Sekolah Luarbiasa


Sekolah Indonesia Yang Masuk Keajaiban Dunia

Sekolah yang didirikan oleh Ahmad Bahrudin ini pernah mendapatkan penghargaan khusus dari Prof Kenji saga Kenji Saga dari NICT Jepang yang menjadi salah satu peneliti Pendidikan APT (Asia Pacific Telecommunity).
Bahkan sekolah ini disejajarkan dengan Kampung Issy Les Moulineaux di Perancis, Kecamatan Mitaka di Jepang dan Lima komunitas lain di dunia yang
dipandang sebagai TUJUH KEAJAIBAN DUNIA. Yang paling penting dari sekolah ini adalah Kurikulumnya yang mengedapankan pengajaran Multiple
Intellegences.
Dari milis Ristek.-
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Biografi Sekolah:

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening

FINA Afidatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak
orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga
kilometer perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo,
Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan
sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal
kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi
Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja.
Setiap pagi berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah
menjuarai penulisan artikel on line di kotanya. Ia juga berbakat dalam
olah vocal meski ia mengatakan tidak ingin menjadi seorang penyanyi.

“Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal,
cita-citaku banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis,
pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak lagi.. Aku juga ingin berkeliling
dunia,” kata Fina.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka,
sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung
orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan
tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah sangat mencintai dan
bangga dengan sekolahnya.

Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan
tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah
tersebut sehingga setelah makan siang mereka biasanya kembali lagi ke
sekolah. Mereka belajar sambil bermain di sekolahnya sampai malam, bahkan
tak jarang mereka menginap di sekolah.

Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya.
Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa
otoriter di kelas, tetapi teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan
gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata bahasa yang hanya pantas untuk
berbicara informal dengan kawan akrab.

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal
matematika dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil
bersenandung, yang lain bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di
taman kanak-kanak pun kini makin langka karena mereka dipaksa oleh gurunya
untuk membaca dan menulis.

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan
di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun
2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan
tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik
dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP
negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp
35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya
mencapai ratusan ribu rupiah.

“Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?”
tuturnya. Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya
kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana
jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari
30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke
sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga
memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

“Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak
berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting
mereka bisa bersekolah,” kata Bahruddin.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan
tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui
sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan
mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format
SMP Terbuka. Akan tetapi, ia mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar
sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya
secara serius.

Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya
digunakan untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru
yang mengajar sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri
dan sebagian besar di antaranya para aktivis petani.

Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di
pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha
internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal
seadanya sekolah itu berjalan.

Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
tidak perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah
Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya,
terutama untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri
dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah
itu juga mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat
provinsi, dikirim mewakili Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan
Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai
rata-rata mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai
8,86.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah
bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup
musik Suara Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars
dan himne sekolah dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia bisa
didengarkan ketika membuka alamat situs sekolah
http://www.pendidikansalatiga.net/ qaryah. Grup musik anak-anak desa kecil itu
telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun
video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus
untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi
keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki
sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan
Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya.
Semua itu tidak digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan mengelola
uang saku bersama-sama sebesar Rp 3.000 yang diterima anak dari
orangtuanya setiap hari. Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk
mengangsur pembelian komputer. Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan
makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk
ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan
murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya.

Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan
sekolah itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil mereka mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di
sekolah-sekolah yang dikelola dengan logika dagang.

Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di
Salatiga dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan
seragam. Tidak ada seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki
selain anaknya, Emi Zubaiti (13). Kini Emi menjadi seorang anak yang
pandai dalam berbagai mata pelajaran, pintar bernyanyi, dan percaya diri.
Ia tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang
reparasi sofa dan bakul jamu gendong, mendapat sekolah yang baik.

Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya. Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. Tidak pernah terpikir, saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah
bisa ikut menikmati, kata Ismanto.

Siswanya mendapat penghargaan Indonesia Creative Award 2006 dari Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi lewat karya tulis Haruskah
UN Di Hapus??

Disekolah ini, siswa diperbolehkan memilih ikut UN atau tidak ada yang dijadikan standar keberhasilan siswa di sekolah ini adalah pembuatan proyek disertasi di akhir sekolahnya.

Sumber : http://kask.us/3991378 oleh sayapjuang
http://kaskusnews.us/2010/05/28/ini-dia-sekolah-indonesia-yang-masuk-keajaiban-dunia/

2 responses

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s