Bina Insan Mandiri


Oleh: Fajardo Yoshia

Perjalanan kali ini dilaksanakan pada hari minggu, 3 Oktober 2010. Ada sebuah misi yang kami bawa dalam perjalanan ini, yaitu mewawancarai kaum-kaum marjinal yang ada di sudut kemewahan kota. Wawancara ini  merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam  mata kuliah Etika Engineering. Dalam menjalankan tugas ini, saya bersama dengan partner saya, Iksan, akan mencoba mewawancarai kaum tersebut.

Pada awalnya kami berniat untuk mewawancarai anak-anak jalanan ataupun pengemis yang ada di stasiun kereta api atau di dalam kereta api. Namun, pada hari itu kami tidak melihat adanya pengemis dan anak jalanan yang ada di stasiun. Ditambah lagi hujan deras yang mengguyur stasiun Pondok Cina, menghambat perjalanan kami. Kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat-tempat yang boleh dibilang kumuh yang ada di tengah kota ini. Terbesit di pikiran kami untuk bergerak menuju Stasiun Depok Baru, dengan asumsi adanya perkampungan kumuh di sekitar stasiun tersebut. Dengan menggunakan kereta ekonomi, kami bergerak menuju Stasiun Depok Baru.

Akhirnya kami sampai di Stasiun Depok Baru. Benar saja, saat kami berada di di gerbang Stasiun tersebut, terdapat dua pemandangan yang sangat bertolak belakang. Saat kami menoleh ke kanan, berdiri sebuah pusat perbelanjaan ITC Depok. Namun, saat kami menoleh ke kiri, terlihat  atap-atap  rumah yang bertumpukan dan terlihat sangat kumuh. Kami masuk ke dalam perkampungan tersebut dengan informasi bahwa di dalam perkampungan tersebut terdapat sebuah panti asuhan. Menurut informasi yang kami peroleh, panti asuhan itu terletak di dekat Mesjid di belakan Terminal Depok Baru. Kami berjalan menyusuri terminal dan lorong-lorong yang becek.

Akhirnya kami sampai pada sebuah Mesjid di belakang terminal tersebut. Namun kami tidak melihat adanya panti asuhan. Kami terus bergerak menyusuri gang-gang yang ada dan bertanya kepada orang-orang sekitar. Di sepanjang gang, banyak terdapat gerobak-gerobak pemulung dan rumah-rumah semi permanen. Kami mencoba mencari pemilik dari gerobak-gerobak tersebut namun kami gagal mendapatkannya. Kami mengetuk pintu sebuah rumah dan bertanya kepada penghuninya tentang keberadaan panti asuhan di lingkungan tersebut. Penghuni rumah tersebut menunjukkan kami jalan menuju panti asuhan tersebut. Akhirnya kami sampai di panti asuhan tersebut. Panti asuhan tersebut bernama Yayasan Bina Insan Mandiri. Saat kami berada di depan ruangan tata usaha yayasan tersebut, kami melihat seorang anak, tertidur, merengek kesakitan karena di kakinya terdapat luka yang belum sembuh. Kami mencoba berkomunikasi dengan anak tersebut, namun sayang sekali, anak tersebut tidak dapat berbicara. Kemudian keluarlah seseorang dari ruangan tata usaha yayasan tersebut. Dia bertanya kepada kami tentang maksud dan tujuan kami datang ke tempat tersebut. Kemudian kami menyampaikan bahwa kami ingin mewawancarai pengelola dari yayasan tersebut. Ia memanggil seorang temannya dan kemudian mengajak kami ke sebuah ruangan. Di tempat itulah kami mewawancarai pengelola yayasan tersebut. Berikut adalah data-data yang kami dapatkan dari hasil wawancara yang kami lakukan.

Beliau adalah Bapak Sadawah. Usia beliau adalah 24 tahun. Beliau merupakan salah satu staf pengajar di yayasan tersebut. Yayasan tersebut bernama Yayasan Bina Insan Mandiri, yang beralamat di Jl. Margonda Raya No. 58, Terminal Depok. Yayasan tersebut berdiri pada tahun 2000, melalui ide dan pemikiran 3 orang yang peduli dengan melihat adanya anak jalanan yang terlantar. Dengan modal yang mereka miliki, mereka sepakat mendirikan sebuh yayasan yang menampung anak-anak jalanan dan memberikan mereka pendidikan dan keterampilan. Awalnya, yayasan ini mendidik 3 orang anak jalanan. Namun, yayasan yang mereka dirikan tersebut mendapatkan respon negative dari masyarakat sekitar. Masyarakat beranggapan bahwa yayasan tersebut adalah tempat anak-anak berandalan, tempat berjudi dan mabok-mabokan. Karena respon tersebut, akhirnya aktifitas di yayasan ini berlangsung secara sembunyi-sembinyi. Walaupun terkesan sembunyi-sembunyi, yayasan ini semakin berkembang dan memiliki banyak anak didik. Karena perkembangan tersebut, dengan susah payah, akhirnya yayasan ini memperoleh pengakuan dari masyarakat. Yayasan ini disahkan oleh pemerintah setempat pada awal tahun 2005 dan mendapatkan dukungan dari Depdiknas. Sampai sekarang, yayasan ini telah berhasil mendidik puluhan anak jalanan dan beberapa dari mereka telah menjadi orang sukses dan memiliki mata pencaharian yang cukup baik. Sumber dana untuk menjalankan panti asuhan ini berasal dari salah satu partai besar di Indonesia. Selain itu, yayasan ini memperoleh sumber dana dari para alumni yang telah berhasil berkat adanya yayasan ini. Terdapat empat orang alumni yang telah bekerja sebagai polisi di Singapura. Merekalah yang menyumbangkan sebagian pendapatan mereka untuk keberlangsungan pendidikan di yayasan ini. Yayasan ini tidak membebankan biaya sedikitpun kepada anak didik atau dengan kata lain pendidikan di yayasan ini gratis.

