Kecelakaan Saipul Jamil, salah siapa?


Mohammad Adhitya

Staf pengajar Departemen Teknik Mesin UI

Kecelakaan Saipul Jamil, salah siapa?

OPINI | 08 September 2011 | 00:36286 2  1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Belakangan ini kita dikejutkan oleh kecelakaan tunggal yang merenggut jiwa di jalan Tol Cipularang. Duka cita mendalam penulis sampaikan kepada keluarga Saipul Jamil, semoga almarhumah ditempatkan disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, amien. Selain itu penulis juga membaca beberapa komentar dari para pembaca di Kompas.com dan dari pihak pihak lain, yang isinya selain ungkapan duka mendalam kepada keluarga korban, juga banyak hal lain yang terkait dengan terjadinya kecelakaan tersebut. Mulai dari cerita pengalaman pembaca yang dapat kita terima dengan akal, hingga yang berbau mistik. Penulis dalam kesempatan ini mencoba untuk mencermati kejadian tersebut dari sudut pandang teknis dengan harapan agar kejadian serupa dapat dicegah oleh para pembaca sekalian. Tips awal, bacalah selalu secara seksama buku petunjuk penggunaan kendaraan Anda, disana juga telah dijelaskan baragam hal untuk keselamatan berkendara dan keawaetan kendaraan Anda.

Dalam setiap kondisi berkendara selalu telibat tiga hal pokok, yaitu manusia (baca: pengemudi), kendaraan dan lingkungan. Tidak terkecuali dalam kecelakaan seperti yang terjadi pada keluarga Saipul Jamil. Tiga hal pokok ini saling erat mempengaruhi satu sama lain, sehingga untuk menjelaskan suatu kejadian kecelakaan dengan utuh maka kita haruslah mencermatinya dari ketiga hal pokok tersebut. Faktor manusia tentu menjadi hal yang paling penting dan dominan dalam setiap kondisi berkendara, sebab pengemudilah yang selalu dapat secara aktif berkompromi terhadap dua hal pokok yang lain yaitu kendaraan dan lingkungan, namun penulis akan membahasnya belakangan.

Apakah kendaraan Anda fit? Kendaraan didesain dengan suatu kapasitas kerja tertentu. Dalam hal ini adalah jumlah penumpang, bobot muatan yang dapat dibawa dan jenis jalan yang dapat dilaluinya, misalkan jalan raya (on road) seperti kebanyakan kendaraan pada umumnya atau jalan tanah (off road) seperti yang dapat dilalui oleh kendaraan seperti Jip. Dalam tulisan ini, penulis membatasi pada kendaraan penumpang jalan raya pada umumnya. Desain kendaraan ini secara keseluruhan disesuaikan dengan daya kerja mesin sebagai penggerak kendaraan, rem sebagai penghambat gerak kendaraan dan sistem roda sebagai penopang kendaraan secara keseluruhan. Agar fungsi kendaraan dapat dipenuhi secara optimal, maka ketiga hal ini haruslah diperhatikan dan dirawat secara seksama.

Untuk keselamatan berkendara, kita harus memperhatikan sistem roda yang dalam hal ini terdiri atas suspensi, peredam kejut, velg serta ban. Sebaiknya kita tidak merubah sistem sistem tersebut seperti dengan menceperkan ataupun meninggikan kendaraan dikarenakan pabrikan telah memperhitungkan hal hal tersebut secara seksama untuk keselamatan berkendara yang optimal.

Dengan menceperkan atau meninggikan kendaraan, maka kita akan mengubah geometri suspensi yang kemudian akan mengubah pula posisi sumbu guling kendaraan yang akan berakibat pada berubahnya stabilitas asli kendaraan. Jika perubahan ini dilakukan dengan benar, maka stabilitas kendaraan dapat meningkat, namun jika salah maka kendaraan malah akan menjadi labil dan mudah terguling.

Kita juga harus memperhatikan kinerja peredam kejut (baca: shock absorber) yang berguna untuk menjaga agar ban menekan permukaan jalan secara memadai saat kendaraan bergerak (baca: gigitan ban kepada permukaan jalan). Jika shock absorber telah rusak, maka ban akan terpental pental dari permukaan jalan yang menyebabkan berkurangnya gigitan ban terhadap jalan, sedangkan kita bersama maklum bahwa kendaraan dapat bergerak maju atau berbelok sangat tergantung pada gigitan ban ke permukaan jalan. Artinya apabila shock absorber rusak, maka kendaraan akan sulit dikendalikan dan juga akan berdampak pada borosnya penggunaan bahan bakar, selain penumpang juga akan mudah mual karena terasa diayun ayun dalam kendaraan.

