TPB AND THE CHANGCUTERS (Sarlito)

Ini ada sedikit refleksi saya ketika main bersama Changcutters di Indosiar. Silakan difwd ke siapa-siapa yang mungkin tertarik.

JAN 11 2009 TPB & CHANGCHUTTERS

TPB AND THE CHANGCUTERS

Oleh:  Sarlito Wirawan Sarwono (Prof. Dr.).-

Waktu mbak Yayi (manajer TPB) sms saya bahwa TPB (“The Professors” Band) diminta main di Indosiar, saya biasa-biasa saja. Ini bukan pertama kalinya TPB muncul di TV.

Seingat saya TPB pernah main di TVRI (Kampanye Dialogis UI, 2004), Global TV dan Metro TV. Bahkan yang lebih heboh dari masuk tivipun sudah pernah: ikut JakJazz dan JavaJazz (2006 & 2007), malah sudah dapat Rekor Muri (Desember 2008). Karena itu,saya santai saja dengar undangan Indosiar ini.

Tetapi TPB tetap harus latihan, karena buat saya TPB harus selalu tampil prima. Padahal mas Harry Wisnu, instruktur TPB, masih berlibur ke Bali dengan keluarganya. Maklum pemberitahuan pas di tahun baru. Jadi HW saya sms, gak mau tahu…harus pulang. Tetapi dia gak punya duit untuk pulang duluan, karena dia naik mobil bareng keluarga. Jadi mbak Yayi dan saya cari akal, pokoknya kirim duit, HW bisa beli tiket pesawat dan tanggal 3 Januari 2009 sudah sampai Jakarta.

Rencananya HW akan tulis partitur sekaligus rekam lagu-lagu yang akan dimainkan. Dia rekam suara saxophone dan vokal yang masing-masing dipecah jadi tiga suara. Maksudnya supaya masing-masing bisa dengerin dulu CD-nya sambil latihan.

Maka tanggal 3 Januari malam, saya ke rumah HW. Malam-malam sekitar jam 21. Eeeh..bener, dia lagi ngerekam bersama juru rekam audio kita, namanya mas Lily. Rumahnya sepi, karena semua masih di Bali. HW rekam satu-per-satu lagu, mulai dari pengiring (combo dengan menggunakan mesin K-Board), brass dan vokal. Pekerjaan sangat berat, karena banyak sekali dan harus siap malam itu juga, karena besok sore (tanggal 4 Jan, Minggu sore) kami akan latihan.

Lagu-lagunya sudah ditentukan oleh Indosiar: Dua lagu rock dari TPB sendiri dan satu lagunya Changcutters, “I Love U Bibeh” (maksudnya “Baby”, tetapi sengaja dinorak-norakin), karena TPB mau dikolaborasi dengan Changcutters. Salah satu lagu TPB sendiri adalah ‘I Saw U Standing There” (The Beatles) yang akan dinanyikan oleh Prof Iam (Ikhramsyah) yang dokter spesialis kebidanan (pakar alat vital wanita).

Selain lagu ini sudah kami hafal, karena sudah pernah masuk album TPB, juga Prof Iam ini, kalau sedang menghadapi publik musik rock, gayanya bisa menggebrak publik sehingga semua bisa disuruh goyang. Beda bener dengan kalau sedang menghadapi alat vital wanita, tampangnya serius banget. Gak ada senyumnya sama sekali, karena alat vital memang gak bisa diajak tersenyum.

Lagu yang satu lagi adalah “Save the last dance for me”. Lagu ini sudah berkali-kali mau ditampilkan, partiturnya sudah sering dilatih, tetapi memang selalu batal dibawakan, entah kenapa. Tetapi, buat saya yang main saxophone, partiturnya memang agak rumit untuk dimainkan. Lagunya pun gak gampang untuk dinyanyikan, apalagi dalam trio (tiga suara). Tetapi sudahlah… hitung-hitung penghangatan memori tentang lagu itu.

