan makalah di seminar yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan besok,” ujarnya.

Warsito sendiri tak habis pikir dengan penolakan itu. “Masalahnya, ini cuma seminar ilmiah, bukan alat mau dipakai di rumah sakit atau bagaimana.”

Akibat penolakan itu, Warsito harus meminta maaf kepada orang-orang yang sempat dia undang untuk hadir di seminar itu lewat Facebook. “Itu pesan yang saya kirim lewat Facebook,” ujarnya.

-0-

Copy paste dari http://m.tempo.co/read/news/2013/10/23/061524072

 

–00–

Lihat beberapa komen di:

https://koestoer.wordpress.com/others/komen-antikanker-dilarang/

Iklan

6 responses

  1. Tak ada yang takut rejekinya diambil orang. Dokter adalah profesi yang tertua dan tetap akan ada sampai akhir zaman. Pak Warsito, mari buktikan penelitian anda melalui jalur ilmiah dengan metodologi penelitian yang baku dan benar, jangan hanya mengandalkan testimoni-testimoni seperti tukang jualan obat… Dunia kedokteran terbuka dengan penemuan para engineer dan ilmuwan instrumentasi kedokteran, memangnya semua alat-alat medis di rumah sakit itu yang menemukan dokter? Tidak, kebanyakan mereka adalah para penemu dari berbagai disiplin ilmu telah memajukan dunia kedokteran.

    • Mana tertua? Ilmu kedokteran sendiri merupakan penerapan dari ilmu sains, jadi kalo dibilang paling tua…..ya jelas engga. Kayaknya semua orang juga tau bukan dokter yang nemuin alat medis, dokternya aja banyak yang ga ngerti teknologinya. Dan menolak tamu yang sudah diundang tanpa alasan jelas sangat arogan.

  2. Kemajuan Iptek termasuk hasil karya ilmuwan seperti Bung Warsito ini dan lain2 yg membawa kemashlahatan ummat semestinya didukung dan terus dikembangkan, bukankah begitu Prof Raldi ??

  3. Beginilah kalo “ilmuwan” (dokter dan ahli medis) tak lagi memahami hakikat keilmuwan tapi otaknya udah dikuasai oleh materialis dan kapitalis, ya Prof?

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s