Hal yang juga penting adalah ban. Pabrik telah menghitung dengan seksama ukuran ban (baca: lebar telapak dan diameter ban) untuk keselamatan berkendara selain juga terkait dengan tenaga mesin. Dengan mengubah diameter ban, maka kita akan mengubah karakter tenaga kendaraan kita yang pada giliran lain juga berdampak pada perubahan konsumsi bahan bakar. Jika kita mengganti ban dengan tapak ban yang lebih lebar, maka secara umum hal ini akan meningkatkan kestabilan kendaraan, namun akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi boros. Selain kembangan ban, kita juga harus selalu teliti terhadap tekanan angin ban. Harus Anda pahami bahwa ban tidak seperti balon yang ukurannya dapat terus mengembang jika kita tiup terus menerus. Ban sejatinya memiliki ukuran yang tetap berapa banyakpun anda memompakan udara kedalamnya. Semakin banyak udara yang dipompa kedalam ban (baca: tekanan angin tinggi), maka akan semakin stabil bentuk ban, hal ini dikarenakan ban terbuat atas beberapa lapisan karet dan lapisan anyaman yang terbuat dari nyilon atau baja, nah anyaman anyaman inilah yang akan mempertahankan bentuk dan ukuran ban. Tekanan angin harus selalu dipantau dan disesuaikan dengan beban kendaraan. Selain tertera di buku petunjuk penggunaan kendaraan, biasanya di pintu supir atau di kerangka kendaraan disekitar pintu supir, pabrik telah menempelkan stiker yang mensyaratkan suatu tekanan ban tertentu terkait dengan jumlah penumpang. Semakin banyak jumlah penumpang, maka tekanan angin juga harus ditambah. Kondisi tekanan angin yang berlebih adalah selalu lebih baik dibandingkan tekanan angin yang kurang, namun tentu saja yang terbaik adalah sesuai dengan ketentuan yang telah disyaratkan. Tekanan angin ban yang kurang akan menyebabkan dinding ban menekuk secara berlebihan, selain juga akan timbul tekukan atau cekungan pada bidang permukaan ban yang bensentuhan dengan jalan yang kesemuanya akan menimbulkan panas berlebih pada ban. Hal ini selain berakibat pada pemborosan bahan bakar, juga sangat berbahaya karena kendaraan akan menjadi labil dan sulit dikendalikan akibat lenturan berlebih yang terjadi pada dinding ban, dalam hal lain, itulah mengapa ban yang memiliki dinding lebih kecil (baca: ban dengan profil tipis) akan menyebabkan kendaraan lebih stabil dikarenakan bentuknya yang juga lebih stabil dibandingkan ban berprofil tebal. Kurangnya tekanan angin inilah yang seterusnya akan merusak dinding ban (baca: retak retak karet ban bahkan putusnya anyaman kawat didalam ban) dan juga pada akhirnya memungkinkan terjadinya pecah ban. Untuk kembangan ban, tentu kita bersama sudah maklum, bahwa ban yang kembangannya sudah tipis apalagi botak akan sangat licin jika berada diatas permukaan jalan yang basah, hal ini amat sangat berbahaya bagi diri anda maupun pengguna jalan yang lain, jadi jangan pernah kompromi dengan kondisi ban kendaraan anda. Selain itu secara berkala sebaiknya perbaiki keseimbangan tiap ban anda (baca: di balance) agar kendaraan lebih stabil dan ban Andapun lebih awet. Pada proses balancing ini Anda juga secara langsung dapat memperhatikan kondisi velg kendaraan Anda terhadap kemungkinan kemungkinan kerusakan, seperti penyok, bengkok ataupun retak. Segera perbaiki atau ganti velg yang telah rusak karena dapat membahayakan Anda.

