Dosen Sombong Kena Batunya


01:34:48 +0000, yxxx@xxx.xx.ac.idwrote:

Assalaamualaikum wr.wb. Apa kabar pak raldi?

Semoga sehat pak. Saya ketika baca judul tulisan bapak, terus terang jadi ingin membaca kritikan pedas mahasiswa itu seperti apa, ditambah lagi tentang mk “etika terpuji” yang bapak ampu.

Semakin tertarik saya, namun akhirnya saya jd kecewa karena:

1. Judul artikel bapak sudah membohongi semua pembaca, lebih parah dari wartawan yang mencari berita dan judul sensasional. ini judul dan isi bertolak belakang banget!

2. sangat disayangkan terlebih lagi bapak mengajar etika terpuji, namun dalam membuat judul artikel saja sudah tidak beretika alias bohong.

3. Isinya semua pujian kepada bapak, sehingga ketika pembaca membaca judul dan isi, terasa bila yang membuat artikel ini ingin menyombongkan dirinya. Dan kembali saya tambah kecewa krn bapak ampu mk etika terpuji, tapi kok malah bertolak belakang. menurut saya, baru ini kritikan pedas.

Mohon maaf bila ada kata2 saya yang terlalu pedas, namun saya sebenarnya ingin saling mengingatkan saja dan terus terang saya tertarik untuk ikut kelas bapak walaupun setelah keluar artikel bapak tersebut.

Menurut saya, belum semua mahasiswa dan dosen tahu etika sehingga memang perlu untuk mengetahuinya.

Terima kasih sekali lagi, maaf atas kritikan saya, sukses selalu pak!

Salam Yxxx

-0-

On Mon, 18 Jun 2012 06:25:16 +0000, Raldi Artono Koestoer wrote:

ini Baru namanya betul2 KRITIKAN… Terimakasih atas ‘pujiannya’.-

Salam sukses.-

On Mon, 18 Jun 2012

 

Terima kasih atas tanggapannya.
Saya senang sekali atas tanggapan bapak.
Sukses so pasti untuk Bapak!
Salam
Yxxx

3 responses

  1. Assalamaualaikum.

    Pa kbar pak Ral ? semoga sehat dan bahagia selalu,
    tulisan Bapak sudah tidak bisa dibuka ya ? ketika diklik yang muncul adalah komentar dari sang Mahasiswa, jadi saya baru bisa baca komentar-komentar nya.

    Kalau membaca komentar ‘utama’nya, memang begitulah pola umumnya, apalagi anak teknik yaitu membaca apa yang tersurat, sementara ada tanggapan lainnya yang menilai itu sebagai ‘gaya bahasa’ berkebalikan/ (paradoks ? ).
    Gaya bahasa berkebalikan ini banyak dipakai oleh masyarakat Minangkabau /sumatera barat dahulunya. Namun sastra minang terkaity dengan hal ini adalah sastra lisan bukan tulisan, sehingga selain unsur kata-kata ada unsur mimik muka dan gestur tubuh lainnya yang dapat dilihat. Misalnya ketika seorang ayah memarahi anaknya yang berbuat salah dia mengatakan “rancak bana kaluan waang (bagus benar kelakuan kamu)” artinya kan positif, namun ketika mengucapkan kaiamt itu orang tua dengan mimik marah, sehingga walaupun kata-kata yang diucapkan adalah positif, pesan yang ditangkap anak adalah negatif / bahwa orang tuanya tidak setuju dengan kelakuannya.

    Ini dulu komentar ikutannya Prof.

    wassalam
    tecu
    note: oh iya link berita ini saya lihat di milist kutubuku…masih bisa dipakai ya ? gimana kabarnya Bang Aswil ? sang kutubuku…sudah lama saya tidak melihat goa penyimanan buku pusaka bu pun su nya…he he he

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s