Nah, yang bikin mabok adalah lagunya the Changcutters itu. Saya pikir lagu itu gampang banget, karena saya sudah sering dengar “I Love U Bibeh”. Tetapi yang saya mainkan, kan bukan lagunya, melainkan iringan dan interlude saxophonenya. Nah… ini yang ternyata sulit. Tanggal 3 malam itu, saya coba-coba ikuti mas Harry sambil dia rekaman… walaah.. sulitnyaaa… banyak break dan singkupnya. “Secara” notnya juga belum hafal, dan lagunya (iringan) baru dengar itu. Dasar amatir. Kalau profesional, kan begitu dikasih partitur, baca, langsung bunyi. Sekali dua kali latihan, jadi!

Saya mah, enggak. Lebih baik malam itu pulang saja dulu, dan mas HW terus merekam dengan mas Lily sampai pagi. Jam 11 hari Minggu saya ketemuan dengan HW di PIM II untuk menerima CD itu dan dari PIM saya langsung pulang ke rumah. Di rumah saya langsung nyebul (latihan saxophone, maksudnya).

Sorenya, waktu latihan, saya belum hafal juga. Padahal malam itu sudah direkam oleh Indosiar untuk promo. Untung yang disiarkan untuk promo adalah “I saw U standing There” yang memang kami sudah hafal di luar kepala.

***

Latihan tanggal 4 Januari 2009 diliput oleh Indosiar. Kamera-kamera beredar terus sementara kami berlatih. Profesor-profesor yang hadir diminta berkumpul untuk diambil gambarnya bersama-sama untuk promo. Di situlah untuk pertama kalinya ditentukan bahwa yang akan menjadi “Trias” (membawakan “I Love U Bibeh”) adalah Prof. Raldi, guru besar mesin dari Fakultas Teknik yang biasanya main fluite atau gitar. Ternyata Raldi ini suaranya bisa teriak seperti Changcutters, dan gayanya bisa lebih gila dari Trias.

Latihan hari pertama masih jauh dari harapan. Terutama saya, masih belum hafal-hafal juga partitur “I Love you Bibeh”. Terutama dalam fingering skill-nya, masih tersendat terus. “Secara” (ini istilah norak anak gaul, ternyata enak juga dipakai, ya) lagunya kan cepat, jari-jemari juga harus bergerak cepat, sambil teknik mengambil nafas juga harus pada saat yang tepat kalau gak ingin kehabisan nafas.

Jadi kami menentukan latihan lagi hari Rabu tanggal 8 Januari. Malam, setelah kantor. Saya latihan lagi di rumah. Mbak Yayi (saxophonist ketiga), sampai memerlukan les privat di rumah mas Harry.

Latihan hari Rabu, Pak Rektor (Prof Gumilar) dan istrinya, Bu Nenden datang. Prof Gumilar sebenarnya bukan penyanyi (yang penyanyi Bu Nenden, isterinya). Tetapi sejak MURI, beliau saya pasang (biar profesornya pas 10 orang) dan saya umumkan sebagai penyanyi. Maka sekarang dia harus nyanyi. Maka mas HW dan Prof Raldi memberi kursus kilat nyanyi “I Love U Bibeh” kepada Rektor. Awalnya gak hafal-hafal, kecuali bagian Luna Maya dan Britney Spearsnya. Tetapi lama-kelamaan hafal juga. Malah koreografinya dia bisa ngikutin Prof Raldi yang loncat sana-loncat sini.

Penyanyi wanitanya trio: Bu Nenden, Astrid (anaknya Sarlito, yang dulu ex-dosen psikologi UI) dan Maya (mahasiswa FISIP Antrop, anaknya HW, menggantikan mbak Een, ibunya/isterinya HW yang malam itu gak bisa datang). Mereka menyanyikan “Save the last dance for me” (featuring) dan menjadi backing vocal buat Prof Iam dan Prof Raldi + Prof Gumilar.

