PERJALANAN…


Oleh: Ranggi S. Ramadhan

Bogor kawan, sekali lagi. Bukan! Bukan untuk pulang kali ini. Sore ini adalah untuk sebuah perjalanan yang diharapkan mampu menginspirasi. Perjalanan yang mampu membuka pikir yang terjeruji, menggerakan hati yang tidak peduli. Dan tercapaikah tujuan dari perjalanan ini?

Bersabarlah kawan, akau kan ceritakan semuanya. “Sudah lama, Mas?” Tanya seorang wanita usia tigapuluhan pada pria berkaus merah yang sedari tadi berpolah jenaka didepannya. Yang ditanya memasang wajah bingung. “Sudah lama ya nggak waras?” wanita tadi melanjutkan pertanyaannya, yang disambut riuh tawa orang-orang di sekitarnya. Pria tadi ikut tergelak tawa dan langsung menimpali dengan candaannya.

Aku pun ikut tersenyum. Sepotong percakapan jenaka itu ku dapatkan di gerbong KRL ekonomi tujuan Bogor pukul lima sore. Dan jika engkau mengerti, kawan, pukul lima sore di gerbong ekonomi tujuan Bogor bukanlah hal yang menyehatkan badan. Gerbong akan sarat penumpang yang akan pulang dari Jakarta. Para penumpang akan terjepit di antara penumpang lainnya, terdesak dari arah depan, belakang, kiri, kanan, atas—ya, atas dan bawah. Wajah lelah para karyawan, teriakan para pedagang, bau debu gerbong yang tak sering dibersihkan, keringat yang meleleh di leher para tukang, kaki di kepala, kepala di kaki.

Semua serba menyedihkan. Sepotong kipas angin lapuk yang tergantung di langit-langit gerbong pun menyedihkan, berputar-putar sekuat tenaga, namun tak berdaya meniup-niup para penumpang yang tetap kegerahan. Aku sendiri tak tega melihatnya. Beginilah kawan, KRL ekonomi tujuan Bogor pukul lima sore. Karena itulah, sepotong percakapan jenaka tadi dan berbagai interaksi lain antar penumpang di KRL ekonomi selalu menarik hatiku. KRL ekonomi berharga karcis dua ribu rupiah sehingga hampir seluruh tingkatan masyarakat hadir dan bertemu di kereta ini. Mulai dari pengusaha berada yang ketinggalan kereta eksekutifnya, rakyat jelata berekonomi pas-pasan, sampai mahasiswa yang berhemat uang saku bertemu dalam satu gerbong dan dipaksa menempati jarak yang intim satu sama lain. Dalam keadaan ini, tak jarang terjadi saling tegur sapa antar orang yang baru pertama kali dijumpa. Bahkan tegursapa tadi acap berlanjut menjadi percakapan sekedarnya.

Para penumpang yang berjadwal pulang sama menjadi ruti berjumpa. Kereta pun menjadi wadah sosial yang menghubungkan mereka. Sekedar membagi kisah dan sedikit canda, untuk melupakan bosan dan letih di perjalanan yang melelahkan ini. Bogor pun menjelang bersama senja yang cepat sekali turun menggantikan terang. Mentari akan segera menarik selimut malamnya sebentar lagi. Apalagi hujan sedari tadi turun melengkapi mrumnya malam minggu kami. Oh, ya kawan aktu tidak sendiri di perjalanan ini. Aku bersama seorang rekan. Aku bahkan belum bercerita padamu tentang asal mula perjalanan ini. Perjalanan ini diawali oleh tugas dari seorang Profesor. “Berkunjunglah ke tempat-tempat yang dapat membuat anda melihat lebih dalam kehidupan kaum miskin dan tersingkirkan.” Begitu bunyi tugas yang kemudian harus dilaporkan di tiga halaman folio bergaris. Ya kawan, tiga, dan karena itulah aku berpanjang lebar bercerita sedari tadi. Mengapa Bogor? Karena aku mengenal baik kota ini. Aku dan rekan perjalananku berencana mengunjungi salah satu panti yang ada di kota ini. Namun hari yang mulai malam dan hujan yang terus turun mengubah haluan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi daerah di pinggiran stasiun Bogor.

Sore itu, daerah pinggiran stasiun masih ramai oleh para pedagang yang membuka lapaknya di trotoar-toar jalan. Trotoar yang lebarnya hampir lima meter ini menjadi sempit akibat keberadaan para pedagang ini. Bermacam-macam dagangan yang dijajakan mulai dari pakaian, remote TV, alat elektronik hingga buku bajakan dapat ditemukan. Kebanyakan dari pedagang ini adalah perantau dan mengontrak tempat tinggal di daerah sekitar stasiun. Selain pemandangan para pedagang yang membuka lapak, kami berjumpa dengan seorang penjual buah yang memanggul dagangannya, berjalan menyusuri jalan menuju stasiun. Sempat terbesit dalam banak kami untuk menggali informasi dari pedagang renta itu tentang kehidupannya, namun kami dua orang mahasiswa teknik yang masih belia, kalah tangkas dengan penjual renta yang memanggul dagangan sarat muatan tersebut. Ia telah mendahului kami dan menghilang dibalik keriuhan stasiun.