Pada tahun 2010, yayasan ini tengah mengasuh 50 anak didik. Banyak di antara mereka adalah pengamen-pengamen kreatif  yang seringkali terlihat beroperasi di sepanjang jalan Margonda. Banyak dari antara mereka tidak memiliki orang tua, dibuang sejak mereka dilahirkan, bahkan kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan orang tua mereka dan merasa tidak diperhatikan. Selain itu, beberapa dari mereka berasal dari keluarga yang broken home.

Aktifitas di yayasan ini anara lain :

1.      Pendidikan Usia Dini

2.      Paket A setara SD

3.      Paket B setara SMP

4.      Paket C setara SMA

5.      Keaksaraan fungsional

6.      Kursus jahit, computer dan percetakan.

Selain bidang pendidikan, yayasan ini juga menyelenggarakan pelayanan di bidang sosial, dan kesehatan. Yayasan ini pernah menyelenggarakan sunatan masal dan pengobatan gratis untuk warga kurang mampu. Yayasan ini pernah mengadakan ujian akhir di dalam penjara, bagi orang-orang yang dalam masa pendidikannya di bangku sekolah terbentur masalah kriminalitas yang mengharuskan mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan dan terbelengu di balik jeruji besi. Setelah mereka bebas dari penjara, mereka telah memiliki ijasah karena telah mengikuti ujian yang diselenggarakan yayasan tersebut. Selain  itu, yayasan ini melatih anak didik mereka untuk melukis dan bermain musik. Salah satu wujud kreatifitas mereka adalah mereka memiliki grup music kresek, yaitu grup music dimana alat music yang mereka mainkan berasal dari barang-barang bekas, seperti : ember bekas, botol air mineral bekas, panci, gallon, dan lain-lain. Grup music ini lazimnya saat ini disebut music bengkel. Dalam waktu dekat, yayasan ini juga akan membuka pelayanan pemakaman jenazah.

Pendidikan di yayasan ini biasanya dilaksanakan pada malam hari, 3 kali dalam seminggu, dan setiap sesinya berlangsung sekitar 2 jam. Hapir seluruh anak didik di yayasan ini bekerja pada siang hari, sehingga kegiatan belajar baru dapat dilaksanakan malam hari. Tenaga pengajar di yayasan ini adalah para alumni dari yayasan ini dan juga anak didik yang duduk di bangku kuliah dan dibiyayai oleh yayasan ini. Mereka tersebar di Poltek UI, Universitas Triananda, dan Universitas Indonesia. Merekalah yang menjadi tenaga pengajar di yayasan ini.

kamar di Yayasan Bina Insan Mandiri

 

 

 

 

 

 

 

 

Prestasi yang pernah ditoreh oleh anak-anak didik di yayasan ini, antara lain :

1.      Juara Pertama Olimpiade paket A pada tahun 2006.

2.      Juara Kedua lomba music kresek se-Jakarta.

3.      Pada tahun ini, dikirimkan 12 orang perwakilan untuk mengikuti olimpiade matematika di Senayan.

Kendala yang dialami oleh yayasan ini adalah:

1.      Kurangnya fasilitas berupa buku-buku pelajaran.

2.      Kurangnya fasilitas computer untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan mengakses internet.

3.      Minimnya sarana dan prasarana pendidikan, seperti tempat belajar dan juga ruang kelas.

Kendala-kendala tersebut sudah sedikit terpecahkan dengan adanya sumbangan Depniknas berupa dua buah container yang saat ini digunakan sebagai ruang kelas dan lab computer, dimana computer tersebut juga merupakan sumbangan. Namun, kondisi lab computer yang mereka miliki belum optimal untuk mendukung kegiatan belajar mengajar mereka.

Solusi yang terbesit di benak saya adalah mencoba masuk dan membantu dalam penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat. Masyarakat harus disadarkan dengan konsep “jangan membuat manusia baru jika belum siap untuk menghidupi manusia baru tersebut”. Seperti yang telah dipaparkan di atas, banyak dari anak didik di yayasan ini berasal dari anak yang dibuang orangtuanya dan kabur dari orangtuanya karena tidak mendapatkan kasih sayang yang layak. Orangtua harus memikirkan kehidupan anaknya dan kesiapan mereka untuk mempunyai dan menghidupi anak-anak mereka. Melalui penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat berfikir terlebih dahulu saat mereka ingin mempunyai seorang anak, tentang beratnya memiliki seorang anak, dan tanggung jawab mereka menghidupi anak mereka. Dengan penyuluhan ini diharapkan akan mengurangi angka anak terlantar dan anak jalanan. Selain itu, untuk menunjang pendidikan di yayasan ini, saya memiliki solusi untuk menyalurkan buku-buku pelajaran ke yayasan ini. Mungkin dengan mengadakan acara pengumpulan buku-buku bekas saat diakhir masa tahun ajaran SD, SMP, dan SMA. Buku-buku yang telah terkumpulkan dapat disumbangkan ke yayasan ini.

Demikianlah uraian perjalanan kami mewawancarai salah satu yayasan yang membina anak-anak jalanan, suatu yayasan yang tidak pernah dipandang, terpencil, terasing, namun terbukti berhasil membina ujung tombak bangsa yaitu anak-anak muda dengan pendidikan yang selayaknya.

Iklan

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s