SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI


SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI

 Oleh : Adriano Rusfi

Malam ini saya tidak bisa tidur. Ini pasti gara-gara telah lebih dua minggu tak habis pikir : bahwa bangsa ini, sekadar punya kuda-kuda untuk mengambil alih teknologipun tak mampu. Ya, sekadar kuda-kuda. Tapi itu begitu penting. Saya ingat film The American Shaolin, bahwa ilmu pertama yang diajarkan di Biara Silat itu adalah kuda-kuda. Dan itu tiga tahun lamanya, hanya untuk kuda-kuda !!!

Tak habis pikir… lalu tak bisa tidur… Karena akhirnya saya berujung gelisah di tengah malam : bolehkah saya menggugat dan menghujat ? Bukankah saya hanya seorang psikolog yang tak berhak menjadi juri atas kompetensi atau impotensinya para teknolog kita ? Mungkin yang harus saya kutuk adalah keputusan saya untuk menerima tawaran survey tentang SDM IPTEK di dunia industri kita. Lalu survey “celaka” itu menghasut saya untuk menancapkan sebuah kesimpulan brutal : SDM IPTEK industri itu hampir-hampir tak ada !!!

Bah… nekad, menafikan segala ikhtiar puluhan tahun dari ribuan karyawan Research and Development (R&D) yang telah menguras rupiah dan pengorbanan yang tak sedikit. Baiklah… tapi, apa yang telah dihasilkan ? Saya hanya melihat para pekerja kreatif dan tukang-tukang berpengalaman yang berhasil merubah gelas berbibir bulat menjadi segi tiga. Apakah itu yang disebut sebagai SDM IPTEK ? Bukankah SDM IPTEK itu seharusnya adalah saintis dan teknolog yang menggunakan seluruh ikhtiar ontologis, epistemologis dan aksiologis untuk menggambarkan, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan dan merekayasa gejala-gejala ilmiah ? Atau, mungkin saya yang tak mengikuti perkembangan, bahwa belakangan antara teknolog dan teknisi sebenarnya adalah barang yang sama. Bahwa antara implementator dan operator bukan lagi hal penting untuk dipilah. Entahlah…

Sebenarnya saya telah berusaha untuk salut dan berjuang untuk bangga. Lihatlah, nun di sana telah ada “SDM IPTEK” kita yang mampu merubah knalpot sepeda motor tetap bekerja baik di dalam genangan banjir. Di sudut yang lain saya mendecakkan kagum kepada sekelompok doktor yang telah menerbangkan besi ke langit. Namun entah kenapa, saya tiba-tiba saja kehilangan selera setelah tahu bahwa sang modifikator knalpot canggih itu ternyata bahkan tak mampu menciptakan sebatang knalpot paling generik sekalipun, sepenuhnya dari nol. Dan apa yang harus saya gumamkan kalau ternyata para doktor perakit pesawat itu ternyata tak kuasa membuat transportasi yang lebih primitif dari itu : mobil. Beribu maaf… perakit, ternyata bukan pencipta.

Mungkin malam ini saya tak bisa tidur, ulah mimpi sendiri yang saya buat terlampau fatal. Betul, saya terlanjur bermimpi bahwa seorang pakar adalah seorang yang tiba-tiba saja menyicip segelas ramuan asing, lalu serta-merta menari kegirangan sambil setengah menjerit, “A-ha ! Saya tahu kandungannya dan saya bisa membuat resepnya !”. Ya, dia Sang Koki Agung ! Dia membuat resep… Dia bukan pengemis yang meminta agar koki asing membocorkan rahasia ramuannya. Dia bukan pencuri formula yang mengendap di tengah malam menyelundupkan sebuah paten yang telah dikreasikan oleh orang lain dengan susah-payah. Dan dia pasti bukan tukang sampah yang menerima formula kadaluarsa atas nama belas kasih “alih teknologi”.

Mungkin tak ada yang dapat saya salahkan jika malam ini saya kehilangan selera kantuk. Toh saya hanya ditipu oleh mata dan sangka saya sendiri. Saya kira, jika seorang pemain basket telah begitu mahirnya menyarangkan Slam Dunk ke keranjang lawan, berarti dia adalah pemain basket tingkat atas. Saya hanya terlalu naïf untuk paham bahwa, di negeri ini, ada orang-orang yang telah berlatih Slam Dunk sebelum benar-benar menguasai dasar-dasar bermain basket. Permainan mereka begitu menawan dan akrobatis, namun sekaligus begitu menjengkelkan. Ya… menjengkelkan ! Karena mereka hampir selalu urung mewujudkan target sebuah pertandingan : Kemenangan !!! Sobat teknolog yang budiman, target pertandingan itu kemenangan, bukan Slam Dunk. Apa artinya inovasi, jika bahkan melakukan duplikasi sempurnapun kita belum bisa ???

