Air jatuh tidak jauh dari pelimbahannya


Oleh: Lina Alwi

Air jatuh tidak jauh dari pelimbahannya. Ini adalah peribahasa yang saya pelajari saat masih di bangku sekolah dasar dulu. Begitu saja, dihapal, masih tanpa makna yang mendalam, Maklum, pengajaran bahasa Indonesia dari jaman dulu sampai sekarang, masih begitu-begitu saja. Tidak beranjak dari urusan tata bahasa, persamaan kata dan lawan kata. Kurang mengeksplorasi kemampuan penggunaan bahasa pada anak-anak.

Jaman saya sekolah dulu, pelajaran bahasa Indonesia sangat menarik hati. Siapa pengarang buku pelajarannya, saya lupa. Pasti beliau adalah seorang pendidik yang mumpuni. Yang sangat mengerti alam pikiran anak sehingga mampu membuat buku yang sangat bagus yang sampai saat ini, beberapa dari cerita dalam buku pelajaran itu masih saya ingat dengan baik.

Buku pelajarannya ada 2, buku bahasa Indonesia yang memuat pelajaran tata bahasa. Yang satunya lagi Bacaan Bahasaku. Isinya, ”full” cerita. Nama tokohnya sangat sederhana … Tuti, Amir, Muntu, Topo dan Sudin, tapi saya sangat suka dengan buku itu. Jadi sehabis pulang dari toko buku, langsung buku tersebut saya lalap habis, sehingga saat ulangan bahasa, saya tidak perlu belajar lagi. Itu soal buku pelajaran bahasa, lalu apa hubungannya dengan judul tulisan itu. Memang tidak ada, ini hanya karena peribahasa di atas mengingatkan saya pada pelajaran bahasa saat SD dulu yang saya jalani berpindah-pindah sekolah sampai empat kali. Kali ini saya cuma ingin cerita, ingin mencari pembenaran antara peribahasa di atas dengan penurunan sifat, kebiasaan sampai dengan profesi orang tua kepada anak.

Saya, orang Indonesia asli. Tidak memiliki dominasi kesukuan tertentu. Saya bilang ”asli”, karena saya lahir dari bapak yang orang betawi. Itupun tidak asli betul. Kakek saya, katanya punya mbah buyut keturunan Jerman yang menikah dengan Cina sengkek. Apa artinya? Saya juga nggak tahu … tapi ibu saya bilang … itu tuh, perempuan Cina yang tapak kakinya masih kecil karena masih pakai sepatu besi. Dari pihak nenek, katanya keturunan menak (bangsawan) Sunda dari Cianjur. Kulitnya putih bersih …. Jadi nggak salah kalau saya sering dikira keturunan Cina.

Nah, ibu saya berasal dari sumatera barat. Ibunya berasal dari Batusangkar dan kakek saya, mengaku dari Padang-panjang. Tapi ibu saya bilang masih ada darah ”keling”. Keling itu artinya apa, saya nggak perduli. Yang saya tahu, adik ibu saya yang lelaki kulitnya hitam seperti pantat kuali. Begitu ibu saya bilang. Nah ibu saya ini, walaupun katanya sudah tidak mau mengikuti adat minang, tapi kadang-kadang masih suka keluar juga ”tanduk”nya, terutama kalau sudah yang berkaitan dengan ”harga diri”. Biasalah …. perempuan minang yang matrilial itu memang penuh perhitungan dan karenanya sangat dominan dalam keluarga. Apalagi kalau suaminya berasal dari daerah yang punya sifat lembut.

Nah, suami saya, mengaku orang Jawa. Bapaknya dari Jawa Timur, orang Jawa yang paling ”kasar”. Ibunya … nggak tahu asal muasalnya, pokoknya orang Jawa yang besar di daerah Pasundan, tapi dengar-dengar beliau masih punya darah madura. Wuih, … mudah-mudahan bukan dari Bangkalan atau Sampang yang katanya sangar. Itu sebabnya dengan kakak-kakaknya beliau bicara dalam bahasa Sunda (yang menurut saya agak kasar), campur belanda seperti noni-noni. Maklum anak wedana jaman kumpeni. Tapi saya nggak pernah dengar suami bicara dalam bahasa Jawa di keluarganya. Katanya karena dia lahir dan besar di Jakarta, jadi supaya kelihatan lebih egaliter, pakai bahasa Indonesia saja. Maklum, bahasa Jawa itu salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sangat feodal. Ngomong saja di atur-atur, ada tingkatan-tingkatannya. Duh …. hidup yang sudah susah ini kok dibikin repot sih? Dengan latar belakang keturunan seperti itu, kalau ada kolom isian mengenai suku bangsa di formulir isian sekolah anak-anak, saya bingung mesti isi apa.