Masalahnya, koreografi mereka bertiga harus kompak sehingga enak ditonton. Gak boleh tabrakan seperti gaya Changcuters. Untuk itu didatangkan pelatih koreo dari Batavia Dance Group, namanya Ryan, BPM (bukan gelar akademik (bachelor in Pakar menari”, tetapi singkatan “Belum Pernah Mutilasi”). Ternyata koreografi ini cukup merepotkan buat penyanyi. Hafal lagunya, gerakannya tabrakan. Gerakan betul, nyanyinya lupa…hahaha… dasar amatir.

Latihan berikutnya adalah hari Jumat malam. Langsung di Studio 1 Indosiar. Istilahnya check sound, nyatanya ya latihan penuh. Pemain juga lengkap: Saya sendiri (psikologi, saxophone), Prof Safri (Dekan FHUI, gitar), Prof. Goti Triatno (Guru besar arsitek, gitar), Prof. Raldi Artono  (Teknik Mesin, gitar + vocal), Prof. Paulus Wirotomo (Sosiologi, drums), Prof. Iam (Kedoteran, vocal), Prof. Gumilar (Rektor/sosiologi, vocal). Semuanya 7 orang professor. Seharusnya ada Prof. Ronny Nitibaskara (Kriminologi, gitar), sayang beliau berhalangan dan pada hari H-nya pun beliau tidak tampil (walau sudah sempat bergaya di promo).

Yang non-profesor adalah: , HW alias Harry Wisnu (pelatih, saxophone), Yayi Paulus (isterinya Prof Paulus, manajer, alumni FISIP, saxophone), Iyan (mahasiswa FT, K-board), Nanta (alumni FT, bapaknya Iyan, Bass), Nenden (isterinya Rektor, vocal), Een (isterinya HW, pelatih vocal, vocal) dan Maya lagi (kali ini nggantiin Astrid yang berhalangan).

Untuk tiga lagu itu, kami berlatih hampir dua jam (jam 20-22), karena masih salah-salah dan koreografi para penyanyi masih tabrak-tabrakan. Beberapa crew sudah mulai capek dan putus asa. Tetapi mbak Rina yang mewakili Indosiar untuk group TPB terus memberi semangat. Kami sendiri sudah mencapai point of no returns, sebab promosi yang setiap hari di Indosiar, menyebabkan setiap kami (terutama yang para professor) ditanya oleh semua kawan masing-masing dan ditagih janji untuk main bagus pada hari H nanti. Kami jadi stress, sampai-sampai Bu Rina bolak-balik tanya, “Mana senyumnyaaa…” Mana bisa kami tersenyum kalau serba takut salah…?

Akhirnya tim vocal memutuskan untuk berlatih lagi hari Sabtunya, tanggal 10 Januari, pagi di rumah Rektor. Setelah berlatih dan berlatih, Astrid menyerah. Dia memang penyanyi dengan warna suara yang jazzy, tetapi bukan penari, melainkan olahragawan (squash dan yoga). Gerakan squash memang nabrak-nabrak, sedangkan Yoga sama sekali gak bergerak, jadi gak ada yang kompatibel dengan koreografi yang membutuhkan harmoni dalam gerak. Jadinya komposisi akhir penyanyi adalah Nenden, Een dan Maya.

Ibu dan anak tampil bersama, tetapi gak ada yang nyangka bahwa Een mamanya Maya, karena fisiknya masih…. Aduhaiii.. walaupun anaknya sudah 6 (kalau termasuk mas Harrynya ya … tujuh).

