Ketakutan Ketemu Dosen


Ini ceritanya Marjo dan Wawan. Keduanya mahasiswa Tugas Akhir Skripsi saat ini di Dep Teknik Mesin FTUI.

***

THE MASSIVE: JANGAN MENYERAH

Nama saya Marjo, saya adalah salah satu mahasiswa Program Pendidikan Sarjana Ekstensi (PPSE) departemen teknik mesin Universitas Indonesia angkatan 2008. Saya mengenal Prof.Raldi AK dari seorang mahasiswa S3 yaitu Dr. Harun Al Rosyid. Tapi tidak hanya beliau yang bertanggungjawab dalam hal perkenalan saya dengan Prof Raldi, melainkan ada dua nama lagi yaitu Dr. Nasrudin dan Hilman Alfian ST.

awal cerita saya diberitahu oleh rekan saya yaitu saudara Hilman bahwa Dr. Nasrudin membutuhkan beberapa mahasiswa untuk membantu penelitian mahasiswa S3, dalam hal ini adalah penelitian yang sedang dilakukan oleh Pak Harun untuk mendapatkan gelar Doktor. Setelah mendapatkan izin dari orang tua, maka saya dan saudara Wawan Mardiyanto mendaftarkan diri dan langsung diterima tanpa ada tes tulis maupun wawancara. Sejak saat itu kami berdua resmi membantu pak Harun. Karena pak Harun juga sedang menjalani bimbingan dengan Prof Raldi, maka secara garis komando saya juga termasuk mahasiswa yang dibimbing oleh prof Raldi meskipun saat itu tugas saya hanya membantu pak Harun.
Interaksi pertama saya dengan prof Raldi adalah pada saat presentasi progress penelitian pak Harun, pada saat itu saya dan Wawan diminta menjelaskan progress mengenai rencana operasi lab PLTU mini yang berada di DTM. Sebagai mahasiswa tentu perasaan cemas, takut dan deg-degan tidak bisa saya hindari. Apa lagi ini adalah presentasi pertama saya di hadapan Prof Raldi. Jika mencari kiasan, maka saya akan ambil suara bedug malam lebaran, begitulah suasana yang terjadi di dalam dada saya. Suara gemetar tidak bisa saya sembunyikan.
Dalam beberapa kesempatan saya di ajak pak Harun untuk ikut serta menghadap prof Raldi di ruanganya. Kesan yang saya dapat jika berada di ruangan prof Raldi adalah horor, suasananya tidak jauh berbeda seperti waktu pertama kali saya belajar duck dive di laut pulau pramuka. Perasaan horor takut tiba-tiba ada piranha, takut tiba-tiba ada hiu dan ketakutan lain yang muncul ketika pertama kali berada di laut. Setiap kali pertemuan dengan prof Raldi, saya memposisikan diri diam tanpa bicara kecuali jika ditanya, dan saya yakin jawaban saya sangat tidak bermutu. Mungkin kecemasan saya ini tergolong stadium tiga, tapi apa mau dikata, ini adalah pengalaman yang luar bisa bagi saya berada diantara Professor dan calon Doktor yang sedang berdiskusi. Maka saya berfikir siapalah bocah PPSE ini.
Dua semester berlalu, dan tiba saatnya pak Harun untuk sidang Doktoral. Saya diminta membantu menyiapkan segala urusan yang berkaitan dengan sidang. Dan pengalaman yang tidak terlupakan dari persiapan itu adalah saya diminta menjemput Prof.Dr.Peng.A.Mohamad dari University of Calgary Canada di peninsula. Dengan modal informasi nama dan lokasi hotel, saya datang ke peninsula. Saya tidak tahu bagaimana wajah dari si professor ini, saya hanya diberi nama. Saya duduk di loby hotel, setiap ada mobil berhenti dan yang turun orang bule, maka saya pasang mata elang. Kejadian ini berulang-ulang sampai 4 kali. Tiba-tiba Wawan memberi ide brilliant mengetik nama si professor di google, maka muncullah beberapa photo. Sialnya Hp si Wawan bukan keluaran terbaru, jadi photo orang di layar kelihatan buram. Lengkap sudahlah penderitaan di penin sula. Saya telfon pak Harun menanyakan ciri-ciri perawakan dari si professor. Sekarang ciri-ciri fisik sudah