Pernikahan menyatukan dua orang yang memiliki latar-belakang dan keturunan yang berbeda ini, walaupun masih sama-sama anak teknik. Nah, akibatnya dalam mendidik anak seringkali terjadi benturan. Bukan terjadi pertengkaran, tetapi ada perbedaan prinsip dan pendekatan. Suami yang bapaknya psikolog, seolah-olah merasa sangat tahu cara mendidik anak dengan cara pendekatan psikologis. Ditambah, profesinya dosen lagi, yang alhamdulillah pernah diberi kesempatan oleh Allah menjelajahi universitas-universitas terkenal di seluruh belahan dunia kecuali benua Afrika dan Amerika latin. Jadi, komplit sudah! Jangan berbantahan soal pendidikan anak dengannya! Semua teori tentang pendidikan anak, dari A sampai Z. Dari metode pendidikan barat sampai pendidikan timur, yang terkadang masih juga dilengkapi dengan kutipan hadis dan ayat-ayat al Qur’an, bisa serta merta keluar dari mulutnya. Meja makan akan berubah jadi tempat ceramah pendidikan yang gratis selama berjam-jam. Tinggal anak lelaki saya bengong, namun masih menyimak dengan penuh minat.

Saya, yang didominasi darah matrilinial minang, lebih praktis, realitis tapi penuh perhitungan untung-rugi dan terkadang tidak mau mengalah. Harus bisa dan harus berhasil. Apalagi bapak saya, dulunya bankir. Bankir kelas ”cere” yang relatif sederhana di antara koleganya, pada ukuran jamannya dulu.

Apa keuntungan dari kondisi ini? Si anak, alhamculillah, kelihatan tidak bingung. Menurut saya, malah jadi agak ”opportunis”. Mau yang enak-enak saja. Karena metode pendidikan bapaknya yang ”sok ilmiah”, mengikuti teori psikologi anak maka dengan senang hati si anak mengadopsinya. Displin ibu dianggap sebagai kebawelan yang perlu dibuang jauh-jauh. Tutup kuping rapat-rapat, omongan ibu dianggap angin lalu, Maka, jadi si anak tumbuh ”seenaknya”. Mereka cenderung mengikuti sistem pendidikan bapaknya yang serba longgar dan permissif. Kalau hari minggu dan hari libur, boleh mandi siang karena tidak ada yang dikejar. Menjelang ujian, tidak perlu belajar. Kan, sekolahnya sudah dari jam 7 sampai jam 2 siang, jadi di rumah untuk istirahat dan senang-senang. Nonton tv, baca buku cerita atau dengar musik. Kalau ulangan dapat angka jelek (jelek versi ibu-ibu adalah di bawah angka delapan), dan saya mengomel karena keengganannya belajar menjelang ulangan, bapak dengan enteng bilang ; dapat enam juga sudah bagus, tidak perlu harus dapat angka sepuluh! Maka, jadilah saya mendapat komplain dari guru atau wali kelas bahwa prestasi anak saya kurang optimal. Bahkan anak gadis kecil saya bilang terus terang kepada guru kelasnya : ”Ibu guru, saya bosan dan malas jadi juara kelas. Ingin biasa-biasa saja”. Duh ’tu anak ….!! Gak tahu ya, kalau sekarang jamannya globalisasi. Jamannya bersaing ketat. Kalau nggak pintar … kamu ketinggalan lho!!!

Adakah keuntungan dari perdebatan dan keterbukaan keluarga seperti itu? Anak lelaki saya selalu mengeluh tentang sistem pendidikan di Indonesia dan jadi pemberontak di sekolahnya. Bacaan kesukaannya yang tadinya kelas komik jepang beralih jadi buku filsafat yang rada berat. Bahkan karya tulisnya di SMA mengambil judul ”Mencari Tuhan” yang agak filosofis sehingga dia kesulitan mencari guru pembimbing. Ini pasti gara-gara pada saat yang bersamaan, bapaknya kuliah lagi di jurusan filsafat, pasca sarjana UI, walau Cuma sempat mampir satu semester saja (kalah sama si Oneng… he..he…). Segala buku yang berkaitan dengan ilmu filsafat bertebaran diseluruh pojok rumah. Tidak ada sensor … semua boleh dibaca dan didiskusikan. Walaupun kalau urusan yang ilmiah-ilmiah begitu, pasti didominasi bapak.