***

Akhirnya datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Hari Minggu, 11 Januari 2009. Ulang Tahun Indosiar ke 14. Para awak TPB (dan seluruh penampil) disuruh datang jam 15.00, karena sesudah itu pintu ke gang di depan Indosiar akan ditutup. Gerbang utama Indosiar sudah disulap jadi panggung. Dan ternyata di sekitar Indosiar sudah dibangun banyak panggung (saya dengar ada 7 panggung), di mana para bintang akan bermain bergantian di panggung yang berbeda-beda, sambil panggung yang sudah dipakai disiapkan untuk acara yang berikutnya dipanggung itu lagi.

Saya tidak hafal band apa saja yang muncul malam itu. Yang saya tahu selain Changcutters ada Ungu, Peter Pan dan entah apa lagi, dan grup anak-anak penyandang cacat yang membawakan acara tari dan nyanyi (termasuk “Laskar pelangi”) yang mengharukan (karena dibawakan oleh anak-anak tuna rungu, tuna netra, atau yang duduk di kursi roda).

Saya sendiri sudah hadir jam 14.00. Hujan lebat sekali. Turun dari mobil saya sudah ditunggu oleh Ulfa. L.O. (Liaison Officer/penghubung) untuk TPB. Dia siap dengan payung-payung besar untuk mengamankan saya dan saxophone saya dari hujan. Tetapi yang diamankan di atas (air hujan), yang lupa diamankan yang di bawah (ada teralis pendek di bawah panggung). Seharusnya saya melangkahi teralis itu, tetapi karena gak dikasih tahu, saya tersandung, maka terpuruklah saya (maksudnya: jatuh tengkurep gitu loh!). Fisik sih gak apa-apa, tetapi psikis terluka hebat…hahaha… maluuu.. tahu… diliatin orang banyak, seorang professor konduang jatuh tersungkur. Ulfa berteriak-teriak minta tolong dan seorang Satpam segera membantu dan saya cepat diamankan ke kubikel (bilik darurat) yang khusus disediakan untuk TPB di Studio 2 (pas di samping studio 1).

Sambil bersih-bersih baju, saya mengamati keadaan sekitar (dasar pengamat sosial, kan?). Rupanya Studio dua sudah disulap dengan membangun sekat-sekat sehingga terdiri dari bilik-bilik kecil (kubikel) untuk masing-masing artis, kecuali bagian tengah studio yang dibiarkan terbuka dengan banyak kursi. Kubikel kami cukup OK.

Rupanya dipersiapkan dengan matang. Ada beberapa kursi, dan satu meja rias, dan dua bilik kecil bertutup tirai kain untuk berganti pakaian dan sholat. Kepada TPB ditugasi seorang juru rias khusus (katanya beliau dosen IKJ Jurusan Tata-rias). Kotak-kotak makan siang dan dos-dos Aqua sudah tertumpuk di sudut kubikel agar setiap yang kelaparan atau kehausan tidak usah mencari makan minuman ke luar.

Tetapi kubikel kami segera penuh. Karena setiap anggota TPB yang datang membawa pasukan (anak, isteri, pacar, supporter, asisten tukang angkut tas dsb). Saya lihat-lihat, mungkin hanya saya sendiri yang datang sendirian. Supir saya, Yunus, saya suruh nunggu jauh-jauh di lapangan parkir (dia bisa nonton dengan nyaman dari layar raksasa yang dipasang di luar Indosiar).

Karena kubikel penuh, maka sebagian dari anggota duduk di luar. Nah, kebetulan sekali kubikel kami bertetangga dengan kubikelnya Dewi Persik (gabung dengan Tia AFI) dan Mulan Jamilah. Dan penutup kubikel hanya tirai dari kain putih tipis yang sealu berkibar setiap ada yang lalu lalang dekatnya (terhembus angin malam kaliii…). Akibatnya nampaklah barang sedikit anekdot-anekdot yang terjadi di dalam  kubikel-kubikel jiran itu.

