Tim Inkubator dengan Majalah SWA


Menyusul liputan dari media elektronik TVONE pada bulan Desember 2012 yang lalu, beritanya bisa disimak di

halaman ini, dan juga turunan beritanya.

Berikutnya tanggal 15 Januari 2013 hari Selasa, salah satu media cetak datang menemui tim Inkubator FTUI. Majalah SWA (kalau tak salah ini majalah bisnis ?) datang ke kampus UI diwakili oleh 2 wartawannya yaitu Rangga dan Wisnu. Mereka khusus datang utk meliput Tim Inkubator FTUI dengan aktifitasnya
PEMINJAMAN GRATIS INKUBATOR UTK BAYI PREMATUR.

Dibawah ini adalah isi dari wawancara tersebut.

1. Apa yang mendorong Anda membuat Inkubator bayi yang dapat disewakan dengan harga murah?

Wah ini jawabannya sebenarnya panjang. Baiklah saya coba persingkat sejarah aktivitas PEMINJAMAN GRATIS INKUBATOR ini. Koreksi sedikit, kami tidak menyewakan tetapi meminjamkan dengan gratis.

Alkisah di th 1989, kakak saya dokter anak membawa pulang sebuah inkubator buatan DN yang sdh rusak kerumahnya. Saya ada disitu, setelah saya lihat, saya bilang kpd kakak, inkubator ini banyak salahnya dlm pembuatan, terutama tanpa adanya pengaman utk pemanasannya dan sistem pemanasannya sendiri terkesan asal saja. Lalu dia bilang – Kamu paham sistemnya ? – Jawab saya – Tentu saja..- – Lho kenapa gak kamu saja yang bikin, daripada orang lain yang tidak mengerti, malah salah dan berbahaya untuk bayi ? -. Perlu diketahui sebelumnya bahwa background saya adalah Mechanical Engineering and Heat Transfer (Teknik Mesin dan Perpindahan Kalor). Mulailah terpikir oleh saya saat itu untuk membuat Inkubator bayi ini. Namun demikian baru tahun 1994/95 saya mulai meneliti dengan bahan kardus dan triplek yg dimensinya sebesar kabin bayi inkubator. Dari sisi energi, utk memenuhi ketentuan suhu 33-34 dgC di kabin bayi dengan memasang pemanas sekian watts dari bawah tidak ada problem namun utk mengendalikan suhu agar tetap konstan menjadi kendala karena harus menggunakan kontroler elektronik yg waktu itu cukup mahal (buatan eropa dan Jepang).

Singkat kata setelah melalui beberapa tugas skripsi dan munculnya produk dari NIC (New Industrial Countries, Taiwan Hongkong Korea. Cina saat itu blm muncul). Mulai ada kontroler yg relatif murah namun kinerjanya meyakinkan setelah melalui banyak kali pengujian. Produk pertama tugas skripsi inkubator bayi dari kayu muncul dengan sistem pemanas lampu tahun 2002. Kemudian group mhs FTUI th 2003 ikut PIMNAS ke XVI di Solo (Pekan Ilmiah Mhs Nasional). Kami menjadi primadona sehingga masuk berita harian KOMPAS setengah halaman. Namun demikian keputusan juri lebih bersifat politis ketimbang teknis sehingga kami tidak menjadi juara saat itu.

2. Seperti apa teknologinya? Apa yang membedakan dengan inkubator yang banyak dipergunakan di rumah sakit sekarang? Bagaimana soal reliabilitasnya?

Teknologi inkubator konvensional sebenarnya sangat simpel. Inti utamanya adalah kita ingin mendapatkan suhu 33-34 dgC yg sebenarnya adalah suhu yg sedikit lebih rendah dari suhu 37 dgC selama bayi dlm kandungan ibu. Berat bayi prematur (BBLR-Berat Bayi Lahir Rendah) sangat rendah dibawah 2 Kg (ada yang sampai 1,2 Kg), shg bayi tidak cukup punya energy (massa kalor) utk berada di suhu ruangan 28 dgC (hipotermia, bayi kedinginan). Tentu caranya adalah dengan memberikan kalor dgn pemanasan kedalam sistem dlm hal ini adalah pemasangan heater dibawah yg kemudian ditiup dg fan keatas dimana bayi berada. Teknologi selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan suhu itu tetap konstan 33-34 dgC yaitu dengan menggunakan kontroler elektronik. Dengan begitu suhu akan terjaga pada suhu dan kelembaban yang diinginkan.

