Biofuel dari lumut


Salah satu pengembangan energi alternatif ii adalah Bahan Bakar Nabati. DI Depok telah dikembangkan Biofuel yang berasal dari lumut (algae atau ganggang). TPLIT Depok di desa Sukmajaya yaitu tempat pembuangan limah manusia… maaf ..tinja. Disitulah telah di kembangkan ganggang yang memakan kototran2 atau CO2 yang kemudian dengan melalui beberapa proses fermentasi bisa didapatkan minyaknya yaitu biofuel yang selanjutnya dipakai sebagai aditif premium. Oktan yang didapat dengan campuran 5-10% bisa meningkat menjadi setara pertamax bahkan pertamax-plus.
Kunjungan mahasiswa mesin FTUI diprakarsai oleh dosen KKE pak Raldi yang mendapat akses ke TPLIT ini dari ahli ganggangnya sendiri Prof Ricky S. Wee. Visit dilaksanakan pada tgl 26 Feb 2011 sebagai kelanjutan dari kuliah energi alternatif pada mata kuliah KKE (Konversi dan Konservasi Energi) dimana satu sessi diisi oleh pak Ricky dengan memperkenalkan Bahan Bakar Nabati dari ganggang ini. Ganggang ini menyerap banyak CO2 sehingga TPLIT ini tidak berbau samasekali… oke kan ?
Sudah lebih dari satu bulan mobil saya panther menggunakan biodiesel dari lumut ini dan walaupun hanya dirasakan saja (oleh supir saya) kelihatannya memang jadi lebih baik kinerjanya. Pertama yang jelas jadi lebih hemat, lalu getarannya lebih halus dan pada kecepatan tinggi terasa lebih stabil. Mereka yang memakai biofuel ganggang ini (premium), laju kecepatan jadi meningkat, apalagi motor. Mahasiswa semua motornya dikasi biofuel, dan ternyata mereka bilang jadi lebih enak dan lebih laju.
TPLIT – Tempat Pembuangan Limbah Terpadu.
-0-
Penelitian tentang bahan bakar nabati pada dasarnya telah dilakukan selama beberapa puluh tahun terakhir (teks ini bahannya ngambil sana sini dari internet terutama). Berbagai jenis bahan bakar nabati dikembangkan mulai dari Jagung, Singkong, Jarak dan beberapa bahan pangan lainnya juga telah dilakukan. Selain bahan pangan yang telah disebutkan tadi, pengembangan bahan bakar nabati dari Alga (ganggang) juga dilakukan, terutama oleh negara negara maju seperti Amerika, Jerman, Jepang dan negara maju lainnya.
Mereka telah membuat penelitian dan pengembangan alga secara alamiah dengan ataupun dengan bio reaktor yang dikelola secara modern dengan peralatan modern yang berharga milyaran dolar. Namun sampai saat ini terkait dengan isu global warming, banyak perusahaan-perusahaan di dunia yang berusaha mencari “alternative fuel” dengan prinsip ramah lingkungan alias ” Go Green”, contohnya, perusahaan penerbangan raksasa British Airways dan Airbus mensponsori penelitian yang dilakukan Universitas Cranfield, Inggris. Tim Peneliti ini mempelajari cara memanen ganggang (algae) untuk bahan bakar pesawat jet. Ganggang dapat dapat diolah menjadi bahan bakar ” biofuel” dengan kandungan karbon yang rendah, ekonomis, dan ramah lingkungan. Ganggang dipilih karena tidak bersinggungan langsung dengan kapasitas sumber pangan manusia. Ganggang juga tidak merampas lahan pertanian. Tantangannya adalah menyediakan bahan bakar bio dalam jumlah besar yang cocok untuk segala jenis pesawat yang ada tanpa mengubah mesin. Anggota Tim Peneliti dari Universitas Cranfield menyatakan bahwa ganggang dapat diproduksi secara komersil dalam kurun waktu 4 tahun mendatang. Ganggang memiliki keunggulan dibandingkan “biofuel” yang lain yakni bisa dipanen setelah berumur 7-12 hari, atau 30-50 kali dalam setahun. Penerbangan dengan biofuel diperkirakan dapat mengurangi emisi gas CO2 lebih dari 80 persen, dan biaya bahan bakar juga semakin ekonomis.
Kebanyakan penelitian yang dilakukan di negara-negara maju mengalami hambatan karena mereka hanya memiliki musim panas selama 4 (empat) bulan setiap tahun. Hal ini berdampak pada biaya operasional yang sangat tinggi karena pengembangbiakan alga tersebut harus dilakukan di dalam ruangan dalam kondisi temperatur yang harus dijaga agar alga dapat tumbuh dengan baik. Proses ini membutuhkan biaya yang sangat besar sehingga skala ekonomis untuk produksi massal belum tercapai.
Perbedaan sangat besar terjadi dengan kondisi alam di Indonesia. Matahari bersinar sepanjang tahun atau 365 hari setiap tahun selama lebih dari 10 jam per hari. Alga (ganggang) memerlukan sinar matahari untuk menghasilkan fotosintesa dengan menyerap CO2 dan menghasilkan O2 untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, iklim di Indonesia sangat cocok untuk produksi Alga dalam jumlah besar, baik untuk jenis alga air tawar ataupun alga air laut. Sumber daya alam yang melimpah juga mendukung produksi Alga dengan biaya murah dan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan produksi di negara lain.
Dampak positif lain yang tidak kalah pentingnya dari pengembang biakan Alga ini adalah proses produksi akan mengurangi kadar CO2 di udara, dan menghasilkan O2 untuk lingkungan udara yang cukup baik.

One response

  1. Senang rasanya melihat kekreativan anak-anak maupun alumni mesin FTUI dan yang lainnya juga. Semoga ide dan sumbangsih dalam pengembangan energi alternatif ini dapat membawa kepada kesejahteraan masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s