Saya sendiri duduk di dalam kubikel sambil ngobrol dengan Rektor dan Prof Iam  mengenai masa depan UI (kedua prof ini malam itu alim, karena dua-dua ada  isterinya). Tetapi yang sering duduk di luar adalah Prof Paulus. Beliau ini, walaupun ada isterinya, nakalnya bukan alang kepalang. Setiap kali setelah beliau  melihat sesuatu, dia masuk ke kubikel untuk berceritera plus dibumbui dengan  khayalan-khayalan panas (seperti mau mengirim pisang ke sebelah…entah pisang maksudnya buat apa). Tapi yang paling heboh adalah ketika Prof Paulus melaporkan  bahwa Dewi Persik hanya memakai jala-jala untuk bawahannya… waduuh… Kata prof Raldi,  usia-usia sebaya professor-profesor ini, kalau melihat Dewi Persik pun sudah gak  “nendang” lagi… tapi denger ceriteranya Prof Paulus, saya jadi nendang juga,  nih…huahahaha…

Belakangan, pas sebelum manggung (giliran Dewi dan Mulan, pas sebelum TPB), Dewi dan  Mulan keluar dan bersalaman dengan kami satu persatu. Di situ para professor yang  tadinya urakan, langsung Jaim (jaga image) semua, seakan-akan alim semua, apalagi  Dewinya sopan banget, munjungan seperti kepada eyang-eyangnya sendiri. Berhenti dah  itu semua oceh-ocehan yang garing dan vulgar, yang tadinya berisik banget (kali Dewi  denger juga, yah?…hiiii.. malu). Tapi di situ jadi clear apa yang dikenakan Dewi.

Ternyata Dewi mengenakan stocking jala-jala, dan di atas stocking itu ia memakai  celana pendek ketat terbuat dari bahan jeans. Atasannya dia memakai baju ketat  berlengan panjang, sedangkan kakinya terbungkus sepatu boot ber-hak tinggi, sehingga tampak makin semampai (Pak Rektor malam itu juga pakai sepatu boot, tetapi kok gak semampai, ya?).

Sesudah selesai salam-salaman, maka acara group photo. Nah semua pengen deket Dewi. Profesor-profesor kok pada seperti anak kecil semua, berebut mau deket idolanya. Kalau saya mah tenang aja. Ngumpet di belakang juga gapapa. Yang penting besok minta tolong mahasiswaku yang polisi intel atau reserse untuk cari tahu HP-nya Dewi Persik… nah… itu kan solusi cerdas namanya? Pokoknya Save the last “dance” for me… ya, kan?

***

Ternyata jadi artis sengsara juga ya. Kami harus stand by sejak jam 15. Padahal latihan GR (gladi resik) baru jam 17. Di luar katanya hujan sudah berjenti (berkat pawang-pawang Indosiar yang sakti-sakti), tetapi lautan manusia tidak terkira-kira banyaknya. Konon pacarnya Maya, kena semprot air pengusir massa, sebelum akhirnya bisa menembus masuk ke dalam. Walaupun begitu di dalam kubikel kami terus mencoba focus dan konsentrasi, mempersiapkan fisik dan mental.

Para vokalis diminta maju semua oleh mas HW dan dengan iringan gitar, mereka dipandu mas HW untuk vocalizing (pemanasan vocal)…hm..hem..hem.. la..la..la..la..hahiheho..hahiheho… dan seterusnya.. dari nada rendah ke tinggi, kembali ke nada rendah dan seterusnya sampai tali-tali suara pada lentur biar nanti nyanyinya gak fals.

Selama menunggu itu, AC Studio 2 duingiiin sekali. Ada beberapa kali tercium bau kentut (pasti ada yang masuk angin), tetapi semuanya diam saja seolah-olah tak terjadi apa-apa, demi tata tenteram, sopan santun, etika dan agama. Katanya latihan jam 17, nyatanya hampir jam 18.00 kami baru mulai latihan.