Apakah kondisi jalan dan lingkungan bersahabat? Perlu kita maklumi bersama bahwa kondisi jalan Tol Cipularang bergelombang dibeberapa ruas dan terdiri dari banyak tanjakan dan turunan yang cukup terjal. Apalagi terdapat beberapa ruas jalan yang belum diaspal. Permukaan jalan dari beton tidak sebaik aspal dalam hal gigit menggigit dengan ban dan cenderung lebih licin. Artinya anda harus lebih waspada di jalan beton.

Kondisi jalan yang bergelombang akan sangat berbahaya jika dilalui dengan kecepatan tinggi. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, maka akan semakin besar kemungkinan ban kehilangan gigitan ke permukaan jalan yang menyebabkan kendaraan akan sukar dikendalikan. Hal ini akan semakin berbahaya jika kendaraan harus merubah arah saat berpindah lajur misalnya ataupun jika jalannya memang berbelok. Maka jika anda menemui kondisi jalan seperti ini, segera kurangi kecepatan kendaraan anda. Di ruas jalan Tol Cipularang arah ke Jakarta yang dahulu anjlok, juga kita rasakan adanya perubahan sudut turunan jalan yang mendadak (baca: tidak mulus) sehingga kondisi ini juga memungkinkan terjadinya pantulan kendaraan yang berebihan dan kehilangan gigitan ban ke permukaan jalan. Jadi kurangi kecepatan kendaraan anda di ruas jalan tersebut. Jika kendaraan anda bertenaga cukup besar, maka biasanya juga dilengkapi dengan sistem rem yang memadai (baca: pakem) dan tanjakan serta turunan tidak menjadi soal berarti. Namun kondisinya akan jauh berbeda untuk kendaraan dengan tenaga relatif kecil (yang biasanya juga dengan rem berkapasitas kerja kecil) dan dimuati dengan penumpang penuh yang menyebabkan kendaraan menjadi berat. Kendaraan ini akan kesulitan menanjak (baca: bergerak pelan) dikarenakan tenaganya yang relatif kecil harus mengatasi beban kendaraan yang berat dan saat jalan menurun kendaraan akan meluncur cepat  karena berat penumpang yang banyak dan rem harus bekerja ekstra jika diperlukan untuk menahan laju kendaraan. Pengemudi harus ekstra waspada dalam hal terakhir ini, terlebih di jalan yang menurun dan berbelok.

Bagaimana dengan kondisi angin disekitar lokasi kecelakaan? Angin mungkin bagi beberapa pengendara nampak seperti hal yang sepele. Namun tahukan Anda, bahwa gaya hambat yang harus dilawan oleh mesin kendaraan anda utamanya adalah angin ini. Angin yang dimaksud disini bisa berupa angin yang datangnya dari depan, samping atau belakang kendaraan. Jika kendaraan Anda melawan angin (baca: angin bertiup dari arah depan menuju kendaraan Anda) maka Anda akan menekan pedal gas lebih dalam agar mesin lebih bertenaga, namun sebaliknya jika kendraan Anda didorong angin (baca: angin bertiup dari arah belakang mendorong kendaraan Anda) maka Anda cukup menekan pedal gas sedikit saja dan kendaraan terasa lebih laju. Pada prinsipnya, baik angin dari depan, maupun belakang, tidak banyak mempengaruhi kestabilan kendaraan selain menghambat atau menambah kelajuan kendaraan dan tentunya terkait dengan konsumsi BBM, namun yang harus diwaspadai justru angin yang datang dari arah samping. Dengan situasi dan kondisi jalan Tol Cipularang yang berbukit bukit dan berada didataran yang cukup tinggi, maka akan sangat mungkin timbul angin yang cukup besar. Pasti Anda maklum, perbedaan ketinggian akan menyebabkan perbedaan tekanan udara dan pada akhirnya perbedaan tekanan udara inilah yang menyebakan bertiupnya angin. Belum lagi jika ditambah peranan angin laut dan angin darat akibat bentuk pulau Jawa yang jarak utara-selatannya relatif pendek sehingga Tol Cipularang sangat mungkin juga dipengaruhi oleh kombinasi angin angin ini. Untuk kendaraan yang mempunyai luas penampang samping yang relatif kecil (baca: sedan) maka angin dari arah samping ini tidak terlalu terasa dampaknya, namun hal ini akan sangat berbeda untuk kendaraan yang memiliki luas penampang samping yang cukup besar (baca: kendaraan van) maka kendaraan ini akan sangat sensitif terhadap angin yang datangnya dari arah samping. Penulis akan berikan sedikit ilustrasi. Jika kendaraan anda berjenis van dan tiba-tiba ditiup oleh angin samping dari sebelah kiri yang besar, maka kendaraan anda akan terdorong ke arah kanan. Tentu saat terdorong ke arah kanan, anda akan berusaha mengoreksi arah kendaraan dengan membelokkan kendaraan kearah kiri. Saat anda mengoreksi arah kendaraan ke arah kiri, akan timbul gaya dorong sentrifugal kearah kanan pula (baca: saat Anda belok kiri, maka akibat belokan ini akan timbul gaya sentrifugal ke arah kanan atau melawan arah belok, itulah mengapa saat kita belok kiri badan kita seperti terdorong ke arah kanan atau sebaliknya) nah saat itu kendaraan kita akan jadi mudah terguling ke arah kanan, akibat dorongan angin dari sebelah kiri yang mendorong kendaraan kita ke kanan plus gaya sentrifugal yang arahnya ke kanan pula. Apalagi jika saat itu kita membawa barang bawaan yang diikatkan diatas atap kendaraan yang menyebabkan pusat titik berat kendaraan akan naik, wah dampaknya kendaraan akan menjadi labil berlipat lipat deh. Jadi sadari jenis kendaraan Anda sambil seksama perhatikan arah dan besar angin. Biasanya saya melihatnya dari kecondongan pohon pohon yang tertiup oleh angin, namun tentu hal ini hampir mustahil dilakukan pada malam hari, so waspada ya.

