Pekerja adalah orang yang terjebak…


“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.

Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang
lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan
adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang
diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada. Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai
mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan
menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan
sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup
bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman
hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam
pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya.
Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak
terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik.
Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman
yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi
pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik
membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR
saya. Saat murid yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil
ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran,
apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas
menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa
yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi
pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam
kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak
memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk
belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi
untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai
ketakutan…….”

(dikutip dari http://pohonbodhi.blogspot.com/)

Sun Apr 7, 2013 10:49 pm (PDT) . Posted by:

aulia_kpai

Woooooow, pidato yang luar biasa!Boleh di share yaaaa
Powered by Telkomsel BlackBerry®—–Original Message—–
From: purwono@ar.itb.ac.id
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Sat, 6 Apr 2013 12:48:02
To: <cfbe@yahoogroups.com>; <sd-islam@yahoogroups.com>
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: [cfbe] Pidato wisudawan terbaik

Posting dari seorang teman di FB.
Maaf bagi anda yang telah membacanya.
Salam,
EP
________________________________

Ini adalah cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High
School, New York, tahun 2010. Disampaikan oleh Erica Goldson, wisudawan
yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu:

One response

  1. Tetapi bagaimanapun sebelum mandiri kan, kita harus ikut (kerja) dengan orang lain dan belajar disana. Bagaimanapun banyaknya uang tanpa didukung keahlian dan pengalaman kerja hanya kebangkrutan yg terjadi, sedangkan modal keahlian dan pengalaman saja tanpa modal uang (tabungan dari hasil kerja) juga cuma jadi wacana alias ga jalan2. Yg enak siy menurut saya paling abdol, bisa kerja kantoran sambil “korupsi waktu” buat rintis usaha or proyekan di luar, hehe…

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s