Narcissus dalam Etika


*** a beautiful youth in Greek mythology who pines away for love of
his own reflection and is then turned into the narcissus flower ***

MAM Siregar.-

Pada dasarnya, jujur pikiran yang ada di benak saya tentang apa yang akan saya pelajari di kelas etika enjiniring adalah semua hal yang berbau tentang etika keteknikan saja dan akan banyak teori-teori serta hafalan-hafalan tentang etika yang akan diberikan oleh dosen. Saya juga membayangkan pelajaran etika enjiniring ini akan membosankan dan sangat mirip dengan pelajaran etika di sosiologi, dimana mahasiswa akan dituntut untuk menghafal tentang apa itu etika, pasal-pasal apa saja yang mengatur tentang etika dan sebagainya. Menurut saya pemikiran tersebut sangat wajar terlintas di pikiran semua orang apabila mendengar kata “etika”, sesuatu hal yang membosankan bagi anak teknik untuk dipelajari karena anak teknik jelas lebih suka pelajaran tentang hal-hal yang berbau hitung-hitungan (eksak).

Namun semua hal yang ada dipikiran saya tersebut ternyata salah, bahkan ketika saya baru pertama kali mengikuti kelas etika enjiniring bersama Prof. Raldi. Tidak ada hafal-hafalan yang membosankan, tidak ada teori-teori yang panjang lebar, dan tidak ada kata-kata yang hanya sebatas retorika. Prof. Raldi membawa nuansa baru bagi kami dalam mempelajari etika. Bahkan sangat jauh dari teori-teori etika di sosiologi. Dalam kuliah etika enjiniring ini juga tidak hanya dipelajari tentang penerapan etika yang terspesifikasi di lingkup keteknikan saja, namun jauh lebih luas dari pada itu sampai menyentuh masyrakat marginal. Sesuatu hal yang menurut saya luar biasa, karena dengan terjun langsung, saya dapat mempelajari tentang arti etika itu sendiri dari alam yang tidak dapat berbohong. Beliau mengajak kami memahami tentang etika dengan satu penjelasan penting, Konkrit ! Just do it !.

Intinya ternyata apa yang saya pikirkan sebelumnya tentang kuliah etika enjiniring berbeda dengan setelah saya mengikuti perkuliahannya. Tetapi, saya justru mensyukuri bahwa persepsi saya yang di awal tadi salah. Karena dengan tugas-tugas konkrit yang bersifat terjun langsung ke lapangan saya dapat merasakan langsung apa yang dialami oleh orang-orang di luar sana, bahkan sampai ikut larut dalam penderitaan kaum marginal. Prof. Raldi pun menjadikan kuliah etika enjiniring menjadi lebih aplikatif. Hal ini jelas berbeda rasanya apabila kita hanya berbicara tentang teori-teori di ruang kelas saja tanpa penerapan konkrit. Istilahnya dengan hanya berbicara sok tahu di kelas saja tentang kondisi yang belum kita lihat itu kata Prof. Raldi adalah NATO ( No Action Talk Only, or NAPO No Action Plan Only, Red… ), hanya berteori tanpa ada tindakan pasti. Dari sinilah saya memahami bahwa dalam mempelajari etika itu yang diperlukan adalah tindakan langsung ke lapangan, karena dengan begitu kita dapat langsung belajar dari apa yang kita alami, bukan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita alami. Sebab pada dasarnya sebuah teori itu bisa sangat berbeda dengan kejadian aslinya. Disinilah menurut saya kelebihan dari konsep Prof. Raldi mengajar, beliau membuat saya bertanya “ apa yang sudah saya lakukan bagi masyarakat disekitar saya ?” bukan bertanya tentang “ apa yang sudah diberikan masyarakat untuk saya ?”.  Dengan praktek langsung ke lapangan, nilai-nilai yang kita dapat dari etika enjiniring tersebut justru dapat lebih tersalurkan. Beliau dengan caranya memicu kami untuk berfikir kreatif tentang bagaimana memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan berfikir dengan cara tukang ojek.

Selain itu, bukti yang lebih nyata dari kebermanfaatan kuliah etika enjiniring ini adalah ketika terjadi bencana gempa di Mentawai. Secara kolektif kami menyumbah dengan jumlah yang cukup besar untuk meringankan beban korban gempa disana. Hal itu menjadikan kebermanfaatan kelas etika enjiniring ini tidak terbatas hanya di lingkungan sekitar saja, tetapi juga sampai ke masyarakat lain yang mebutuhkan di luar sana. Pemahaman akan pentingnya etika pun secara bertahap dapat dimaknai oleh masing-masing mahasiswa dari berbagai tindakan langsung ke lapangan, sebuah makna dari etika enjiniring yang belum tentu didapat hanya dengan berteori.

2 responses

  1. Iya sy sangat setuju bahwa dalam mempelajari sesuatu sangat diperlukan tindakan langsung ke lapangan, dengan begitu kita akan mengerti hakekat yg sebenarnya dari ilmu yg kita pelajari itu.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s