Telah jam satu malam… Dan mata saya nanar menerawang ke masa silam. Ke kisah seorang teman yang kuliah di Teknik Mesin dan mengambil Tugas Akhir di bidang Mesin Pendingin. Ia lalu bekerja selepas lulus, membawa selembar ijazah dan idealisme : ia ingin alih teknologi. Dan iapun bekerja di sebuah perusahaan AC. Suatu malam nasionalismenya telah menggerakkan tangannya untuk mengambil tindakan heroik. Ia curi sebuah prototip AC dan menyelusupkannya pulang. Tiga tahun ia berburu misteri dan rahasia di lorong-lorong AC itu. Dan pada akhirnya ia menelpon saya, “Aku gagal”. Entahlah, ia telah belajar apa saja selama kuliah. Mungkin belajar mesin, tapi bukan filsafat mesin . Mungkin tentang pendingin, tapi bukan hakekat dingin. Mungkin tentang AC, tapi bukan formulanya. Ah… entahlah…

Seharusnya teman saya berganti nama saja dengan Samsung, industrialis Korea, mungkin guratan tangannya akan berbeda. Tadi siang saya baru saja bertandang ke sebuah lapaknya pada ajang Bazaar Bezar Bezaran di Jakarta Convention Center. Samsung buat dan jual apa saja, dengan cara yang paling memikat : ya mutunya… ya desainnya… ya teknologinya… ya harganya… Ia kompeten di televisi, komputer, printer, kamera, ponsel, tablet PC, dan masih banyak. Hampir saya membeli sebuah netbook keluarannya. Desainnya futuristik, spesifikasinya bersaing dan baterenya tahan 14 jam.

Tapi tidak. Samsung bukan bisa mencipta segalanya. Samsung hanya menguasai elektronika : hanya itu !!! Para koki R & D nya tidak belajar ponsel, atau komputer, atau kamera, atau televisi. Tidak ! Mereka hanya belajar elektronika. Mereka cukup tahu diri dan rendah hati, bahwa mereka harus memulai segalanya dari duplikasi, bukan inovasi. Mereka sadar, jika mereka telah menyadari esensi cukup sekali, maka selanjutnya mereka akan menghasilkan seribu satu turunannya dengan begitu mudah. Dan kuncinya hanya satu, berpikir sederhana : Principle of Parsimony !!! Bukankah ciri seorang pakar sejati adalah seorang yang pemikirannya mudah dimengerti awam ?

Mungkin itu yang dimaksudkan dengan sebuah Center of Excellence. R & D bukanlah sebuah pabrik, dan SDM-nya seharusnya bukan para juru masak. Dia adalah sebuah pusat, dan harus berpikir terpusat, bukan macam-ragam. Center of Excellence seharusnya adalah penghasil brainware, bukan software, apalagi hardware. Software dan hardware adalah ulah kelakuan para pabrikan, bukan ulah perbuatan SDM IPTEK yang berhimpun di R & D. SDM IPTEK Samsung adalah koki pencipta resep dan formula, sedangkan pabrikannya adalah juru masak yang melahirkan produk dan benda. Karena Center of Excellence bukanlah Center of Competence.

Sudahlah… terlalu malam hati ini untuk dibakar cemburu kepada Samsung. Toh wajar, mereka memang lebih dekat dengan biara Shaolin. Mereka mungkin telah belajar sabar untuk menguatkan kuda-kuda tiga tahun lamanya. Mereka, dan hampir seluruh peradaban Asia Timur, adalah orang-orang yang sabar dan pekerja keras. Maka, Jepang lebih memilih Kaizen yang merayap namun pasti (continuous improvement), ketimbang konsep Innovation yang melompat dan meletup. Ya… nun di pertengahan abad ke 19 mereka memilih restorasi (renovasi) bukan inovasi. Sudahlah… toh kita tak sama dengan mereka : mereka sabar, dan kita pengambil jalan pintas.