saya tulis di note. Saatnya menunggu bule turun dari mobil, setengah jam berlalu dan tidak ada bule yang masuk hotel. Saya datangi meja recepsionist hotel meminta sedikit pertolongan. Sedang asik berbincang, muncul seorang bule. Si bule ini menyebutkan namanya dan menanyakan kamar yang sudah dipesan. Wah ini dia orang yang dicari, dengan modal bahasa inggris taman kanak-kanak saya beranikan menyapa beliau. Akhirnya target berhasil ditemukan dan suasana menjadi lega kembali. Saya ajak beliau duduk di loby. Kata pertama yang beliau ucapkan adalah “hot”. Oh iya mister, Jakarta emang hot.
Akhirnya pak Harun dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Doktor. Sekarang giliran saya yang menjalani bimbingan dengan prof Raldi. Suasana hati kembali bergejolak, perasaan deg-degan tidak bisa dilenyapkan setiap kali bertemu dengan beliau. Saya ingin mengenal lebih dalam tentang beliau, tapi apa daya, keberanian selalu diam diparkiran setiap kali berada di kampus. Saya paksakan berkali-kali tapi tetap saja grogi. Saya teringat lagu “jangan menyerah” the massive. Ah tapi tetep aja deg-degan.
Suatu ketika dimeja beliau saya melihat ada buku bersampul warna kuning dengan judul “buku dua dekade”. Tring…tiba-tiba saya menemukan ide. Saya harus baca buku itu. Niat awalnya ingin pinjem, tapi tidak berani. Akhirnya saya temukan di blog beliau. Saya download dan mulai membacanya. Meskipun belum semua saya baca, tapi buku itu sudah menyelamatkan saya dari perasaan deg-degan yang berlebihan. Saya belum bisa bilang kalau perasaan itu sudah hilang, tapi setidaknya sekarang sudah berkurang dan keberanian untuk belajar dari beliau sudah muncul.
Proses bimbingan terus berlanjut dari minggu ke minggu. Berkat kesabaran beliau saya mulai memahami sedikit demi sedikit tentang PLTU. Satu hal yang selalu beliau tekankan adalah kita harus mengerti dan paham tentang masalah yang sedang dihadapi. Memang ada beberapa kendala ketika dunia buku dibawa kedalam kenyataan. Maka tidak heran jika untuk mengeplot diagram T-S saja saya membutuhkan waktu 4 minggu. Kendala yang dihadapi adalah dari titik pengukuran yang sesuai dengan diagram. Secara teori saya sedikit paham, tapi begitu mendapat data operasi dari lab PLTU mulai timbul permasalahan. Ada Sembilan titik pengukuran tekanan dan Sembilan titik pengukuran temperature. Saya jadi linglung titik mana yang harus dipakai untuk menggambar diagram T-S. Baru disuruh menggambar saja saya sudah bingung, apalagi nanti disuruh menghitung. Waduh lagu the massive terngiang kembali.
Datang lagi, salah lagi, bingung lagi. Kemudian datang lagi, salah lagi dan bingung lagi. Ini bimbingan terdahsyat yang pernah saya alami. Setelah menjalani 4 minggu akhirnya sekarang sudah mulai ada titik terang. Prof Raldi selalu memberi semangat untuk terus belajar. Soal dimarahin itu sudah resiko. Anggap saja ini sedang DIKLAT SAR atau LDK yang tentunya memiliki tujuan postif dan berguna dalam hidup saya ke depan.
Meskipun saya cenderung lambat dalam pergerakan, tapi beliau selalu sabar sedikit demi sedikit mengarahkan dan menjelaskan. Diskusi mengenai diagram T-S, P-h dan h-S sudah ada kemajuan. Tapi ini baru permulaan, katakanlah ini baru tes pendahuluan saja. Masih ada inti permasalahan yang harus di diskusikan dengan beliau. Semangat harus tetap membara, harapan harus tetap ada karena ridho guru adalah yang utama.
Ini sekedar tulisan, hanya ingin sharing tentang pengalaman. Jika kurang berkenan mohon dimaafkan. Scripta manent verba volant (Leo Tolstoy).

