Rektor UI dan Presiden RI


Oleh EFFENDI GAZALI

Isinya menyebut tidak kurang 33 nama dari tujuh fakultas sebagai produser, sutradara, aktor utama, dan aktor tambahan skenario penggulingan.Hampir semua elemen sivitas akademika ada di situ: anggota Majelis Wali Amanah(MWA), gurubesar,dekan, senat akademik,dan ikatan alumni (iluni).

Jika dokumen itu benar, mengapa ada begitu banyak orang mau berbuat seperti itu? Apakah nama-nama sekaliber Emil Salim, Martani Huseini, Pratiwi Sudarmono, Harkristuti Harkrisnowo, Rhenald Kasali, Hikmahanto Juwana, Firmanzah, T Basarudin, Ratna Sitompul, Donny Gahral Adian, dan Ade Armando ”mempersoalkan” rektor tanpa alasan logis? Hanya semata iri, iseng, atau bahkan semua ingin menggulingkan dan berhasrat menjadi rektor seperti isi dokumen tersebut? Dengan gaya sensasi ”bom buku”, tiba-tiba sebuah dokumen diantar ke Kelompok Kerja Wartawan Depok.

Judulnya ”Dokumen Rahasia, Rekaman Percakapan dari Skenario Besar Penggulingan Rektor Universitas Indonesia”. Masuk ke masalah isi, ternyata utamanya adalah ”sadapan” pesan singkat (SMS) dari telepon beberapa nama di atas. Selain melanggar hukum,  sebagian isinya dipelintir dan diletakkan dalam konteks yang keliru. Selain sadap-menyadap bergaya intelijen ini, sesungguhnya masih ada aneka telepon dan SMS intimidatif  pada beberapa nama. Forum resmi Dokumen itupun tidak memuat apa yang terjadi dalam forum resmi. Sebagai contoh,dialog langsung Iluni  FISIP UI dengan Rektor UI atau forum terbuka antar-elemen sivitas akademika tanggal 5 September. Konteks pertanyaan kritisdan orasi dihilangkan sama sekali. Yang ada hanya kebenaran tunggal si penulis dokumen rahasia. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa intelijen dan gaya intimidasi masuk keurusan kepemimpinan sebuah universitas.

Jawabannya barangkali soal doktor honoris causa dari Rektor UI untuk Raja ArabSaudi. Jelas, sebagian besar warga U Iterluka dengan pemberian yang umumnya mereka ketahui dari media itu. Kalau tidak ada ”bocoran” berita dari arabnews.com, bisa jadi tak ada media di Indonesia dan warga UI yang tahu. Lepas dari perasaan tersebut, hampir semua nama yang dituduh justru sadar bahwa gelar itu relatif sulit dicabut. Ini terutama karena kesalahan utama nya bukan pada penerima, melainkan pada pemberi dan proses tata kelola yang bermasalah. Dokumen juga tidak menyebut peran mediator Dipo Alam. Padahal, justru nama Sekretaris Kabinet ini yang menimbulkan tandatanya soal kemungkinan intervensi pemerintah! Seharusnya sikap pemerintah jelas dalam kasus doktor honoris causa ini. Ketika Ruyati, tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi, dieksekusi, Presiden SBY membuat konferensi per s(23/6) dan menyatakan telah menulis surat keprihatinan kepada Raja Arab Saudi.Isinya ”protes keras Kepala Negara RIatas eksekusi almarhumah Saudari Ruyati yang menabrak kelaziman norma dan tata krama internasional dengan tidak memberitahu pihak Indonesia”.

Lalu bagaimana mungkin, jika Presiden marah, Rektor UI dan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah malah memberi Raja Arab Saudi gelar ke h o r m a t a n ? Apakah Presiden SBY cuma pura-pura marah demi pencitraan? Lalu melalui nama-nama pejabat negara di atas dia meminta Rektor UI memberikan penghargaan untuk ”berdamai”? Semogatidak. Karena jika benar, sandiwara pencitraan itu akan makin membuat banyak pihak terluka. Tuntaskan segera Bagaimana ke depan? Kisruh tata kelolaUI harus tuntas segera.

Selama ini, banyak pihak sadar bahwa membawa masalah ini ke media seperti membuka aib sendiri. Namun, filsafat dan etika komunikasi mengajarkan: lebih baik bicara untuk memperbaiki keadaan. Bandingkan dengan lembaga penegakan hukum kita yang tokoh-tokohnya justru saling menutupi aib. Jelaslahposisi kisruh ini relatif tidak ditujukan untuk mencabut gelar. Sebagian besar pihak justru menyambut opsi Mendiknas (Ko m p a s ,7/9) berupa memperpanjang masa jabatan MWA sampai transisi selesai dan mempercepat pemilihan rektor. Petahana tentu boleh maju sesuai aturan dan asas keadilan. Selesai masalah ini, energi dan waktu kita harus digunakan kembaliuntuk mengupas secara jernih ketidak jelasan nasib TKI, kasus Nazaruddin, Bank Century, IT KPU, rekening gendut, wisma atlet, korupsi Kemnakertrans, dan seterusnya.

EFFENDI GAZALI

Dosen UI, Namanya Juga Disebut dalam Dokumen Rahasia (Kompas 10 Sept 2011).

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s