Dalam menentukan sekolah, saya cenderung berpikiran praktis. Cari jurusan atau fakultas yang punya masa depan cerah. Segala alasan diberikan. Yang paling mendasar, tentunya, sebagai lelaki kelak anak saya harus mempunyai penghasilan yang baik (besar, maksudnya, malu-malu nyebutnya …) agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang layak sesuai dengan standar hidup kelas menengah … atas. Sebagai alumni fakultas teknik, maka dengan pakai kacamata kuda, pilihan sekolah buat anak, pasti juga yang dekat-dekat situ. Jadilah dia masuk jurusan elektro, sayangnya itu cuma berlangsung dua tahun. Pada tahun ke tiga, setelah lepas dari pengawasan ketat ibunya, dan merasa bebas menentukan masa depannya sendiri, dia pindah ke jurusan matematika. Untung tidak mengulang dari awal. Cuma kehilangan satu semester.

Sekarang dia sudah selesai dan sedang menimbang-nimbang mengambil magister pada bidang Pure Mathematics karena dia bercita-cita jadi dosen. Alamak ……. jauh-jauh sekolah, dipilihkan jurusan yang ”gemerlap” eh … profesi dosen juga yang diincar. Jangan-jangan itu ”kutukan” leluhurnya di Mojokerto sana … he..he. Bagaimana mungkin … ?? Kakeknya (mertua saya) dosen, bapaknya dosen …. ini, satu lagi, ada keturunan ”homo erectus mojokertensis” yang sedang merintis jalan menjadi dosen!!! Apalagi istrinya sudah jelas-jelas bercita-cita jadi guru (dia ambil double degree biochemistry dan education), mertua perempuan anak saya juga berprofesi sebagai guru – early childhood teacher. Lengkap sudah ….

Tapi, memangnya apa yang salah dengan profesi guru/dosen? Bukankah dalam Islam dikatakan bahwa guru/dosen mendapat pahala dari ilmu yang disebarkan dan bermanfaat bagi orang banyak? Jadi secara agama, profesi guru/dosen itu begitu mulia! Tapi, kita kan harus realistis … Kebutuhan hidup atau moralitas?

Saya teringat, salah satu teman saya pernah mengeluhkan ”kelakuan” mantan bosnya yang sering memeras orang dan tidak bermoral. Padahal bosnya itu anak jendral dan pejabat daerah yang kaya raya dan disegani orang. Teman saya yang lugu itu lupa, mungkin bosnya, sejak kecil, melihat nikmat dan mudahnya mendapat uang upeti dari contoh yang diperlihatkan orang tuanya. Dan toh, orang tuanya yang pejabat itu tetap dihormati (baca ”ditakuti”) orang. Jadi setelah besar dan dewasa, dia menganggap wajar saja bahwa sebagai anak jendral, dia harus juga dihormati dan kemudian menggantikan bapaknya menerima upeti untuk menghidupi keluarganya. Itu contoh cara survive yang dilihatnya sejak kecil. Toh soal kutip mengutip di negara ini, kan sampai sekarang merupakan hal yang biasa. Malah sekarang sudah dilakukan secara berjamaah … tidak malu-malu lagi. Kan sudah jadi juara dunia…

Kita saja yang lupa bahwa harta yang tidak halal akan membawa bala bagi pemakannya, sebagaimana hadis yang meriwayatkan bahwa shalat dan ibadah orang yang memakan harta tidak halal, tidak akan diterima selama 40 hari. Nah, kalau profesi kita menyebabkan kita memakan uang haram, kapan dong ibadah kita diterima? Padahal kita sudah bayar zakat lho….. sudah menyumbang mesjid di pojok sana …. sudah menyantuni anak yatim. Eh tapi tetangga, kerabat dan istri sekalipun mungkin nggak tahu lho asal muasal harta yang dikumpulkan ini!!!

Duh …., kalau begini, biarlah anak saya jadi dosen daripada nantinya dia nyerempet-nyerempet narik upeti atau kongkalikong. Mudah-mudahan dia termasuk golongan orang yang amal dan ibadahnya diterima Allah SWT, dan kami orang tuanya mendapat berkah dari kesalehannya. Kami hanya bisa berdo’a karena kami hanya bisa berusaha agar harta yang digunakan untuk menghidupi keluarga berasal dari cara-cara yang halal.

Salam
Lebak bulus 12 juni 05


Posting oleh Lina Alwi ke Catatan kecil dari sekitarku pada 12/31/2011 05:39:00 PM

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s