Depok 05 Feb 11
Marjo

——————————————————-

Selingan video, kelas KKE 2011

——————————————————-

GAK PENTING LULUS YG PENTING NGERTI

Oleh: Wawan

Pada awalnya saya bertemu dengan Pak Harun, beliau merupakan salah satu mahasiswa S3 di UI lewat perantara Pak Nasrudin. Bersama teman saya Marjo, kami diminta untuk membantu Pak Harun dalam penelitian tentang PLTU mini yang dimiliki oleh Departemen Teknik Mesin UI. Meskipun pada akhirnya semua yang kami lakukan ternyata bukan sepenuhnya untuk penelitian Pak Harun tetapi untuk penelitian kami sendiri.
Perkenalan dengan Pak Nasrudin dimulai dari marjo yang tiba-tiba mengajak saya untuk bertemu dengan beliau untuk urusan tugas akhir. Tanpa berpikir panjang dan tidak tahu tugas akhir apa yang nanti akan diberikan kami langsung berangkat. Sampai diruangan dosen saya bertemu Pak Nasrudin, kemudian marjo memperkenalkan saya kepada beliau. Sambil bersalaman dengan saya beliau mengatakan “Selamat Bergabung”, tetapi saya berbicara dalam hati “bergabung???, bilang iya aja belum”. Mungkin saya sudah “kecemplung” dan tingggal satu cara untuk bertahan yaitu berenang, beruntung materi tugas akhirnya tentang PLTU yang sesuai dengan minat saya.
Pertemuan tersebut kemudian berlanjut hingga pada akhirnya kami dapat mengoperasikan PLTU dan sudah mulai untuk mengambil data untuk penelitian. Setelah sebelumnya kami telah melakukan beberapa perbaikan pada PLTU tersebut, dari mulai membersihkan sampai mengganti dan menambahkan beberapa komponen dari PLTU. Ada pengalaman menarik saat kami harus melakukan perbaikkan pada tangki kondensat dengan cara hot deep yaitu proses pelapisan dengan menggunakan logam. Untuk melakukan hal tersebut kami harus membawa tangki tersebut kesebuah tempat didekat terminal pasar senen. Dimulai dengan melepaskan mur dan baut yang terpasang pada tangki kemudian mengangkatnya keluar. Massa dari tangki tersebut yaitu 60 kg, lumayan berat tetapi kami yakin akan lebih berat lagi mengingat perjalanan yang cukup jauh. Kami berencana membawanya dengan menggunakan bis, karena keterbatasan alat transportasi dan dana pastinya.
Dari lab, kami membawa tangki tersebut dengan menggunakan lori menuju halte teknik kemudian menaiki bis kuning. Didalam bis tampak mahasiswa lain melihat kami dengan tatapan aneh, mungkin mereka berpikir “ngapain nih orang bawa tempat sampah?” karena bentuknya yang memang mirip ditambah lagi dengan warnanya yang kuning. Setelah itu kami berganti bis dengan jurusan senen yang tampak penuh sesak ditambah dengan seorang pengamen.
Tibanya di senen kami menggotong tangki seberat 60kg tersebut kesebuah perkampungan didalam gang yang sempit, jaraknya sekitar 100m dari pinggir jalan, lumayan jauh. Untung saja kami sudah melakukan survey terlebih dahulu, jadi kami lebih siap secara fisik dan mental. Tetapi tidak dikira akan seberat ini menggotongnya, baru setengah perjalanan keringat sudah menetes, tangan sudah gemetaran dan mati rasa. Memang sulit sekali mencari pegangan yang pas untuk menggotong tangki ini. Setelah beberapa kali istirahat sejenak akhirnya kami sampai dilokasi.
Setelah bernegosiasi harga dengan pemilik toko, kemudian ia bertanya “Mas, tadi tuh barang dibawa kesini pake apa?” lalu kami menjawab “ digotong pak”. Sambil tertawa dia komentar “ kenapa ga pake lori saya aja mas?” dengan ketawa yang lebih keras saya berkata “Siaaaal…..”