Stand by di Studio 1 yang lebih dingin lagi, selama 30 menit. Gak boleh kemana-mana, tetapi bisa sambil nonton yang sedang GR di panggung. Dalam kesempatan itu Eko Patrio mendatangi saya untuk menyatakan apresiasinya. Begitu juga Indro. Saya cengar-cengir aja, karena dalam hati masih nervous bukan main.

Akhirnya TPB dipanggil naik ke panggung. Maka satu per satu kami naik ke panggung dan menempati posisi masing-masing. Tim kombo (drums, gitar, bass, K-board) bersempit-sempit ria di sudut kanan yang khusus untuk band (tetapi nampaknya mereka siapkan untuk band yang terdiri dari 4 oang saja, sementara kombo-nya TPB saja sudah 6 orang).

Tim brass (saxophones) ditempatkan di depan panggung, tepatnya di pinggir panggung penyanyi. Para vokalis ngumpet di belakang tiang-tiang raksasa di bagian paling belakang panggung, nunggu giliran untuk maju satu per satu. Begitu ada aba-aba dari floor director, tiga dara Een-Nenden-Maya muncul dari balik tiang, berjalan gontai ke depan sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar…”, langsung diikuti intro K-Board dari Iyan yang dilanjutkan dengan petikan bass, hentakan drums, dan jeritan saxophones yang member semangat, dan ketiga dara pun menyanyi “…save the last dance for me…” sambil bergeser ke kanan, ke kiri mengikuti koreografi yang sudah lumayan mereka hafal.

Dari bawah Bu Rina mengacung-acungkan prompter besar bertuliskan: S E N Y U M ! Tetapi anggota The Prof tetap saja tegang. Terutama Prof Paulus, yang masih terbayang-bayang Dewi Persik, sehingga ngitung birama salah-salah. Terpaksalah HW balik kanan membelakangi kamera untuk memberi aba-aba kepada drummer slebor kita.

Syukurlah lagu pertama selesai dengan selamat. Masuk lagu kedua, prof Iam turun dari tiang belakang panggung, sambil mengajak hadirin untuk ber-rock and roll, “… are you ready? … one, two, three, four…” dan langsung diikuti oleh jeritan kompak brass “I saw you standing there” dan Iam yang berbusana all jeans and boot, menggoyang audiens dengan gerak dan nyanyinya yang heboh.

Penonton waktu GR itu adalah crew dan calon-calon peserta/pemain di studio 1. Semuanya bergerak bersemangat mengikuti aba-aba Prof Iam. Jadi malam itu di panggung Studio 1 ada dua orang AFI, yaitu Tia AFI (Akademi Fantasi Indosiar), dan Prof Iam AFI (Alat Fital Ibu-ibu).

Selesai membawakan lagunya, Prof Iam langsung memanggil Prof Raldi dan Prof Gumilar. Mereka segera tampil, tetapi gak langsung nyanyi, karena nunggu intro gitar yang diikuti drum. Kok gitarnya gak bunyi-bunyiiii…. Eeh.. gak tahunya prof Goti yang harus intro dengan gitar malah lupa. Jadi dia nunggu penyanyi, sementara penyanyi juga nunggu gitar… waduuh… terus setelah gitarnya akhirnya bunyi… drumsnya gak sinkron singkupnya dengan gitar dan bass. Padahal Prof Raldi sudah siap dengan jarinya menunjuk-nunjuk mengikuti gaya Trias, dan Prof Gumilar sudah siap dengan busana koboinya, lengkap dengan topinya…. sambil mengafal kapan dia harus bilang Britney Spears, kapan Luna Maya, dan kapan nenek sihir dan kapan buaya… salah-salah ingat, bisa-bisa Britney Spears disangka buaya, dan Luna Maya dikata nenek sihir… Karena itu GR diulang beberapa kali, sampai pukul 18.30, yaitu pas acara ulang tahun akan dimulai.

