PLN Bersih Dahlan Iskan


-0-

Berikut ini adalah ceritanya Dahlan Iskan Dirut PLN dimana namanya disebut-sebut oleh Nazaruddin. Apa sebenarnya permasalahannya ? Mari kita simak penjelasan beliau yang juga menunjukkan bahwa PLN sekarang sudah beda dengan PLN yang dulu. Boleh dibilang PLN sekarang sudah bersih dan ini semua berkat jasa seorang Dahlan Iskan yang betul-betul bisa menerapkan good leadership di BUMN ini. Salut untuk Dahlan Iskan.
-0-
To: mediacare@yahoogroups.com
Reply-To: mediacare@yahoogroups.com
Subject: Bls: [mediacare] Jawa Pos Terbaik Dunia

Memang benar, nama Dahlan Iskan di sebut-sebut oleh Nazarudin. Dan inilah jawaban Direktur PLN itu :
Senggolan Nazarudin
Dua kali nama PLN disenggol sedikit dalam kaitan dengan
Nazaruddin yang kini lagi buron itu. Yang pertama PLN dikaitkan dengan
tender batubara yang sampai membuat Nazaruddin bertengkar dengan partner bisnisnya. Yang kedua sekarang ini dalam kaitan dengan tender proyek
PLTU Kaltim/Riau. Saya senang dua hal itu disebut-sebut. Pertama saya
bisa numpang ngetop sebentar.Kedua,saya memiliki momentum untuk
mengkampanyekan “PLN baruâ€.
Soal batubara itu misalnya. Konon Nazaruddin memberi uang kepada
Daniel Sinambela untuk modal ikut tender batubara di PLN. Daniel menang
tender tapi tidak mengembalikan uangnya Nazaruddin. Daniel kemudian
dihajar Nazaruddin. Daniel masuk tahanan. Yang terjadi adalah Daniel
sebenarnya benar-benar menang tender. Bukan karena ada Nazaruddin
didalamnya. Tender itu dilakukan dengan system auction, sehingga tidak
ada peluang untuk diatur samasekali. Semua orang tahu system auction itu begitu transparansinya sehingga sangat kecil peluang untuk terjadi
permainan. Daniel menang tender karena penawaran harganya memang
sangat-sangat rendah.
Saking rendahnya, Daniel barangkali kesulitan mencari batubara yang
baik dengan harga yang masih bisa memberikan keuntungan baginya. Maka
batubara yang dikirim ke PLN pun batubara yang murah. Tentu tidak bisa
memenuhi kualitas yang ditentukan PLN. Yang hebat, petugas PLN di
lapangan berani menolak batubara ribuan ton tersebut. Akibat batubara
Daniel ditolak oleh PLN, Daniel tidak mendapatkan uang dari PLN. Karena
itu Daniel juga tidak bisa mengembalikan uangnya Nazaruddin. Nazaruddin
pun kehilangan uang puluhan miliar rupiah gara-gara ketegasan PLN.
Seandainya petugas PLN takut kepada Nazaruddin dan menerima begitu
saja batubara yang jelek itu tentu Nazaruddin bisa menyelamatkan uang
nya yang puuhan miliar itu. Namun karena batubaranya ditolak maka lenyap kan uangnya yang sangat besar itu. Dalam hal ini saya bangga dengan
petugas PLN di barisan paling depan tersebut. Seandainya pegawai PLN
tersebut bisa disogok tentu semuanya beres. Toh batubara jelek itu
sebentar lagi sudah tercampur dengan batubara ribuan ton lainnya. Tidak
akan gampang ketahuan.
Tentu saja saya bangga dengan pegawai PLN di bagian penerimaan
batubara itu. Saking bangganya sampai-sampai di DPR saya berseloroh :
kalau saja petugas itu seorang wanita akan langsung saya ciumi dia!
Bagaimana dengan tender PLTU Kaltim/Riau yang disebut-sebut Nazaruddin sekarang ini?
Saya pun penasaran. Sungguh saya pun ingin tahu apa yang sebenarny aterjadi ?
Tender tersebut dimenangkan oleh konsorsium PT Adhikarya (Kaltim)dan
