Kurikulum SD harusnya begini


Subject Re: Bizinov2010-Community Re: the highest bridge in the world
Sender mnurhuda@ub.ac.id
Recipient bizinov2010@googlegroups.com
Copy Paulus Boen , Bivinov2012 – Satrio Arismunandar , Bizinov 2010 Pudjianto
Reply-To bizinov2010@googlegroups.com
Date 06.04.2012 11:15
Pak Ridwan Gunawan ysh,

Saya sangat setuju dengah tulisan Bapak.

Tulisan Bapak mencerminkan kebijakan seorang yang sudah kenyang makan garam.

Intinya memang pendidikan dan pendidikan.
Makanya, resouces kita yang sedikit, harusnya digunakan untuk mencerdaskan
bangsa, agar bangsa ini kelak mampu bersaing dengan Vietnam, Korea, Jepang
dan bangsa-bangsa lain di dunia.

Jangan resources yang tinggal sedikit ini dibuat bancakan, dibakar habis
dijalan. Coba bayangkan, misalkan subsidi BBM yang 127 trillyun itu
digunakan untuk membangun sekolah bermutu, lab yang bermutu, pengembangan
SDM yang handal…betapa besar impact yang ditimbulkan.

Coba misalkan, kurikulum SD diubah, ketimbang disuruh menghapalkan nama
menteri, wali kota sampai nama istrinya, diganti dengan kurikulum yang
lebih real, ketrampilan misalkan.

Ajari anak SD kelas pegang dan menggunakan obeng, gergaji, palu, kelas 3
perkenalkan dengan mesin-mesin sederhana, baik combustion maupun electric,
ajari mereka membuat mainan sendiri, betapa mereka akan berkembang di
kemudian hari menjadi manusia-manusia trampil. Nggak usah bikin,
keteratrikan mereka dari kecil pasti akan berbuah sikap mental yang sangat
mendukung inovasi di kemudian hari.

Semuanya tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan itu bisa
diambilkan dari jatah subsidi BBM atau penghapusan subsii BBM.

Tapi tidak seperti sekarang. Peningkatan anggaran pendidikan sebesar 20%
APBN malah digunakan untuk foya-foya dan bancakan. Tiap tahun buku
pelajaran berubah. Yang namanya intensifikasi pendidikan cuma menyekoki
anak dengan pelajaran hapalan yang seabreg. Apa yang pada jaman kita dulu
diberikan pada saat kelas 2 SMP, sekarang diberikan pada anak kelas 2 SD.
Jadilah perkembangan mental anak sekarang seperti dibonzai.

Anak SD kelas 2 sudah diajari menghapal fotosintetis, tanpa pernah tahu
sebenarnya fotosintetis itu. Disuruh menghapal macam-macam energi,
sedangkan gurunya sendiri tak bisa mengerti secara benar apa itu energi.
Semuanya mau disuruh menjadi generalis, padahal dalam hidup yang yang
dibutuhkan adalah ketrampilan praktis, bukan hapalan model cepat tepat di
TV-RI.

Akibatnya, setelah besar, kita memang lebih suka menjadi broker, karena
menjadi broker yang dibutuhkan memang hanya omong besar, bukan kerja besar
seperti yang ditunjukkan oleh bangsa-bangsa maju.