Kami pulang ke kubikel untuk menunggu lagi. Tadinya kami dijanjikan (sesuai jadwal), manggung jam 20.00, tetapi mundur jadi jam 21, dan mundur lagi jadi jam 22. Selama menunggu itu kan degdegan sekaleee… Keringat dingin gak berhenti-henti mengalir. Kalau saya sesekali ke WC, liwat monitor TV, tengok para artis professional yang bermain luar biasa, saya jadi pengin pulang aja… Untung gangguan setan bisa saya atasi. Dengan mengucap Audubillahiminas syaitonirojiiim… saya bertekad kun faya kun! Untungnya ada Dewi Persik yang sedikit membuat kami rileks.

Pas jam 21.30 kami ngumpul Briefing akhir dari mas HW, membulatkan tekad, berdo’a dan yell… one..two..three..four..so-so-so!!. Sesudah itu kami siap digiring menuju panggung Studio 1. Penontonnya sudah penonton beneran, bukan penonton jadi-jadian seperti waktu latihan tadi. Kami diminta menempati pos masing-masing di panggung, sementara Dewi Persik dan Mulan Jamilah juga siap. Kemeja Dewi Persik terbuka bagian atasnya, mempertontonkan dadanya yang bertitik-titik peluh…aduhai…siapakah gerangan pemuda yang beruntung boleh mengusap peluh-peluh nakal ituuu…???

Breng-breng-breng..!!! Tiba-tiba band pengiring Dewi dan Mulan menghentak nyaring. Saya terbangun dari lamunan dan sempat melihat pandangan mas HW juga ke arah yang sama…hihihi… mas HW ada isterinya juga nakal…

Dewi dan Mulan langsung menggeliat-geliat dan meloncat-loncat sambil mengeluarkan vokalnya yang powerful menguasai suasana di seluruh Studio 1. Pada akhirnya mereka berhenti seperti patung sambil menyerukan…”Berikutnya kita undang … The professor band…” dan kedua tangan mereka mengacu kepada posisi TPB. Kamera berpindah dari Dewi dan Mulan ke TPB. Satu detik, dua detik… saya tunggu… sambil mulut saya siap di mouth piece saxophone…kok gak mulai-mulai? Tiga detik.. akhirnya saya menengok ke belakang. Ternyata saya lihat mulut Iyan sedang membuat kata-kata (bahasa bibir), “M A T I” untuk dibaca HW. Astaga… K-board mati? Saya panik habeess… Mau pingsan.

Tapi kalau pingsan disorot kamera kan lebih jelek lagi. Tetapi HW sama sekali gak panik. Dia tunjuk Pak Nanta pada bass. Ternyata juga sama, mulut pak Nanta komat-kamit…”M A T I”. Saya udah mau pingsan beneran, tetapi HW tetap tenang. Dia tunjuk Prof Raldi pada gitar. Ternyata gitar bunyi! Dia mainkan satu bar, brass langsung masuk dan bass dan K-board ternyata juga udah bunyi.

Untungnya ternyata ketiga dara berhati baja luar biasa, ketika K-board mati, mereka tidak panik. Mereka cuma nunggu dua detik, langung jalan menuruni undakan menuju bagian depan panggung sambil menyerukan, “Selamat Ulang Tahun Indosiar”. Pas mereka sampai di depan panggung gitarnya Prof Raldi sudah bersambung dengan brass, dan mereka langsung masuk.. nyanyi… Intro yang sangat cantik. Saya lega benar, karena itu saya tersenyum lebar dan saya lihat semua anggota TPB tersenyum. Senyum lega, bahagia, gak jadi malu… gitu loh. Bukan senyum untuk mengentertain penonton.

Tetapi yang jelas kami bisa tersenyum terus sambil bermain sampai akhir, yang membuat Bu Rina senang bukan alang kepalang, karena tidak perlu mengangkat-angkat promptnya lagi.