Senja itu juga diwarnai oleh warna-warni payung yang dijajakan para ojek payung. Beberapa dari penjaja jasa tersebut berusia anak sekolah dasar, namun ada juga yang seusia, bahkan lebih tua dari kami. Mulai bingung dengan target wawancara yang tepat untuk dimintai kisahnya, dan hari yang terus bertambah gelap, kami akhirnya menemukan Pak Kristiono, seorang tukang becak dengan becaknya sedang mangkal di daerah dekat stasiun. Namun baru saja sempat berkenalan… “Sebentar ya nak, ada sewa dulu,” ujar Pak Kristiono yang kemudian dengan sigap menyambut seorang ibu yang turun dari angkutan umum beserta dagangannya, dan kemudian meninggalkan kami berdua. Kami yang ditinggal hanya melongo saja tidak percaya. Namun dari percakapan yang sebentar tadi, kami kagum dengan keramahan Pak Kristiono. Ia langsung dengan ‘sumringah’ mengiyakan saat diminta kesediaannya untuk diajak berbincang. Pak Kristiono juga memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang informatif dan komunikatif. Begitu pentingnya kesan pertama. Dan karena itulah kami memutuskan untuk menunggunya dan berharap ia kembali. Dan benar saja! Ia kembali, dan tanpa tunggu lebih lama, kami sewa becaknya dan kami tujukan ke tempat yang tepat untuk berkisah ria.

Hujan masih turun malam itu dan kami bertiga berteduh di pinggir sebuah sekolah dasar, duduk berteduh disana, dan mendengar sekelumit kisah hidup Pak Kristiono. Tidak salah kesan pertama yang diberikan Pak Kris pada awal jupa tadi. Ia memang seorang yang ramah, supel, juga cerdas. Aku terkesan dengan kalimat pertama yang ia ucapkan. “Bapak senang bisa bantu, yang namanya orang kalau nggak bisa bantu secara materi, tapi bisa bantu dengan bantu ngomong begini kenapa nggak?” Kemudian ia bercerita sedikit tentang hidupnya. Di usia menjelang lima puluh tiga, ia masih menarik becak sebagai profesi satu-satunya. Dengan area operasi sekitar stasiun Bogor yaitu daerah Matahari, Pasar Anyar, serta Ramayana, ia bekerja tujuh hari seminggu mulai pukul Sembilan pagi hingga pukul tujuh malam. Pak kris adalah seorang perantau.

Dulu di desanya di Cilacap, ia dapat bekerja sebagai buruh tani. Di masa-masa pertanian sedang jaya, hidup di desa cukup untuk menghidupi keluarga. Namun kemudian datang masa-masa paceklik yang memaksanya untuk merantau ke Bogor. Di kota ini, ia tinggal mengontrak dengan uang sewa Rp150.000 per bulan. Becak ia dapat dengan cara menyewa. Sebuah becak ia sewa dengan harga Rp5000 per hari. Dengan penghasilan yang tidak menentu di kisaran 20 sampai 30 ribu rupiah per harinya, Pak Kris harus pintar-pintar membelanjakan uangnya. Terkadang hasil pendapatannya dalam sehari hanya mampu menutupi kebutuhannya di hari itu. Hidup, bagi Pak Kristiono, adalah perih. Ia sendiri menyebutnya seperti itu. Dalam lebih dari setengah abad hidupnya, ia hidup amat pas-pasan. Di cukup-cukupkan walau sebenarnya tidak cukup. Namun ia tetap menjalaninya dengan lapang. Ia hanya menginginkan kedua anakanya sukses. Pak Kristiono telah berhasil menamatkan sekolah anak pertamanya hingga lulus SMEA, dan sedang menyekolahkan anak keduanya di bangku kelas tiga SD.

Ia bersyukur anaknya mengerti dengan kondisi kedua orangtuanya dan turut prihatin dalam hidup. Dengan Pak Kristiono yang hanya menarik becak dan istrinya tidak bekerja, sang anak tidak pernah meminta macam-macam pada kedua orang tuanya. Selesai berbincang, kami kembali diantar Pak Kristiono ke dekat stasiun. Setelah mengucap terima kasih dan membayat sewa ongkos becak, kami pamit pulang. Kami memutuskan untuk naik kereta Ekonomi AC untuk perjalanan pulang menuju Depok.

Begitu bernilainya kata AC di depan kata ekonomi. Kata AC berarti kereta yang lebih bagus, harum, terang, dingin, pintu dapat ditutup, dan tentu ongkos lebih. Di dalam gerbong yang lengang, seorang paruh baya terlihat sedang menyapu lantai kereta yang penuh sampah berserakan. Wajahnya kuyu dengan tubuh kurus dan baju seadanya, ia tampak kedinginian. Namun ia terus menyapu, menyerok sampah dan memasukannya ke kantong sampah. Terus begitu. Dari gerbong satu hingga delapan. Bagaimana jika Tuhan membalik peruntunganku? Aku ada di posisi tukang sapu tadi, kedinginan. Atau aku menjadi anak Pak Kristiono yang harus siap menerima apa adanya. Ya Tuhan, panjang sekali perjalanan hari ini.

5 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s