Technopreneurship Entrepreneurship

Teknopreneurship Entrepreneurship, oleh Mario Melsadakh.-
Kuliah Teknopreneurship pada tanggal 3 Oktober 2012 bertopik tentang paradigma baru pembelajaran masa kini serta keberanian, tahan banting, risk taker, dan added value dalam kaitannya ke beberapa strategi untuk menjadi seorang teknopreneur.
Dewasa ini, paradigma pembelajaran telah banyak berubah, mulai dari tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, pertanyaan dalam pembelajaran, proses berpikir, dan evaluasi pembelajaran. Dari sisi tujuan pembelajaran, para peserta pembelajaran, yaitu mahasiswa, diminta untuk menemukan ilmu yang baru, dibandingkan dengan masa lalu, di mana peserta pembelajaran hanya diminta untuk menguasai ilmu yang dipelajarinya.
Pada sisi proses pembelajaran, dahulu, mahasiswa hanya diminta untuk mendengarkan dosen menjelaskan di kelas, sehingga peran mahasiswa hanya sebagai peserta pasif. Namun sekarang, mahasiswa sebagai peserta belajar diminta untuk berperan aktif, seperti dalam kegiatan diskusi, presentasi, dan sebagainya, sehingga mahasiswa tidak hanya bersikap pasif. Pusat pembelajaran bukan lagi terletak pada dosen/ guru (teacher centered), melainkan terletak pada murid/ mahasiswa (student/pupil centered). Dengan aktifnya murid, diharapkan tujuan pembelajaran yang baru, yaitu melahirkan ilmu, dapat tercapai.

Pusat topik bahasan juga berubah dalam pembelajaran yang baru. Dulu, pertanyaan yang diajukan di kelas hanya seputar apa, siapa, dimana, dan bagaimana. Pertanyaan yang demikian tidak buruk, melainkan tujuannya hanya sebatas pada pemahaman akan ilmu yang dipelajari. Namun, pada metode pembelajaran yang lebih baru, pertanyaan-pertanyaan tersebut diganti menjadi bagaimana kalau (“what if”). Pertanyaan tersebut bersifat mengkritisi terhadap ilmu yang sedang dipelajari, sehingga pengaplikasiannya dapat relevan pada masa kini, seputar kondisi apa yang dihadapi untuk menerapkan ilmu tersebut. Oleh karena itu, pola berpikir peserta didik diharapkan dapat menjadi lebih kritis.

Proses berpikir peserta didik juga diubah dalam paradigma pembelajaran yang baru. Kalau dulu, peserta didik hanya diminta untuk menghapal, mengerti, dan mengetahui apa yang dipelajarinya, sekarang, peserta didik diminta untuk berpikir kreatif, inovatif, dan imaginatif. Sebagaimana proses pembelajaran ada, maka akan terdapat pula evaluasi keberhasilan proses belajar tersebut. Paradigma yang lama, hanya menekankan evaluasi pembelajaran pada pertanyaan benar-salah, dan pilihan ganda. Akan tetapi, dengan metode yang demikian, kemungkinan jawaban hanya tertutup pada pertanyaan. Dengan cara ini, para peserta didik kurang dapat menunjukkan seberapa jauh ia telah mengembangkan hasil pembelajarannya, dan faktor-faktor seperti peluang menjawab soal ada, sehingga beberapa orang hanya bergantung pada “keberuntungannya” dalam menjawab soal. Namun kini, dengan metode yang baru, kemungkinan jawaban bervariasi, dan muncul pula pertanyaan-pertanyaan essay. Dengan demikian, guru/dosen dapat melihat dengan jelas seberapa jauh pemahaman yang dimiliki oleh murid/mahasiswa tersebut pada konsep-konsep yang telah dipelajari.
Topik lain yang disampaikan pada kuliah yang lalu adalah seputar keunggulan intelektual (keterpelajaran). Adapun keunggulan-keunggulan tersebut adalah integritas, percaya pada nalar, empati, kemerdekaan/ kemandirian, keberanian, rendah hati, rasa keadilan, dan tahan deraan. Tujuh sifat pertama memang sudah selayaknya ada pada diri kaum terpelajar, akan tetapi sifat “tahan deraan” adalah sangat unik. Dalam bahasa yang lebih akrab, dapat pula disebut “tahan banting”. Maksud dari tahan banting adalah kemampuan seseorang untuk tangguh dalam menghadapi tantangan di dalam perjalanannya. Dalam perjalanan untuk mencapai kesuksesan, seseorang mungkin akan gagal beberapa kali dalam mencoba. Dalam hal inilah, kaum terpelajar diminta untuk tidak berhenti berusaha, melainkan tetap teguh berjuang sampai mencapai tujuannya, yaitu kesuksesan. Terkait dalam hal itu adalah keberanian seseorang untuk memulai hal yang baru.

