Perlunya Pengalaman


Arti sebuah kata
Dulu kala saat mulai menangani sebuah proyek berjangka cukup panjang, beberapa staf muda yang baru lulus turut bekerja bersama saya. Katakanlah ringkasnya mereka menjadi bawahan saya. Saat proyek pertama start, kelihatan semua berjalan lancar dan beres, karena semua berasal dari satu ‘kandang’ baik pekerjaan maupun pergaulan berjalan smooth and seems without any problem. Tibalah 3 bulan waktu berjalan, proyek sudah perlu suplai ‘gizi’ dari penyandang dana.
Pergilah dua staf muda ke kantor BUXX besar tersebut, yang kantornya saat itu saja… ini 20 tahunan yang lalu lho… kantornya sudah 20 tingkat. Bayangkan bagaiman besarnya BUXX tersebut. Benar memang bukan saja di negara kita dia di’takuti’ tapi diantara negara-negara besar saat itu BUXX ini teramat sangat dihargai. Karena dua staf ini saat pulang sudah afternoon, jadi mereka tidak menghadap saya sebagai kepalanya, tapi makan siang dulu dan bincang-bincang dengan staf lain. Dua orang ini kelihatan bingung, lalu bingungnya ini mereka tularkan pada staf yang lain yang juga notabene muda alias seumur. Alkisah mereka sih semua sudah sarjana namun dengan pengalaman hanya job-training disana-sini dan utamanya dibidang teknis, tentulah masih kudu harus banyak belajar dari the so called the best teacher ever after or namely EXPERIENCES.
Dan apalagi…sekali lagi apalagi, separuh diantara mereka adalah wanita. Mereka ini jumlahnya total kira-kira adalah sepuluh orang dengan komposisi pria/wanitanya fifti-fifti. Tahulah apa jadinya kalau diantara mereka ini pada berkicau, ada yang kaya burung perkutut, ada yang suaranya nyaring kaya kutilang, adapula yang seperti burung camar hitam ditengah hutan. Jadi suaranya mirip kokok ayam. Begitu banyak jenis burung yang berkicau jadinya bukan malah terdengan merdu tapi… jadi mirip-mirip… melolong dan menggongong seperti serigala dan herder pada demo ke istana. Sepakatlah akhirnya mereka semua bersama-sama menghadap saya sebagai bos kecilnya, coz bos besarnya saat itu gak pernah ada di kantor karena beliau adalah seorang penyandang gelar VVIP (by google translation this means Very Very Idiot Person… gak deng salah).
Yang badannya paling gede, dia yang tadi ke kantor BUMX. Dia termasuk anak muda yang istimewa, orang bilang waktu mhs dia pinter banget sampai bisa ke Amrik ke sarangnya NASA krn prestasi akademisnya. Jadi banyak sebutanlah dia yang ter ini ter itu, dan di kantor kita dulu juga dia yang teeerrrbanyak jerawatnya.
“Wah pak… proyek kita terancam gagal”, demikian dia mulai preambule-nya. Berikut dia sampaikan batang tubuhnya “Kita harus segera mengeluarkan report atau surat atau apalah namanya utk BUXX sebagai penyandang dana sebagai prasyarat keluarnya pembayaran termin pertama” begitu permulaan batang tubuhnya dimulai. Temannya yang kurus jangkung menimpali “Kita harus segera meng-issue surat Ivevexxxxxxs, begitu kata kepala divisi sana pak “.
Burung kutilang dan kenari, mulai ikut-ikutan ngecepret “ Iya dong pak gimana nanti gaji kita kalau pembayaran pertama gak keluar ?” Burung beo mulai mendongak, dan sebagaimana tugasnya burung beo, maka diulanglah semua kalimat-kalimat dari burung-burung yang lain. Riuh rendahlah itu ruangan yang Cuma 2 petak seperti speaker dangdut pinggir jalan yang kebanyakan treble dan bas sekaligus, mirip bunyi knalpot Yamaha Honda dan scooter menjadi satu.
Maaak… amfyun… Pusing kepala saya mendengar celoteh anak-anak muda yang sok pinter ini. Sampai akhirnya saya bilang “Coba ulang kita musti meng-issue apa ?” begitu Tanya saya karena belum jelas sebenarnya apa yang harus di-issue. Dengan suara yang agak dikulum-kulum, si jangkung mengulang kata-katanya “Kita harus meng-issue …veveve …vovo …vois pak!”
“…Aaaappppaaaahhhh”, sekali lagi saya Tanya karena memang gak jelas.
Vovov…vois…pak …

Anak ini memang baru 3 bulan kursus bah Inggris di Kemayoran sana itupun dia sudah bolos 3x. Jadi wajar aja kalo bah Inggrisnya malah membingungkan dirinya sendiri.
Aduh apa ini maksudnya ? Saya bertanya sendiri. ‘Lukito coba lo telpon sana tanya tulisannya gimana, yg lo sebut tadi, telpon aja sekretarisnya kepala divisi, lo tungguin ya biar jelas semuanya’. Sambil rada ketakutan si Lucky nelpon juga sekretaris Kadiv. Biar bah Ing blepotan tapi anak ini panggilannya keren Lucky, walaupun dia pendiam orangnya.
Baliklah anak ini dengan secarik kertas, yang langsung diberikan pada saya.
Duh… saya terhenyak begitu melihat tulisan dikertas itu. Sepuluh detik kemudian saya terbahak-bahak dan termehek-mehek, karena yang tertulis sebuah kata yang termat sangat sederhana… yaitu…
I
N
V
O
I
C
E
Mereka semua melongo melihat saya tertawa…
‘Ini mah artinya SURAT TAGIHAN tahu…’ Jadi sepuluh orang itu yang notabene katanya anak2 pinter gak ada yang tahu apa artinya INVOICE. ‘ Sini saya bikinin.’  Langsung saya bikin draft di selembar kertas dengan judul besar
SURAT TAGIHAN…
Lalu saya kasi ke mereka untuk diketik computer karena memang begitulah seharusnya sebelum termin pertama keluar harus ada dari proyek surat tagihan dulu sehingga mereka jelas membayar berapa jumlah rupiahnya dan apalagi proyek yang cukup besar ini ada tagihan dolarnya juga.
Jadi nyatalah bahwa walaupun pintar orang-orang lulusan perguruan tinggi itu tetap perlu bahkan sangat perlu pengalaman kerja dan tentunya hal ini memerlukan waktu sehingga tidak ujug-ujug baru kelar sekolah terus sudah jadi Direktur Utama, karena… jangankan persoalan2 besar, istilah-istilah saja mereka belum banyak mengerti.

(Raldi A. Koestoer, 12/12/12)

2 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s