Pada akhir lagunya, tiga dara memanggil Prof Iam yang segera tampil dari belakang tiang, meloncat-loncat kecil menuruni undakan sambil mengajak penonton bergoyang. “One..two..three..four..when you are just seventeen…” dan pak Handoko, Dirut Indosiar, pun ikut bergoyang.

Dalam interlude Prof Iam memperkenalkan kawan-kawannya pemain TPB yang professor. Tiba pada giliran Prof Paulus, beliau mendemokan drum roffel-nya sampai hampir meruntuhkan studio. Luar biasa, Prof Paulus sudah melupakan Dewi Persik. Buktinya dia berhasil menjaga tempo drumnya dengan gilang-gemilang selama sekitar 12 menit, mengiringi tiga lagu yang tadinya sulit sekali dikuasai.

Selesai Prof Iam, dua anak kembar, prof Raldi dan Prof Gumilar dipanggil turun dari balik tiang. Penampilan Prof Raldi yang seperti cicak nginjek petasan langsung mengundang tempik sorak penonton. Ditambah lagi dengan Prof Gumilar dalam busana koboi yang berhasil membuang kemaluannya (baca: rasa malunya) jauh-jauh. Maka gegap gempitalah seluruh Studio 1.

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tahu apa yang terjadi, karena mata saya terpaku pada partitur yang tidak boleh salah baca. Nasib saya memang selalu diridhoi Allah. Partitur sesulit apapun, pada hari H selalu dipermudah oleh Allah. Sekan-akan ada malaikat yang membantu menggerakkan jemari saya yang selama ini salah-salah melulu.

Pengalaman seperti ini terjadi juga waktu JakJazz dan JavaJazz. Tentu semua ini berkat do’a saya yang khusuk. Untuk masalah lain mungkin do’a saya tidak khusuk, atau saya PD aja sampai lupa berdo’a, tetapi kalau mau main band yang super berat, selalu saya berdo’a dulu. Dan terbukti Allah tidak pernah ingkar janji… ya, kan?

Tetapi perhatian saya tiba-tiba terpecah, ketika tiba-tiba penonton menjerit-jerit histeris. Saya mengintip sebentar dengan sudut mata saya (sementara masih membaca partitur), ternyata ke empat awak Changcutters semua naik ke panggung. Trias asli langsung bergabung dengan kedua Trias palsu dan membawakan “I Love U Bibeh” dengan gayanya yang asli juga, termasuk merosot-merosot di panggung (Prof Raldi boleh berjingkrakan, tetapi untuk merosot dipanggung… nanti duluu…kalau ada tulang punggung yang terjepit..ujung-ujungnya RSCM…hahaha..).

Sudah barang tentu, penonton berteriak-teriak, “Lagi!..Lagi!…Lagi!”. Maka kami dan Changcutters pun mengulangi lagu itu sekali lagi, sambil layar TV menanyangkan telop penutup. Rupanya sutradara sengaja menempatkan kolaborasi TPB dan Changcuters pada acara penutup, agar bisa jadi klimaks betul dari acara HUT Indosiar ke 14 itu.

***

Bahagian ceritera berikutnya adalah anti klimaks. Pak Handoko, langsung memberi selamat begitu saya turun dari panggung. Di ruang ganti, kami berkumpul, evaluasi. Semuanya puas. HW menjelaskan apa yang sudah bagus dan apa yang masih kurang. Prof Iam, saya, Bu Rina, dan yang lain kasih masukan. Tetapi semuanya puas. Prof Benny Hoed yang tidak dipasang pada event kali ini mengucapkan selamat liwat sms. Begitu juga Astrid yang gak jadi berparisipasi. Selanjutnya HP setiap partsipan penuh dengan ucapan selamat. Facebook saya juga begitu.

Konon Indosiar langsung merencanakan program khusus untuk TPB, dan seorang teman pemain band juga, langsung mengundang TPB untuk main bareng di hotelnya dia. Pokoknya top-markotop, mak-nyooos!!!