Bapak Raldi menjelaskan bahwa Bapak Arief Rahman sangat pantas untuk menyampaikan bahasan tentang keberanian, karena Bapak Arief Rahman sendiri adalah orang yang berani dan pemaaf; misalnya, beliau  mengunjungi Bapak Soeharto sewaktu sakit, meskipun dirinya sendiri telah beberapa kali dipenjara pada masa Orde Baru tapi diakhir masa Suharto beliau menjadi guru bagi cucu2nya..
Dalam kaitannya dengan keberanian, kaum terpelajar diminta untuk lebih berani untuk memulai hal-hal yang baru, yaitu usaha-usaha baru, yang sekiranya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Setiap usaha baru, pasti memiliki kendala-kendala tersendiri dan resiko akan kegagalan. Namun hal itu seharusnya bukan menjadi penghalang bagi kita untuk memulai usaha tersebut, melainkan harusnya menjadi pemicu bagi kita untuk berusaha lebih giat lagi. Sebagai calon teknopreneur yang akan membuka usaha baru di mada mendatang, kita harus berani mengambil resiko (risk taker) dan jangan hanya berdiam di zona nyaman (comfort zone) saja. Selain itu, untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik, terdapat juga beberapa watak yang perlu dikembangkan, seperti bertaqwa, fleksibel, keterbukaan, ketegasan, berencana, mandiri, toleransi, disiplin, berani ambil resiko, sportif, setia kawan, integritas, serta orientasi masa depan-penyelesaian tugas.
Untuk menjadi teknopreneur, tentu saja terdapat beberapa tantangan, khususnya dalam menjual produk-produk yang dibuat. Teknologi yang semakin maju seolah-olah membuat semua produk yang dapat diciptakan telah diciptakan. Belum lagi terdapat beberapa saingan dari produsen-produsen yang sudah lama menguasai pasar. Sebut saja negara Cina, yang produk-produknya telah banyak menguasai pasar, karena harga produk mereka relatif lebih murah dan diproduksi secara masal. Akan tetapi, sebagai seorang teknopreneur, kita harus memiliki strategi baru dalam menghadapi hal-hal tersebut. Kita harus menambah nilai-nilai yang baru pada produk yang akan kita jual, sehingga produk kita menjadi unik, orang-orang akan tertarik pada produk kita, serta memiliki nilai jual di pasar. Nilai tersebut adalah added value. Untuk dapat menghasilkan added value tersebut, kita harus berpikir lebih kreatif dan inovatif lagi, sehingga kita dapat melihat setiap hal yang dapat menjadi celah baru untuk dikembangkan dari setiap produk yang ada.
Kuliah kali ini, menurut saya, sangat bermanfaat, karena bersifat menyemangati para mahasiswa kelas teknopreneur untuk menjadi teknopreneur. Hal yang membuat saya tertarik adalah pembahasan tentang keberanian dan risk taker. Untuk membuka usaha yang baru, memang kita harus berani mengambil resiko, karena sejatinya, resiko itu pasti ada, meskipun kita berdiam diri. Oleh karena itu, kita tidak boleh takut untuk memulai sesuatu yang baru, seperti menciptakan produk-produk yang baru – menjadi seorang teknopreneur.