Teknologi baru kami adalah membuat sistem dengan SIRKULASI ALAMIAH dan konveksi alamiah. Artinya udara dari bawah mengalir sendiri keatas tanpa fan dengan system ducting khusus dan system lubang fresh-air tertentu, serta dengan menggunakan pemanas yg dalam hal ini lampu dengan wattage yg kecil yang sdh diukur sesuai dengan kebutuhan kalor di ruang bayi. Sistem kami ini tidak menggunakan fan lagi, sehingga sangat silent (tak ada bunyinya) sehingga bayi merasa nyaman didalamnya. Bahan materinya juga khusus dipilih yang bersifat isolative terhadap bocor listrik, jadi sangat aman bagi bayi dan perawatnya. Kebutuhan listrik yang kecil ini (10x lebih kecil daripada inkubator biasa yang ada di Rumah Sakit) menyebabkan incubator ini bisa digunakan di rumah orang yg tidak mampu yg listriknya hanya terbatas 450 Watt saja. Untuk perbandingan,  konsumsi listrik segitu bila kita gunakan  incubator konvensional, maka listriknya sudah langsung habis, sehingga rumah tidak bisa pakai listrik utk keperluan lain. Sistem incubator grashof ini sudah kami uji coba berkali-kali pada berbagai keadaan. Pagi siang sore malam, utk derah dingin (mis Puncak), ruangan ber AC dan non AC. Namun demikian kami anjurkan agar tidak menggunakan AC, karena dalam ruang tanpa AC saja bayi premature sudah kedinginan apalagi kalau pakai AC. Dengan demikian dapat dikatakan incubator ini sangat reliable, sejauh ini sejak kami mulai dengan program peminjaman gratis, inkubator grashof sudah menyelamatkan sekian puluh bayi premature. Grashof sendiri adalah nama seorang peneliti Jerman dalam bidang konveksi alamiah yang wafat tahun 1897.

3. Kalau dijual, berapa kira-kira harganya? Apakah terjangkau oleh Puskesmas-Puskesmas di Indonesia, terutama di pelosok-pelosok?

Inkubator kami ini tidak untuk dijual, dan hanya akan dipergunakan untuk keperluan social membantu masyarakat, utamanya adalah utk membantu gol yg tidak mampu karena mereka harus membayar mahal utk berada di RS atau puskesmas, atau mungkin tidak ada akses sama sekali ke puskesmas apalagi Rumah Sakit.

Utk bagian yg komersial kami sudah punya perusahaan alkes yang memang diperuntukkan bagi kegiatan komersial meningkatkan produksi DN. Bila ada pihak yg memerlukan incubator bayi utk keperluan social membantu masyarakat miskin, silakan datang utk bekerjasama dengan kami.

4. Apakah memungkinkan diproduksi secara massal? Apakah dia perlu investor untuk memproduksinya secara massal?

Memproduksinya secara masal sangatlah mudah, namun sementara ini kami ingin membangun infrastrukturnya terlebih dahulu yg berbentuk jaringan dengan pihak lain dikota lain dengan mrk yg mempunyai visi misi yg sejalan dengan kami sehingga suatu saat nanti menjadi sebuah gerakan nasional diseluruh negeri untuk menyelamatkan bayi-bayi premature kita.

Bila ada investor yg mau membantu tentu saja bisa. Kami sebut ‘Angel Investor’ krn visi dan misinya harus sejalan dengan kami. Yaitu Mengutamakan kepentingan masyarakat banyak utamanya kaum yg tidak mampu. Sistem demikian ini sekarang dimungkinkan dengan adanya program2 CSR dari berbagai perusahaan, dimana mereka menyisihkan sebagian kecil profitnya utk membantu gol tdk mampu atau juga untuk pemberdayaan masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan.

5. Apakah Anda sudah menghitung berapa besar kebutuhan untuk Puskesmas dan klinik-klinik kecil di seluruh Indonesia?

Pertanyaan ini lebih layak diajukan pada Kemenentrian Kesehatan yang lebih bertanggung jawab. Kami hanya ingin membantu langsung masyarakat dengan TINDAKAN NYATA dengan menggunakan ilmu yang ada pada kami serta kemampuan manajemen organisasi  dengan segala ketulusan dan keikhlasan sekaligus menjadi sarana pendidikan bagi mahasiswa atau siapa saja yg ingin belajar mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan Teknologi untuk rakyat.

Kami yakin bahwa Allah selalu ada beserta kami, timur dan barat adalah milik Allah kemana wajahmu menghadap disitulah Allah ada. Menolong satu jiwa berarti menolong semuanya. Raldi A. Koestoer – 08161992186 – koestoer@eng.ui.ac.id

Iklan

One response

  1. Ping-balik: Untuk 34 Propinsi Peminjaman Gratis Inkubator Bayi | Raldi Artono Koestoer

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s