Bagaimana dengan keadaan pengemudi? Wah yang ini seperti saya ungkap diawal tulisan memegang peranan sangat vital. Singkatnya adalah sebagai berikut. Jangan pernah mengemudi jika Anda mengantuk, dalam kondisi ini kewaspadaan dan kemampuan refleks kita akan jauh menurun dan sampai pada titik tertentu Anda secara tidak sadar akan sudah tertidur, sekali lagi sayangi nyawa Anda anda keluarga. Jangan pernah membawa muatan melebihi kapasitas kendaraan Anda, baik dalam jumlah maupun beratnya. Selalu ikat atau tempatkan barang bawaan Anda didalam kendaraan hingga tidak mudah bergeser. Sebab barang bawaan yang terlempar saat anda mengerem mendadak akan sangat berbahaya. Usahakan juga untuk selalu meletakkan barang bawaan yang berat serendah mungkin (baca: dilantai kendaraan jika memungkinkan) untuk menambah kestabilan kendaraan. Oh iya penumpang juga harus selalu diikat dengan sabuk pengaman dan dilarang bergerak gerak berlebihan (baca: berjoget di dalam kendaraan misalnya) sebab dapat mempengaruhi kestabilan kendaraan. Duduklah secara rileks atur jangkauan pijakan kaki ke pedal dan tangan kepada roda kemudi. (baca: rileks bukan dengan sandaran kursi yang terlalu rebah ataupun tegak, sebab keduanya akan menurunkan kemampuan koordinasi gerak tangan dan kaki jika suatu keadaan refleks diperlukan) Biasakan untuk menggenggam dengan halus roda kemudi (baca: seperti anda menggenggam beras di tangan anda agar tidak tumpah) di posisi jam 3 dan 9, dan pada posisi ini siku tangan harus agak menekuk. (baca: jika siku anda lurus, maka sandaran kursi anda terlalu rebah, namun jika siku anda terlalu menekuk maka sandaran kursi anda terlalu tegak) Atur kaca spion samping dan tengah dan posisi duduk terbaik adalah jika anda cukup melirik untuk melihat ke spion spion tersebut tanpa perlu menolehkan kepala. Jangan berbelok secara tiba-tiba dan mengerem secara tiba-tiba sebab keduanya akan berpengaruh buruk kepada stabilitas kendaraan anda. Dan yang terakhir tentu saja jangan lupa berdoa agar perjalanan anda selalu dipermudah dan berkah. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam

Mohammad Adhitya

Penulis adalah staf pengajar di Departemen Teknik Mesin UI, pemegang Private Pilot Licence dan saat ini sedang studi S3 di Institut Otomotif, Universitas Teknik Braunschweig Jerman.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s