Bayi Prematur Sudah Berusia 1 Tahun


Hampir satu tahun yang lalu ibu Ari mngontak kami untuk mendapat bantuan pinjaman inukubator bayi. Kali ini beliau berkirim kabar pada kami menyampaikan bahwa bayinya yang dulu lahir prematur sekarang sudah sehat ceria dengan berat 8 kg sama seperti layaknya bayi normal. Artikelnya bisa dibaca diblog ini juga dengan judul

Inkubator bayi gratis

(silakan klik judul tsb kalau ingin membaca artikelnya)

-0-

Ayk commented on Inkubator Bayi Gratis

Assalamualaikum pak Raldi, apa kabar. Saya ibu dari bayi prematur yang fotonya nampang di postingan diatas. Alhamdulillah anak saya tsb sebentar lagi setahun, beratnya sekitar 8 kilo, sehat, lincah dan aktif. Terima kasih banyak atas bantuan bapak.

Sekaligus mohon izin menuliskan tentang inkubator gratis bapak di blog saya, terima kasih.

-0-

Kami juga turut gembira karena  bisa membantu ibu bayi dengan aktivitas nyata sebagai bentuk dari Pengabdian Masyarakat di Perguruan Tinggi khusnya di UI ini. Asal muasalnya kegiatan ini adalah litbang di laboratorium Teknik Mesin FTUI, yang terus berlanjut sampai sekarang.

Dari banyak pengalaman kami berkomunikasi dengan orang tua bayi, nyatalah bahwa problem utama mereka adalah ketidak sanggupan membayar biaya perawatan bayi prematur di Rumah Sakit. Salah satu contohnya, minggu y.l. ada pak Ib yg datang meminjam inkubator pada kami. Beliau bilang waktu masuk harus bayar deposit 5,5 juta, namun setelah 3 hari beliau diminta lagi uang katanya depositnya sudah habis. Lha.. jadi 3 hari itu saja ongkosnya sudah lebih dari 5,5juta ? Ternyata masuk ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Ceritalah si bapak biaya perhari kamarnya 525 rb, masuk inkubator 725 rb, obat2an 1,2 jt, tambah lagi pakai alat bantu nafas, entah berapa saya tidak ingat biayanya… heudeuh saya aja dengarnya pusing apalagi bapak dan ibu bayi. Sedangkan bayi prematur akan lama berada di RS, jadi akan bayar berapa nantinya ?

Sulitnya lagi adalah b ayi prematur akan dipisahkan dari ibunya. Dengan sendirinya sulit mendapatkan asupan ASI. Kadang bisa dengan bolak balik ngantar ASI si bapak, tapi jadinya akan sangat repot karena tiap hari harus bolak balik RS. Sudah gitu juga harus segar jadi masuk kulkas di rumah dan di RS. Lah kalo abis terpaksa deh pakai susu formula, yang sengaja dipaksain utk dipakai sebanyak-banyak di RS. Bahkan dokterpun akan sengaja menyuruh untuk menggunakan susu formula dengan alasan “Nanti kalau tidak cukup asupannya gimana ?”  Saya sudah hapal bahasanya dokter “salah didik” ini. Koq saya tahu ? Soalnya persoalan itu saya hadapi waktu anak saya yg lahir belakangan (saya sudah berusia 44 th jadi sudah tua). Anak saya normal lahirnya, toh si dokter juga perawatnya maksain kami menggunakan susu formula. Saya melotot ngeliatin dokternya “Tidak anak saya harus ASI”. Gak enak mukanya langsung, heran juga dia, koq ada orang yg berani nentang. Tentulah saya berani karena saya sudah pengalaman jadi orang tua 44 thn, saya tdk yakin kalau orang lain atau bapak muda akan berani seperti saya. Apalagi dokter kan memang kompetensinya disitu jadi dia menggunakan ilmunya itu di jalan yang salah. Percayalah pada saya, mereka semua nanti akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah baik di dunia apalagi di akhirat, karena menentang penggunaan ASI dan menjauhkan bayi dari ibunya. Mereka dapat bagian tuh dari berapa jumlah susu formula yg terpakai di RS.

Salah satu penyebab kematian bayi yaitu karena infeksi, infeksi sering terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan ASI karena kurangnya zat kekebalan tubuh bayi. Bayi yang tidak mendapat ASI lebih berisiko 4,9 kali terkena diare daripada yang mendapat ASI Demikian juga bayi yang tidak mendapat ASI lebih berisiko 10.52 kali terjadi kematian akibat diare (Lamberti, 2011). Pemberian ASI sejak dini dapat mengurangi  kematian bayi (Edmond, 2006). Oleh karena itu pemberian ASI secara tidak langsung dapat menurunkan angka kematian bayi.

Mari kita sedikit lihat angka secata global dan kita bandingkan dengan beberapa negara tetangga lain.

Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator kesehatan bangsa yang masuk dalam target Millenium Developmental Goals keempat. Berdasarkan data bank Dunia tahun 2010 angka kematian bayi di Indonesia 35.3 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini lebih tinggi dibanding negara ASEAN lain seperti Malaysia (6.3), Thailand (13), Singapura (2.6) (WHO, 2011).  Sementara target MDGs menurunkan angka kematian bayi sampai 23/1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2009). Bisakah kita mencapai target MDG 2015 yang sudah dekat ini…Hmmm saya tidak yakin bila sistem management kesehatan kita masih amburadul seperti ini.

So… udahlah jangan banyak cingcong kita tolongin aja bayi2 kita. Utamanya jangan dikasi yang lain selain ASI (ASI eksklusif) karena ASI adalah obat bagi semua penyakit bayi.

(Raldi A. Koestoer – 22 April 2013)

Iklan

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s