konsorsium Rekayasa Industri (Riau). Sudah saya cek berulang-ulang bahwa proses tender sangat bersih dan profesional. Sampai-sampai teman
terbaik saya yang telah berjasa menyelamatkan hidup saya kalah di tender ini.
Pertanyaannya : siapakah yang memberi uang kepada Nazaruddin terkait dengan proyek ini?
Apakah orang PLN ? Atau pemenang tender ?Sebaiknya ini diusut. Saya
sangat berkepentingan dengan hasil pengusutan ini. Kalau orang PLN yang
memberikan uang, darimana asal-usul uang itu dan dengan tujuan apa?
Namun kalau, misalnya, pemenang tender yang memberi uang ke Nazaruddin, untuk apa dia memberi uang?
Bukankah dia menang tender bukan karena bantuan Nazaruddin ?
Apakah justru dia mengira menang tender itu berkat dukungan Nazaruddin ?
Tentu saya tidak tahu. Saya justru bertanya-tanya dalam hati. Kalau
benar begitu untuk apa pemenang tender itu memberi uang ke Nazaruddin ?
Sedekah ? Sumbangan?
Mestinya itu bukan sogok karena dia memenangkan tender bukan karena
jasa Nazaruddin. Saya penasaran atas pertanyaan-pertanyaan saya sendiri
itu. Karena itu saya mencoba mencari tahu.
Hasil penelusuran saya agak mengecewakan : ternyata masih banyak
peserta tender yang tidak percaya diri akan kemampuan mereka,lalu punya
backing orang kuat. Mereka belum percaya bahwa PLN sudah berubah. Mereka belum percaya bahwa di PLN bisa berubah. Mereka tidak percaya bahwa
backing itu sekarang tidak ada gunanya. Itulah sebabnya mengapa masih
ada peserta tender yang merasa perlu memiliki backing.
Keberadaan backing itu sendiri punya dua cerita. Ada peserta tender
yang memang mencari backing. Ada juga justru si backing yang
mencari-cari peserta tender. Terutama, yang diincar adalah peserta yang
sudah kelihatan punya peluang untuk menang. Si backing lantas
menakut-nakuti si peserta tender kalau dia tidak dikawal bisa saja
kalah.
Emosi peserta tender itu pun menjadi labil. Di satu pihak dia sudah
berada di ambang kemenangan. Peserta yang lolos tender tinggal sedikit,
katakanlah tiga. Kejiwaannya pun menjadi kemrungsung. Dalam keadaan
kemrungsung seperti itu dia ditakut-takuti oleh si backing. Kalau tidak
pakai backing dia akan dikalahkan. Ketika mengucapkan kata “akan
dikalahkan†itu bisa saja si backing seolah-olah sudah bicara dengan
pemilik proyek. Dalam situasi seperti itu peserta tender memilih jalan
yang paling save : diterima saja tawaran backing itu.
Celakanya tidak mustahil si backing tidak hanya mendatangi satu
peserta tapi juga peserta tender lainnya. Dengan demikian siapapun yang
menang backing pulalah yang paling menang. Saya sudah bisa menemukan
cara bagaimana menyelenggarakan tender yang bersih. Bahkan sudah
mempraktekkannya setahun terakhir ini. Tender-tender di PLN tidak akan
terpengaruh oleh backing siapapun.
Bahkan dalam tender terbesar dalam sejarah PLN bulan lalu, yakni
tender proyek Rp 30 triliun di Jateng, PLN berhasil mengabaikan tekanan
para backing yang tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri.
Proyek Kaltim dan Riau itu tidak ada apa-apanya dibanding proyek di
Jateng itu. Tapi PLN berhasil lolos dari segala tekanan. PLN sudah tahu
bagaimana menyelenggarakan tender yang bersih, tapi belum tahu bagaimana cara meyakinkan peseta tender agar menyadari bahwa backing sudah tidak
ada gunanya!

Iklan

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s