Pohon Baobab di UI


Pohon Baobab diyakini mempunyai daya regenerasi tinggi. Pohon yang tumbangpun, selama masih menyentuh tanah, hampir dipastikan akan tetap hidup dan bertunas kembali (dari majalah TEMPO 22-28 Nov 2010). Lihat videonya.-

Itulah sebagian kecil keistimewaan Ki Tambleg (nama pohon Baobab) yang membuat Gumilar (Rektor UI) kesengsem. Rektor tak segan turun tangan agar Ki Tambleg hidup di UI. Sudah 7 yang direlokasi dari Subang Jawa Barat sejak September lalu. Gumilar menambahkan kandungan air Baobab bisa mencapai 70% dari berat tubuhnya. Iu belum termasuk kemampuan menyerap air sebagai sumber persediaan makanan.

idup di UI. “Pohon ini,” kata Gumilar, Selasa pekan lalu, “adalah jawaban atas ancaman terhadap keamanan pangan di masa depan.” Sehari sebelumnya, prosesi serupa digelar untuk menegakkan ki tambleg seberat 80 ton.

Kini sudah tujuh ki tambleg yang direlokasi dari Subang, Jawa Barat. Pemindahan lima pohon ki tambleg dilakukan sejak September lalu. Tak aneh jika batang-batang raksasa ki tambleg itu telah bertunas. Kelimanya bisa dilihat berdiri melingkar di halaman depan gedung rektorat. Adapun sisanya, itu tadi, di halaman belakang gedung yang sama. Proses relokasi belum selesai lantaran masih ada tiga pohon lagi yang akan dipindahkan ke UI. “Ini rekor dunia. Belum ada yang memindahkan pohon sebesar ini, apalagi hingga sepuluh,” kata Gumilar antusias.

Ukuran pohon yang direlokasi ke UI jauh dari ukuran sebenarnya saat tumbuh di Subang. Satu dari dua pohon yang ditanam terakhir mempunyai berat 135 ton, dengan tinggi 17 meter dan diameter batang 4,7 meter. Satu lagi setinggi 14 meter dan beratnya 45 ton. Tapi, untuk kelancaran pemindahan, pohon itu terpaksa dipangkas. “Setelah dipangkas, beratnya jadi 80 ton dan 35 ton dengan tinggi 12 meter,” kata Maryanto, konsultan proyek pemindahan ki tambleg.

Menurut Maryanto, ki tambleg yang dia relokasi sangat istimewa. Ki tambleg mempunyai ukuran batang yang besar dan kokoh. Batang pohonnya lunak, hampir sama dengan batang pohon kelapa. Daunnya hijau dengan lebar setara telapak tangan anak usia dini. “Kadar air dalam kayunya sangat tinggi,” kata Maryanto. Beberapa di antaranya diperkirakan berumur seratusan tahun.

Gumilar menambahkan, kandungan air baobab bisa mencapai 70 persen dari berat tubuhnya. Itu belum termasuk kemampuan menyerap air sebagai sumber persediaan makanan. Daun pohon ini dapat digunakan untuk lalap atau sayur. Kulit pohonnya dapat digunakan untuk membuat tali, bahkan pakaian. Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipergunakan sebagai obat tradisional.

Di Eropa, buah pohon baobab telah diterima luas sebagai produk alam. Dagingnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lain. “Ini pohon masa depan,” kata Gumilar.

Suatu waktu Gumilar membawa pulang buah baobab. Di rumahnya, buah yang asam itu diolah sendiri. Gumilar membuat dua hidangan: satu sup asin, satu lagi sup manis. “Yang manis saya campur kurma,” katanya. Hidangan buatannya itu dimakan ramai-ramai dengan wartawan. Hasilnya? Kedua sup itu ludes. “Istri saya sampai bilang ke mereka, �Kalian mau saja dijadikan kelinci percobaan,'” kata Gumilar berkelakar.

Pakar buah tropis, Reza Tirtawinata, pernah membawa buah baobab dari Angola, Afrika. Masyarakat setempat memang terbiasa mengolah buah yang disebut imbondeiro ini sebagai minuman segar atau campuran es krim. “Tapi nilai ekonominya tidak ada,” kata doktor dari Institut Pertanian Bogor ini. Di Angola, baobab tumbuh liar dan tidak dipelihara. Tentang kandungan nutrisi buah baobab yang luar biasa, Reza tak membantahnya.