Tampaknya India pun memilih belajar ke para tetangganya di Timur itu untuk maju menapak. Sebuah dialog dalam film The Three Idiots secara tajam menyiratkan itu : Sebuah kisah tentang Sang Rektor berpendidikan Barat yang dengan bangganya menceritakan tentang inovasi berbiaya 150 Juta Dollar Amerika oleh NASA, agar sebuah pena mampu memuncratkan tintanya di ruang hampa udara antariksa. Namun, Sang “Idiot” India bernama Rancho menampiknya dengan logika sederhana,

“Jika tinta tak memancar di luar angkasa, kenapa tak digunakan pinsil saja ???”.

Ya, yang sering kita lupa, bahwa duplikasipun adalah sebuah langkah awal yang paling cerdas. Dan yang dibutuhkan hanya ini : Sebuah kejeniusan yang idiot !!!

India telah mempersonifikasikan dirinya ke dalam sosok Rancho, yang menertawakan sekian banyak kerumitan, textbooks dan rumus-rumus tanpa hati, lalu menawarkan kesederhanaan.

Menggelisahkan… sementara kita sebagai bangsa justru telah kehilangan daya abstraksi, daya ekstraksi, kemampuan meracik-ramu, atau kecakapan susun-tata, yang merupakan modal dasar untuk menjadi peneliti dan perekayasa. Kita kehilangan imajinasi sejak dini, ketika dongeng telah digusur oleh baca-tulis-hitung di usia TK, padahal itu syarat abstraksi dan formulasi. Kita kehilangan kemampuan mapping, ketika kertas gambar putih telah digantikan begitu cepatnya dengan kertas bergaris, padahal itu modal konstruksi. Kita kehilangan kreativitas, persis saat hak belia kita untuk melakukan deformasi dan “merusak”, digantikan secara kejam oleh format-format kurikulum pembelajaran pra-sekolah yang “santun dan membangun”. Padahal, untuk membangun bumi ini Tuhan sengaja mengutus makhluk perusak : Kita, manusia !!!

Jakarta, Dinihari 10 Maret 2011

Adriano Rusfi

Peneliti SDM

3 responses

  1. Terima kasih pak Adriano atas pencerahannya. Apa sih arti Hari Satriyo Basuki di R&D Center. Saya pernah kerja di Lembaga Elektroteknika Nasional yang sekarang jadi LEN INdustri dimana dulu he he he duluuuu sekali sudah direncanakan untuk menelriti dan membuat transistor dengan menduplikat yang ada dan cukup berhasil. Akan tetapi penelitian elektronika itu tidak sesederhana dan sesingkat serta semurah itu. Kami waktu itu sudah bangga sekali akan tetapi perkembangan di luar sedemikian pesatnya dan nggak terkejar oleh kami damn kita Indonesia.Alatnya yangs edemikian muahalnya, rangkaiannya yang sudah sedemikian kompleksnya dan sebagainya, dan kalau di kembalikan ke cerita india rancho maka hal itu tidak mungkin, apakah kita mau membuat komputer PC yang sebesar 3 kamar tidur lagi? Walau dapat berfungsi tetapi bukan jamannya dan akan nggak ada yang makai. Jangan terlalu pesimis pak, coba liat Hartono Istana elektronika yang membuat Polytron dari Lemari es sampai TV Plasma, PT Panggung Elektronik yang membuat dengan merk AKIRA dan lainnya walau dengan duplikasi tetapi ada sentuhan teknologi dan terjual di Jerman dll dengan merk Jerman. OEM.
    SDM IPTEK tidak hanya yang di Pemerintahan tetapi di Industri juga ada dan banyak yang berhasil. Pernah baca pencakar langit tertinggi didunia di Dubai? Salah satu perncangnya dari Indonesia.
    Saya sendiri juga nggak suka dengan kemunduran teknologi tetapi ya mungkin yang di atas sebagai penentu negara ini maish memekikr pengembangan ditempat lain. Jangankan hanya beli peralatan pembuat komponen elektronika yang milyardan atau pembuat gas untuk AC atau pembuat bahan kapal terbang, untuk minta osciloscope atau alat ukur seharga 10 jutaan saja nggak disetujui, mana bisa kita bersaing dengan Hartono dan Panggung dibidang elektronika.
    Mungkin koment saya terlalu panjang pak dan yang pasti ya saya juga gelisah tetapi apa sih yang bisa dilakukan oelh saya?

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s