Salam
M. Nurhuda

Teman teman,
Kita ini punya Pancasila dan prinsipnya Gotong Royong 30 tahu lalu kita
lebih kaya dari Tiongkok. Saya biasa memonitor sendiri semua negara
berlembang dengan membawa staff keiling secara intensive waktu di Astrta
bail ke negara berkembang maupun maju. Jadi saya tahu setidaknya dengan
mata kepala sendiri kemajuan Jepang sejak Astra partneran dengan Jepang
tahun 1968 nan mulai dengan pendirian Toyota Astra dan saya masuk resmi
(ahun 1972 dan pensiun total tahun 2008. Tahun 1976man saya “diundang”
Hyundai mau melihat bagaimana mereka mulai dengan model Pony. Kita sebagai
Astra sudah “lebih maju” dengan produksi Kijang kita. Kita masih sempat
“dijamu” dan tukar pikiran dengan pendiri unit mobilnya dan masih
“bangga” pabrik kita nggak kaah. Eh sekarang ja messkipun Astra secara
kollektif menguasai pasar mobil domestik barangkali 60% semua kendaraan
bermotor dari sepedamotor sampai traktor, dan jadi perusahan publik
“terbesar dengan 160,000 karyawan dan untung 2 Milliard Dollar lebih serta
jadi kandidat perusahan publik dengan “sejuta pemilik” dan terpandang di
regional dan international ( tanpa memikirkan ada porsi kepemiiklan
asingnya yang lebih dari 50%) dimana saya juga ikut bangga kerja selama r6
tahun; tetap saja bukan apa2nya Hyundai Group, bahkab bukan apa2nya
Hyundai-Kia Motors Group. Jadi mari kita mawas diri membangun negara kita
dengan baik. Dulu membandingkan dengan Korea dan Gaiwan, terus dengan Cina
dan India sekarfang dipecundangi dan dianggap ” A nation of coolies ” oleh
saudara serumpun dan tetangga. Jembatan Madura dipereteli. Jadi besi tua
dan Jembatak Kutai Kartanegara yang sarat korupsi roboh. Kalau di Cina
yang juga sangaty korupt, setidaknya koruptor yang proyek jembatannya
roboh benar2 digantung di Tien An Men Square ditonton publik supaya ada
efek jera. Memang Teng Siauw Ping bilang : “Tak perdfuli. Warna kuit
kucing apa; yang penting bisa menangkap tikus”. Padahal pilihan warna
“Kucing” angauta “KPK” sarat kepentingan partgai dan pressure group.
Bukan bohong meskipun saya yang dulu milih SBY kadang2 “kecewa” dengan
safety play dia. Namun juga kita insyaf demokrasi berdasarkan kabinet
Presidensiil kita sekarang kan banyak “dibajak” oleh DPR dan gerombolan
demonstran atau presssure group liar. Mereka kat mengindahkan lagi jabatan
presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Kepala Negara itu
simbol tertinggi bangsa. Jadi kalau kita tak menghormati ja siapa lagi.
Sebagai kepala pemerintahan kuita bebas mengeritik dan berdemo. Tapi
pasang speaker raksasa didepan Istana Negara waktu presiden SBY sebagai
Kepala Nagara menerima kepala negara asing ( Austria ? ) Maki2 SBY katus
turun bukanlah pelaksanaan demokrasi yang baik. Sekali lagi
kuncinya……….. Pendidikan. Namun kata pribahasa “Ignorance is not
innocent”.
Demokrasi kita sudah sangat baik. Japui jangan kebablasan dan tugas kita
para intelektual (katanya) yang beruntung mendapatkan pendidiklan tinngi
ja mengawalnya sesuai denga cita2 luhur Sumpah Pemuda 1928 dan Prolamasi
Kemerdekaan ’45. Namun janga sepotong sepotong mengartikan UUD45. UUD 45
itu yang penting adalah jiwanya, bukan pasal2nya. Kalau UUD45 dilakukan
tanpa perubahan, ja akan ada dikgator baik Soekarno dan diktator penuh
kritikl Soeharto. Mereka tentu ada baik dan buruknya sesuai zamannya.
Tanpa pemikiran2 angkatan Soekarno,m tak ada NKRI. Tanpa “tangan besi
Soeharto” yang banyak melanggar HAM dan ada korupsinya ( meskipun
totalnya korupsi Orde Baru barangkali jkanya 10% dari koprupsi ABPN zaman
“reformasi” yang diduga 30%). Ja susah juga kita survive sebagai NKRI
karena ada 650 suku bangsa dan sebagian besar kecewa ( meskipun
dibandingkan dengan jumah penduduk kecil karena suku Jawa jan 60%nan (?)).
Ja imilah tantangan kita membangun NKRI yang lebih baik. Kita kritis tpi
harus balans daam memberi penilaian. Talk masalah kita berbeda pandapat
karena namanya kaum “intlektual” maka ” We agree to disagree”.
Selamat berjuang terus untuk bangsa. Kadang2 b agi sebagian kita: “The
Journey Is The Destination”. Ja sampai negara NKFI adil dan makmur masih 3
generasi lagi kali. Perlajanan jauh dimulai dengan langkah pertama yang
benar.
Baiknya Pak Kristanto di BIC undang kita2 buat kegiatan “Ngobroldi Wrung
Kopi” karena one way discussion via internet ada baik dan limitasinya.
Kita pakai keduanya.
Sent from my BlackBerryŽ
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

—–Original Message—–
From: Paulus Boen
Date: Thu, 5 Apr 2012 22:12:00
To: Ridwan Gunawan Ir.
Subject: the highest bridge in the world

[image: Inline image 1]

The Aizhai suspension bridge was built as part of an expressway from
southwest China’s Chongqing Municipality to Changsha city in Hunan.

[image: Inline image 2]

Work started on the engineering feat in October 2007 and it has now
finally
opened to traffic.

[image: Inline image 3]

The completion of the bridge shortens the journey time between the two
cities from several days to just eight hours

[image: Inline image 4]

Driving across the bridge, which links two tunnels together, drivers are
offered a breathtaking view of the Dehang Canyon

[image: Inline image 5]

Pedestrians can also walk across the bridge, which is lit up at night with
1,888 lights, using a special walkway

2 responses

  1. hmm.. bagus sekali prof,
    yang tentang alokasi BBM untuk pendidikan, kadang kita cuma memperhitungkan aspek kuantitatif yang jelas parameternya (misal alokasi dana subsidi BBM yang bisa untuk pendidikan). memang perlu sekali analisa ini. tapi kadang aspek yg bersifat kualitatif sangat berpengaruh prof.
    manusia, selalu dinamis, hal ini yang bikin manusia bisa menjadi sangat bermanfaat, atau kadang sebaliknya. sebagai pemeran utama, subjek ini memegang peranan terkecil. fasilitas baik tanpa SDM yang baik bagaikan memberi mobil mewah kepada anak kecil yang tersesat di padang pasir (pribahasa buatan saya haha). tapi intinya, menurut saya SDMnya dulu yang sekarang ada di tingkatkan kualitas keikhlasannya untuk mengabdi.😀

    anyway, izin share ya prof🙂

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s