Ide pemindahan baobab ke UI tercetus pada awal 2008. Saat itu, Gumilar sedang berada di Jerman. Satu artikel koran berbahasa Inggris membuatnya penasaran. Lebih-kurang isinya menuturkan kandungan nutrisi buah baobab. “Buah istimewa ini dijuluki superfruit,” kata Gumilar.

Pohon baobab diyakini mempunyai daya regenerasi tinggi. Pohon yang tumbang pun, selama masih menyentuh tanah, hampir dipastikan akan tetap hidup dan bertunas kembali. Salah satu buktinya dirasakan Gumilar saat pohon di depan gedung rektorat tersambar petir. “Lihat, pohon ini pernah disambar petir, tapi tetap tumbuh daunnya,” kata Gumilar seraya menunjuk pohon raksasa itu.

Pucuk dicita, baobab pun tiba. Gumilar mendapati puluhan baobab raksasa tumbuh di Subang. Dua tempat hidup baobab itu merupakan ladang tebu milik PT PG Rajawali II dan lahan milik PT Sang Hyang Seri. Setelah membahasnya bersama, kedua perusahaan bersedia menghibahkan pohon-pohon baobab kepada UI.

Lalu bagaimana baobab sampai ke Indonesia? Baobab di kawasan Subang diperkirakan ditanam pemerintah kolonial Belanda lebih dari 160 tahun lalu. Bahkan yang lebih tua dibawa para pedagang dari Timur Tengah yang menyebarkan Islam. Selain di Subang, kita bisa melihat baobab raksasa di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur, dan di Nusa Tenggara. “Jumlahnya puluhan saja,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Purwodadi Tuladi.

Peneliti Kebun Raya Purwodadi, Deden Nudiana, menyatakan baobab tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Pohon dari kerabat randu-randuan ini hanya cocok tumbuh di daerah kering atau tepatnya daerah beriklim monsun kering. “Iklim yang tidak cocok bisa membuat baobab tidak berbuah,” katanya. Setahu dia, baobab di Kebun Raya Bogor, yang ditanam berbarengan dengan di Purwodadi pada 1950-an, belum bisa menghasilkan buah lantaran pengaruh cuaca.

Tapi itu bisa berbeda dengan Depok, yang berdekatan dengan Jakarta. Gumilar mengatakan kehadiran ki tambleg di UI mempunyai peran penting. “Baobab kami gunakan untuk konservasi dan riset,” kata Gumelar. Ia yakin berbagai khasiat, fungsi, dan karakteristik baobab berpotensi menjawab masalah manusia di masa depan. Kini krisis pangan sudah di depan mata akibat isu pemanasan global, perubahan iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat. Jika dimanfaatkan, Gumilar yakin, ki tambleg akan menjadi salah satu tumpuan dalam mempersiapkan nutrisi, kalsium, bahan pangan sayuran, dan pengembangan obat-obatan herbal.

Proyek ambisius itu masih harus melalui ujian panjang. Sementara ini, kesulitan yang sudah harus dihadapi adalah semua hal yang berkaitan dengan proses pemindahan pohon-pohon itu. Satu pohon memerlukan enam hari. Selain crane, dibutuhkan truk trailer beroda 26 untuk pengangkutan dari Subang, yang menempuh jarak 135 kilometer selama 17 jam. Biayanya bisa mencapai Rp 100 juta.

Rudy Prasetyo, Ananda Badudu (Depok)

Iklan

2 responses

  1. pohon baobab emang aslinya dari afrika tapi kalo dibilang rindang seperti beringin, jawabannya tidak.. karena pohon baobab berbatang besar, sedangkan daunya relatif sedikit (tidak rimbun) tidak seperti beringin..

  2. Secara pribadi saya sangat mendukung “program UI go green” nya pak Rektor krn saya sangat suka semua yang “natural” semua yg ‘nature/alami’ ciptaan Allah swt. Btw, rasanya nama pohonnya “Baobab” spt rada ‘aneh’. Apakah tanaman ini asli dari Subang/Indonesia? Atau negara lain? (namanya spt “berbau” benua Afrika). Pohon yg ditanam di UI ini sudah usia berapa (puluh/ratus) tahun prof? Apakah tumbuhnya nanti spt pohon beringin yg rindang itu prof? Kalo iya, berarti 5 atau 10 tahun mendatang ‘lapangan’ disisi balairung UI ini sudah teduh ya prof? Bisa dibuat jadi taman santai yg sejuk ya prof? Very exited! Bravo UI go green and green!!

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s