Setelah beberapa hari, tangki pun sudah jadi dan siap untuk diambil. Kami tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali, akhirnya kami memakai lori dan diantarkan oleh kuli juga. Dengan menaiki bis jurusan depok akhirnya kami sampai dihalte dekat makara UI, melihat jembatan penyeberangan merupakan satu satunya jalan menuju halte bis kuning kami jadi ragu menaikinya. Dengan bermodal 20ribu kami lalu menggunakan taksi dan tibalah kami di lab, akhirnya…..
Setelah data dianggap cukup, kami harus mempresentasikan hasil kerja kami kepada seorang dosen, bukan kepada Pak Nasrudin tetapi kepada Prof. Raldi Artono Koestoer. Itu merupakan awal pertemuan dengan dosen pembimbing kami. Kesan pertama yang saya dapat dari pertemuan tersebut adalah “tegang” tetapi sedikit lebih rendah levelnya dibandingkan “horor” karena saya melakukan presentasi didepan professor yang belum saya kenal sebelumnya dan beserta handycam yang selalu dibawanya. Walaupun kami sering melakukan presentasi dikelas sebelumnya, entah mengapa yang ini berbeda.
Pertemuan tersebut mengawali pertemuan-pertemuan kami selanjutnya tetapi tidak merubah rasa “tegang”. Prof. Raldi merupakan orang yang sedikit sekali berbicara, tampaknya beliau lebih senang mendengarkan orang lain berbicara. Hal tersebut membuat kami harus lebih banyak berimprovisasi untuk mencairkan suasana. Tetapi ada hal unik dari beberapa kali kami presentasi, beliau dua kali saya catat sedang memejamkan matanya. Entah sedang mengantuk atau memang presentasi kami yang benar-benar membosankan. Kadang juga sering seperti diacuhkan, mungkin beliau sudah tahu apa yang akan kami bicarakan.
Buat saya, pertemuan dengan beliau serasa sedang mengahadapi ujian prasidang. Beliau banyak mengajukan pertanyaan yang membuat kami sampai pada suatu titik dimana kami sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan tersebut. Yang paling memusingkan adalah beliau tidak akan memberikan jawabannya tetapi beliau hanya akan mengarahkan saja dan kami sendiri yang harus mencari tahu jawabannya. Tetapi saya senang dengan hal itu karena membuat kami lebih siap untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan pada saat sidang nanti.
Kata-kata yang paling saya ingat ketika kami keluar dari ruangan adalah “kalian jangan kapok ya saya marahi”, karena beliau memang lumayan sering memarahi kami terutama kalau kami memberikan jawaban yang salah. Untungnya hal tersebut hanya dilakukannya pada awal-awal kami bertemu, mungkin itu bagian dari ospek beliau pada mahasiswa bimbingannya. Ada juga kata-kata dari beliau yang berkesan yaitu ketika akhir dari semester ganjil kemarin beliau berkata kepada saya “buat apa kamu lulus cepat kalau kamu tidak mengerti apa-apa, lulus itu tidak penting yang penting kamu mengerti”. Perkataan itu membuat saya semakin semangat untuk lebih mendalami materi.
Sudah satu tahun lebih pengerjaan skripsi yang saya lakukan belum juga selesai, mungkin pada semester genap ini saya bisa menyelesaikannya. Tetapi empat minggu terakhir sebelum tulisan ini dibuat sepertinya angin segar sudah mulai berhembus, beliau sudah mulai terbuka dan berbicara banyak pada kami. Serta sedikit demi sedikit kami mulai mengerti apa yang beliau mau. Semoga ini menjadi awal yang baik.

Terima kasih

Wawan Mardiyanto

Iklan

8 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s