Sepeda Santri


Oleh : Hendri DS Budiono

Penelitian tentang sepeda sudah saya lakukan sejak tahun 2006…selain didorong tentang keingintahuan tentang sepeda akan tetapi sebenarnya “lebih banyak didorong kepada semangat menjadikan produk dalam negeri menjadi tuan rumah dinegaranya sendiri”.

Dunia pernah melakukan revolusi penggantian sepeda dengan alat angkut yang lain dengan bahan bakar fosil (baca …Bahan Bakar Minyak atau BBM) sekitar tahun 1960an…termasuk Indonesia juga kena dampaknya (ingat Jogjakarta sebagai kota pelajar dengan sepedanya berubah dan hilanglah sepeda tersebut).

Dikala saat ini bahan bakar fosil mulai menipis dan masyarakat sadar akan kerusakan lingkungan, kemacetan dimana mana, meningkatnya tingkat kecelakaan, maka kembali perlahan lahan dengan malu malu manusia mulai mencoba untuk kembali ke sepeda, ibarat (roda itu bulat suatu saat ada diatas dan pastinya yang dibawah akan muncul kembali)

Indonesia dengan lebih dari 245juta jiwa yang tersegmentasi pada usia semuanya pasti membutuhkan sepeda, ada kebutuhan sepeda untuk anak SD, SMP,SMA, Perguruan Tinggi dan Para Lansia jangan lupa untuk saat ini berkembang adanya sepeda untuk anak2 Pra Sekolah artinya kebutuhan sepeda tidak akan hilang selama adanya pertumbuhan penduduk.

Data tentang kebutuhan sepeda di Indonesia tercatat 6 juta sepeda dibutuhkan setiap tahunnya sedangkan kapasitas industri yang ada hanya mampu sampai dengan 2juta setiap tahunnya berarti ada peluang pasar sebear 4 juta sepeda dibutuhkan di Indonesia.  Menarik untuk dicermati karena industri sepeda di Indonesia ternyata tidak sepenuhnya murni melakukan disain dan manufaktur sepeda akan tetapi kebanyakan memilih cukup puas dengan melakukan proses perakitan yang sebenarnya hanya memberi kontribusi sebesar 10% dari cost of produk karena berdasarkan teori dan ilmu praktis yang ada 70-80% cost of produk ada pada tahap disain, harusnya kita tidak boleh hanya cukup puas dengan tersedianya lapangan pekerjaan.

Tidak mudah memang mendorong produk dalam negeri untuk bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, kerja keras harus dilakukan bersama sama dari semua kalangan baik peran serta masyarakat, pemerintah, swasta dan tidak bisa sendiri sendiri.  Bukti menguasai teknologi dengan menghadirkan sepeda “SeliqUI” sepertinya tidak cukup dan ternyata produk sulit bersaing dengan produk yang ada di pasaran apalagi ditengah pengakuan masyarakat yang masih cukup rendah terhadap produk dalam negeri. Diperlukan terobosan baru untuk dapat membukakan mata masyarakat bahwa produk dalam negeri itu ada dan harus diberi kesempatan untuk berkembang, yaitu dengan mencoba memanfaatkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan nasional, sebagai contoh Pertamina pada tahun 2010 sempat memberi kesempatan untuk membuat 2500 sepeda dalam waktu 3 bulan bagi anak SD kelas 4 dan 5 dan dibagikan secara gratis dan merata ke 5 wilayah di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Semarang dan Surabaya) sedang pada tahun 2011 kembali memberi kesempatan dengan meminta untuk membuat dan mendistribusikan 800 sepeda untuk wilayah makasar dan Sorong.  Apa yang bisa ditarik dari program ini adalah masyarakat akan tahu bahwa produk lokal itu ada dan bisa berfungsi selayaknya sepeda sepeda merk lain yang ada di Indonesia akan tetapi bedanya adalah di rancang dan dibuat oleh industri dalam negeri walau baru 65% dan 35% masih tergantung kepada komponen luar indonesia yang sebenarnya bisa juga dibuat sendiri dengan alasan jumlah kebutuhan. Tidak hanya upaya membukakan mata masyarakat karena program ini juga mendorong membantu sesama dan meningkatkan jiwa nasionalisme.

Tidak hanya berhenti sampai disitu tahun 2012 kembali terobosan dilakukan dengan meluncurkan program “sepeda santri indonesia”, yaitu mencoba menularkan ilmu perancangan dan manufaktur “low cost bicycle” kepada santri-santri pondok pesantren Hidayatullah, Kalimulya, Depok melalui dukungan program pengabdian pada masyarakat UI 2012 (mohon maaf bukan bermaksud mengagungkan satu agama dan harusnya bisa diterapkan disemua kalangan). Subhanallah pelatihan membuat dan merakit sepeda yang diikuti oleh 23 peserta siswa IPS  dan diselenggarakan hanya dalam waktu 7 hari bisa menghasilkan 3 buah sepeda dan sekarang setiap hari menjadi kebanggaan dan alat transportasi mereka selama di pesantren (lihat depoklik.com). Pertanyaan yang timbul kenapa kok santri yang diajarkan, banyak pesantren yang karena kondisi dan ketidak jelasan prosedur birokrasi terpaksa mengandalkan mencari dukungan dana kesana kemari (tidak semua), karena banyak juga pesantren yang untuk mewujudkan cita cita dan idealismenya didukung dengan dana dari usaha lain yang bermanfaat pada sektor non pendidikan atau mungkin dana dari donatur seperti yang mungkin sudah kita lakukan. Banyak manfaat sebenarnya yang bisa kita dapatkan kalau program ini bisa dijalankan, tidak kurang dari 5 butir keuntungan yang bisa kita peroleh, yaitu :

  1. Kita menyumbang demi makin meningkatnya penguasaan ilmu keislaman
  2. Kita membantu operasional pondok pesantren
  3. Kita membantu mengurangi pandangan sebagian kecil masyarakat bahwa pesantren adalah sumber dari teroris
  4. Kita menyumbang demi tumbuhnya produk dalam negeri
  5. Kita menyumbang demi anak anak yang tidak bisa bersekolah karena alasan transportasi

Catatan : kita adalah bisa individu atupun kelompok ataupun CSR suatu perusahaan

Iklan

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s